(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Membujuk Daisha


__ADS_3

Sesampainya di rumah, aku langsung keluar lebih dulu dari mobil dan berjalan ke dalam rumah.


"Ana, tunggu!"


"Apa, Mas?" tanyaku membalikkan badan.


"Besok, ya?"


"Apanya?"


"Besok kita ke Balinya."


"Hm."


"Beneran?" tanya Mas Raditya yang kaget akan jawabanku.


"Kita cuma liburan, 'kan?"


"Ya ... sekalianlah."


"Dih," cercaku dan berjalan lebih dulu kembali meninggalkan dirinya.


"Assalamualaikum," salamku membuka pintu yang tak dikunci.


"Waalaikumsalam, Mami!" pekik Daisha dan berlari ke arahku. Ia memelukku erat.


"Mami kok gak ngajak Daisha, sih? Padahal, Daisha bisa jalan sendiri kok nanti. Gak perlu Mami gendong," sungut Daisha.


"Bukan gitu, Sayang. Di sana soalnya lama, Mami takut Daisha bosen nanti. Di sini, 'kan ada Dara juga dedek bayi."


"Tapi, Daisha 'kan juga mau liat Tante Ayu, Mi."


"Nanti kita datang ke rumahnya, ya. Pas dia udah selesai acaranya, oke?!"


"Bener, ya, Mi?"


"Iya, ini ada makanan buat Daisha."


"Yee!"


"Bohong itu Daisha, Mami gak ngajak kamu karena dia mau punya adik baru. Ntar, Daisha gak disayang, lho. Kalau mereka punya adik baru," celetuk Bang Dikta yang baru saja keluar dari kamarnya.


Aku dan Daisha berjalan ke arah sofa di mana ada istrinya juga kedua anaknya di situ, sedangkan Mas Raditya masuk ke kamar paling mau ganti pakaian terlebih dahulu.


"Dih, apaan, sih Bang? Jangan kayak gitu!" tegurku menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Iya, Mi?" tanya Daisha mendongak menatap ke arahku.


"Enggak, Sayang. Om bohong, kok. Mana mungkin Mami gak akan sayang sama kamu nanti, pasti sama kamu juga Mami akan sangat sayang," jelasku membujuk dirinya sambil merapikan rambut yang sedikit ikal seperti Mamanya.


"Daisha, besok Mami sama Papi mau pergi itu. Kamu ikut, ya, jagain Mami. Soalnya Papi akan nyakiti Mami nanti, sampe Mami gak bisa jalan," perintah Bang Dikta yang membuatku membulatkan mata.


Bantal kecil yang ada di sofa kulempar pas mengenai wajahnya itu, wajah yang tengah tersenyum puas sebab membohongi Daisha.


Daisha dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap ke arahku, "Mami besok mau pergi? Kok gak ngasih tau Daisha, sih?" tanyanya dengan suara serak.


"Tante, Dara mau ikut dong!" celetuk Dara yang sebelumnya tengah bermain di karpet.


"Nah! Pas, si Baby sekalian ikut Ana! Biar kami bisa honeymoon juga," papar Bang Dikta sambil menaik-turunkan alisnya.


Aku sudah menahan emosi yang memuncak, ingin sekali kumaki dan makan dia hidup-hidup sekarang juga.


Namun, mengingat di sini ada anak-anak. Tak mungkin jika aku harus mengucapkan kata-kata mutiara itu.


Kuambil kresek yang ada di genggaman Daisha, memberikan satu wadah untuk Dara, "Buat kamu, ya, Sayang," ungkapku bangkit dengan memegang kresek juga menggenggam tangan Daisha.


"Ayo, Sayang! Kita ke kamar aja, di sini ada orang nyebelin!" geramku dan pergi meninggalkan mereka.


"Hahaha, ingat Daisha. Besok jangan mau sekolah, ntar kamu ditinggal lama, lho. Ikut aja!" pekik Bang Dikta yang malah semakin menjadi-jadi.


"Ada apa?" tanya Mas Raditya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya.


"Bang Dikta, tuh, nyebelin!" cetusku kesal.


"Lah, ini kenapa anak sama Ibu kesel gini? Daisha kenapa malah nangis?"


"Mami sama Papi mau pergi, ya? Daisha ikut, ya!"


"Iya, Sayang. Kamu boleh ikut, kok," timpalku saat dia meminta izin pada Papinya.


"Lah? Gak bisa gitu, dong Ana," tolak Mas Raditya spontan.


"Hiks ... huwa ... Papi udah gak sayang lagi sama Daisha!"


"Bu-bukan kayak gitu, Sayang. Tapi ...."


"Udahlah Mas, biarin aja dia ikut. Lagian, siapa juga yang akan jaga dia di sini, 'kan?" tanyaku sudah malas membahas hal ini.


'Arkkk ... mana bisa begini, kalau Daisha ikut. Aku gak bisa lakuin itu di mana pun, dong? Kamarnya juga cuma satu di sana nanti,' batin Raditya menggerutu dengan wajah masam.


"Aku mau mandi dulu, ya. Sayang, kamu di sini sambil makan ini, ya. Mami mau mandi, oke?!"

__ADS_1


"Oke Mi!" seru Daisha yang duduk di pinggir ranjang dengan memangku salad buah.


Raditya berjalan-jalan mencari ide agar keinginannya bisa terwujudkan, 'Kalau Daisha ikut, yang ada aku gak akan diurusi oleh Ana.


Dia malah akan sibuk sama Daisha, dong. Bukan sama aku, udah dulu Daisha yang selalu di urus. Masa, pas nikah juga Daisha yang diurusi dia, sih? Aku enggak?


Hmmm ... atau ... aku titipin aja dia sama Dikta? Itung-itung, dia belajar jadi Ayah tiga anak,' batin Raditya tersenyum puas dengan idenya itu.


'Tapi, gimana caranya, ya?' batinnya kembali bingung dengan idenya itu.


"Papi ngapain, sih? Kayak setrika aja, mondar-mandir!" ujar Daisha yang menatap aktivitas Raditya.


"Papi lagi mikir, Sayang," jawab Raditya menatap Daisha.


"Mikir emang harus kayak gitu, ya, Pi? Daisha kalo lagi mikir pas ngerjain soal dari guru, cuma di tempat duduk aja, kok," protes Daisha yang merasa Papinya sedikit lain dari yang lain.


Raditya mendekat ke arah Daisha saat sudah mendapatkan ide untuk membujuk Daisha agar tak ikut dengan mereka besok ke Bali.


"Sayang ... kan, Papi sama Mami besok mau ke Bali, ya. Jadi, Daisha gak usah ikut, ya. Soalnya Daisha, 'kan baru masuk sekolah.


Nanti, kalau libur mulu ketinggalan pelajaran dan bisa jadi ketinggalan kelas, lho. Emangnya, Daisha mau tinggal kelas?


Kalau Daisha tinggal kelas, Mami pasti sangat sedih. Lagian, Daisha pengen punya adik kayak Dara, 'kan?" tanya Raditya mendapatkan anggukan dengan wajah Daisha yang menyimak seksama ucapan Papinya.


"Nah, nanti setelah dari Bali. Papi sama Mami pasti bawa adik untuk Daisha, kalau Daisha ikut. Adiknya gak bisa dibawa, deh. Kan, Daisha mau sama Mami mulu nanti.


Jadi, gak papa, ya, Mami dan Papi pergi berdua? Daisha di sini, 'kan ada; Nenek, Om, Tante, Dedek bayi juga Dara.


Di sana, Mami dan Papi biar bisa ngasih dedek bayi juga buat Diasha, biar Daisha nanti punya temen main pas kita ke rumah lama yang sekarang lagi di perbaiki," bujuk Raditya panjang kali lebar dan seniat itu.


"Mmm ... kalau Daisha ikut, Adik gak ada, ya, Pi?"


"Iya, Sayang. Kalau Daisha gak ikut, nanti pas pulang adik ada. Daisha bisa main sama adik deh nanti, bisa pamer sama Dara juga."


"Yaudah, deh. Daisha gak ikut, Daisha di sini aja," putus Daisha dengan menganggukkan kepala.


"Yes!" sorak Raditya kegirangan karena berhasil membujuk Daisha.


"Tapi, Papi di sana sebentar, 'kan?"


"Iya, cuma tiga hari doang, kok, Sayang. Palingan pas Mami dan Papi pulang dari sana, kita bisa langsung pindah ke rumah kita sendiri, kok."


"Oke, Papi!"


"Makasih, ya, Sayang. Sini, peluk dulu!" pinta Raditya merentangkan tangannya. Daisha tersenyum dan masuk ke dalam pelukan cinta pertamanya itu.

__ADS_1


__ADS_2