(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Bianglala


__ADS_3

Seperti janji Pak Raditya waktu makan siang tadi, malam ini kami akan pergi ke salah satu pasar malam yang ada di kota ini.


Daisha sudah heboh memilih baju mana yang akan dia pakai sedari sore setelah mandi.


''Udah siap, Princes?'' tanya Pak Raditya pada Daisha yang sudah menunggu di ruang tamu.


''Udah dari tadi, Papi lama, ih!'' gerutu Daisha dengan wajah yang cemberut.


''Ya, gimana gak lama? Orang Papi dandan yang lama mana tau di sana nanti dapat cewek,'' gumamku dengan sengaja membesarkan suara agar di dengar oleh Pak Raditya.


''Apa kamu bilang barusan?'' tanyanya yang benar saja mendengar apa yang aku katakan.


''Eh, apa Pak? Saya gak ngomong apa-apa, ok,'' debatku sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal agar mengalihkan pikirannya tentang apa yang tadi kukatakan.


''Hihi ... Mami cembuu, ya, Papi lama siap-siapnya? Mami takut kalau Papi diambil sama cewek lain, ya?'' celetuk Daisha sambil menunjuk ke arah wajahku sambil cengengesan.


''Eh, mana ada. Mami gak cemburu, kok. Lagian, buat apa juga cemburu sama Papi?'' tanyaku dengan gelagapan, kenapa juga malah aku yang jadinya kena?


Kulirik ke arah Pak Raditya yang malah cengengesan mendengar ucapan Daisha tadi, apa dia pikir bahwa aku beneran cemburu padanya? Dih ... sangat geer sekali.


''Udah-udah, Daisha. Mami malu kalo kamu goda gitu terus,'' terang Pak Raditya yang malah membenarkan ucapan Daisha barusan, ''ayo, kita ke mobil duluan.'' Pak Raditya menggandeng tangan Daisha keluar rumah secara bersama-sama.


Bibirku terangkat sebelah melihat kedua orang yang pergi meninggalkan aku, sungguh sangat menyebalkan sekali.


Sepanjang jalan menuju mobil aku bergumam dengan kesal pada mereka, tidak! Lebih tepatnya pada Pak Raditya seorang.


''Sudah masuk, semua?'' kata Pak Raditya sat ku masuk ke dalam mobil, padalah biasamya ia tak akan mau berkata seperti itu. Sangat sok ramah sekali.


''Sudah, Pi!'' seru Daisha yang menanggapi ucapan Papinya itu. Sedangkan aku hanya diam sambil bersedekap dada di kursi belakang.


''Oke, kita berangkat!!''


Hanya perlu menempuh jarak sekitar lima belas menit, akhirnya kami sampai di tempatnya. Sejujurnya aaku sedikit takut melihat ramainya pengunjung, takut jika Daisha sampai hilang dari genggamanku.


''Sayang, jangan lepasin tangannya dari tangan Mami, ya. Soalnya banyak orang di sini, nanti Daisha hilang dan Mami gak tau,'' terangku memberi arahan sebelum kami masuk ke dalam area pasar malamnya.


Daisha mengangguk tanda ia paham dengan ke-khawatiranku ini, ''Iya, Mi. Daisha akan tetap pegang tangan Mami, kok.''


Kami melihat ke arah Pak Raditya yang sedang berbicara pada tukang parkir. setelah menunggu akhirnya ia menghampiri kami.

__ADS_1


''Yuk, masuk!'' ajak Pak Raditya pada kami.


Di dalam area pasar malam mulut Daisha tak ada henti-hentinya mengucapkan kekaguman dengan permainan yang ada di dalamnya.


''Emangnya, Daisha belum pernah naik atau datang ke tempat ini sebelumnya, ya?'' tanyaku yang sedikit kepo. Padaal di kota juga ada seperti ini, kenpa dia melihat tempat ini seolah baru pertama kali datang dan melihat langsung.


''Saya emang gak pernah ngajak dia ke pasar malam karena takut kalau gak bisa jaga dia sendirian,'' timpal Pak Raditya yang mendngar pertanyaanku barusan.


Kuanggukkan kepala sambil ber, 'oh' ria mendengar pernyataannya itu.


''Emangnya sebelumnya Daisha cuma Bapak sendiri yang jaga, ya?''


''Enggak, Mama juga ikut bantu saya, kok. Cuma, Mama gak bisa setiap saat bantu saya karena ada kesibukkan sendiri.''


''Beararti, gak pernah pake pengasuh, gitu?''


''Gak ada, cuma kau orang yang pertama kali jadi pengasuh dia.''


Aku tersenyum mendengar ucapannya barusan, padahal aku hanya dianggap sebagai seorang pengasuh.


Namun, entah kenapa aku gembira menjadi orang pertama yang menjaga dan bisa merawat Daisha.


"Sayang ... itu tinggi banget, lho. Kamu berani, emang?" tanyaku dengan berjongkok.


"Berani, 'kan ada Mami sama Papi," ucapnya dengan semangat.


Kulirik ke arah Pak Raditya yang ternyata sedang menatap ke arah kami, ia mengangguk seolah memberi izin agar Daisha naik ke bianglala itu.


"Boleh, 'kan Pi?" tanya Daisha menatap ke arah Papinya.


"Boleh, Sayang. Bentar, ya, Papi beli dulu tiketnya. Kamu tunggu di sini, ya," titahnya dan pergi ke arah loket untuk membeli tiketnya.


Kupegang Daisha sambil menunggu Pak Raditya datang membawa tiket yang ia beli di loket tadi.


''Daisha nanti mau beli itu-itu dan itu,'' tunjuk Daisha ke berbagai makanan yang tersedia di pasar malam.


''Dikasih Papi emangnya belik makanan manis kayak, gitu?'' tanyaku yang tak yakin bila ia diberi izin untuk makan-makanan manis kayak begitu.


''Nanti bilang buat Mamilah, Daisha minta dikit doang, kok, nanti,'' bujuk Daisha padaku agar mau diajak kerja sama.

__ADS_1


"Ih, malah ngajak kerja sama kayak gitu. Gak boleh tau."


"Hehe, gak papa dong Mi. Kan, sesekali."


"Ada apa?" celetuk Pak Raditya yang tiba-tiba datang membuatku kaget.


"Eh, gak ada apa-apa Pak. Udah siap? Yuk, naik kita!" ajakku melihat ke arah tangan Pak Raditya yang memegang tiket.


"Udah, nih," tunjuknya kepadaku tiga tiket.


Kami berjalan mendekat ke arah bianglala agar bisa naik dan dihentikan terlebih dahulu oleh petugasnya.


"Azal, tunggu!" henti Pak Raditya membuatku melihat ke arahnya yang berada di sampingku.


Daisha berada tepat di tengah-tengah kami dengan memegang tanganku juga tangan Pak Raditya.


"Ada apa Pak?" tanyaku dengan langkah terhenti.


Pak Raditya mendekat e arahku membuat aku sedikit mundur ke belakang, ''Lah, Bapak mau ngapain?'' tanyaku yang merasa aneh plus takut jika diapa-apain oleh Pak Raditya.


''Dih, kenapa kau malah mundur? Aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh ke kau Azal, ini kerudungmu miring udah sama kek otak orang yang pakenya,'' hina Pak Raditya sambil merapikan kerudugku yang mungkin beneran miring akibat tertiup oleh angin.


''Dih, Bapak menghina saya?'' ketusku memukul tangan Pak Raditya. Eh, kenapa aku lancang sekali memukul tangan laki-laki ini?


"Bukan menghina, hanya berucap faktanya aja," kata Pak Raditya dengan datar.


Ia berjalan lebih dulu, masuk ke area bianglala yang sudah ditunggu oleh petugas yang ada di situ.


'Mampus, gue mana takut lagi sama ketinggian,' gumamku yang sebenarnya takut dengan ketinggian.


'Gimana nanti kalo mesinnya malah mati dan kenapa-kenapa pas di atas?' batinku balik yang takut.


''Udah, yuk!'' ajak Pak Raditya yang mungkin telah seleai memberikn tiket kepada petugasnya.


''Hm? Iya-iya, Pak. Ayo kita naik,'' gelagapku dengan menamplkan cengiran menutupi ketakutanku.


''You, okey?'' tanya Pak Raditya yang ternyata melihat ketakutanku.


''Ha? Okey dong, Pak. Iya, 'kan, Sayang?" kataku yang malah bertanya ke Daisha mengalihkan perhatian Pak Raditya.

__ADS_1


__ADS_2