
Aku hadir lebih awal di lamaran Ayudia, masuk ke kamar dan melihat ia di rias dengan full make-up. Ternyata, Ayudia begitu cantik.
Soalnya, ya, selama ini. Paling dia cuma pakai lipblam doang kalo ke mana-mana, jarang banget tuh pake make-up.
"Mama lu mana?" tanya Ayudia menatap ke arahku dari kaca hiasnya.
"Nemenin Kak Kamelia di rumah, soalnya Kak Kamelia kayaknya mau lahiran deh. Tapi, masih kayaknya.
Mangkanya gue bisa datang ke sini, pas Kak Kamelia nanti dibawa gue langsung cabut, sih biar ada yang jaga Dara," jelasku.
"Lah, kalo pas di tengah-tengah acara masuk ke rumah sakitnya?"
"Kayaknya enggak, sih. Soalnya tadi Kak Kamelia masih bisa ketawa-ketawa dan belum ngerasain sakit.
Cuma, mereka takut aja kalo datang ke sini dan pas di sini kontraksinya. Yang ada malah buat kacau acara lu, jadi dia dan Mama nitip kado dan selamat aja buat lu."
"Wih ... baik banget, ya, Kakak ipar lu itu," puji Ayudia dan kubalas dengan mengangkat kedua alis.
Di dalam kamar bukan hanya ada aku, Ayudia dan perias. Tapi juga ada kameramen, mereka akan mengambil foto hasil make-up Ayudia nanti.
Hmm ... terbilang sangat mewah untuk acara yang hanya sekadar lamaran. Tapi, bukankah moment ini hanya akan terjadi sekali seumur hidup?
Pastinya, semua orang ingin acara yang mewah serta berkesan di hari spesialnya. Lagian, tak apalah hanya sekali.
Pikiranku masih menerawang kejadian kemarin, aku teringat akan suara itu dan saat di mana bisa-bisanya kami bertemu.
Bukan, bukan bertemu karena mereka belum melihat wajahku sedangkan aku sudah melihat wajah Pak Raditya.
"Woy, Ana!" panggil Ayudia membuat aku tersadar dari lamunan.
"Ha, iya?" tanyaku mengedip-ngedipkan mata.
"Sini, ayo kita foto!" ajaknya menengok ke belakang.
"Lah, udah kelar?" kagetku melihat Ayudia sudah selesai dengan pakaian serta make-upnya.
"Dih, lu mikirin apaan, dah? Sampe gak sadar gitu?" cerca Ayudia dan hanya kubalas kekehan dan mendekat ke arahnya.
Kami di suruh fose sesuai dengan arahan fotografer-nya langsung, lumayanlah jadi gak perlu bingung harus gaya seperti apa.
__ADS_1
"Ih, bagus banget hasilnya!" seruku ketika diberi kesempatan untuk melihat hasilnya.
Acara pun akhirnya di mulai, aku tak kalah deg-degan padahal bukan aku yang akan lamaran.
Tangan Ayudia kugenggam dengan erat, hanya tinggal kami berdua di kamar ini. Nanti, akan ada Mama Ayudia yang menjemput kami di kamar.
Dan secara bersamaan, kami bertiga akan keluar sambil memegang tangan Ayudia, "Kapan nikahnya?" tanyaku mencoba mengusir kesepian di dalam kamar ini.
"Dua minggu lagi," jawab Ayudia yang entah kenapa mimik wajahnya berubah.
"Kenapa?" tanyaku menautkan alis menatap ke arahnya.
"Lu janji gak akan marah ketika gue lamaran, 'kan?" Pertanyaan yang sedikit aneh lolos dari bibir Ayudia bersamaan dengan matanya yang sudah menahan agar tidak menetes bulir bening itu.
"Maksud lu?" tanyaku.
Ayudia memegang tanganku dengan tak kalah kuat, "Berjanji, ya!" pintanya kembali tapi masih enggan untuk kujawab.
"Sayang, ayo, kita keluar!" ajak Mama Ayudia yang sudah masuk ke dalam kamar.
Ayudia secepat mungkin menutupi kesedihannya yang masih membuatku tak paham, kami akhirnya berjalan ke luar dengan aku berada di sisi sebelah kanan Ayudia sedangkan Mamanya berada di kiri.
Kami berjalan dengan memegang tangan Ayudia, perasaanku masih saja berkecambuk bingung dengan apa yang sebenarnya akan terjadi.
Hingga akhirnya aku tahu bahwa calon suaminya adalah ....
"Rian?" gumamku tak percaya melihat ke arah kanan laki-laki yang di apit oleh kedua orang tuanya dan menggunakan baju batik yang sama warnanya dengan kebaya Ayudia.
Kakiku terhenti di depan pintu, "Ana?" panggil Tante.
"Eh, iya-iya, Tante. Maaf," kataku yang seharusnya tetap profesional.
Kami antar Ayudia ke depan di mana ada dekorasi yang lumayan mewah, pergi ke tempat yang sekiranya aku bisa duduk.
Tak lama, acara kembali dimulai dengan MC adalah pihak tertua di keluarga Ayudia. Aku hanya bisa melihat ke asbes agar tidak lolos air mata ini.
Kejutan lagi? Hahaha ... setelah tiga tahun aku tidak mendapatkan kejutan, sekarang aku dapatkan lagi dengan bertubi-tubi.
Kulirik ke arah Ayudia, kepalaku menggeleng ketika tahu kenyataannya. Kucoba atur emosi yang sudah memuncak.
__ADS_1
Seharusnya, aku tak perlu marah. Toh, dari awal Rian juga tak pernah suka padaku, bukan? Atau ... selama ini dia terlihat care sama aku karena ingin mendapatkan Ayudia?
Entahlah, yang berlalu biarkan berlalu. Dengan terpaksa, aku tersenyum ke arah Ayudia agar membuat ia setidaknya merasa baik hari ini.
Tak lama, Rian lewat dari depanku dan duduk di samping Ayudia. Kembali pandangan kubuat ke arah lain.
Bukan karena ada rasa sama Rian lagi, hanya saja aku masih tidak percaya bahwa Ayudia tidak mau jujur padaku.
Apa dia takut jika aku tidak akan mendukung mereka? Bukannya dia tahu bahwa di waktu Papaku meninggal dulu aku sudah berdamai dengan Rian?
Entahlah, terlalu banyak teka-teki yang semesta buat untukku. Acara berlanjut hingga pemasangan cincin dan kedua orang tua khusus Mama mereka masing-masing disuruh maju ke depan.
Lengkungan tulus kuberikan pada mereka melihat moment sakral ini, tak apa. Aku akan mencoba berdamai dan menerima kenyataan yang kembali terasa pahit.
Saat sedang menikmati acara, handphone-ku berdering membuat aku terpaksa harus izin untuk ke luar rumah Ayudia agar leluasa berbicara.
"Assalamualaikum, Ma. Ada apa?" tanyaku sambil melihat ke arah dalam karena tepat berdiri di depan pintu.
"Waalaikumsalam, Ana! Kamu segera ke rumah sakit Harapan Bunda, ya. Kak Kamelia udah kontraksi.
Mama udah di jalan ini, kita ketemu di sana. Jangan lama-lama, gak ada yang jagain Dara soalnya nanti," ungkap Mama dan membuat aku ikutan panik mendengarnya.
"Baik, Ma! Ana langsung ke sana," jelasku menutup panggilan.
Saat kulihat kembali ke arah dalam, Ayudia ternyata sedang menatap ke arahku. Tanpa pamit, aku pergi begitu saja meninggalkan acara bahagianya.
Lagian, bukankah sudah kuberi tahu tadi di kamar? Bahwa aku bisa sewaktu-waktu pergi dari acaranya.
Aku pun sudah melakukan tugas di mana membawa ia bertemu dengan calon suami serta penyematan cincin.
Terpaksa aku ke rumah sakit naik taksi karena sopir pribadi memang sudah disuruh untuk stay di rumah untuk berjaga-jaga kalau Kak Kamelia akan melahirkan tiba-tiba.
Sekitar empat puluh lima menit, aku akhirnya sampai ke tujuan. Waktu yang cukup lama akibat macet yang tercipta.
"Makasih, ya, Pak!" kataku setelah memberikan ongkos taksi.
Berlari masuk ke dalam rumah sakit dan berhenti di resepshionis, "Maaf, Sus. Ada nama pasien Kamelia, gak? Dia mau melahirkan," terangku dengan rasa panik yang masih saja ada.
"Sebentar, ya, saya cari dulu," ujarnya mengetik nama Kakak iparku di layar monitor.
__ADS_1
"Ada di kamar Anggrek nomor 8, Mbak lurus lalu belok kiri kamarnya ada di ujung," paparnya.
"Makasih, Sus!" Aku kembali berlari ke arah yang ditunjukkan oleh suster tadi berharap semua baik-baik saja.