(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Sambutan Selamat Datang


__ADS_3

"Nanti aku jemput kamu, ya," titah Mas Raditya saat mobilnya sudah sampai di depan butikku.


Kuanggukkan kepala dan mengecup tangannya dengan takzim, ia menarik kepalaku dan di kecup beberapa detik.


"Semangat kerjanya, Buk Ana!" Aku tertawa dan menggelengkan kepala mendengarnya.


"Terima kasih Pak Raditya." Keluar dari mobil sembari melambaikan tangan menatap roda empat itu yang menjauh dari pandangan.


Kuhela napas dan menatap bangunan yang hanya satu lantai ini, masuk ke dalam dan ....


Dor!


Suara balon di letuskan dengan sengaja juga suara pluit dan tepukan tangan tak lupa spanduk bertuliskan, 'Selamat Masuk Kembali Buk!' membuat aku tersenyum bahagia.


"Ya, ampun makasih banyak. Padahal, kalian gak perlu repot-repot buat beginian," kataku sambil menerima buket dari asisten yang meng-handle selama aku cuti dari butik.


"Gak papa, Buk, sesekali. Sambutan buat pengantin baru."


"Haha, kalian bisa aja. Maaf, ya, udah lama gak masuk."


"Gak masalah Buk, udah cukup bulan madunya Buk?" celetuk salah satu diantara mereka.


"Oh, jadi kalian suka kalo gak ada saya, gitu?" tanyaku berkacak pinggang.


"Enggak dong Buk!" jawab mereka serempak membuat aku tersenyum.


Setelah acara tadi selesai dengan membersihkan bersama, aku masuk ke dalam ruangan milikku dan sudah ada beberapa berkas.


Kuletakkan tas di atas meja dan menyandarkan tubuh ini, kupijit kepala yang tiba-tiba terasa pusing serta badan letih padahal tak melakukan apa pun.


"Kenapa, ya? Kok aku malah kayak gini? Padahal, aku gak lakuin apa pun. Kek capek banget," gumamku keheranan.


"Udah-udah, lebih baik aku liat berkas-berkas dulu deh. Biar cepat kelar!" putusku menegakkan badan dan langsung membaca salah satu berkas.


"Huwek!" Baru beberapa kalimat yang kubaca, rasa mual hadir dengan tiba-tiba membuat aku berlari masuk ke dalam toilet.


"Huwek!"


Ku-lap mulut setelah merasa rasa mual ini terselesaikan, "Padahal aku di rumah tadi gak papa, deh. Kenapa malah sekarang kayak gini, sih?" keluhku.


Bahkan, badanku rasanya hanya ingin rebahan saja. Namun, tak mungkin sebab banyak kerjaan yang harus diselesaikan.


Kupaksa agar tetap bisa mengerjakan minimal satu berkas saja, tapi ternyata tak bisa dipaksa. Segera kuambil handphone dan mencari kontak dokter pribadi kami.


"Halo, dokter. Hari ini kerja, 'kan?"


"Kerja dong Ana, eh, katanya kamu udah nikah, ya? Sama cowok perusahaan itu? Kok gak ngundang-ngundang saya, sih?"


"Eh, itu anu Buk dokter. Soalnya nikahnya juga dadakan," jelasku merasa tak enak.


"Ehem, kamu ini. Yang penting semoga kalian bahagia, ya."


"Aamiin, makasih Buk."

__ADS_1


"Oh, iya, ada apa nih?"


"Buk, saya mau periksa, ya. Saya datang ke sana sekarang juga."


"Eh, mau periksa apa? Usia kandungan?" celetuk dokter dari sebrang membuat keningku berkerut.


"Kandungan apaan, sih, dokter? Saya kayaknya masuk angin gitu, saya ke sana dulu, ya. Bye, dokter!" potongku dan dengan segera mematikan panggilan agar dokter tak semakin ngelantur ngomongnya.


Kuambil tas setelah memesan taksi online, "Kamu tolong jaga butik dulu, ya. Saya mau keluar sebentar," titahku pada asisten.


"Baik, Buk. Ibu naik apa?"


"Naik taksi, saya duluan, ya!"


Segera berjalan ke luar sebab taksi sudah sampai di depan butikku, keadaan butik lumayan ramai pengunjung apalagi sebentar lagi akan lebaran Adha.


Kurapalkan doa agar diri tak memiliki penyakit yang serius, setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan.


"Makasih, ya, Pak," kataku memberi ongkos taksi dan masuk ke dalam rumah sakit.


Bertanya ke resepsionis tentang dokter yang akan kutemui, ternyata dia sengaja mengosongkan jadwal demi bertemu aku.


"Permisi," ucapku menjumbulkan kepala.


"Eh, masuk Ana!" titahnya bangkit dari tempat duduk.


Aku masuk dan kembali menutup pintu ruangannya, "Sini, langsung berbaring!" titahnya menepuk ranjang pasien.


"Udah?" tanyaku dan menatap ke arah dokter.


"Sudah, mari duduk di situ," ajaknya menunjuk bangku yang ada tak jauh dari ranjang.


Kulihat ada perubahan pada wajah dokter pribadi kami ini membuat aku menjadi ketakutan dengan pikiran yang menebak-nebak tak karuan.


"Jadi, saya sakit apa dokter?" tanyaku menatap wajahnya yang sendu.


"K-kenapa wajah dokter kayak gitu? Saya gak sakit parah, 'kan? Dokter, saya baru nikah lho. Masa udah harus dipanggil aja, sih?"


"Hmm ... sebenarnya, saya gak enak mau sampaikan ini sama kamu Ana," ujarnya dengan menatap iba ke arahku.


Air mata langsung berkeinginan keluar dari tempatnya mendengar kata-katanya itu.


'Bismillah, ya, Allah. Apa pun itu hamba harus kuat menerimanya,' batinku memejamkan mata dan mengepal tangan dengan kuat.


"Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan pasrah dengan takdir Tuhan, bukan? Apa pun itu pasti bisa kita lalui, kuncinya hanya sabar serta bersyukur. Mungkin, kita yang memang ditunjuk-Ny mampu," kata dokter yang membuat perasaanku semakin tak karuan.


***


Aku keluar dari rumah sakit dengan membawa keterangan dokter, di perjalanan menuju butik hanya bisa termenung dan menerima segalanya.


Kucoba menyelesaikan pekerjaan sebab sudah tak merasa mual lagi sekarang, walaupun badanku tetap saja rasanya ingin istirahat.


Tok! tok! tok!

__ADS_1


"Masuk!" titahku.


"Buk, di depan ada goofod buat Ibu katanya."


"Lah, saya gak mesen makanan tapi."


"Dari Pak Raditya mungkin, Buk."


Bangkit dan keluar ruangan menemui kurir makanan, "Dari siapa, ya, Pak?"


"Dari Pak Raditya Buk, waktunya makan siang katanya," jelas kurir sembari memberikan bungkus dengan cap salah satu restoran cukup terkenal.


"Ha?" tanyaku melihat arloji yang ternyata sudah jam 12 siang sebentar lagi akan salat Zuhur.


Kupukul pelan kepalaku, sampai lupa waktunya makan siang karena terlalu fokus menyelesaikan pekerjaan.


"Makasih, ya, Pak!"


"Sama-sama Buk, saya permisi, ya." Kuanggukkan kepala dan berjalan ingin masuk ke ruangan kembali.


"Enak banget deh yang punya suami, saya jadi pengen juga punya suami kalau kayak gini deh, Buk," celetuk asisten-ku yang ternyata mendengar ucapan kurir tadi.


"Heh! Kamu nguping, ya?" tebakku padanya dengan tersenyum.


"Enggak atuh Buk, cuma kedengeran doang," katanya menggodaku.


Kugelengkan kepala dan masuk ke dalam ruangan, mengambil handphone melihat pesan dari Mas Raditya.


[Jangan sampai lupa makan Buk, apalagi sampai melupakan suamimu yang tampan ini.]


[Ck! Mana ada suami saya tampan.]


[Lah, terus? Jelek gitu?]


[Bukanlah! Suami saya itu menawan, melebihi dari tampan!]


[Tolong, tarik aku.]


[Lah, kenapa?]


[Agar tidak terbang dan jatuh kepelukanmu.]


[Hahaha, dasar dah! Udah sana balik kerja aja!]


[Baik Buk Bos!]


Aku tersenyum melihat pesannya dan menggelengkan kepala selayaknya orang yang lagi kasmaran.


Wajar, dia penganut sat set sat set jadi kami tak sempat mau pacaran seperti anak zaman sekarang.


Lagian, bukannya wanita memang lebih suka yang seperti itu? Daripada dibuat nyaman tapi gak bisa diberi kepastian.


(Guys! Sekilas informasi, Author ada cerita baru, nih. Tapi, gak di publish di sini melainkan di Dr**m xixixi. Jangan lupa mampir, ya!)

__ADS_1


__ADS_2