(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Atap Kampus


__ADS_3

"Lah, kok balik lagi lu?" tanya Ayudia yang baru saja keluar daro ruangan kelas.


"Iya, anaknya bisa dikasih mengerti, kok. Gue liat buku catatan lu nanti, ya," ujarku yang sudah mulai lelah.


"Ke bawah pohon, yuk!"


"Hm."


"Tadi, Rian nanyain lu, lho," kata Ayudia di tengah-tengah perjalanan menuju tempat duduk di bawah pohon rindang yang di tanam oleh pihak kampus.


"Biarin aja."


"Lu ke sini sama siapa?"


"Dianterin sama bos gue."


"Kok bisa?"


"Ketemu tadi di sekolah tuh anaknya."


"Oh, jadi rencana lu ke depannya gimana?"


Kami langsung duduk bersamaan di bangku besi yang bercat putih itu, kunaikkan kedua bahu tanda tak tahu harus menjawab apa.


"Ya, gimana, ya. Gue aja ini bingung sama keluarga gue, masa gak ada yang nelpon gue nyuruh pulang sama sekali."


"Lu datang aja ke rumah Mama lu besok atau lusa."


"Buat apa?"


"Ya, masa lu langsung mutusin hubungan. Bagaimana pun lu, 'kan anak mereka. Jadi, lu harus tetap ketemu sama mereka."


"Hmm ... mungkin nanti-nanti aja deh gue ke sananya."


Aku akhirnya meminta buku catatan dan mencatat pelajaran tertinggal tadi, sedangkan Ayudia sibuk dengan benda pipihnya.


"Ehem! Berdiri lu!" titah seseorang yang membuat aku mendongak.


"Ada apa?" tanyaku melihat Rian di depan kami. Sudah pasti dia berbicara padaku.


"Ikut gue! Lu harus minta maaf dan jelasin ke cewek gue soal tadi, gue gak mau tau. Lu harus buat dia agar mau balik sama gue!"


"Okey!"


Kumasukkan buku tadi ke ransel, tak lupa dengan buku Ayudia juga, "Jangan, dia pasti bohongi lu," larang Ayudia padaku.


"Mangkanya itu, lu ikut kalo gitu!" ajakku dan dianggukinya.


Aku dan Ayudia langsung mengikuti ke mana langkah kaki Rian yang berada di depan membawa kami.


"Ngapain ke sini?" tanya Ayudia saat melihat kami akan ke lantai atas menggunakan tangga darurat kampus.

__ADS_1


"Dia ada di atas."


"Suruh aja ke sini, ngapain harus di atas, ha?"


"Gue cuma ngajak Azaleana, bukan lu. Kalo lu gak mau, yaudah, gak usah ikut!" tekan Rian menatap ke arah kami.


"Udah, gak usah! Mereka pasti mau menjebak lu doang, kita balik aja."


"Lu ikut sama gue aja, ya, gue tetap harus minta maaf soalnya. Gimana pun, ini semua salah gue," pintaku memegang tangan Ayudia.


Meskipun aku merasa ada yang aneh juga dan perasaan tak tenang, tapi bagaimana pun permintaan maaf ini harus kulakukan.


Aku tak ingin hidup dalam bayang-bayang kesalahan yang kuperbuat pada orang lain apalagi sampai membuat orang tersebut sakit hati.


Ayudia akhirnya pasrah dan mengikuti Rian kembali, gedung ini memiliki empat tingkat. Cukup tinggi, bukan?


"Kalo ntar lu diapa-apain, gimana?"


"Kan ada lu," cicitku dengan suara agak pelan.


Pukulan di terima bahuku perbuatan Ayudia, padahal memang siapa lagi yang akan membantuku jika kenapa-kenapa?


Tak mungkin akan ada seorang laki-laki yang membantuku dengan wajah yang tampan, tinggi juga berwibawa.


Kami akhirnya sampai di atap kampus ini, di bawah terik matahari terlihat ada wanita yang tadi pagi kutemui pas di kantin.


"Mereka kayaknya mau menjebak kita, deh. Mending pulang aja, yuk!" ajak Ayudia menarik tanganku.


Suara pintu ditutup membuat kami berdua kaget, kulihat ke arah belakang. Rian tersenyum dengan tangannya menunjukan kunci pintu itu.


"Kan, gue udah feeling kalau kalian pasti akan menjebak kami!" bentak Ayudia melepas tangannya dariku menatap tajam ke arah Rian.


"Terus, gue harus bilang waw gitu dengan feeling lu?" tanya Rian berjalan mendekat ke arahku.


"Bwahahaha," tawaku menggelegar mendengar ucapan Rian barusan. Bisa-bisanya aku pernah suka sama bentukan dan omongannya kek jamet tersebut.


"Kenapa lu?" tanya Rian berada di depan kami dengan menautkan alis.


"Lu kek cowok jadi-jadian tau, gak? Hahaha."


"Heh! Berani lu ngatain pacar gue?!" bentak seseorang dari belakang sambil menarik rambutku yang tertutup kerudung segiempat.


"Lepasin tangan lu dari rambut temen gue!" tekan Ayudia menatap tajam ke arah wanita itu.


Melihat tak ada perubahan, Ayudia melepaskan dengan paksa tangan yang ada di rambutku ini.


"Lu gak usah sok mau ikut campur dalam masalah ini!"


"Kenapa emang? Apa masalahnya sama lu? Mau gue ikut campur atau enggak, itu bukan urusan lu!"


Wanita itu diam sebentar dan berdecak, dengan kedua tangannya bersedekap dada, "Sayang," panggilnya yang sudah pasti untuk Rian.

__ADS_1


"Oke, Baby." Rian berjalan di samping wanita itu dengan membawa botol air mineral yang berukuran satu liter lebih.


Dibuka botol tersebut dan berniat untuk menyiramnya ke arah kami, tapi dengan cepat kutahan lengannya hingga air tertumpah ke wajahnya sendiri.


"Panas, 'kan? Iya, emang panas banget. Lagian, kalian kenapa mau ketemu di sini, coba? Ada ruang dosen atau bahkan pemilik kampus.


Tinggal bilang aja sama mereka soal kasusku, aman. Mungkin aku akan dapat hukuman dari kampus.


Aku kira Rian juga tipe laki-laki yang pemberani, ternyata sama aja. Laki-laki lemah yang bisanya hanya melawan wanita doang!"


"Ini urusan pribadi, jadi gak perlu sampai kampus tau."


"Gak perlu kampus tau, tapi melakukan pembalasan di kampus. Mana di atapnya pulak, biar apa?


Biar orang-orang tau bahwa kalian adalah pasangan paling jahat dan pemberani di kampus ini?" tanyaku menaikkan satu alis dan menyinggungkan senyuman.


"Biar ... orang-orang jadi saksi bahwa lu lenyap dari bumi ini. Karena, lu itu cuma benalu. Bahkan keluarga lu aja ogah mengakui lu sebagai anak.


Lu liat, apakah mereka ada yang peduli dengan lu? Karena mereka bahagia, bahagia karena bebanya hilang.


Nah, kami bahkan bukan hanya berniat menghilangkan beban mereka sesaat. Tapi, untuk selamanya," jelas Rian yang membuat hatiku sedikit sakit oleh ucapannya tadi.


"Heh! Lu gak usah menghasut seseorang dengan opini bodoh lu itu deh!" timpal Ayudia menunjuk ke arah Rian.


Aku terdiam sambil mentelaah apa yang Rian ucapkan barusan, Ayudia dan Rian saling berdebat.


"Sini, lu ikut sama gue!" titah wanita yang bahkan sampai sekarang tak kuketahui namanya.


Ia menarik tanganku dengan paksa, "Apaan, lepasin tangan gue!" Aku memberontak saat dengan kuat ia membawa tubuh ini sampai ke pinggir atap.


"Ayudia!" pekikku meminta tolong padanya.


"Azaleana!" teriak Ayudia yang baru sadar bahwa aku sudah diseret oleh wanita ini.


Si*l, tubuh Ayudia di tahan oleh Rian. Tentu saja Ayudia tak akan menang melawan tubuh yang begitu lumayan berisi tersebut.


"Lu tau, lu udah buat gue malu di kantin tadi pagi. Tiba-tiba datang seperti orang gila dan malah nyiram gue dengan menggunakan jus.


Lu udah lancang hadir di hidup gue juga Rian, atau jangan-jangan apa yang Rian bilang itu benar?


Lu suka sama dia? Lu itu punya kaca, gak, sih di rumah? Seharusnya lu ngaca, lu itu sama sekali gak pantes buat Rian!


Pakaian kek ibu-ibu gak ada modisnya sama sekali, kadang gue heran. Atau ... dulu Rian di kibuli sama lu dengan kisah-kisah yang gak masuk akal itu kali, ya?


Hingga, dia mau berteman dengan wanita yang sebenarnya miskin kayak lu!"


Tubuhku di dorong ke depan dengan rambut yang di jambak kuat olehnya, bahkan aku sudah bisa membayangkan tubuh ini.


Sekali lagi saja dorongan diberinya, pasti aku sudah akan jatuh ke bawah. Terlihat di bawah ada beberapa mahasiswa/i berlalu-lalang.


"Gimana rasanya, ya, kalo lu jatuh dari sini ke bawah situ?" tanya wanita disampingku dengan berbisik.

__ADS_1


"Lu mau rasain, gak?" tanyanya kembali padaku.


__ADS_2