(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Hati-Hati


__ADS_3

"Saya antarkan pakaian kotornya ke dalam mobil dulu, ya. Kalian duluan aja mainnya,'' titah Pak Raditya padaku saat ia akan meletakkan kresek tadi ke dalam mobil dan membiarkan kami berdua main lebih dulu.


kami akan bermain kerat gelang yang terpajang berbagai mainan dan hadiah berupa elektronik di depannya.


Pak Raditya sendiri sempat menolak untuk kami bermain ini karena dia bilang dia mampu membelinya sendiri tanpa harus bermain seperti ini.


''Pak, bukan masalah Bapak bisa belinya atau enggak. Kita, 'kan niat ke sini buat main-main, sih. Apa salahnya main ini juga?'' tanyaku degan sedikit nyolot.


Ya ... kalau masalah membeli mah, apa yang tidak bisa ia beli jika hanya baerang yang dipajang sebagai hadiah di depan ini?


Bahkan, di rumah harga barang yang serupa jauh lebih mahal dan bagus daripada yang dijadikan hadiah di permainanini.


''Mi, Papi masih lama, ya?'' tanya Daisha yang sudah tidak sabar ingin bermain. Wajar saja, mungkin kali pertama dia bermain seperti ini.


"Mmm ... yaudah, kita main duluan, yuk!" ajakku dan mulai memberi gelang kepada Daisha.


Kami bermain dengan gembira, sampai gembiranya satu pun tidak ada yang masuk ke dalam botol.


"Woy, Raditya?!" sapa seseorang membuat Raditya yang sudah berjalan ke arah Daisha dan Ana jadi terhenti.


"Eh, Arka? Ngapain lu di sini?" tanya Raditya berjalan mendekat ke arah sahabatnya itu.


"Lah, gue seharusnya nanya lu ngapain ke sini? Kalo gue, biasalah. Nemenin istri sama anak gue main di sini. Lu sendiri, sama siapa?" Arka melihat ke sekeliling mana tahu melihat orang yang ia kenal.


Matanya menyipit dan tersenyum melihat seseorang yang sedang asyik bermain dengan Daisha.


Bagaimana pun, Daisha sudah dianggap anaknya sendiri. Tidak mungkin Arka tidak kenal dengan Daisha.


"Oh-oh-oh, sama pengasuh ternyata," goda Arka melirik ke Raditya.


"Ya, iya. Di situ, 'kan ada Daisha. Jadi, dia ngasuh Daishalah."


"Kapan?"


"Apanya?" tanya Raditya menautkan alis bingung.


"Kapan lu nikahin? Udahlah, gue tau lu itu suka sama dia. Lu bukan anggap dia cuma sekedar sebagai seorang pengasuh.


Atau ... dia juga alasan lu tinggalin kerjaan dan ke sini? Jemput dia karena dia pindah kuliah itu?" kata Arka menebak.


"Demi Daisha, mau gak mau gue harus ke sini."

__ADS_1


"Demi Daisha atau demi cinta lu ke dia? Ingat ... banyak laki-laki yang mau sama dia, dia; cantik, pinter, baik dan keibuan. Di zaman sekarang spek yang begitu di inces para laki-laki, lho," terang Arka membuat Raditya terdiam.


Saat Arka menatap ke arah Ana, di waktu bersamaan Ana juga melihat ke arahnya dan melempar senyuman dibalas oleh laki-laki itu.


"Sayang, itu siapa?" tanyaku pada Daisha menunjuk ke arah laki-laki yang berada di dekat Pak Raditya.


"Mana Mi?" Daisha melihat ke arah yang kutunjuk, bibirnya terangkat dan sontak langsung berlari ke arah laki-laki yang berdiri tidak jauh dari kami.


"Om Arka!" pekik Daisha memeluk laki-laki itu. Aku yang tadinya terdiam akhirnya memilih untuk berjalan mendekat ke arah mereka sambil membawa gelangnya.


"Hello, Sayang. Apa kabar?"


"Om Tante dan dede bayi mana?"


"Eits ... sekarang dia udah gak jadi dedek bayi lagi, Sayang. Dia udah besar dan udah bisa jalan, lho."


"Ha? Beneran Om? Di mana dia?"


"Di mana, ya," kata orang tersebut sambil melihat-lihat ke kanan dan kiri, "kayaknya jauh deh mainnya, Om sampe ditinggal gini."


"Yah ... padahal Daisha mau ketemu sama dede bayi. Papi, sih, gak pernah ngajak Daisha buat ketemu lagi sama dede bayi," gerutu Daisha pada Pak Raditya.


"Tau, tuh! Papi jahat, ya. Oh, iya, sekarang dede bayi udah mau punya adek, lho. Daisha kapan punya adek? Biar Daisha jadi Kakak."


"Kan, ini alasan gue ogah ngajak Daisha ke rumah lu!" gerutu Pak Raditya sambil memukul bahu laki-laki itu lumayan kencang.


"Haha ... sakit ogeb!" keluhnya mengusap bahu dengan cengengesan yang tidak tinggal.


"Yaudah, Sayang. Kita main lagi, yuk!" ajak Pak Raditya mengusap bahu Daisha.


"Mbak, eh, siapa namamu?" tanya laki-laki ini kepadaku.


"Azaleana panggil aja Ana Om," jawabku dengan tersenyum simpul mencoba ramah.


"Om? Ha?" tanyanya kaget.


"Eh, s-saya harus manggil apa emang?"


"Kau manggil Raditya apa?"


"Pak," jawabku polos.

__ADS_1


"Bwahahaha ... Bapak-bapak, dong!" ejeknya dengan tawa yang menggelegar.


Aku terdiam dan mengamati tingkah lakunya yang aneh, bagaimana bisa seorang yang pendiam memiliki sahabat se-aneh dia?


"Aku cuma mau bilang, hati-hati aja sama Raditya. Soalnya, dia udah lama gak dibelai," katanya dengan nada pelan membuat aku membulatkan mata.


"Gak beres emang lu!" maki Pak Raditya menarik tangan Daisha langsung menjauh darinya.


"P-permisi Om," pamitku yang ingin ikut pergi juga.


"Iya, intinya ingat itu baik-baik. Hati-hati sama dia!" pekiknya saat aku sudah lumayan jauh darinya.


Aku hanya mengangguk dan melihat ke belakang dengan tatapan aneh kepadanya, sangat-sangat di luar ekpektasi aku sahabat Pak Raditya itu.


"Ingat, apa yang dikatakan temen saya tadi tidak benar. Jangan terlalu kau pikirkan," jelas Pak Raditya yang takut jika aku malah mengira bahwa yang dikatakan oleh temannya tadi keyakini.


"Iyalah, ngapain juga saya percaya Pak. Lagian, gak mungkin Bapak suka sama saya. Masih banyak wanita lain di luaran sana yang jauh lebih cantik dibanding saya," ujarku sambil melihat ke arah gelang yang di lempar-lempar oleh para pemain.


"Kalau saya suka, gimana?" Pertanyaan yang sayup kudengar membuat aku langsung menatap ke arah Pak Raditya yang ternyata menatap ke arahku.


"Apa kata Bapak?" tanyaku ingin memastikan apa yang aku dengar.


"Lupakan saja,'' ucap Pak Raditya fokus menatap ke arah depan.


''Papi, ayo main dong!''


''Gak usah, Papi liatin Daisha main aja.''


''Yah, kenapa? Papi takut malu karena kalah sama yang lainnya, ya?'' ejek Daisha merendahkan Papinya itu.


''Kata siapa? Papi gak mau main karena kesian nanti tukang jualannya bangkrut sebab Papi menang-menang mulu,'' kata Pak Raditya penuh percaya diri.


Aku sedikit membungkuk dan memegang bahu Daisha mendekat ke telinganya, ''Sayang, Papi bukan takut tukang jualannya bangkrut. Tpa, emang Papi gak jago mainnya,'' ejekku melirik ke arahnya.


''Kata siapa? Wah ... kau sepele sekali terhadapku Azal,'' jelas Pak Raditya yang terima kukatakan seperti itu.


''Lah, emang kenyataannya seperti itu, kan, Pak?'' paparku bangkit dan bersedekap dada menatap ke arahnya seolah tidak memiliki salah.


Ia tersenyum seolah menantang diriku, melihat senyumnnya itu membuat aku jadi bimbang apakah dia benar-benar jago main ini?


''Pak, saya beli seratus ribu dong!'' Pak Raditya mengeluarkan uang satu lembar berwarnamerahnya dan tersenyum ke arahku sudah seperti senyum orang jahat saja.

__ADS_1


''Papi, inikan masih ada,'' ujar Daisha yang masih memegang gelang yang lumayan banyak.


''Udah, itu buat kamu aja sama Mami. Siap-siap pulang bawa banyak barang, Sayang.'' Pak Raditya berbicara begitu percaya diri sambil mengusap kepala Daisha.


__ADS_2