
"Eh, lu sama siapa di sini Ana?" tanya Rendi yang menghampiri kami.
"Tuh," tunjukku ke arah Mas Raditya yang semakin mendekat ke arah kami.
"Lho, kapan ke sini? Berapa lama di sini? Kita jalan-jalan bareng, yuk!" ajak Rendi dengan senang.
"Eh, kalian di sini juga?" tanya Mas Raditya baru saja sampai di tempat kami berkumpul.
"Iya, nih, ada kerjaan soalnya yang belum di selesaikan. Kemaren, 'kan ambil cuti buat kondangan doang bukan buat nikahan," jelas Rendi cengengesan.
"Kayak dapat durian runtuh pas pagi-pagi, ya, Ren," celetukku menaikkan sebelah alis.
"Bener Ana! Hahaha."
"Yaudah, yuk, kita masuk ke dalam!" ajak Ayu memotong pembicaraan.
Kami berdua akhirnya mengangguk, mereka jalan lebih dulu di depan kami dengan tawa dan canda. Sedangkan aku melirik ke arah Mas Raditya yang sepertinya masih kepikiran soal perusahaannya itu.
Kugenggam tangannya sembari mendongak, ia menatap ke arahku, "Mas, kalau emang hati kamu gak tenang. Gak papa, kok, kalau kita pulang malam ini. Jadi, besok bisa langsung ke sana.
Aku juga udah khawatir sama Daisha, kok. Kita bisa ke sini kapan pun itu, saat sama Daisha juga gak papa kok," kataku menenangkan dirinya dengan tersenyum.
Mas Raditya hanya mengangguk dan membalas senyumanku, "Maaf, ya, kalau kau malah jadi gak bahagia gini gara-gara aku Sayang."
"Siapa yang bilang gak bahagia? Bahagia, kok. Yaudah, hari ini kita bahagia dulu, ya. Kita nikmati berduaan di pantai ini.
Nanti malam, kita langsung pulang aja biar besok kalau gak capek kamu bisa langsung ke pergi deh."
"Yaudah, iya. Makasih udah ngertiin."
"Sama-sama Mas."
"Woy, dunia serasa milik berdua, ya?" pekik Ayu membuat aku dan Mas Raditya menatap ke arahnya.
Kulirik ke arah sekitar, beberapa pasang mata melihat ke arah kami akibat ulahnya yang berteriak.
"Minta di bun*h kayaknya tuh anak," gerutuku dengan wajah marah.
"Haha, nanti kau nangis Sayang. Gak ada lagi temen seperti dia," ejek Mas Raditya.
"Iya, juga, sih. Tapi, 'kan sekarang udah punya suami. Jadi, gak butuh temen karena suami bukan hanya tugasnya jadi seorang suami dan imam doang.
Tapi, jadi seorang; teman, sahabat, adik, kakak, ayah dan lainnya."
"Wah ... berat banget, ya, tugasnya."
__ADS_1
"Hahaha, dan kamu malah sok mau Mas-mas."
"Ya, gimana, ya. Namanya juga cinta."
"Heleh!" Aku berjalan meninggalkan dirinya, tak ingin mendengarkan gombalan-gombalan yang sepertinya dilihat dari internet.
"Kan, cewek mah gitu. Kalo kita sebagai cowok muji cewek lain dia percaya, kalo kita muji dia. Eh, dia malah gak percaya," gumam Raditya menggelengkan kepala berjalan mendekati Ana.
Aku dan Mas Raditya bermain di pantai, tak lupa meminta tolong fotokan pada Ayu terlebih dahulu dong.
Dengan berbagai pose yang kuketahui, Mas Raditya hanya menuruti pose yang kuarahkan pada dirinya.
"Mas, kamu gak pernah olahraga, ya?" tanyaku saat menggerakkan tubuhnya dibagian yang mendukung pose agar terlebih keren.
"Pernahlah," jawabnya cepat seolah tak terima dengan pertanyaan itu.
"Kok kek kenebo kering gini, sih?"
"Heh, kamu kira badan kek kenebo kering dan badan kek ulat tanah itu sama? Kalo olahraga, 'kan bukan berarti badannya bisa kek ulat tanah.
Kalau yang hobby dance atau joget-joget, baru tuh badannya kek ulat tanah. Disamain olahraga angkat besi dan lainnya sama kek joget-joget," protesnya menggerutu sebal mendengar pertanyaanku.
Aku langsung tertawa melihat dirinya tak terima seperti itu, "Iya-iya, maaf, ya, Mas," kataku agar dia tak semakin kesal dan sebal.
Tak sama sekali membuat dirinya menjadi mode baik padaku ternyata, "Yaudah, kalau gak mau maafin mah terserah! Yang penting aku udah minta maaf!" putusku cara terakhir dan membalikan badan.
Ini adalah cara satu-satunya agar bisa dimaafkan dengan ikutan ngambek juga seperti dirinya.
"Lah, malah ikutan ngambek."
"Serah!"
"Sayang, maafin aku, ya," ucapnya memegang bahuku dan memutarkan balik badan ini.
Kukulum senyum jangan sampai terlebih bahagia apalagi senang karena berhasil membuat dirinya tak lagi ngambek.
"Lagian, kamu juga! Aku udah minta maaf pun," rengekku mengerucutkan bibir.
Di bawanya aku ke dalam dekapan, tinggiku yang hanya sedagu dirinya membuat Mas Raditya jadi gampang kalau mau memeluk tubuhku.
"Iya-iya, maafin Mas, ya," bujuknya sembari mengusap kepalaku dan mengecup kening ini.
Aku kembali tersenyum dan kali ini, aku gagal menyembunyikannya karena ia dengan cepat melepaskan pelukan.
"Eh, udah senyum. Mas udah dimaafkan, dong?" tanya Mas Raditya menatap wajahku.
__ADS_1
Kuanggukkan kepala meskipun dengan malu-malu, bagaimana pun kami masih pengantin baru, bukan?
Wajar jika harus ada adegan malu-malu mau, kami manusia bukan kucing soalnya jadi bukan malu-malu kucing.
"Wo?! Aelah, kalian mau minta fotokan atau minta videokan buat film 18+, ha?" teriak Ayu yang emosi di sana.
"Lah, iya, Mas. Kita, 'kan mau foto hahahah," kataku sambil tertawa ketika teringat bahwa kami awalnya ingin berfoto malah asyik dengan ngambek tak jelas ini.
"Hahaha, harap maklum. Pengantin baru!" pekikku menatap Ayu dengan matanya yang sudah menyipit.
"Baruan juga kami!" jawab Ayu tak mau kalah.
Akhirnya, kami berdua kembali berpose dengan model sebisaku. Hingga akhirnya merasa lelah dan memutuskan untuk duduk di tepi pantai sambil melihat hamparan air terbentang di depan kami.
Kusenderkan kepala di bahu Mas Raditya dengan tangan mengemil jajanan yang sengaja kubawa.
"Mas, kamu janji akan selalu menjaga aku, 'kan? Gak akan ninggalin aku, 'kan? Kamu ... gak akan lakuin hal yang sama dengan mantan istri kamu ke aku, 'kan?" tanyaku bertubi-tubi pada Mas Raditya.
Saat overthingking soal dirinya kembali hadir di dalam pikiranku, aku teramat takut jika sudah mencintai lalu dia pergi begitu saja meninggalkan diriku sendiri.
Mas Raditya menegakkan tubuhku dan membuat aku menatap ke arahnya, ditangkupnya pipiku dengan kedua tangannya itu.
"Kamu lihat mata aku, Sayang? Apakah terlihat bahwa aku akan berbohong atau mendustakan kamu?
Aku ... akan selalu bersama dirimu juga anak-anak kita nanti, aku akan menjaga kalian dan menemani kalian bahagia serta tertawa bersama," ungkap Mas Raditya dengan mataku yang sudah tak bisa menahan bulir bening lagi.
Jarinya mengusap pipiku menghilangkan jejak air mata, "Jangan menangis untuk ketakutan Sayang, tapi menangislah untuk kebahagian yang kamu rasakan. Oke?!"
Kuanggukkan kepala setelah mendengar ucapannya barusan, mengangkat jari kelingking di depannya.
"Janji, ya?" tanyaku dengan suara serak. Dirinya tersenyum dengan begitu manis sambil menautkan jari kelingking kami.
"Janji!" tegasnya penuh semangat.
"Udah, ah, kenapa malah sedih-sedihan kayak gini? Mending, sekarang kita main air aja yuk!" ajak Mas Raditya menggenggam tanganku.
"Gak, ih, Mas. Aku gak mau ke sana, males main air, ih. Nanti Ana berubah jadi mermaid, gimana?"
"Gak papa, aku kuat menggendongmu sampai ke daratan kok. Nanti, akan kubantu keringkan kakimu agar biar bisa berubah jadi manusia lagi."
"Gak, nanti manusia akan menangkap aku Mas," tolakku yang memang tak ingin basah-basahan.
"Tenang saja, manusia yang pertama kali menangkap kamu adalah aku Sayang. Jadi, tak perlu khawatir," ujar Mas Raditya bangkit dan bersiap-siap menggendongku.
"Enggak, ih, Mas! Aku gak mau ih!" pekikku saat tak sempat berlari menjauh darinya.
__ADS_1