(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Tak Bisa Berjalan


__ADS_3

"Assalamualaikum Tante," salamku berjalan masuk ke dalam rumah.


Karena pesta bertema outdor, sudah ada beberapa orang yang menyiapkan untuk acaranya.


"Waalaikumsalam, Sayang. Ayo, ikut sama Tante," pintanya.


Aku langsung ikut dengan tangan yang digandeng Tante menuju kamar Ayudia, pintu dibuka tanpa permisi terlebih dahulu.


"Ayudia!" pekikku kaget melihat kondisinya.


Ayudia terduduk di sudut kamar memeluk kakinya, aku langsung duduk di lantai juga memeluk tubuh Ayudia.


"Tante gak tau dia kenapa, dia gak bisa Tante ajak bicara Sayang. Tante mau bawa dia ke psikiater juga malu orang-orang udah ramai di rumah Tante dari kemarin.


Jadi, Tante panggil kamu ke mari untuk bicara sama dia. Tante mohon, bujuk dia untuk bicara sebenarnya ada apa.


Dia kenapa kalau emang dia ngerasa gak cocok sama dekor dan lainnya bilang langsung atau dia harus dibawa ke psikiater juga gak papa.


Jangan diam kayak gitu, Tante takut dia kenapa-kenapa Ana. Setidaknya, dia bicara apa yang dirasanya. Jangan buat Tante khawatir."


"Baik Tante, Ana akan coba agar bujuk Ayu untuk mau bicara, ya."


"Iya, makasih, ya. Tante keluar dulu."


Kuanggukkan kepala dan menatap ke arah pintu yang benar-benar sudah tertutup, kulepas tas meletakkannya di samping.


Rambut Ayu sedikit kurapikan, di depannya kursi roda kutepikan dan mengusap bahunya dengan air mata kutahan.


"Ayu ... lu kenapa? Gue ada di sini, Ana! Gue, temen plus sahabat lu. Gak akan ada yang berani jahatin lu.


Lu kenapa? Cerita sama gue, lu jatuh dari kursi roda? Atau ... lu gak suka sama dekor yang dibuat Tante?


Mau ganti tema nikahnya? Biar gue bantuin, gak papa kok. Suami gue juga ntar gue suruh bantuin deh. Gak papa."


Pandangan yang dari tadi kosong menatap ke depan sekarang beralih menatap ke arahku di sampingnya.


Kutampilkan senyuman hangat sebagai seorang sahabat untuknya, memang kami sedikit ada masalah beberapa waktu yang lalu.


Namun, semua sudah selesai dan aku sudah memaafkan semua yang terjadi di masa itu.

__ADS_1


"Dia pergi Ana."


Kalimat yang keluar dari mulut Ayu membuat aku menautkan alis bingung, "Siapa yang pergi Ayu?"


"Dia ... hiks ... dia pergi Ana, laki-laki itu pergi padahal sebentar lagi kami akan menikah! Dia bilang dia gak mau sama wanita cacat kayak aku.


Aku udah bilang bahwa aku gak cacat, aku bisa jalan hanya menunggu waktu saja. Tapi, kakiku gak bisa dijalankan Ana.


Kakiku gak bisa aku gerakkan, kata Mama aku awalnya pakai kursi roda hanya karena lemas. Lalu, sekarang kenapa aku gak bisa jalan Ana?"


Teriakan dan emosi Ayu membuat aku kaget dan sedikit takut padanya, aku masih mencoba memahami setiap kata yang keluar dari ucapannya.


"Rian? Dia pergi?"


"Iya, Ana. Hiks ... laki-laki itu pergi saat kami sudah akan nikah, aku buat malu Mama Ana. Aku memang anak yang tidak bisa dibanggakan.


Aku hanya akan buat Mama malu, lebih baik aku mati saja Ana. Aku benci pada diriku sendiri!"


Ayu memukul dirinya sendiri, aku yang kaget dengan suara pukulan cukup keras itu langsung panik dibuatnya.


"Ayu-ayu, jangan begini ayu!"


"Ayu, Sayang. Jangan seperti ini Nak, jangan sakiti dirimu sendiri!"


Tante menahan tangan Ayu agar tak menyakiti tubuhnya sedangkan aku mengambil handphone untuk menghubungi dokter.


Setidaknya, dokter bisa memberikan obat agar Ayu bisa lebih tenang dan tak menyakiti dirinya sendiri seperti ini.


"Ayu! Ayu!" pekikku di hadapannya menangkup wajahnya yang sudah di tutupi oleh rambut.


Kusingkirkan rambut dan merapikannya kembali, "Kamu ... gak akan membuat Tante malu, dia bukan terbaik untuk kamu Ayu. Dia memang gak pantas buat kamu."


"Enggak! Ini semua salah aku, dia pergi gara-gara aku yang gak bisa jalan."


"Kamu bisa jalan Sayang," jawab Tante dengan nada serak, "hanya perlu waktu bukan berarti kamu lumpuh."


"Enggak! Mama bohong, kenapa aku gak sembuh-sembuh juga? Kenapa aku malah dibawa ke rumah sakit untuk berlatih jalan?"


Tante hanya bisa menangis dengan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ayu! Liat aku Ayu, liat aku sebagai teman dan sahabat paling mengerti dirimu. Kau kenal aku, 'kan?


Ayu ... jika dia emang terbaik buat lu, mau lu gak bisa jalan atau bahkan gak bisa melihat sekalipun dia akan tetap ada di sisi lu.


Bukan lu yang salah, atau pun dia. Tapi, ini semua tentang takdir. Kalian gak ditakdirkan bersama Ayu!


Lu gak bisa nyalahin diri sendiri apalagi sampai nyakitin diri sendiri, masalah malu? Tante gak akan pernah malu jika nikah lu harus batal.


Nikah batal lebih bagus daripada nikah yang gagal, setidaknya lu gak dapat rasa sakit yang luar biasa daripada ini!"


"Lagian, lu itu bisa jalan. Hanya butuh waktu karena kecelakaan waktu itu, gak ada yang baik-baik aja setelah kecelakaan Ayu.


Lu pernah liat motor tetap oke padahal baru saja kecelakaan? Gak pernah, 'kan? Motor aja gak pernah ada yang baik-baik aja apalagi tubuh manusia.


Semua butuh waktu dan proses untuk sembuh Ayu, lu gak bisa salahkan siapapun atas hal ini bahkan atas kepergian dia.


Ini semua takdir, dia jahat? Ya, mungkin memang dia jahat karena pergi gak dari awal. Tapi, setidaknya dia menemani lu saat di mana lu butuh sosok dia," sambungku membuat Ayu menatap lekat ke arahku.


"Sekarang, lu istirahat dulu, ya. Lu sarapan, gue yang akan suapin lu. Gue akan temani lu, ada gue di sini.


Ada Mama lu dan ada keluarga lu. Lu gak sendiri, banyak orang yang sayang sama lu."


Aku melihat ke arah adik-adik Ayudia yang berdiri tak jauh dari pintu, mereka tampak menampilkan wajah sendu menatap keadaan kakanya.


"Kita pindah tempat duduk, ya, di sini dingin," ajakku tersenyum mengusap kepala Ayudia.


Ia mengangguk perlahan sebagai jawaban, aku dan Tante langsung berdiri membantu Ayu untuk pindah ke tempat tidur.


Memang awalnya Tante menyuruh aku agar berbohong bahwa Ayu harus pakai kursi roda karena masih lemas tubuhnya.


Padahal, ada bagian kaki Ayu yang patah tapi bukan berarti tidak bisa diobati. Buktinya, ia sudah mulai berlatih di rumah sakit.


"Tante ambil makan dulu, ya."


Kuanggukkan kepala dan membiarkan Tante keluar, adik-adik Ayu akhirnya ikut keluar juga meninggalkan kami di kamar berdua.


"Ini kayaknya karma buat gue, ya, Ana. Karma, karena gue udah sok mau ngerebut orang yang pernah disukai oleh sahabat gue sendiri."


Kugelengkan kepala saat Ayu menatap ke arahku, "Ini takdir namanya Yu, bukan karma."

__ADS_1


__ADS_2