(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Rumah Sakit


__ADS_3

Ayudia masuk ke dalam ruangan setelah kuberi tahu bahwa orang tadi ialah bos juga Papi anak yang ada di sampingku ini.


"Kalau dudanya kayak gitu, gue juga mau sama yang duda!" pekiknya tadi sebelum masuk ke dalam ruangan.


Tak habis pikir, bisa-bisanya dia berteriak seperti itu sedangkan ada Daisha di sampingku. Kuelus kepala Daisha yang tak bergeser dari bersandar.


'Kalau dipikir-pikir, Pak Raditya kayak emang takdir aku, ya. Bisa pas banget, gitu. Entah apa yang membawa dia sampe ke sini.'


Aku mengulum senyum membayangkan betapa beruntungnya aku ada Pak Raditya tadi yang menolong. Kalau tidak? Entah sudah bagaimana tulangku ini atau bahkan nyawaku mungkin sudah melayang.


Sekitar tiga puluh menit menunggu, akhirnya mereka berdua keluar bersamaan dengan salah satu dosen.


"Kau tidak papa 'kan Azaelana?" tanya dosen menatapku.


"Alhamdulillah, gak papa Pak."


"Syukurlah," jawabnya dengan mengangguk.


"Baik kalau gitu Pak, saya pulang dulu. Saya harap kampus ini bisa tegas menghadapi manusia seperti itu!" tegas Pak Raditya menjulurkan tangannya.


"Baik Pak, kami akan beri hukuman yang sesuai kepada mereka berdua."


"Terima kasih!"


"Sama-sama Pak, kalau begitu saya kembali ke dalam, ya."


"Silahkan!"


Dosen tadi kembali masuk ke dalam, Pak Raditya mendekat ke arahku sedangkan Ayudia tersenyum tak jelas juga mengacungkan jempol secara sembunyi-sembunyi membuat aku mengerutkan dahi.


"Ayo kita pulang, Daisha biar saya yang gendong," ucap Pak Raditya membuatku mengalihkan pandangan.


"Tapi, Pak. Saya masih ada kelas."


"Kata dosen, lu dikasih libur sekalian cek mana tau ada tulang yang patah juga memar," celetuk Ayudia dengan wajah kembali datar tak seperti awal.


Pak Raditya menggendong Daisha yang memang sudah tertidur dari tadi, "Bawakan tasnya, ya," titah Pak Raditya pergi lebih dahulu meninggalkan aku.


"Huft ... kalau gitu, gue pulang duluan, ya," pamitku berdiri sambil memegang tas ransel Daisha.


"Yaudah, lu hati-hati. Terutama jantung lu, berabe ntar kalo sampe kedengaran degub jantungnya," goda Ayudia yang ikut berjalan denganku.


"Dih, apaan, sih? Dia itu bos gue, gak lebih! Dia kayak gitu karena gue, 'kan kerja sama dia. Otomatis gue tanggungan dia, dong," belaku agar tak malah baper sama Pak Raditya akibat ulah Ayudia.

__ADS_1


"Bos jadi suami kayaknya udah banyak deh terjadi, jadi gak ada salahnya, 'kan? Lagian, lu juga gak miskin amat dan gak jelek amat."


"Tapi, dia taunya gue anak pemulung."


"Ha? Kenapa bisa?" kaget Ayudia sampai berhenti.


"Ya, dia pernah liat gue ngasih pemulung makanan. Eh, dia malah ngira bahwa gue tuh anak pemulung," ucapku yang ikut berhenti kemudian melangkah kembali.


"Iya, juga, sih. Lu tuh emang gak pantes jadi orang kaya, pakaian aja selera lu rendah. Lu tuh gak kek orang kaya pada umumnya gitu."


"Heh! Gak pada umumnya lu bilang? Uang Mama dan Papa gue aja habis mulu gue buat."


"Nah, kesalahan lu itu. Uangnya itu lu kasih untuk membantu orang-orang, bukan buat pribadi lu. Seharusnya, lu buat duit lu itu untuk perawatan atau beli baju dan barang branded."


"Hadeuh ... gue gak butuh barang branded, orang yang pakai barang ternama begitu artinya orang yang tidak percaya diri.


Sehingga, dia harus pakai barang mahal dulu biar percaya diri bahwa dirinya itu pantas untuk dilihat orang-orang ramai."


"Ntahlah, gak paham gue jalan pikiran orang kaya kek lu," gerutu Ayudia mengalihkan pandangannya.


Sedangkan aku, hanya terkekeh mendengar ucapannya barusan. Dia yang memulai, malah dia yang emosi padaku.


"Kita ke rumah sakit, ya," ujar Pak Raditya saat kami sudah berada di jalan raya.


"Gak perlu Pak, saya rasa. Saya baik-baik aja," jawabku yang duduk di sampingnya sambil memangku Daisha yang tertidur pulas.


"Kau, 'kan bukan jurusan dokter apalagi perawat. Kau tentu tak tau apakah kau sehat dan baik-baik saja Azal."


"Hadeuh Pak, nama saya Azaleana panggil aja Ana. Ini malah Bapak panggil begituan pulak nama saya," keluhku lagi-lagi dengan nama panggilan yang ia berikan.


"Kenapa emangnya? Ada masalah?" Pak Raditya menatap ke arahku dengan wajah tanpa ekspresi membuat aku sedikit bergedik ngeri dibuatnya.


"Hehe, enggak Pak. Terserah Bapak aja deh mau bawa saya ke mana dan manggil saya apa, saya seneng kok," kataku dengan cengengesan.


'Buset, dah, gini amat kalo deket sama Om duda. Bawaannya rada serem, apa mungkin istrinya pergi gara-gara sifatnya kayak gini, ya?'


"Jangan ngatain saya di dalam hatimu Azal, tanyakan langsung daripada kau dosa nantinya sama saya," celetuk Pak Raditya membuatku terkejut dan langsung menatap ke arah wajahnya yang tengah fokus melihat jalanan.


Kami akhirnya benar-benar sampai di rumah sakit, Daisha sengaja dibangunin oleh Pak Raditya karena katanya setelah ini kami akan makan di luar.


Aku menunggu di samping resepshionis dan membiarkan Pak Raditya yang berbicara dengan suster yang ada.


"Siapa yang sakit Mi?" tanya Daisha membuatku menundukkan pandangan menatap dirinya yang ada di bawah.

__ADS_1


"Gak ada yang sakit Sayang."


"Terus, kita ngapain ke sini?"


"Gak tau, ngikutin Papi aja."


"Ayo!" ajak Pak Raditya melirik ke arah kami sekilas lalu jalan lebih dulu entah ke ruangan apa aku pun tak tahu.


Kami sampai di ruangan yang hanya tertera nama dokternya di situ, melihat namanya aku sudah tahu bahwa ini adalah dokter wanita.


"Hay, Raditya. Udah lama banget kita gak ketemu, ya," sapa wanita yang baru saja membuka pintu ruangannya dan ingin berpelukan dengan Pak Raditya.


"Emm ... maaf Anggi," tolak Pak Raditya halus membuat dia akhirnya tak jadi melakukan hal tersebut.


"Eh, sorry-sorry. Gue bahagia banget lu ke sini sampe kelepasan," kikuknya.


Ia melihat ke arah kami, aku mencoba untuk tersenyum sedikit dan pandangannya mengarah ke Daisha.


"Eh, ini Daisha, ya? Anak lu? Wah ... udah gede aja," ujarnya jongkok menatap ke arah Daisha.


"Salim Sayang," titahku mengusap punggungnya.


"Salim, ya, Mi?" tanya Daisha mendongak menatapku dan kubalas dengan anggukan.


"Mi? Mami?" tanya dokter Anggi yang ikut mendongak dengan nada kaget.


"Oh, itu. Daisha emang manggil seperti itu ke pengasuhnya," jelas Pak Raditya membuat dokter Anggi mengangguk.


"Oh, jadi cuma pengasuh toh?"


Ia kembali berdiri, "Jadi, ada keperluan apa lu ke sini?"


"Tolong periksa dia."


"Ha? Emang dia kenapa?"


"Jatuh dari roftop."


"Hmm ... ceroboh banget."


"Maaf, ya, dokter. Saya bukan ceroboh, kalo gak tau gak usah sok tau deh! Ngatain orang ceroboh segala! Gak seperti ini deh seharusnya sikap seorang dokter yang saya tau!


Saya mau pulang aja Pak, kalo Bapak mau reunian dengan dokter ini silahkan. Saya bisa naik taksi. Permisi!" pamitku pergi begitu saja dengan membawa Daisha yang malah semakin mengeratkan jarinya di tanganku.

__ADS_1


__ADS_2