
"Ini, aku sendiri yang masak, lho, Mas," kataku membanggakan diri di depannya sambil membuka isi tas bekal yang kubawa tadi.
"Oh, ya?" tanyanya dengan tersenyum kubalas anggukan.
"Kok, tau makanan kesukaan aku?"
"Tau, dong. Gimana pun sebelum kita nikah, aku 'kan udah serumah sama kamu, Mas. Jadi, tentu aja aku tau."
Mas Raditya mulai menyuap makanan tersebut ke mulutnya, ia memakan dengan lahap sedangkan aku hanya melihat saja.
"Kamu, gak makan?"
"Gak usah Mas, kamu aja."
"Enggak bisa gitu, dong. Nih, ayo, makan!" titah Mas Raditya menyodorkan sendok ke depan mulutku.
"Gak usah Mas, kamu aja," tolakku menjauhkan mulut dari sendok.
"Pesawat akan mendarat ke landasan, niuwwww." Dirinya melayangkan sendok bak seolah pesawat yang akan melandas ke mulutku, diperlakukan selayaknya anak kecil yang susah disuruh makan aku hanya tertawa melihat tingkahnya.
"Udah dibilang juga, aku gak mau Mas," kataku dengan tangan mengambil lalapan yang memang ada kusediakan tadi.
"Jangan ambil timunnya dong Sayang, aku juga mau!"
"Salah sendiri, kenapa nawarin aku makan?" ketusku tak mau mengalah dengannya sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulut.
"Oh, iya, Mas. Gimana jadinya, beneran ada yang kurang uangnya?" tanyaku ke masalah pekerjaan.
Ia mengangguk dan meletakkan bekal di atas meja menatapku, "Aku terlalu percaya pada seseorang, itu salahku."
Kuusap bahunya dan tersenyum, "Gak papa Mas, jadikan ini pelajaran aja buat kamu agar gak terlalu percaya sama orang lain kecuali aku."
"Kecuali kamu?" beonya mengulang kalimatku tadi.
Kuanggukkan kepala dan merapikan rambutnya, "Ya, kecuali aku."
"Oh, iya, kamu ke sini sama siapa?"
"Kak Kamelia, tadi, ya, Mas ...." Aku bercerita kepada Mas Raditya tentang berbagai hal yang kualami hari ini.
Padahal, belum 24 jam sih. Tapi, rasanya aku sudah ingin bercerita padanya. Dia ... mendengarkan apa yang aku ceritakan dengan tawa yang ikut menghiasi pembicaraan kami.
Mata yang akan menyipit ketika tawa dikeluarkan olehnya, juga suara yang akan melontarkan kalimat-kalimat tegas nan berwibawa.
Untuk ke sekian kalinya, aku kembali jatuh cinta pada laki-laki di depanku ini. Selayaknya kata orang-orang agar jangan terlalu jatuh cinta terlalu dalam.
Aku sama sekali tak mengindahkan kalimat itu, aku terus-terus dan terus saja memilih untuk jatuh cinta pada dirinya.
"Kamu hati-hati di jalan, ya, padahal aku bisa antar kamu, lho, Sayang," kata Mas Raditya sambil mengusap kepalaku yang tertutup kerudung.
"Gak perlu Mas, aku naik ojek aja," tolakku.
"Mas, jangan sengaja di rem-rem, ya! Satu lagi, hati-hati!" jelas Mas Raditya memberi tahu ojek yang sudah datang.
"Baik Pak," jawabnya dengan mengangguk sedangkan aku naik ke jok belakang.
__ADS_1
"Ininya di cetekkan, lho, Sayang," protes Mas Raditya pada helm-ku. Ia merapikan helm dan menatap diriku.
"Yaudah kalau gitu, aku pulang dulu, ya, Mas. Assalamualaikum," salamku.
"Waalaikumsalam hati-hati!"
"Mari, Pak!"
"Iya, Mas hati-hati istri orang itu."
Kugelengkan kepala dan melambaikan tangan sebelum sepeda motor ini pergi meninggalkan kawasan tempat Mas Raditya bekerja.
"Suaminya, ya, Mbak?" tanya ojek saat di tengah-tengah perjalanan menuju sekolah Daisha.
"Iya, Pak."
"Baru nikah, ya?" tebaknya.
"Iya, Pak."
"Oalah, pantesan. Nanti, kalau udah 10 tahun kayak saya ini baru deh ntar gak ada perhatiannya sama sekali. Bahkan, masak dan nyuci aja harus sendiri," keluh ojek di depan membuat aku ingin melihat wajahnya dari kaca spion.
"Lah, istrinya ke mana Pak?" tanyaku menautkan alis.
"Udah meninggal Mbak," jawabnya sambil cengengesan.
Dengan sebal kukepal tangan dan memasang wajah emosi, "Bapak mau istri Bapak yang masak dan nyuci pakaian? Biar saya bantu Bapak buat ketemu sama istri Bapak, nih," cakapku dengan sebal.
"Oalah, pantesan jodoh. Istri sama suami ternyata sama-sama kejam," gumam si Bapak masih bisa kudengar.
Aku tahu dan percaya bahwa dia bisa melewatinya, hanya saja aku sedikit ragu bahwa dia kuat untuk bertahan.
"Nih, Pak. Makasih, ya," kataku menyerahkan helm juga ongkos.
"Sama-sama Mbak, jangan lupa kasih bintang lima, ya."
"Iya, Pak."
Berjalan mencari mobil Kak Kamelia dan keberadaan dirinya, aku di telpon olehnya bahwa ia akan segera menjemput anak-anak sebab sudah jam 12 siang juga.
"Ana!" panggil suara Kak Kamelia membuatku mencari di mana sosoknya.
Terlihat, ia sedang duduk di taman sekolah dengan Dara yang asyik makan cokelat. Berjalan mendekat ke arah mereka.
"Hai, Tante," sapa Dara dengan wajah yang sudah cemong dibuat cokelat.
"Ya, ampun. Kamu cemong banget, Sayang," kataku sambil menggelengkan kepala dan duduk di samping Kak Kamelia.
"Hehe, kata Mama gak papa Tante. Nanti, dibersihin."
"Iya, sih," ucapku sambil melihat ke arah pintu masuk-keluar, "Daisha udah pulang Kak?"
"Belum, bentar lagi. Tapi, dia udah tau kalo kita di sini, kok."
Aku hanya mengangguk dan ber'oh' ria sembari menatap ke arah Dara yang masih fokus pada cokelat yang hanya tinggal sedikit itu.
__ADS_1
"Kalian ... jadi pindahnya?"
"Jadi Kak."
"Hmm ... semoga betah di sana, ya."
"Aamiin."
"Kakak juga mau tinggal di rumah sendiri, lho," ungkap Kak Kamelia yang membuatku menatap ke arah dirinya, "cuma gak tega ninggalin Mama sendirian."
Kuhela napas dan hanya diam mendengar cerita Kak Kamelia, tak tahu harus menjawab apalagi karena jujur aku pun sulit untuk meninggalkan Mama.
"Nanti, Kakak cerita aja sama Mama dan Bang Dikta. Mana tau, ada jalan keluarnya, ya." Dia hanya mengangguk sedangkan aku menatap lurus ke depan.
"Hey! Ada apa?"
"Eh, gak papa, Kak. Cuma kepikiran sesuatu aja."
"Apa? Kasih tau Kakak mana tau bisa bantu."
"Enggak, gak perlu Kak. Aman, kok, aman," ucapku tak ingin mereka jadi kepikiran dengan apa yang tengah kami alami.
Suara bel sekolah berbunyi, aku dan Kak Kamelia bangkit melihat ke arah pintu, "Kamu jemput Daisha sana, Kakak mau bersihin tangan dan wajah Dara dulu."
"Hahaha, oke, Kak. Aku ke sana dulu, ya."
"Iya."
Berdiri di tempat yang memang biasanya dijadikan tempat untuk menunggu anak-anak. Kulihat satu per satu anak yang keluar takut kalau Daisha tak melihat keberadaan-ku.
"Sayang," panggilku pada dia yang sedang clingak-clinguk.
Saat mendapatkan keberadaanku, dirinya tersenyum dengan penuh bahagia. Kupeluk tubuhnya terlebih dahulu lalu mengandeng tangannya menuju ke tempat Kak Kamelia berada.
"Hey, Daisha!"
"Iya, Tante."
"Udah siap? Kita pulang?"
"Ayo!" ajaknya dengan semangat.
Kami akhirnya berjalan ke arah parkiran di mana ada mobil Mama yang terparkir, mobil Kak Kamelia dibawa oleh Bang Dikta tentunya.
"Mami habis dari mana?"
"Habis dari kantor Papi nganter makanan Sayang."
"Kok, Papi doang, sih? Daisha gak pernah Mami anterin."
"Daisha, 'kan sebentar sekolahnya jadi cukup bawa bekal aja gak perlu Mami anter. Kalo Papi, 'kan kerjanya sampe sore, Sayang."
"Emangnya Papi gak bisa bawa sendiri bekalnya? Kan, di makan pas siang Mi. Bisa dibawa sendiri dong."
"Mmm ... ya, nanti Papi bawa sendiri aja deh," putusku tak ingin memperpanjang perdebatan dengan Daisha.
__ADS_1