
"Gimana rumahnya, udah kelar?" tanya Mama sambil mengaduk masakan sedangkan aku menyiapkan piring-piring di atas meja.
"Belum, Ma. Semoga aja 3 hari langsung beres, ya."
"Lama juga gak papa, biar gak sepi amat rumah Mama."
"Gak akan sepi, Ma. Nanti pas weekend juga akan main ke sini kami, kok."
"Syukur, deh. Ini udah mateng masakannya, tolong ambilkan tempatnya dong," pinta Mama dan langsung kuambilkan.
Jam 11:50 kami kumpul dengan Bang Dikta yang tak bisa ikut makan bersama, tapi makan siang buatnya sudah dikirim melalui gojek ke toko.
Semua orang duduk di meja makan termasuk dua anak gadis yang imut tentunya, "Gimana, tugasnya udah kelar?" tanyaku menatap ke arah Daisha dan Dara.
Mereka berdua mengangguk dengan tersenyum, aku mulai memberi nasi dan lauk-pauk ke piring mereka masing-masing.
"Si baby kenapa Kak?" tanyaku saat anak Kak Kamelia menangis terus ketika dirinya duduk.
"Ini, habis di imunisasi tadi dan suntik. Jadi, rada rewel gini deh," keluh Kak Kamelia terpaksa makan sambil berdiri.
Aku langsung bangkit dan tersenyum ke arahnya, "Sini, biar Ana aja yang gendong dia," kataku sambil mengadahkan tangan.
"Gak usah, Kakak udah biasa kok kayak gini kalo dia rewel."
"Gak papa, Kak. Kan, Ana ada di sini. Itung-itung bantuin Kakak biar cepat juga selesai makannya."
Kak Kamelia akhirnya memberikan anaknya padaku tak lupa mengasih dodot milik si baby. Aku kembali berjalan ke arah bangku-ku tadi.
Ternyata benar, wanita itu akan baik dan akan buruk tergantung pada pasangannya. Dulu, aku ingat banget saat Abang sempat milih untuk gak jadi sama Kak Kamelia.
Dia langsung berubah menjadi wanita yang suka jalanan hingga Dara terpaksa sama baby sister, tapi Mama meminta Abang untuk memikirkan hal itu kembali.
Hingga akhirnya, mereka membuat kesepakatan bahwa Kak Kamelia harus keluar dari dunia gak baik itu ketika ia bersedia menikah dengan Abang.
Ternyata, Kak Kamelia sama sekali tidak keberatan. Bahkan, tato yang ternyata ia punya pun dihapusnya padahal aku gak tahu tato itu.
Sekarang, ia begitu cantik dan anggun dengan balutan hijab syar'i yang tetap cantik dipakai di tubuhnya itu.
"Ana," panggil Mas Raditya membuat aku mengalihkan pandangan menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Iya, Mas ada apa? Mau lauk yang mana lagi?" tanyaku menaikkan sebelah alis.
Ia malah tersenyum, senyum yang semakin lama membuat aku candu. Aku berharap senyuman itu tak akan pernah pudar dari wajahnya.
"Nih, makan," titahnya menyendokkan nasi dan lauk ke depan mulutku.
"Gak usah Mas, Ana bisa sendirian nanti, kok," ucapku menolak pemberiannya.
"Udah, gak papa. Aak ... buka mulutnya!"
Kubuka mulut dan menerima suapan dari Mas Raditya, ia juga mengelus pipi gembul si baby yang anteng di tanganku.
Setelah selesai salat Zuhur, kami akhirnya pamit dengan Mama. Aku sudah memberi tahu bahwa kami akan ke kantor polisi bertemu dengan Clara.
Mama menyuruh aku untuk hati-hati ketika bertemu dengan wanita itu, rasa kawatir tentu saja akan selalu ada pada jiwa Mama apalagi Mama melihat sendiri kejadian bertahun-tahun yang lalu.
"Papi, kita mampir beli bunga dan boneka buat Mama, ya," pinta Daisha yang duduk di pangkuanku.
"Buat siapa?" tanya Mas Raditya menautkan alis.
"Buat Mama, biar Mama kalo kangen sama Daisha bisa peluk boneka aja," jelas Daisha.
"Bisa, Mami. Tapi, Daisha 'kan gak bisa setiap saat ada di dekat Mama. Lagian, gak bisa setiap jam jenguk orang di kantor polisi, 'kan?"
"Ih ... iya, kamu pinter banget Sayang! Yaudah, kita mampir beli bunga juga boneka buat Mama, ya!"
"Iya Mami."
Mas Raditya memilih untuk singgah ke mall terdekat, "Sayang, bonekanya mau yang mana?" tanyaku menatap satu per satu boneka yang terpajang di toko ini.
"Mami carikan aja, ya, Daisha mau ke sana," perintah Daisha.
"Lah, kok malah Mami? Kamu aja, Sayang."
"Gak papa, Mami aja. Daisha ke sana dulu, ya, sebentar Mi."
Daisha pergi meninggalkan aku ke arah sudut yang lain di toko ini, Mas Raditya tadi pamit ingin ke toilet terlebih dahulu.
"Daishanya mana?" tanya Mas Raditya yang sudah ada di sampingku.
__ADS_1
"Di belakang Mas," ucapku menunjuk rak belakang.
"Mami, Papi!" seru Daisha menunjukkan boneka yang tak terlalu besar dibawanya.
"Itu untuk siapa? Ini untuk siapa?" tanyaku menunjuk boneka yang dibawanya juga kupegang.
"Ini buat Mami khusus dari Daisha, kalo itu untuk Mama nanti," jelas Daisha.
"Kenapa gak itu aja yang buat Mama?" tanyaku dengan kening yang berkerut.
"Karena ... Mami, 'kan lebih spesial daripada Mama. Mami yang ngajari Daisha berbagai hal di dunia ini termasuk menjadi orang baik.
Daisha tau, Mama adalah orang yang melahirkan Daisha dan kalau gak ada Mama pasti gak ada Daisha.
Tapi, bukannya emang banyak orang yang gak kuat mengurus seorang anak? Dan Mami, bisa melakukan hal itu.
Daisha yakin, kalau nanti Daisha punya adik. Mami pasti akan sangat menyayanginya juga Daisha akan sayang sama dia kayak Mami sayang sama Daisha," papar Daisha begitu bijak membuat aku memeluk tubuhnya kembali.
Dua boneka dan satu buket sebab aku memang tak ingin bunga, kami berjalan keluar dari mall kembali melanjutkan perjalanan ke kantor polisi.
Dengan jarak tempuh sekitar satu jam sebab memang lumayan jauh tempat tahanannya, akhirnya kami sampai juga.
"Pak ... masih waktu jenguk, 'kan?" tanya Mas Raditya berbicara pada penjaga lapas.
"Masih Pak, mau ketemu sama siapa?"
"Atas nama Clara ada di sini, 'kan? Dari kantor polisi saya tanya tadi, dia dipindahkan ke sini."
"Oh ... benar Pak, tapi beliau sedang dibawa ke rumah sakit umum sebab sakit sudah tiga hari," ungkap penjaga lapas membuat Mas Raditya menatap ke arah kami yang berada di belakangnya.
"Pak, di mana rumah sakitnya?" tanya Mas Raditya dengan wajah kaget.
Kami akhirnya langsung meluncur setelah diberi tahu alamat rumah sakit, Daisha mulai menangis karena tahu bahwa Mamanya benaran sakit.
Entahlah, mungkin kami yang terlalu suudzon atau berpikir bahwa sakitnya biasa. Sehingga, ketika Mama Clara berkata anaknya sakit.
Kami kira hanya demam biasa atau pusing dan semacam hal itu, ternyata Clara mengidap penyakit yang cukup serius.
Mas Raditya langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit, sedangkan aku memegang boneka yang akan diberikan Daisha nanti serta mengenggam tangannya juga.
__ADS_1
Laki-laki itu berhenti di resepsionis untuk bertanya di mana Clara berada, ia melirik ke arah kami dan membantu aku membawa boneka juga berjalan sekarang menjadi lebih pelan.