
Kami berdua berdiri untuk menyambut tamu-tamu yang berdatangan, kalau kalian tanya di mana Daisha.
Dia ... sedang berada di tempat orang tua Pak Raditya untuk mengurus segala perpindahan dibantu oleh orang tua Pak Raditya.
Jadi, tadi kami hanya menggunakan video call sebagai komunikasi kalau sudah sah dan lainnya buat mengabari mereka.
"Terima kasih, ya."
"Terima kasih."
Mataku dan senyumku menatap dengan rasa bersalah ke tamu yang dari tadi memang sudah datang didampingi oleh someone spesial di hatinya itu.
Kupeluk ia dengan erat yang tengah duduk di kursi roda karena tubuhnya masih sangat lemah. Aku terisak bersama dengan dirinya.
"Maafin gue, ya. Gue egois dan gak bisa berdamai dengan segalanya sampe hal ini terjadi sama lu.
Seharusnya, gue bisa memaafkan lu secepat mungkin. Tapi, sayangnya semua begitu mendadak menurut gue.
Gue gak bisa berpikir logis saat itu, maafin gue, ya," pintaku ketika pelukan terurai.
Ayudia. Ya ... wanita itu beruntung masih selamat dari kejadian tabrakan beberapa minggu yang lalu menimpa dirinya.
Bersyukur tak ada yang harus dicemaskan dari kondisinya, hanya pernikahan mereka terpaksa di undur demi kesembuhan total dirinya.
Aku merasa sangat bersalah, sebab terlalu egois atas dirinya. Padahal, ia tak sepenuhnya salah atas takdir yang ada.
Rasa cinta tak bisa dielakkan pada setiap manusia, kita gak bisa melarang agar tak cinta dengan seseorang itu.
"Ana ... seharunya gue yang minta maaf sama lu, lu mah memang pasti akan sangat kaget dengan kabar dari gue.
Seharusnya sebagai seorang sahabat, gue bisa lebih terbuka sama lu. Tapi, gue takut kalau lu marah apalagi malah langsung benci sama gue karena hal itu.
Gue emang pengecut An, gue gak berani untuk hal itu. Hingga, Tuhan membalas rasa sakit yang gue kasih ke lu dengan tabrakan ini. Dibayar kontan rasa sakit yang lu derita, hehehe," jawab Ayudia sembari memegang tanganku.
Kugelengkan kepala dengan air mata yang sudah menetes di pipi, "Lu gak boleh bilang kayak gitu, udah lupain semunya. Yang terpenting sekarang, lu harus sehat agar bisa cepat-cepat nikah dengan Rian, tuh.
__ADS_1
Dia laki-laki yang sangat baik, terlihat dia menungguin lu dan cemas banget sama keadaan lu waktu lu koma," terangku mendongak ke arah Rian yang tengah berbicara dengan suamiku.
Ayudia tersenyum dan mengangguk, "Pasti, gue pasti akan sehat. Lu tenang aja, gue gitu lho!" timpal Ayudia yang berlagak seolah sangat sehat banget.
Aku tertawa dan menghapus jejak air nata bersamaan dengan bangkit dari jongkok-ku tadi. Rian menatap ke arahku dan mengulurkan tangannya.
"Maaf, ya. Maaf kalo dulu gue jahat banget sama lu, hahaha. Sampai gue bodoh dan bego banget mau celakai lu dari atap kampus.
Atau ... lu berpikir gue deketin Ayudia demi manasin lu? Sama sekali gue gak pernah mikir ke hal itu.
Gue ... beneran cinta dengan dia, tanpa ada maksud apa pun. Jadi, gue harap apa pun yang ada di pikiran lu tentang gue sekarang. Gue harap bisa hilang.
Jujur dari hati gue yang terdalam, gue minta maaf sebesar-besarnya atas apa yang pernah gue lakuin dulu pada lu," jelas Rian melirik ke arah Ayudia dan menatap ke arahku lagi.
Tanganku tak berjabat dengan tangannya, aku hanya diam menatap laki-laki yang berada di samping kursi roda Ayudia sekarang.
"Enak banget, ya. Cuma minta maaf doang dan apa lu kira semua masalah bisa kelar hanya dengan maaf doang, ha?!" terangku dengan ketus sambil bersedekap dada.
Mereka menampilkan wajah panik apalagi Ayudia, air matanya langsung turun saat aku berkata seperti itu.
Kulepaskan sedekapan dan tertawa di depan mereka, lucu melihat wajah panik mereka masing-masing.
"Haha ... tenang aja, kali. Gue cuma becanda, pada panik banget, sih, wajahnya," ujarku memegang perut menahan sakit sebab tertawa.
Wajah mereka berubah menjadi kesal, tangan Rian kembali diambilnya dan menatap ke arah lain.
Setelah hal kesal-kesalan berlalu, akhirnya kami berfoto bersama. Acara hanya digelar sampai sore saja.
Memang, aku tak berniat sampai malam, pasti akan sangat lelah nantinya.
"Ana ... kamu pulang sama Raditya aja, ya, ke rumahnya. Mama sama Abang dan Kak Kamelia," perintah Mama.
Aku sudah menggunakan pakaian biasa saja dan Pak Raditya juga, berdiri di halaman gedung yang di sewa aku memilih mengangguk.
"Eh, Dara mana Ma?" tanyaku sebelum Mama masuk ke dalam mobil karena tak melihat bocah itu.
__ADS_1
"Di rumah dia," jawab Mama membuat keningku berkerut.
"Lah, sama siapa?"
"Ada ... saudara Mama. Udah, kami pulang duluan, ya. Kita ketemu di rumah, oke?!"
Mama masuk ke dalam mobil Abang dan kulambaikan tangan sambil menatap mobil yang menjauh dari area gedung.
Bunga-bunga nama berucapkan selamat berbahagia masih terpajang di halaman ini dan beberapa tempat.
Mungkin ... 10 papan bunga lebih sepertinya dan entah dari mana-mana saja, aku pun tak tahu karena belum sempat men-ceknya.
"Yuk!" ajak Pak Raditya manatapku dan kubalas anggukan.
Dia melenggang begitu saja duluan berjalan ke arah mobil yang terparkir tanpa menunggu diriku. Aku tetap berdiri di tempat tanpa berniat menyusulnya.
"Lah, ngapain masih di situ Azal? Kau tak mau pulang? Katanya capek," ucapnya saat melihat aku tak ada di sampingnya.
Karena malas jika harus berteriak sebab jarak kami lumayan jauh, kualihkan pandangan menatap langit yang hampir malam.
Ia akhirnya berjalan kembali ke arahku, "Azal? Kau kenapa?" tanyanya yang mungkin sudah mulai kehabisan stok sabar.
"Bapak gimana, sih? Orang-orang kalo habis nikah mah digandeng gitu, bergayalah di depan orang-orang sok romantis Pak.
Meskipun saya yakin Bapak gak ada romantisnya tuh sama pasangan!" gerutuku memajukan bibir kesal melihat tingkahnya.
"Lah, gak ada romantisnya? Lalu, waktu yang saya lamar pertama kali kamu itu. Apa itu gak romantis Azal? Itu romantis, lho," protes Pak Raditya yang ternyata tak terima aku katai.
"Paling juga ide dari Daisha," cibirku berjalan meninggalkan dirinya.
"Dasar, sabar Raditya. Jangan sampai merusak moment ini, kau baru saja menikah. Nanti, gak dapat jatah," gumam Pak Raditya yang masih terdengar oleh telingaku.
Kuberhetikan kaki dan membalikkan badan menatap ke arahnya, ia pun sontak menatap ke arahku juga karena mendengar langkah kaki ini berhenti.
"Jangan ngeres tuh otak Pak Raditya, ya! Kagak ada jatah-jatahan!" tegasku kembali membalikkan badan dan berjalan ke arah mobilnya.
__ADS_1
Dasar, gak ada malunya. Berbicara soal begituan di sini pula, kalau ada yang dengar bagaimana? Hadeuh ....