
Kurebahkan tubuh kala sudah selesai merapikan barang yang kubawa ke tempatnya masing-masing.
Mengambil piyama dengan tangan panjang juga bagian kaki yang panjang, masuk ke kamar mandi dan segera mandi.
"Mami!" teriak Daisha dari luar saat aku baru siap memakai kerudung instan.
"Iya, sebentar Sayang," kataku dengan sedikit berteriak.
"Ada apa?" tanyaku dengan tersenyum saat melihat dirinya menampilkan cengiran.
"Mami, ke mall, yuk! Ada alat yang harus Daisha beli soalnya."
Kulihat jam dinding, baru jam tujuh malam. Masih ada waktu hingga waktu tidur tiba.
"Oke, bentar, ya, Mami ganti baju dulu."
"Sip, Mi. Daisha tunggu di luar, ya."
Kuanggukkan kepala dan menutup kembali pintu saat Daisha sudah berlalu pergi dari depan kamarku dengan sedikit bersenandung.
Rok plisket warna avocado dengan atasan warna mint serta kerudung pasmina putih outfit-ku malam ini.
Tit ...!
Tit ...!
Suara klakson membuat aku langsung buru-buru keluar, "Iya, bentar!" pekikku berlari dari kamar tanpa membawa handphone bahkan dompet.
"Kenapa duduk di belakang? Saya bukan supirmu!" ketus pria menyebalkan ketika aku membuka pintu belakang.
"Lah, jadi saya harus duduk di mana Pak? Kan, itu ada Daisha," ucapku dengan menautkan alis sebal melihat tingkahnya.
"Mami gak peka, Papi nyuruh kita duduk sama-sama di sini Mami," timpal Daisha menepuk-nepuk bangku yang masih ada sisanya.
Kugaruk tengkuk yang tak gatal dan menghela napas, menutup kembali pintu belakang dan membuka pintu depan.
Tanpa disuruh, Daisha langsung turun menyuruh aku untuk duduk lebih dulu. Ia duduk di pangkuanku, tak terlalu berat. Entah berapa kg berat anak ini.
Sesampainya di mall, Daisha menggandeng tanganku dan kami berjalan mendahului Papinya.
"Pi, kita makan malam dulu, yuk!" ajak Daisha menatap ke arah belakang.
"Hmm."
"Kita makan di mana, ya, Mi?" tanya Daisha mendongak menatap ke arahku.
"Daisha mau makan apa?"
"Sushi Mi."
"Yuk! Mami punya tempat yang enak makan sushi."
__ADS_1
"Oke Mi!"
Bersyukur Daisha mengajakku ke tempat makanan mewah tersebut, agar Papinya tak berpikir bahwa aku benar-benar orang susah.
"Papi, Daisha seneng deh punya Mami."
"Dia bukan Mami, dia pengasuh kamu dan dia itu dibayar!" tegas pria menyebalkan tersebut sambil menatap layar benda pipihnya.
"Ya, gak papa Pi. Nanti juga jadi Mami Daisha."
Aku langsung refleks menatap ke arah pria menyebalkan itu dan secara bersamaan dia menatap ke arah Daisha.
"Ck! Jangan asal ngomong Daisha, Papi bisa dapat Mami untuk kamu jauh lebih baik dari dia."
"Kenapa cari yang lain? Mami Azaleana juga baik, kok. Daisha suka."
"Wahh ... Daisha bisa nyebut nama Mama dengan lengkap, keren banget!" seruku yang kagum dengan usia yang masih kecil dia udah mampu menyebutkan namaku dengan sempurna tanpa ada salah.
"Iya, dong Mi. Daisha gitu, lho!" ucap Daisha dengan senyum bangga. Kulirik ke arah laki-laki itu, dia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kami.
"Woy Raditya!" pekik seseorang membuat aku mendongak menatap ke arah sumber suara setelah menyuapkan sushi ke mulut Daisha.
Laki-laki asing itu merangkul bahu pria menyebalkan, Daisha langsung tersenyum melihat ke arah laki-laki tersebut.
"Hay Om Arka," sapa Daisha menyalimnya.
"Hay, Sayang," sahut laki-laki itu dan menatap ke arahku dengan senyuman. Aku pun membalas senyuman tersebut dengan kikuk.
"Wihh, siapa nih Raditya?" tanyanya dan duduk di samping orang yang baru saja kuketahui namanya 'Raditya'
"Pengasuh Daisha," jawabnya sambil tetap fokus dengan makanan yang ada di depannya sekarang.
Aku tak paham, apakah dirinya memang sedingin ini? Bahkan, dengan teman atau bahkan sepertinya sahabatnya sendiri pun dia tetap biasa-biasa saja.
"Ha? Serius, lo? Ketemu di mana pengasuh spek pegawai kantoran begini?" tanyanya dengan suara yang lebih besar membuat aku langsung menatap penampilanku.
"Om, jangan ribut. Malu diliatin orang, Om juga jangan liat-liat Mami Daisha kayak gitu!" tegur Daisha sambil menautkan alisnya tak suka.
"Eh, Mami? Kata Papi tadi cuma pengasuh."
Raditya menatap tajam ke arah laki-laki tersebut membuat dia menampilkan cengengesan, "Iya-iya, yaudah deh gue balik dulu. Eh, jangan lupa. Kalo ada spek pengasuh kayak gini lagi, kabari, ya! Gue juga mau," pesannya menyenggol bahu Raditya.
Ia tersenyum padaku dan kubalas dengan senyuman simpul, meskipun jujur. Aku sedikit risih dengan ucapan-ucapannya barusan.
"Mami, Daisha mau ke toilet dulu, ya."
"Oh, Mami temanin, ya," jawabku sambil berniat bangkit dari bangku.
"Gak usah Mami, Daisha sebentar dan bisa sendirian, kok."
"Gak papa, biar Mami temenin aja."
__ADS_1
"Udah, Mami di sini aja. Bye ...," teriak Daisha berlari ke arah toilet lebih dulu.
Aku yang sudah sempat berdiri hanya menatap ia yang sudah menjauh, duduk kembali sambil memakan pesananku.
"Bahagia dibilang spek karyawan kantoran?" tanya pria menyebalkan tiba-tiba membuat aku yang tengah mengunyah menatap ke arahnya.
"Maksudnya apa, ya, Pak?" tanyaku menautkan alis tak paham.
"Lain kali bajumu jangan seperti itu! Ngebentuk banget, pake kerudung tapi bajunya kayak begitu!" sinisnya mengalihkan pandangan.
Kulihat ke arah bajuku, tak ada yang salah dengan croptop yang kupakai. Dia tetap tangan panjang dan tak terlalu membentuk tubuh juga.
"Ck! Bukan saya yang salah kali, Pak. Dasar temen Bapak aja yang otaknya mesum, mau pake apa juga cewek kalo emang tuh cowok otaknya gak beres. Ya, tetap aja," ujarku membela diri.
"Terserah kau ajalah!" putusnya yang tak mau memperpanjang perdebatan.
Sekitar sepuluh menit, Daisha kembali dengan makananku yang sudah habis. Hanya tinggal makanan dirinya yang sisa sedikit lagi.
"Yah, punya Mami udah habis, ya? Daisha kelamaan datangnya, ya?" tanya Daisha naik ke bangku dengan sendiri.
"Enggak lama, kok. Emang Mami yang buru-buru tadi makannya."
"Oh, gitu."
"Iya, yaudah, yuk buruan makan. Habis itu kita beli alat sekolah Daisha."
"Yee ... pensil baru!" seru Daisha dengan mengepalkan kedua tangannya.
Dering handphone Raditya terdengar, ia langsung mengangkat panggilan tersebut. Meskipun sedang fokus menyuapi Daisha, tapi telingaku tetap ingin tahu apa yang tengah mereka bicarakan.
"Apa harus pulang segera dia?"
"..."
"Gak bisa nunggu sampai pengganti datang?"
"..."
"Baiklah, sebentar lagi kami akan pulang."
'Siapa yabg pulang dan siapa yang akan jadi pengganti?' batinku yang menangkap pembicaraan Raditya dengan orang yang ada di sebrang.
"Mami?"
"Mi!"
"Mami!" teriak Daisha yang membuat aku tersadar dari lamunan soal siapa yang tengah dibicarakan oleh Raditya.
"Eh, iya, Sayang?"
"Mau lagi."
__ADS_1
"Oh, iya-iya. Maafin Mami."
Kusuapkan kembali makanan yang tinggal sushi terakhir ke dalam mulut Daisha, 'Ck! Ngapain gue sampe mikirin urusan dia, gak ada gunanya banget!' batinku menggelengkan kepala.