(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Ke Rumahnya


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dan selama seminggu pula tak kutemui ada Buk Clara di kampus. Atau mungkin Daisha lagi sakit sehingga dia libur ngajar?


Atau ... mereka malah melangsungkan pernikahan ke dua kalinya? Otakku di penuhi dengan menebak-nebak soal mereka.


Padahal, tak ada untungnya juga padaku mau apa yang terjadi pada kehidupan mereka itu. Hari ini, aku akan berangkat ke tempat nenek.


Semua keperluan telah kusediakan dibantu oleh Mama dan juga Papa, sedangkan Abang? Dia masih saja tak terima dengan diriku.


Nantinya, aku akan kembali lagi ke rumah ini untuk merebut hati Abang seperti dulu. Menyayangiku dan juga mencintaiku selayaknya adik kecilnya.


"Kamu jangan bandel di sana, ya, kasian Nenek. Denger apa yang Nenek bilang!" peringat Papa.


Aku tersenyum dan mengangguk, sebenarnya ini keputusan yang amat berat bagiku. Harus meninggalkan semuanya termasuk Daisha.


Namun, ini semua demi aku. Bukan demi yang lain, aku tak mau berlarut-larut dalam kesedihan yang terjadi.


Setelah selesai berpelukan, mataku menangkap sosok yang berdiri di balik pintu sambil melihat ke arahku.


Senyum dan lambaian tangan kuberikan padanya, tapi tak dibalas dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Kalau gitu, Ana pergi dulu, ya, Pa, Ma. Jaga kesehatan dan jangan bertengkar!"


"Heleh kamu itu, kaya orang dewasa aja. Segala nasehati soal begituan."


"Hahaha ... ya, gak papa dong sesekali Pa."


Masuk ke dalam mobil, aku diantar oleh taksi yang dipesan oleh Mama. Ada perasaan sedih padahal aku sudah pernah pergi dari rumah ini.


Entah kenapa rasanya kali ini berbeda. Beda dari aku yang pergi saat itu lalu tinggal di rumah Pak Raditya.


Di perjalanan aku hanya menikmati musik dan sesekali melihat ke arah jalanan, dengan wajah datar tanpa semangat.


***


"Iya, Sayang. Nanti kita ketemu sama Mami Ana," bujuk Raditya pada Daisha.


Baru dua hari keluar dari rumah sakit, Daisha sudah merengek pada Raditya agar bertemu dengan Ana.


Meskipun ada Clara di ruangannya, bukan sosok wanita itu yang ia cari melainkan Ana. Beberapa rayu dan bujukan dilontarkan oleh mereka agar Daisha mau; makan, minum obat dan lainnya.


"Papi bohong! Papi pembohong, waktu itu juga Papi bilang Mami akan datang. Tapi, Mami gak datang-datang sampe Daisha pulang.


Daisha gak suka ada Mami Clara! Daisha gak mau sama dia, Daisha mau sama Mami Ana aja!"

__ADS_1


"Heh! Yang Mami kandung kamu itu saya! Bukan wanita itu!" marah Clara yang dari tadi menahan emosinya di belakang Raditya tanpa mereka berdua ketahui.


Raditya yang melihat Clara memegang bahu anaknya dengan begitu kencang bahkan membuat Daisha meringis langsung menepis tangan wanita itu dengan kasar.


"Kau tak berhak melakukan hal itu pada Daisha!" murka Raditya dengan rahang yang mengeras. Daisha langsung ditarik ke samping Raditya menjauh dari Clara.


"Lagian, dia merindukan orang yang benar-benar pantas dirindukan! Aku pikir dengan kau pergi dari kami kemudian kembali lagi artinya kau sudah belajar!


Tapi ternyata, aku salah besar. Kau tetap saya menjadi wanita yang sama sekali tidak ada jiwa ke-ibuannya.


Sangat berbeda dengan Ana yang begitu menyayangi anak-anak!"


"Jangan pernah bandingkan aku dengan wanita gak jelas itu!" peringat Clara menunjuk ke arah Raditya dengan geram.


"Iya, karena sudah pasti tidak akan sebanding. Sekarang, silahkan keluar dari rumah saya!"


"Kau ... kau ngusir aku?"


"Ya! Bahkan kalau bisa, aku ingin menyeretmu dari rumahku!"


"Wah ... hahaha, hanya karena wanita gak jelas itu. Kau bahkan berniat untuk menyeretku?" tanya Clara tak percaya dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Keluar sekarang juga atau aku benar-benar akan menyeretmu!" tekan Raditya menunjuk ke arah pintu dengan wajah datar.


Wanita itu akhirnya pergi dengan menghentakkan kakinya, Daisha yang tadi memeluk kaki Raditya karena ketakutan membuat hati laki-laki itu tersayat.


Ia jongkok dan segera memeluk Daisha, "Hiks ... Daisha mau Mami, Pi. Daisha mau Mami Ana!" teriak Daisha dengan isakan air mata.


"Iya-iya, Sayang. Kita ke tempat Mami Ana, yuk!" bujuk Raditya yang membuat Daisha langsung diam dan menatap Raditya.


"Beneran Pi? Papi tau di mana rumah Mami Ana?"


"Iya, tau, kok."


"Yaudah, ayo kalau gitu! Daisha udah kangen sama Mami!" ajak Daisha menarik tangan Raditya.


"Haha, iya sebentar Sayang."


'Aku pikir, dengan mendekatkan Clara juga Daisha membuat mereka pada akhirnya menjadi saling sayang.


Tak mungkin juga aku pisahkan antara anak dan ibu kandungnya, tapi ternyata aku salah. Wanita itu tak juga berubah.


Dia masih saja menjadi wanita yang penuh dengan ambisi soal dunia dan karir, bahkan cara menghadapi anak-anak dengan baik saja dia tak mampu.

__ADS_1


Maaf Azal, aku udah keterlaluan denganmu. Kali ini, aku akan bersikap baik padamu dan tidak merendahkan posisimu itu meskipun hanya seorang pengasuh.'


Sekitar tiga puluh menit, akhirnya Raditya sampai di rumah yang dituju. Ia hanya dikasih tahu alamat rumah Azaleana oleh anak buahnya.


Ketika sampai di rumah wanita itu, Raditya tak percaya. Beberapa kali ia melihat ke handphone memperhatikan alamat yang ditulis oleh anak buahnya sudah benar atau tidak.


"Cari siapa, Pak?" tanya satpam yang menjaga rumah itu.


"Mmm ... apa benar ini rumah Azaleana?"


"Benar, Pak. Tapi, dia udah gak ada di sini lagi."


"Ha? Dia di mana?"


"Siapa Pak?" tanya Mama Azaleana yang kebetulan melihat ada Raditya.


"Ini Buk, nyari Neng Azaleana."


Mama Azaleana berjalan ke arah Raditya dan juga Daisha yang ada di sampingnya.


"Ada apa, ya?"


"Oh, maaf Tante. Saya mau nyari Azaleana. Dianya ada?"


"Dia udah pergi. Kamu siapa?"


"Mami pergi ke mana Nek?" celetuk Daisha membuat semua mata menatap ke arah dirinya.


"Ha? Mami?" tanya Mama Azaleana menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Gini Tante, Azal pernah bekerja di tempat saya sebagai pengasuh anak saya dan kebetulan anak saya manggil Azal dengan sebutan Mami."


"Azal? Saya bagus-bagus nyari nama dia sampe seminggu kamu malah manggil dia dengan sebutan 'Azal?'"


"Eh, maafkan saya Tante. Maksud saya Azaleana," terang Raditya yang merasa bersalah.


"Haha, tenang aja. Gak masalah, kok. Dia emang anaknya sedikit menyebalkan, makasih sudah mau menjaga dia dan memberi dia pekerjaan di rumah kamu.


Meskipun saya rasa dia gak akan becus kerjanya, karena di sini aja dia bangunnya selalu pagi."


"Haha, iya, gak papa Tante. Saya bahkan sangat berterima kasih sama dia, karena dia sangat-sangat mengurus anak saya seperti anak dia sendiri."


"Ha? Maksudnya gimana?"

__ADS_1


"Eh, astagfirullah. Maksud saya, dia menjaga anak saya sangat-sangat dengan baik Tante," kikuk Raditya menghapus keringat yang ada di keningnya.


__ADS_2