
Hari ini, aku sudah akan masuk ke kampus baru. Nenek belum pergi ke tokonya, ia akan pergi jam 10 nanti sedangkan aku berangkat ke kampus jam 9 pagi.
Jurusan yang kuambil juga sama dengan yang di sana, memang sengaja itu kulakukan agar tak mengulangnya kembali.
Memilih untuk naik angkot ke kampus meskipun di dalam angkot cukup pada orang yang ada.
"Pak, pinggir!" kataku membuat angkot akhirnya menepi. Tak ada angkot yang bisa langsung sampai ke kampusku.
Aku harus berjalan lagi meskipun tak terlalu jauh, sih. Paling, hanya perlu menempuh waktu dua puluh menit dari trotoar berhenti ini.
Mobil berhenti di sampingku tapi tak kuperdulikan, aku tetap berjalan karena merasa tak mengenali mobil itu.
"Tolong!"
"Tolong!"
Suara teriakan dengan kencang berharap agar ada orang yang mau membantuku, dua orang laki-laki bertubuh besar membekap mulutku dan langsung membawa masuk ke dalam mobil.
Perlahan, kesadaranku mulai berkurang hingga tak melihat apa-apa lagi di mobil ini bahkan tak mampu untuk memberontak.
Entah sudah berapa jam aku terlelap, saat bangun sudah berada di bangunan yang sepertinya tak di huni lagi.
Tuk! tuk! tuk!
Suara hels sepatu mendekat memenuhi ruangan ini, degub jantung yang berdebar kucoba untuk setenang mungkin.
"Hey ... Azaleana," sapa suara yang akhir-akhir ini sering kudengar.
Wanita dengan parah blasteran tersebut menatap ke arahku dengan senyuman yang tak dapat kumengerti.
"Lu yang buat ini?" tanyaku dengan sinis.
"Kenapa?"
"Hahaha ... ada, ya, dosen kayak lu. Cupu! Kayak kerjaan kagak ada aja yang lain," hinaku di depan wajahnya.
Dia mendekat dengan amarah mencengkram wajahku dengan begitu kuat, aku bahkan merasa pedih di bagian dagu.
Mungkin, kuku panjangnya itu sudah melukai daguku hingga berdarah.
"Jangan asal bicara, ya! Kau yang tak punya kerjaan masuk ke dalam kehidupan anak saya!"
"Lah, saya 'kan udah ngasih kesempatan buat lu dekat dengan anak lu sih. Salahnya di mana?"
"Seharusnya kau tak datang dalam kehidupan mereka!"
"Ya ... gimana? Namanya juga takdir, Buk," kataku mencoba santai.
__ADS_1
Ia semakin geram denganku, dilepas cengkraman dari daguku dan ....
Plak!
Satu tamparan begitu kuat diberikannya ke wajahku, rasa sakit bertambah di tubuhku akibat dirinya.
Sekuat tenaga kukepal tangan untuk menahan rasa sakit, tak hanya sekali bahkan beberapa kali tamparan ia berikan padaku.
Perih, sakit, dan mungkin darah sudah mengalir di pinggiran bibirku. Aku tersenyum dengan menyeringai.
"Sudah?" tanyaku padanya.
Kedua tanganku di ikat ke belakang bangku, bahkan kakiku pun ikut juga diikat. Sedari tadi saat tamparan mulai dia berikan.
Aku sudah berusaha membuka ikatan tadi di tangan, handphone juga masih ada di saku celanaku.
"Kesalahan terbesarmu adalah datang ke keluarga kami, seharusnya kau tak pernah datang.
Jika kau tak datang, maka tak akan pernah kau dapatkan perlakuan semenyadiskan sekarang ini.
Bahkan, mungkin kau tak akan pernah merasakan duduk di kursi itu atau bahkan di ruangan ini," jelas Clara sambil membelakangiku.
Dengan cepat kubuka ikatan di kaki, saat merasa sudah terbuka dengan sempurna. Aku berdiri dengan menyeringai dan degub jantung yang berdebar tak karuan.
Kuangkat bangku yang cukup berat ini, mungkin terbuat dari sebagian besi.
Tubuh Clara terjatuh ke lantai setelah belakangnya kupukul menggunakan kursi tadi, rambutnya kujambak dengan kuat membuat dia meringis kesakitan.
"Gue, gak pernah berharap masuk ke dalam keluarga lu! Jangan mentang-mentang lu liat gue deket sama anak lu, lu bisa dengan seenaknya beropini.
Lu pikir gue apaan? Ha? Gue juga ogah masuk ke dalam masalah seseorang, lu kira gue gak punya masalah juga, ha?
Kesalahan terbesar lu adalah mengganggu hidup gue karena gue gak pernah ganggu hidup lu. Bukannya lu yang pergi dari mereka, ha?!" bentakku di depan wajahnya meluapkan amarahku.
"Berapa kali tadi tamparan yang lu buat ke gue, ha? Berapa kali? Lu kira gue akan lemah akibat lu buat begini? Hahaha, lu salah! Yang punya setan di dalam tubuhnya bukan cuma lu doang.
Gue juga punya dan inilah setan yang ada di dalam tubuh gue!"
Kulepas kepalanya dengan kasar hingga terbentur ke lantai, aku pergi begitu saja menjauh darinya.
Sebelum pergi, kulihat ke arah belakang. Ada rasa kasihan sebenarnya melihat dirinya seperti itu.
Kulihat ke arah luar bangunan ini, tak ada terlihat anak buahnya di situ. Ingin pergi dari bangunan ini secepat mungkin.
Namun, hati kecilku mengatakan untuk membantu dirinya keluar dari sini. Setidaknya, agar kami berdua sama-sama bisa ke rumah sakit terdekat.
"Kalau aku bantu, dia malah akan semakin membenciku nantinya. Lagian, aku gak ada salah. Dia yang memulai semua ini," ucapku acuh dengan cepat berlari meski rasa takut menghampiri diri.
__ADS_1
Keluar dari perkampungan yang aku tak tahu ada di mana ini, dengan cepat mengambil handphone untuk melihat maps.
"Untungnya gak terlalu jauh," kataku melihat layar benda pipih.
Berlari mencari halte atau transportasi terdekat agar segera bisa menjauh dari Clara.
"Pak, tolong antarkan saya!" punyaku sudah tidak kuat lagi untuk berjalan apalagi merasa pipi semakin sakit saja.
"Lah, Neng kenapa?" tanya tukang ojek dengan nada panik.
"Udah, Pak. Cepetan tolong antarkan saya!" pintaku dengan sekuat tenaga naik ke atas jok motor gojek.
Ia langsung memberikan helm dan membelah jalanan dengan pelan karena takut aku terjatuh sebab tak kuat mengimbangi tubuh.
Kuambil handphone untuk memberi kabar ke nenek, tadi pagi aku janji ke nenek agar pas pulang kampus ke tokonya langsung jadi tak perlu diberi kunci padaku.
Tapi, terkadang memang apa yang kita inginkan tak sesuai dengan apa yang menjadi takdir kita. Kita hanya bisa berencana semata.
"Assalamualaikum, Nek," salamku menahan sakit di pipi.
"Waalaikumsalam, kenapa? Udah mau pulang kamu? Baru juga jam 11 ini."
"Bukan, Nek. Nek, tolong pulang dulu, ya. Ada sesuatu Nek, Ana udah dijalan ini naik gojek pulangnya."
"Ha? Ada apa Ana? Kamu kenapa emangnya?"
"Pokoknya Nenek pulang aja, udah dulu ya, Nek. Assalamualaikum." Kututup telepon sepihak merasa pipiku semakin sakit ketika terlalu banyak berbicara.
"Ana! Ana!" teriak Nenek dengan panik mengetahui hal tersebut dari cucunya.
Dengan panik, ia segera menutup toko yang padahal baru saja ia buka. Syukurnya tak terlalu jauh antara toko dan rumahnya.
Jadi, ia tak perlu naik kendaraan atau mencari kendaraan lainnya.
"Pelan-pelan Neng, Neng habis kenapa, sih? Kenapa pipinya jadi separah itu?" tanya sopir gojek membantu aku untuk berjalan ke depan teras rumah Nenek.
"Hehe, biasa Pak. Anak cewek mah suka memerahkan pipi mereka," kataku dengan sedikit bercanda.
"Atuh Neng, merahkan pipi mah gak perlu sampe separah ini."
"Pak, tunggu bentar, ya. Uang saya ada di dompet dan dompet saya ada di tas, tas saya hilang entah ke mana."
"Iya, tenang aja. Bapak juga tungguin orang tua kamu, gak mungkin Bapak ninggalin kamu sendirian di sini."
Aku tersenyum dengan mengangguk, sopir gojek mendudukkan aku di bangku yang ada tersedia di teras nenek.
Sebisa mungkin kutahan rasa sakit dengan tersenyum dan mencoba baik-baik saja.
__ADS_1