
Akhirnya hari malam ini juga kami terpaksa kembali pulang, dengan diantar oleh Ayu juga Rendi ke bandara.
"Jangan lupa pulang lu! Awas aja," kataku mengancam padanya.
"Ya, biarin aja kali. Orang gue udah punya suami, lupa pulang juga gak masalah."
Tuk!
Kupukul kepalanya menggunakan tanganku, "Jadi, orang tua lu gimana? Gue kalo rindu sama lu gimana? Kalo ngomong, asal aja lu," gerutuku sedangkan dia mengadu kesakitan.
"Lu kalo sama Daisha gini, juga, ya?"
"Ya, kagaklah! Beda dia sama lu mah."
Suara peringatan bahwa pesawat akan segera berangkat pun berbunyi, aku dan Ayu berpelukan cukup lama.
Lambaian tangan perpisahan kuberikan padanya, entah kapan lagi kami akan bertemu. Sebab, dirinya yang ternyata memutuskan untuk menetap di Bali mengingat suaminya bekerja di sini.
Masuk ke dalam pesawat dan duduk di dekat kaca, tak lupa berdoa sebab tak ada yang bisa menebak bagaimana cuaca.
Walaupun bisa di cek juga belum tentu bahwa 100% akurat, karena itu semua buatan manusia bisa saja terjadi kesalahan.
Aku menatap ke arah Mas Raditya yang menggengam tanganku, "Maaf, ya," ujarnya kembali.
"Mas ... kamu satu harian ini, udah minta maaf lebih dari 10 kali, lho. Udah, gak papa, kok. Mending sekarang kamu tidur, biar gak kusut amat sebab mikirin perusahaan," titahku melihat wajahnya yang terlihat jelas sedang memikirkan berbagai hal.
Ia mengangguk dan menyandarkan kepalanya di pundakku, kuusap kepalanya pelan serta menatap wajah yang akan selalu menemaniku ini sesuai dengan janjinya padaku.
***
"Bang Dikta mana, ya?" tanyaku sambil clingak-clinguk melihat ke arah pintu.
Kami sudah sampai kembali di kota kelahiranku juga Mas Raditya, meskipun tak akan kembali di kompleks kelahiran sebab sudah pindah.
"Kalau gak ada, kita naik taksi aja," ucap Mas Raditya sudah mengambil koper yang menjadi tiga buah.
"Hmm ... yaudah, deh," pasrahku padahal ingin dijemput olehnya sebab tahu pasti Daisha akan diajaknya.
Berjalan dan melihat-lihat, aku masih tak terima jika ia tak menjemput adik kesayangannya ini. Adik yang membuat dia sekarang jadi gelo juga, padahal dulu sempat sangat dingin padaku.
'Wahai Ana adikku beban keluarga dan suaminya, jangan pulang, ya! Kami tak rindu.'
__ADS_1
Tanganku terkepal dan kaki berhenti seketika saat mataku membaca spanduk yang di pegang oleh beberapa orang.
"Lah, Sayang? Kenapa berhenti?" tanya Mas Raditya yang belum melihat.
Dirinya kembali berada di sampingku dan melihat ke arah yang kutatap dengan emosi kini, "Hahaha, keluargamu sangat humoris, Sayang," ejek Mas Raditya berjalan meninggalkan aku dan pergi menghampiri keluargaku di sana.
Aku menggerutu kesal dengan bibir mencebik, berjalan sambil menghentakkan kaki melangkah mendekat ke arah mereka.
"Yah ... pulang juga ternyata dia Ma," ujar Bang Dikta saat aku baru sampai di dekat mereka.
Plak!
Kupukul tangannya kesal melihat wajah serta apa yang dia buat, "Kenapa nulisnya kayak gitu, sih? Ih! Nyebelin banget!" gerutuku menatap tajam ke arah Bang Dikta.
"Lho, ini spesial buat lu doang Dek. Mana ada yang tulisannya begini selain nyambut kamu, coba? Liat aja noh," suruhnya melihat ke arah yang dia tunjuk di mana ada beberapa orang juga sedang menunggu keluarganya.
"Serah-serah!" ketusku memilih untuk mengalah. Sebab, tak akan ada habisnya jika sudah berdebat dengan tuh orang.
"Mami!" pekik Daisha berlari ke hadapanku.
"Sayang!" Kurentangkan tangan dan memeluk dirinya dengan berjongkok, "kok tadi Mami gak liat ada Daisha, sih?"
"Iya, Om Dikta berdiriin spanduknya tinggi banget. Daisha, 'kan belum tinggi walaupun udah besar," komentar Daisha memajukan bibirnya menatap ke arah Bang Dikta.
Aku segera menyalami Mama yang ikut juga Kak Kamelia, "Lah, Dara sama siapa?" tanyaku mencari keberadaan anak itu.
"Tuh," tunjuk mereka ke arah anak yang tertidur di bangku tunggu.
"Astaghfirullah," ucapku mengusap wajah.
Tak paham lagi ada apa dengan keluarga ini, "Kita kayaknya harus panggil Ustadz dulu, deh, biar ruqyah rumah juga satu per satu. Jin di tubuh Bang Dikta paling banyak nih kayaknya," saranku sambil berjalan ke luar bandara.
"Heh! Orang yang cepat marah biasanya jinnya lebih banyak," sindirnya padaku.
"Orang yang jahil juga, dia kemasukan jin orang jahil."
"Mana ada begitu."
"Ada!" tegasku tak mau kalah.
"Gak ada!"
__ADS_1
"Ada aku bilang ada!" pekikku menatapnya yang ada di samping.
"Kalian mau Mama bunuh dua-dua, ha? Udah pada punya suami dan istri masih aja suka berantem kayak kucing dan anj*ng," omel Mama berhenti dan menatap kami berdua yang ada di belakangnya.
Aku menunduk dan melirik ke arah Bang Dikta yang juga ikutan menunduk, kalau seperti ini pasti kami berdua hanya bisa diam saja.
Daripada menjawab ucapan Mama dengan serius atau bahkan candaan, yang ada akan hanya tinggal nama saja.
Dari bandara ke rumah menempuh perjalanan sekitar satu jam jika sedang tak macet, beruntungnya tidak macet malam ini.
Sehingga, kami bisa dengan cepat sampai dan bisa segera beristirahat. Daisha sudah tidur duluan saat perjalanan akan pulang ke rumah Mama.
Aku dan Mas Raditya membersihkan badan dengan aku lebih dulu masuk ke kamar mandinya.
"Lagian, kenapa sih gak boleh bareng? Daisha udah tidur juga," gerutunya saat aku baru saja keluar dari kamar dengan handuk berada di atas kepala.
"Lama yang ada nanti mandinya Mas, kalau tiba-tiba Daisha bangun dan cari salah satu diantara kita, gimana?" tanyaku menatap ke arahnya dengan aku yang sudah duduk di depan meja rias.
Ia hanya menggerutu dan memajukan bibirnya seperti anak kecil yang tak diberi permen atau cokelat saja.
"Udah, sana Mas. Makin larut nanti, lho. Mandi malam itu gak baik buat tulang, jadi jangan makin larut banget mandinya," sambungku melihat dia tak kunjung bangkit dari tepi ranjang.
"Iya-iya!" jawabnya dengan ketus sambil bangkit dari ranjang masuk ke dalam kamar mandi.
Kulirik ke arah handuk milik Mas Raditya yang masih tergantung, "Bisa aja modusnya," gumamku dengan tersenyum sinis.
"Mas, anduknya aku taruh di gagang pintu, ya!" pekikku di depan kamar mandi.
"Lah, 'kan belum aku pinta Sayang," jawabnya mengeluh.
"Hahaha, cukup di Bali aja aku yang kejebak Mas. Di sini gak bisa, aku udah tau cara permainan kamu!"
Waktu itu, aku berniat ingin memberikan handuk padanya karena ia lupa atau bisa jadi sengaja meninggalkan handuk.
Namun, ketika pintu kamar mandi dibuka juga tanganku mengulur ke dalam kamar mandi memberikan handuk tadi.
Aku malah ditarik masuk ke dalam kamar mandi dibuat olehnya, terpaksa harus mandi bareng karena tingkahnya itu.
Kutinggalkan depan pintu kamar mandi dan segera naik ke ranjang setelah selesai mengeringkan rambut serta memakai skincare.
Cup!
__ADS_1
"Selamat tidur Sayang," kataku setelah mengecup kening Daisha dan ikut masuk ke dalam mimpi.