
Hari yang sebenarnya ditunggu dan membuat Ayudia bahagia. Kini, sirna sekejap. Dirinya terpaksa tetap didandanin juga memakai baju pengantin.
Hanya sementara, bahkan waktu resepsi pernikahan pun dipercepat. Mau tak mau, ia harus tetap memakainya.
Meskipun sebenarnya, dia sudah menolak. Tapi, bagaimana juga. Segalanya sudah di booking dan diberi DP.
Aku dan Mas Raditya tetap datang ke acara ini, Mss Raditya kusuruh untuk duduk di bangku tamu sedangkan aku berjalan ke kamar Ayudia.
"Ana, tunggu!" panggil seseorang menghentikan langkahku.
Mataku membulat dan mulutku terbuka menatap siapa yang ada di hadapanku saat ini, "L-lo, kok ada di sini?" gelagapku yang kaget.
"Ya, adalah! Gue, 'kan bukan setan. Lagian, gue ke sini cuma mau nganterin kado doang dan ketemu sama Ayu sebentar doang, kok," ucap Rendi dengan cengengesan.
"Lu dapat undangan dari siapa?" tanyaku mulai kepo.
"Ayu yang ngasih tau bahwa dia akan menikah sama Rian, ya, gue cuma bisa kasih selamat aja. Hehe, bagaimana pun gue ikut bahagia jika Ayu bahagia," ungkap Rendi dengan wajah menjelaskan bahwa ia sakit hati.
Ide tiba-tiba muncul dalam pikiranku, aku segera membawa Rendi di tempat sepi agar tak ada orang yang tahu.
"Jadi, gitu ceritanya!" Kujelaskan apa yang terjadi pada acara Ayu hari ini, bahwa sebenarnya pengantin prianya kabur entah ke mana.
Kata Ayu, Rian memberi pesan padanya untuk tak lagi mencari dirinya sebab ia sudah pergi ke luar kota.
Bahkan, laki-laki itu memberikan foto bahwa akan menikah dengan wanita lain di waktu dekat ini.
Tentu saja hal tersebut membuat keluar Ayu marah dan malu, tapi apalah yang bisa mereka lakukan selain nerima semua yang telah terjadi.
Tak mungkin juga harus memarahi Ayu, dia juga menjadi korban atas semua yanh terjadi pada hari ini.
"Gimana? Kalau gue yang gantiin posisi Rian?" tanya Rendi meminta pendapat membuatku kaget.
"Ha? Lu serius?"
"Iya."
"Emangnya lu masih suka sama Ayu?"
"Ana ... sampai kapan pun gue akan suka dan cinta sama dia. Karena, dia adalah cinta pertama gue."
__ADS_1
"Emangnya, lu gak akan ngerasa bahwa Ayu datang ke elu pas ada masalah doang?"
"Ana, cara Allah memberi tahu bahwa seseorang itu adalah jodoh kita cukup unik. Gue percaya salah satu cara Allah mempertemukan gue sama jodoh gue, ya, gini.
Lagian, gue gak pernah dendam apalagi benci sama Ayu pas tau dia mau nikah. Paling, cuma sakit hati dikit doang, kok," ungkap Rendi dengan tersenyum.
Ucapan Rendi barusan membuat aku merasa lega dan tahu bahwa memang benar, bisa jadi dirinya adalah jodoh sesungguhnya untuk Ayu.
Karena, mau sebagaimana pun kita menjauh juga menolak seseorang untuk hadir di kehidupan kita. Kalau dia memang takdir kita, ya, dia akan tetap kembali tanpa dipinta dan tanpa maunya.
Aku mengangguk mantap dengan tersenyum, mengajak Rendi ke ruangan di mana ada Ayu di sana.
Tok! tok! tok!
Kamar Ayu yang menjadi tempat make-up kuketuk dan melirik ke arah Rendi yang tampak gugup.
"Santai aja kali," ucapku dengan tertawa agar dirinya tak terlalu tegang.
Helaan napas keluar dari Rendi membuatku menahan senyum, pintu di buka dengan perias dan Ayu yang melihat ke arah aku ... juga Rendi.
"Mbak, boleh keluar sebentar?" tanyaku agak tidak enak padanya.
"Boleh, Mbak. Ayo!" ajak perias pada asistennya.
Mereka berdua keluar dan kami berdua masuk tak lupa menutup pintu kamar, hanya ada kami bertiga di sini.
"L-lu, ngapain bawa dia?" tanya Ayu menatap ke arahku dengan mata yang berkaca-kaca, "oh ... gue tau, lu datang ke sini pasti mau ketawain gue, ya, 'kan?" Ayu menunjuk ke arah Rendi yang tak tahu apa-apa.
"Ayu-ayu, lu tenang dululah. Jangan nuduh seseorang sembarangan," kataku menenangkan.
"Gak, gue tau dia mau ngehina gue. Atau malah mau ketawain gue, 'kan? Iya, 'kan?" pekik Ayu dengan orang yang seperti ketakutan.
Rendi menggelengkan kepalanya sedangkan aku memegang bahu Ayu agar menenangkan wanita yang tengah tak stabil emosinya.
"Gak, Ayu! Gue sama sekali gak mau ketawain lu di sini, gue tau semuanya dari Ana. Gue ... gue mau gantiin laki-laki itu," ungkap Rendi spontan membuat Ayu terdiam.
Ia berdecih dan menggelengkan kepala, "Atas dasar apa? Lo kasihan sama gue? Lu takut gue malu, gitu? Gak perlu! Gue gak butuh, lu bisa nikah sama orang yang lu cintai dan mencintai lu," geram Ayu dengan mantap.
"Oke! Oke kalo lu emang gak butuh tapi satu yang harus lu tau, bahwa gue mau nikahi lu karena gue cinta sama lu bukan karena kesian sama lu!
__ADS_1
Hahaha, buat apa gue kasian sama lu? Gak ada gunanya juga, 'kan? Kesian, sama manusia yang nyebelin kayak lu!"
Rendi yang tampak kecewa berniat ingin keluar meninggalkan aku dan Ayu, "Tunggu Ren!" ucapku menahan dirinya.
Ceklek!
"Ada apa ini?" tanya orang tua Ayudia yang masuk ke dalam kamar.
"Kenapa periasnya pergi? Kamu siapa?" tanya Papa Ayudia menatap ke arah Rendi.
"Maaf, Om. Saya Rendi temen kuliah Ayu, saya dengar bahwa Ayu ditinggal oleh Rian. Ya ... saya memang suka sama Ayu sejak zaman kuliah dulu.
Mangkanya, saya mau menggantikan posisi Rian di sini untuk menikahi Ayu. Tapi, sepertinya beliau gak membutuhkan saya hehe.
Ya ... saya sadar, sih, Om kalau saya gak seganteng juga sekaya Rian. Akan tetapi, saya bisa pastikan bahwa saya tidak akan sepengecut dia.
Saya ... akan menjaga dan menyayangi dia sebagaimana saya berjuang sampai sekarang untuk mendapatkannya.
Haha, gak masalah kok Om. Lupain aja, mungkin kami emang gak jodoh," ucap Rendi dengan tersenyum getir, "yaudah, semoga lu bahagia, ya, dengan pilihan lu." Rendi menatap ke arah Ayu dengan tersenyum.
Saat kakinya mulai melangkah keluar ruangan, "Tunggu!" titah Ayu.
Ayu menurunkan tanganku yang ada di bahunya, ia berjalan mendekat ke arah Rendi berada.
"Apakah, kau benar bahwa mau menikahi aku bukan karena belas kasihan?"
"Untuk apa aku kasian denganmu?"
"Ya ... karena kau anggap aku sebagai teman, misalnya."
"Ayu-ayu, kalau seperti itu. Mungkin, saat ini istriku sudah lebih dari empat karena nyatanya banyak teman wanita yang aku hanya sekedar kenal gagal menikah.
Laki-laki, gak akan mudah ingin menikah Ayu. Dia, akan mempertimbangkan terlebih dahulu segala sesuatunya.
Dia, akan mudah menikah jika dengan orang yang memang disayangnya Yu. Aku emang gak pinter dalam merangkai kata.
Namun, percayalah bahwa rasa ini masih sama seperti pertama kali aku jumpa dengan dirimu."
"L-lu, emangnya gak punya pacar di sana?" tanya Ayu. Ya ... memang setelah lulus kuliah, Rendi pergi ke luar kota sebab mendapatkan pekerjaan di bidangnya itu.
__ADS_1
"Enggak, karena aku emang gak mau pacaran. Kalo bisa langsung nikah, buat apa pacaran, 'kan?" tanya Rendi menaikkan alisnya sebelah.