(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Harus Sujud


__ADS_3

"Ehem! Jadi, kau beneran anak orang kaya Azal?" tanya suara bariton yang tak asing membuat aku buru-buru menghapus jejak air mata.


Kulihat ke arah samping saat merasa air mataku telah tak ada lagi, "Hehe, itu dulu, kok Pak. Sekarang saya udah gak anak orang kaya lagi," jawabku dengan tersenyum simpul.


Pak Raditya duduk begitu saja membuat aku merasa tak enak, meskipun dengan jarak yang lumayan jauh.


"Gimana, kalau saya kasih kau pekerjaan tambahan? Ya, hitung-hitung bisa buat jajan atau perawatanmu."


"Pekerjaan tambahan? Ngapain Pak?" tanyaku menautkan alis.


"Besok, mantan mertua saya akan datang ke sini. Kau harus pura-pura mengaku istri saya, jangan terlihat seperti wanita bodoh.


Jika dia berbicara inggris dan membahas soal segala sesuatu tentang dunia wanita, maka kau harus mengikutinya."


"Lah, kalo saya gak tau Pak?"


"Pasti tau, kau 'kan wanita. Masa, gak paham, sih. Besok kita langsung pergi ke mall lebih dulu untuk dirimu perawatan, ya."


"B-baik, Pak," jawabku setuju meskipun dengan kebimbangan yang amat besar.


***


"Kalian dari mana?" Seorang wanita yang mungkin umurnya sudah hampir setengah abad berdiri di depan rumah Pak Raditya.


Kuamati dandanannya yang seperti anak gadis saja, padahal sudah sangat tak layak baginya mengingat umurnya itu.


'Ini, kali, ya, mantan mertua Pak Raditya?' batinku melirik ke arah Pak Raditya yang tersenyum padanya.


"Kami habis jalan-jalan, Ma," ujar Pak Raditya.


"Hello, Nek," salam Daisha dengan melambaikan tangan.


"Eh, hello Sayang," jawabnya dengan sedikit membungkuk menatap Daisha.


Ia beralih menatap ke arahku dengan intens, aku hanya menatap ke arahnya tanpa senyum sedikitpun.


"Dia ... siapa?" tanyanya bertanya pada Pak Raditya.


"Dia istri saya."

__ADS_1


"Ha? Sejak kapan? Kenapa kau tak memberi tau saya?"


"Udah tiga bulan yang lalu, buat apa saya kasih tau ke Mama? Kan, diantara kita udah gak ada apa-apa lagi."


"Gak ada apa-apa lagi? Istri kamu akan balik dari luar negri dan gimana dia kalo tau semua ini?" tanyanya dengan wajah marah.


"Maaf, tapi saya gak punya istri saat menikahi dia. Bukannya saya sudah bercerai bahkan bertahun-tahun yang lalu dari putri Anda?"


"Raditya, Mama kira kamu akan menunggu anak Mama. Dia hanya khilaf karena posisinya baru melahirkan, semua ini terlalu mendadak bagi dirinya."


"Maaf, dia yang dari awal meminta saya untuk segera menikahi dia. Tapi, dia merasa mendadak Anda bilang? Haha, seharusnya dia udah paham konsekuensi jika menikah.


Saya juga tak pernah memaksa dia untuk mengurus anak sendirian, saya sudah beri dia pilihan tapi malah yang dipilih oleh dirinya jauh dari ekpektasi saya!"


"Tapi, dia melakukan itu--"


"Maaf, ya, Bu. Ibu ke sini ada keperluan apa? Kalau hanya ingin menyuruh suami saya agar kembali pada anak Ibu itu, kayanya ibu gak bisa melakukan hal itu!


Karena sekarang, saya adalah istrinya dan kami sudah sangat-sangat bahagia tanpa ada anak Ibu. Saya juga menyayangi Daisha seperti menyayangi anak saya sendiri, kok," potongku ucapan wanita itu. Dia tampak kesal bahkan sepertinya tak terima dengan apa yang kukatakan barusan.


"Heh! Denger, ya!" Ia maju ke arahku dengan menunjuk ke arah wajah ini, "sampai kapan pun, kau tak ada berhak merawat cucuku!"


Karena, saat saya menikah dengan Mas Raditya saya sudah tau konsekuensinya bahwa saya harus mengurus dan menyayangi Daisha sama seperti saya menyayangi anak saya sendiri."


Prok!


Prok!


Prok!


"Saya pikir, Raditya akan mendapatkan istri yang sikapnya jauh di atas anak saya bagusnya. Tapi ternyata, saya salah. Bahkan, sikap kau sama sekali tak ada bagus-bagusnya. Bagaimana kau bisa mengajari cucu saya menjadi orang yang baik jika sikap kau saja buruk?"


"Wah ... jadi Ibuk mau sikap saya harus sebagus mana? Apakah saya harus sambil sujud dan mencium kaki Ibuk baru dikatakan bagus? Hahaha."


Wajahnya memerah dengan tangan yang terkepal mendengar jawaban dariku.


"Udah-udah, maaf, ya, Ma. Kami harus masuk karena mau pergi sebentar lagi."


"Oh, jadi, kamu sudah berani mengusir Mama?"

__ADS_1


"Ya, ngapain Mas Raditya gak berani mengusir Mama? Ini, 'kan rumah dia bukan rumah Mama," jawabku enteng tanpa rasa takut sedikit pun.


"Kamu gak ada capek-capeknya ngurusin hidup anak saya, ya," timpal seseorang membuat kami melihat ke arah belakang.


Terlihat sepasang orang yang mungkin adalah suami-istri, "Nenek!" pekik Daisha yang dari tadi berada di tengah-tengah kami sambil memegang tanganku.


Ia berhambur ke pelukan wanita yang memakai kacamata tersebut, aku langsung menatap ke arah Pak Raditya dan laki-laki itu juga melirik ke arahku.


"Anak-anak kita bukan lagi anak kecil, jangan atur mereka! Apalagi kau berani sekali mengatur anak saya, siapa dirimu? Anak saya sudah tak ada urusannya dengan dirimu lagi."


"Mbak, coba Mbak liat deh. Masa, anak Mbak menikahi wanita yang seperti ini. Apa jadinya nanti cucu kita itu di didik dengan wanita seperti dia?" tanya wanita tadi mengadu ke orang tua Pak Raditya.


'Mamp*s, bukan begini deh perasaan rencananya. Gimana malah bisa-bisa Mama dan Papa Raditya malah kemakan bohongan tentang kami,' batinku yang mulai gelisah.


"Kenapa memangnya? Menantu saya ingin gak jelek-jelek banget, dia cantik dan juga sholehah, kok, ini," kata Mama Pak Raditya berjalan ke arahku sambil merangkul bahuku.


Aku membulatkan mata takut jika malah setelah ini orang tua Pak Raditya akan marah padaku karena mengaku-ngaku sebagai istri anaknya.


"Sekarang, saya minta kamu pergi dari sini. Jika niat kamu hanya untuk mengatur-ngatur anak saya, lebih baik tidak perlu datang ke sini lagi!" terang Mama Pak Raditya dengan tegas.


Wanita tadi akhirnya melongos pergi dengan wajah marah dan kesal tentunya, ia menatap tejam ke arahku sebelum pergi dari hadapan kami.


Aku merasa canggung setelah kepergian wanita tadi, rangkulan dilepaskan oleh Mama Pak Raditya dan melihat ke arahku.


Kutampilkan senyuman dengan tangan menggaruk tengkuk yang tak gatal, "Dia siapa Raditya?" tanya Mama Pak Raditya kepada anaknya tapi matanya tetap mengarah ke aku.


"Dia Mami Daisha, Nek," timpal Daisha yang membuatku kaget.


"Eh, bukan Buk. Saya cuma pengasuh Daisha, kok," ujarku dengan cepat takut jika akan semakin banyak kesalahpahaman di sini.


"Lah, tapi cucu saya bilang kamu Maminya," ujarnya dengan wajah tanpa senyum.


Jujur, kalau bisa pergi dari tempat ini saat ini juga. Aku ingin pergi dan menghilang, sangat tak nyaman rasanya melihat aku yang tak pernah berada di posisi seperti ini.


"Udah-udah, ayo kita masuk ke dalam. Kayak gak ada aja tempat duduk di dalam sana," potong laki-laki yang datang dengan wanita ini tadi.


Pak Raditya langsung membuka pintu rumah, aku memilih ke pinggir mempersilahkan mereka terlebih dahulu masuk.


Di buka dengan Pak Raditya, Mamanya dan Daisha baru lelaki tadi dengan menyeret koper.

__ADS_1


"Kayaknya mereka akan lama deh di sini, aduh ... gimana, ini? Aku tinggal tempat Ayudia aja deh, atau cari kerja yang ada tempat tinggalnya," gerutuku yang cemas.


__ADS_2