
Saat perjalanan pulang, Dara sudah berada dalam gendongan Mas Raditya sedangkan Daisha tertidur di paha-ku.
"Gimana Neng rasanya punya 3 anak? Hahaha."
"Enggak, deh, Pak kalau deket-deket kayak gini. Mau rontok tulang saya nih kayaknya," keluhku yang merasa sudah kebas.
"Hahaha, orang dulu bahkan anaknya lebih banyak, pada gak pake suster pula. Bisa aja tuh Neng."
"Setiap orang itu beda Pak, termasuk saya juga beda. Saya gak kuat, mereka pada kuat."
"Kalau Bapak, kuat gak?"
"Beuh ... saya kuat banget Pak, 11 anak planning-nya Pak," terang Mas Raditya sedikit berbisik kepada Pak Parto.
"Wih, mantep itu Pak!"
"Hahaha, mantap 'kan Pak?"
"Iya, 11 anak kucing semuanya Pak," celetukku.
Saat sampai di rumah, mobil Bang Dikta sudah terparkir. Pak Parto membantu buka pintu depan juga belakang mobil.
"Pak, tolong gendong Daisha, ya," pintaku dan diangguki oleh Pak Parto.
Jadilah kami menggendong anak masing-masing, aku sudah menggerutu dan bertekat tak akan mau lagi menolong Bang Dikta.
Dikira membawa banyak anak ke luar rumah itu gampang kali, ya? Sungguh melelahkan apalagi mereka sangat aktif berkeliaran.
"Kalau gitu, saya pamit pulang, ya, Neng."
"Jangan lupa nanti pagi ke sini balik, ya, Pak!" ucap Mas Raditya yang dibalas dengan jempol.
Daisha ditidurkan langsung di tempat tidur sedangkan aku berjalan ke arah kamar Bang Dikta.
Tok! tok! tok!
"Dih, ke mana nih mereka. Masa tadi buka pintu juga gak denger, sih? Kalau yang masuk maling, gimana?" gerutuku semakin geram padanya.
"Udah diketuk Sayang?" tanya Mas Raditya berdiri di sampingku dengan menggendong Dara kembali.
"Sudah, Mas. Tidur kayaknya nih orang, ya?"
"Atau jangan-jangan ...."
"Jangan-jangan apa?"
Mas Raditya mendekat ke arah telingaku dengan sedikit susah payah, "Mereka buat adik lagi?" Aku yang mendengarnya langsung melotot dan memukul bahu Mas Raditya.
"Kalo ngomong, sembarangan aja!" cetusku padanya. Kualihkan pandangan kembali ke arah pintu yang masih setia tertutup rapat.
"Abang! Sempat gak lu buka nih pintu sampe hitungan ketiga, gue dobrak nih pintu, ya! Gak maen-maen nih gue.
__ADS_1
Satu ... dua ... ti--"
Ceklek!
Pintu langsung terbuka saat hitungan terakhir belum full kuucapkan, mataku membulat saat melihat ia hanya menggunakan sarung.
Sedangkan Mas Raditya menahan senyum menatap ke arah lain, "Bener, 'kan, Sayang?" celetuknya membuat aku semakin emosi.
Plak!
Kupukul bahu Bang Dikta geram, "Gaya dinner-dinner, dinner mata lu picek! Nih, bawa anak-anak pada. Enak-enakan duaan di kamar.
Aku emosi ngadepin orang-orang di luaran sana yang ngatain aku gak bisa ngurus anak! Cepetan bawa!" omelku padanya.
"Iya-iya, sabar kali Dek," jawabnya dengan wajah takut dan malu.
"Nyebelin aja! Kirain beneran dinner segala, aku kesel banget liat lu Bang Dikta!" paparku kembali emosi padanya.
"Udah kali, Dek. Bangun nanti anak Abang, tanggung banget," ucapnya yang kembali setelah meletakkan Dara di dalam.
"Tanggung-tanggung, dasar otak mesum!" umpatku, "ini juga tasnya!"
Aku pergi begitu saja meninggalkan kamar mereka, "Bro, kasih jatah tuh bini lu biar diam jangan sensi mulu," saran Bang Dikta pada suamiku membuatku berhenti dan membalikkan badan menatapnya.
"Apa lu bilang Bang?" tegurku menatap ke arahnya dengan tatapan siap memakan dirinya hidup-hidup atau di panggang juga boleh, deh.
"Eh, gak ada dek. Makasih, ya, adek abang yang cantik se-dunia udah jagain anak-anak Abang," rayunya.
Mas Raditya akhirnya tersenyum saja dan berjalan mendekat ke arahku, kami memutuskan masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar aku mengumpat saudaraku sendiri, masih gak habis pikir dia mengerjai aku seperti ini.
"Udah, gak boleh kesal begitu," ujar Mas Raditya padaku.
"Hmm ... udah gak kesel, kok. Emang otaknya mulai minus sejak dulu juga, jadi biasa aja."
Kulihat ke arah tempat tidur, Daisha yang seharusnya berada di tengah malah tidur di pinggir.
"Lah, kenapa dia di pinggir?"
Mas Raditya hanya manaikkan bahu acuh, "Emang dari tadi udah gitu, Mas ganti baju dulu, ya."
Ia masuk ke dalam kamar mandi setelah aku, kuhela napas dan naik ke atas ranjang. Merebahkan tubuh serta menarik selimut menutupi separuh tubuhku juga Daisha.
"Kamu di tengah?" tanya Mas Raditya keluar dari kamar mandi berjalan mendekat ranjang.
"Nanti tengah malam Daisha cariin aku biar gak susah," jawabku yang memang itu sering sekali terjadi.
Ia akan mencari keberadaanku tengah malam saat dirinya terbangun, bahkan akan menangis ketika tak mendapati keberadaanku di sampingnya.
"Okey, gak masalah." Mas Raditya naik ke atas ranjang.
__ADS_1
"Jangan macem-macem, ya!" gertakku menunjuk ke arah Mas Raditya sebelum akhirnya memilih untuk menutup mata.
"Gak macem-macem, paling khilaf doang," gumamnya yang masih kudengar tapi tak kurespons.
***
Saat tengah mengikat rambut Daisha dan menunggu Mas Raditya keluar dari kamar mandi, suara handphone-ku berbunyi.
"Bentar, ya, Sayang."
"Iya, Mi."
"Ayudia?" gumamku menaikkan sebelah alis berasa aneh.
"Assalamualaikum, iya, ada apa?" salamku setelah panggilan terhubung.
"Waalaikumsalam, halo Ana ini Tante. Kamu bisa datang ke rumah Tante, Sayang? Ada sesuatu yang mau Tante bilang ke kamu. Tante mohon kamu bisa datang ke sini, ya," ucap Mama Ayudia dengan nada panik.
"Ada apa Tante? Kenapa Tante yang pakai handphone Ayudia, dianya mana?"
"Kamu ke sini aja Sayang, Tante mohon. Tante tunggu kamu di sini saya."
Klik.
Panggilan langsung diputuskan membuat aku yang mendengar suara panik dari Mamanya Ayudia menjadi ikutan khawatir.
Mas Raditya keluar dari kamar mandi membuat aku langsung menatap ke arahnya, "Kenapa Sayang?" tanyanya menatapku.
"Mas, tadi Mama Ayudia nelpon aku nyuruh ke sana. Gak tau di mana Ayudinya, aku cuma disuruh ke sana."
"Yaudah kalau gitu, kamu nanti ke sana sama Mas. Biar Mas aja liat rumah, sekarang selesaikan ikat rambut Daisha dulu baru kita sarapan."
Kuanggukkan kepala dan kembali duduk di pinggir ranjang, mengikat rambut Daisha yang sempat terhenti.
"Tante Ayudia itu temen Mama yang waktu itu, ya?"
"Iya, Sayang."
Daisha hanya ber'oh' ria setelah mendapatkan jawaban dariku, selesai menyiapkan Daisha untuk berangkat sekolah.
Kami keluar dari kamar menuju ruang makan mengisi tenaga terlebih dahulu, niat hati ingin marah-marah atau kesel pada Bang Dikta berganti dengan wajahku yang berubah menjadi panik.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mama.
"Mamanya Ayudia nelpon Ana, Ma. Suruh ke sana segera."
"Lah, kenapa? Bukannya dua hari lagi akan nikah, ya? Atau ... mau nyuruh kamu latihan buat jadi bridesmaid-nya?"
"Kayaknya enggak deh, Ma. Karena, pernikahannya juga sederhana gak perlu pake gituan."
"Kita doa aja semoga gak terjadi apa-apa sama dia, kamu tenang jangan panik kayak gitu dong," saran Mama langsung kuanggukkan.
__ADS_1