(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Tepat Waktu


__ADS_3

Aku sama sekali tak bisa melawan dirinya dengan posisiku sekarang, aku hanya melihat ke bawah beberapa orang yang berlalu-lalang.


"Gue minta maaf jika tadi pagi buat lu malu apalagi sampai sakit hati," ujarku entah dia dapat mendengarnya atau tidak.


"Gue gak butuh minta maaf dari lu! Lu udah buat jelek nama gue dan wajah gue ini di hadapan orang yang ada di kantin tadi!"


"Ya, terserah, sih. Yang penting gue udah minta maaf, niat gue cuma pengen minta maaf mangkanya mau ke sini.


Lagian, gue udah tau bahkan akan ada terjadi hal semacam ini. Cuma, gue mau menepati pada diri sendiri untuk minta maaf sama lu meskipun lu mungkin gak akan maafkan gue."


"Jadi, setelah minta maaf. Lu ngerasa jadi orang yang udah terampuni dan gak ada dosa, gitu?"


"Ya, enggak juga sih. Dosa, 'kan gak terlihat. Mungkin tetap ada tapi keknya lebih banyak dosa lu, sih.


Secara, lu akan melenyapkan nyawa seseorang. Sedangkan gue, gak sampe ngelenyapi nyawa kalian berdua tadi pagi."


"Wah ... berarti ini udah di catat dong dosa gue? Yaudah, langsung gue buat aja, ya, biar gak nanggung.


Masa, dosa dah di catat malah gak jadi bunuh orangnya."


Kutelan saliva dengan keringat yang sudah bercucuran di pelipis, kakiku pun terasa dingin dan tak berdaya.


"Byee ...," ujarnya dan secara bersamaan mendorong tubuhku ke bawah.


"Aaaa ....!"


"Azaleana!" pekik Ayudia yang masih terdengar oleh telingaku.


Bahkan, beberapa mahasiswa yang berjalan langsung melihat ke arahku yang sedang jatuh ke bawah akibat teriakan itu.


Kututup mata dan mencoba ikhlas sambil merapalkan doa saat tubuh sudah semakin dekat dengan tanah.


"Mami!" teriak suara Daisha di dalam pejaman mataku.


Apakah aku sudah ada di surga? Kenapa ada suara Daisha, dia 'kan masih di dunia bahkan masih belajar dengan teman-temannya.


Mata masih terpejam meskipun badan tak juga kurasa sakit, entah sudah sampai surga atau belum aku ini.


'Eh, orang kalau di bunuh emang langsung masuk surga, ya? Sama sekali gak ngerasain sakit aku, lho,' batinku dengan mata yang tetap terpejam.


"Ehem!"

__ADS_1


Aku terkaget saat mendengar suara bariton orang lain, seperti tak asing tapi apakah mungkin ini malaikat?


"Azal! Kau tak mau juga buka mata? Atau mau saya buang kau begitu saja?" tekan seseorang membuatku buru-buru membuka mata.


Mataku membulat saat ternyata ada di dekapan Pak Raditya, ia sampai terjatuh dan di tahan beberapa mahasiswa punggungnya agar tak terguling akibat menangkap tubuhku ini sepertinya.


Dengan cepat, aku langsung berdiri dan menjauh darinya. Merapikan pakaian juga tas yang tak lupa masih ada di punggungku.


Pak Raditya bangkit dibantu oleh mahasiswa, di tepuk punggungnya juga ikut merapikan pakaian yang berantakan akibat menangkap diriku.


Semua orang melihat ke atas atap kampus, tak tertinggal diriku. Wanita yang dilihat langsung menyembunyikan dirinya dari tatapan orang-orang.


"Apa dia yang melakukannya?"


"Iya, Pak," jawabku dengan mengangguk dan menunduk.


"Huwaa ... Mami. Kalo Mami tadi kenapa-kenapa, Daisha sama siapa dong?" pekik Daisha menangis dengan kencang.


Aku yang baru menyadari keberadaan Daisha langsung mengangkat tubuhnya dan membawa dirinya ke gendonganku.


"Cup-cup, Mami gak papa, kok. Tenang aja, buktinya Mami masih sehat-sehat aja, kok," bujukku agar tangisannya reda.


"Ada yang tau nama wanita tadi itu siapa?" tanya Pak Raditya dingin menatap semua orang yang sekarang mengerumiku.


"Baik, terima kasih."


"Tunjukkan pada saya di mana ruang dosen," titah Pak Raditya padaku dan berjalan lebih dulu.


Kalau sudah begini, aku pun takut melarang Pak Raditya untuk melapor. Aku tak ingin sebenarnya hal ini kembali menjadi panjang.


Tapi, mengingat bahwa apa yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan bahkan hampir menghilangkan nyawaku. Tak mungkin aku diam saja.


"Daisha, turun. Jangan digendong oleh Azal, dia mungkin masih lemas," ucap Pak Raditya dengan berhenti secara tiba-tiba.


"Baik Papi."


Kuturunkan Daisha dari gendongan, tanganku di pegang olehnya. Kami berjalan di belakang Pak Raditya. Padahal, dia tak tahu di mana ruangannya tapi malah memilih jalan di depan.


Seharusnya, di belakang atau tidak sejajar, bukan? Memang dasar, tetap saja dia adalah laki-laki yang menjaga wibawanya meskipun dalam keadaan seperti sekarang.


"Ini Pak," tegurku saat dia ingin berjalan kembali entah ke mana.

__ADS_1


Langkah kakinya di hentikan dan berbalik ke belakang, "Awas," usirnya padaku yang berdiri di depan pintu.


"Lah, kok malah saya yang Bapak usir?" tanyaku menautkan alis sebal dengan apa yang dia ucapkan barusan.


"Ikut aja perintah, saya! Kau tak ingat siapa yang menolongmu tadi? Jika telat saja saya, siapa yang akan membantumu tadi? Tidak ada! Jadi, biarkan saya yang urus semua ini!" tegasnya dengan menaikkan satu oktaf nada bicaranya.


Dia masuk begitu saja setelah mengatakan itu, bahkan tak mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku memilih membawa Daisha ke bangku yang ada di depan ruangan ini.


"Kenapa, sih? Malah marah-marah sama gue, orang yang salah bukan gue juga," gerutuku sambil memajukan bibir.


"Mami yang sabar, ya, Papi kayak gitu karena sayang sama Mami," celetuk Daisha yang duduk di sampingku dengan menyandarkan kepalanya.


"Ha? Sayang apaan?" tanyaku menatap wajah Daisha.


"Iya, dulu Daisha juga dimarahi Papi waktu tangan Daisha kesayat sama pisau sampe berdarah. Papi marah-marah habis itu minta maaf dan bilang kalo Papi marah karena sayang sama Daisha."


"Papi sayang sama Daisha karena Daisha anaknya, kalo Mami 'kan bukan."


"Tapi, Mami 'kan Maminya Daisha. Jad, Papi pasti sayang sama Mami juga kayak Papi sayang sama Daisha."


Aku hanya menggelengkan kepala mendengar penuturan Daisha, tentu saja berbeda antara dirinya dengan diriku ini.


"Azaleana!"


"Ana!"


Pekik Ayudia sambil memeluk buku dirinya yang tadinya memang sempat kubawa ke atas, ia berlari dengan wajah yang tak terkondisikan lagi.


"Lu gak papa, apa yang sakit? Siapa yang nolongin lu?" Pertanyaan beruntun diberikan Ayudia padaku. Ia berjongkok dan memegang lututku.


"Bos gue tiba-tiba datang ke sini dan kebetulan dia yang nolongin gue," ucapku pada Ayudia.


Ia langsung menghela napas lega dan meringsut duduk di lantai yang kotor itu, "Dih, berdiri lu. Itu bekas pijakan orang-orang, lho."


"Gue udah gak kuat lagi, biarin ajalah. Bisa gue cuci juga, emang dasar kampr*t orang tuh tadi pada. Gue di pegangin mana kenceng banget kek apaan ---"


"Azal, ada temen yang melihat langsung kejadian tadi?" tanya Pak Raditya dengan membuka pintu ruangan tersebut tiba-tiba membuat ucapan Ayudia berhenti.


"Saya Pak!" seru Ayudia dengan menaikkan tangannya.


"Bagus, ayo, kau masuk ke dalam," ajak Pak Raditya dan langsung menghilang dari ambang pintu tadi.

__ADS_1


"Eh, itu siapa?" tanya Ayudia yang baru tersadar.


__ADS_2