
Sudah lebih dari seminggu Daisha di rumah sakit tapi tak kunjung membuka matanya, siang ini Mama Pak Raditya kembali berkunjung.
"Kita bawa aja di ke rumah sakit Radit, gimana pun alat di sana jauh lebih canggih daripada di sini.
Papa kamu bisa ngeliat cucunya langsung dan Mama juga bisa jaga Daisha sampe dia benar-benar sembuh.
Lebih baik kamu ikutin saran dari Mama, di sana jauh lebih aman daripada di sini. Ini semua untuk kebaikan Daisha," jelas Mama Pak Raditya.
Deg!
Aku yang berada di kamar mandi langsung mencari sandaran, kakiku seketika lemas mendengar penuturannya.
Memang benar, di luar negri akan jauh lebih baik pengobatannya daripda di sini. Tapi, apakah mereka harus meninggalkan aku?
"Lagian, dia juga udah dewasa. Udah bisa jaga diri sendiri tanpa harus ada pengasuh, atau kalau emang kamu khawatir. Kita bisa, kok, sewa pengasuh di sana.
Biarin Ana di sini kuliah dulu, mencapai keinginan dia dulu. Bukan berarti Mama melarang hubungan kalian.
Tapi, dia juga berhak memilih. Jangan terlalu gegabah seperti ini, takutnya kemudian hari akan ada kejadian lagi hal yang tidak diinginkan," sambung Mama Pak Raditya sedangkan suara bariton itu sama sekali tidak ada menyahut.
Memang, aku belum sempat menjawab bahkan cincin yang ingin diberikan Pak Raditya saat itu belum tersemat di jariku.
Tapi, jujur aku sudah ingin menerimanya lalu kemudian Clara menghancurkan semua yang sudah terjadi.
Aku juga bungkam soal itu serta Pak Raditya juga hingga detik ini, kami sama-sama fokus pada kesembuhan Daisha lebih dulu sampai melupakan hal itu.
Lalu sekarang, tiba-tiba kabar yang mengejutkan membuat aku tersadar kembali bahwa akan kehilangan.
"Ini semua demi kesembuhan Daisha!" gumamku menghapus jejak air mata dan tersenyum ke arah kaca.
Jika nanti Pak Raditya bertanya soal itu, aku akan memberi mereka izin meskipun sangat tidak pantas mereka bertanya perihal itu.
Bukankah itu pilihan mereka? Tidak perlu meminta persetujuanku yang masih tergolong orang asing.
Ceklek!
Dengan sedikit kekuatan, kubuka pintu dan mencoba tidak mendengarkan apa-apa soal keinginan Tante tadi.
__ADS_1
Tante tersenyum dan tak lama memukul bahu Pak Raditya pelan serta berbisik, "Tante pamit keluar dulu, ya," katanya tersenyum padaku.
Kubalas dengan anggukan juga senyuman, Clara sudah dijatuhkan hukuman kasus percobaan pembunuhan.
Berjalan ke arah bangku yang memang disediakan rumah sakit, aku tersenyum dan memegang tangan Daisha.
"Sayang ... kamu sebentar lagi akan sembuh, kamu akan dibawa ke rumah sakit yang jauh lebih bagus di luar negri.
Maaf, ya, Mami gak bisa ikut dan semoga di sana Daisha juga bisa ketemu sama Mami baru yang jauh lebih baik daripada Mami.
Mami di sini akan fokus pada kuliah dan kehidupan Mami, nanti Mami mungkin akan ketemu sama Daisha.
Di saat Daisha akan mendapatkan Mami baru, ya? Hahahaha," ujarku mendongak melihat ke arah Pak Raditya dengan air mata yang sudah tidak tertahan.
Padahal, aku tidak mau ada tangisan. Aku mau terlihat kuat dan ikhlas dengan kepergian mereka ini.
"Azal ...," panggil Pak Raditya dengan begitu pelan bahkan terkesan berbisik.
"Gak papa, Pak. Ini semua demi kesembuhan Daisha, saya gak masalah, kok. Saya senang sudah bisa kenal dan dekat sama Bapak jug Daisha meskipun belum sampai setahun.
Tapi, pengalaman dan hal-hal yang menarik sudah saya rasakan bersama-sama. Bagaimana saya harus menjadi orang yang ekstra sabar.
Sudah banyak pelajaran yang saya dapatkan ketika bersama-sama dengan Bapak, Mama Bapak benar. Ini semua demi Daisha.
Jadi, pergilah Pak sebelum semua terlambat. Kesian Daisha harus berjuang sendirian sampai detik ini. Bantu dia setidaknya dengan alat yang jauh lebih canggih," paparku sembari menghapus air mata.
"Kau tak apa?"
"Kalau saya bilang enggak, maka terlihat sekali bohongnya, 'kan? Tapi, saya jauh akan sangat membenci diri sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada Daisha.
Jadi, pergilah Pak!"
Pak Raditya mengangguk, "Saya ketemu sama dokter dulu," katanya dan keluar dari ruangan. Aku mengangguk menahan pecahnya tangisan.
Begitu suara pintu terbuka dan kembali di tutup, aku tak kuasa menahannya. Kututup wajah agar suara tangis tak terlalu terdengar.
"Dokter ngasih izin buat Daisha pindah ke luar negri jika memang agar bisa sembuh dan sadar lebih cepat.
__ADS_1
Rencananya, Daisha akan saya bawa ke Singapura atau jika masih tidak ada perubahan akan ke Amerika.
Saya minta doa-nya sama semua yang ada di sini semoga Daisha benaran bisa sembuh dan kembali lagi seperti sedia kala."
Semua orang ada di ruangan Daisha sore ini termasuk juga Mamaku dan Ayudia di sini. Baju-bajuku di vila sudah diambil oleh anak buah Pak Raditya dan dimasukkan ke bagasi mobil yang dibawa oleh Mama.
"Jadi, Bapak gak ke sini lagi?" tanya Ayudia yang memang pasti akan bertanya-tanya sedangkan aku hanya diam saja sambil menatap wajah Daisha.
Wajah yang nantinya akan kurindukan rengekan atau bahkan manjanya.
"Saya belum bisa memastikan hal itu, liat nanti saja bagaimana keadaan ke depannya," jawab Pak Raditya yang kulihat ke arahnya dan ternyata ia juga menatapku.
Perawat dan dokter sudah masuk ke ruangan untuk membawa Daisha, mobil ambulanc sudah disiapkan.
"Permisi, Pak mobil sudah siap," kata suster dan dibalas anggukkan.
Pak Raditya mulai menyalami satu per satu orang yang ada sebagai salam perpisahan, hingga ia berdiri tepat di depanku.
Aku membuang pandangan ke arah samping dan masih menahan bulir bening yang akan jatuh dari pelupuk mataku.
"Saya tau kalau LDR itu terlalu berat untuk dilalui, itu sebabnya saya tidak mau mengikat dirimu dari berbagai hal termasuk hubungan.
Jika selama saya pergi, kau menemukan laki-laki yang lebih dari saya maka terimalah dia. Saya tidak berharap di tunggu dan mau ditunggu.
Karena, saya juga tidak tau di sana akan bertemu dengan seseorang yang mampu membuat saya jatuh cinta atau tidak. Saya tidak berani menjaminnya."
Aku berdecih, "Sangat egois! Kau mau saya di sini berada dalam kebingungan? Saya tidak boleh berharap tapi kau juga memberi harapan di kalimatmu itu!" debatku mendongak menatap dirinya.
Pergi lebih dulu dari ruangan meninggalkan orang-orang yang ada, rencananya aku akan mencari kost di dekat kampus.
Karena, tidak mungkin jika aku pulang-pergi dari kampus ke rumah itu sangat jauh dan memakan waktu yang tidak sebentar.
Berlari dengan mengusap air mata yang turun begitu saja, saat aku hendak berlari ke arah mobil Mama yang terparkir.
Daisha sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulanc, sakit? Jangan ditanya, aku sangat sakit ketika melihat Daisha akan pergi jauh dariku.
Namun, aku tak punya hak atas dirinya bahkan Pak Raditya agar mereka tidak pergi ke luar negri.
__ADS_1
Lagi-lagi, keadaan mengajarkan aku atau lebih tepatnya memaksa aku untuk ikhlas dengan keadaan yang aku sendiri tak pernah ingin ada di keadaan tersebut.