
Mataku mengerjap dan mencoba memahami apa yang tengah terjadi, "Ngapain kita ke dapur Pak? Ini dapur, 'kan?" tanyaku memutari ruangan tempat kami sekarang.
"Iyalah, jadi di mana lagi?" Pak Raditya duduk di bangku yang ada.
"Terus, kita mau ngapain?"
"Saya laper, buatin saya makanan dong."
"Ha? Jadi yang Bapak maksud gak tahan lagi? Gak tahan mau makan?"
Ia mengangguk dengan wajah polosnya yang imut itu, ingin rasanya kupukul menggunakan wajan ke wajahnya.
"Iyalah, kamu kira apaan? Atau jangan-jangan, kamu kira saya mau--" Ia menjeda ucapannya dan menunjuk ke arahku.
Sekarang apa? Apa yang ia pikirkan, gini amat ternyata punya suami random, "Apa? Jangan-jangan saya apa!" ketusku dengan nyolot ke arahnya.
"Enggak-enggak, ya, ampun galak banget deh Ibu tiri. Perasaan anaknya Daisha, kenapa galaknya ke saya?" gerutu Pak Raditya menopang dagunya.
Kuhela napas mencoba sabar, bagaimana pun aku harus tetap sabar karena dia sekarang sudah jadi suamiku.
Masa, aku nanti beda tempat sendiri sama dia karena melawan mulu sama suami sendiri. Aku gak mau dong kayak gitu.
"Bapak mau makan apa?" tanyaku sudah dengan kesabaran yang tanpa batas kayaknya.
"Makan kamu, boleh gak?"
Aku tersenyum dengan tangan yang mengepal, "Saya lagi gak mau becanda, Pak. Ini sudah malam dan saya mau tidur. Lagian, kenapa tadi pake acara malu makan segala, sih?
Kayak baru pertama kali aja makan di sini!" cercaku yang balik habis kesabarannya.
"Hmm ... yaudah, deh. Kau balik tidur saja Azal, biar saya yang masaknya. Maaf, kalo saya ganggu tidur kamu.
Kamu boleh balik tidur kembali, gak papa tinggalin saya sendiri aja," ucapnya bangkit dari tempat duduk sambil membuka lemari mencari lauk yang masih ada tadi.
Sebenarnya hanya tinggal ayam goreng saja, paling tinggal dipanaskan doang jadi, deh. Aku merasa sedikit kasihan apalagi dengan kata-kata puitisnya barusan.
Ia membuka satu per satu rak lemari yang tergantung mencari di mana bagian makanan tadi.
Kuhela napas kembali, sepertinya aku harus terbiasa dengan hal seperti ini ke depannya nanti.
"Yaudah, saya aja yang buatkan Pak. Maaf, ya, kalo saya emosi tadi," kataku berada di belakangnya.
__ADS_1
Ia membalikkan badan dan menatap ke arahku, "Kamu gak marah, 'kan? Maaf, ya, kalo saya merepotkan. Saya cuma malu aja kalau makan banyak ramai-ramai seperti tadi," ungkap Pak Raditya.
"Jadi, Bapak dulu sama Clara makannya di kamar gitu? Atau ... kayak gini juga?" tanyaku yang tiba-tiba malah teringat pada wanita itu.
"Tidak, di ruang makan juga dan hanya kami berdua. Karena Mama dia jarang pulang ke rumah itu sebabnya rumah sering sunyi," jelas Pak Raditya membuat aku mengangguk.
"Masih ingat aja, ya," sindirku dan berdiri di lemari yang ada lauknya tadi.
Kubuka dan kuambil mangkuk yang berisi ayam gorengnya, "Cuma ada ayam goreng Pak, gak papa?" tanyaku menatap ke arahnya yang masih berdiri di tempat yang sama.
Sedangkan aku sudah berdiri di depan kompor karena ingin memanasi ayamnya. Ia berjalan mendekat ke arahku.
"Ya ... mungkin moment saat bersama dia tak akan pernah bisa hilang 100% dari dalam ingatan saya.
Karena, itu adalah moment pertama kali saya menjalani rumah tangga dengan seseorang. Namun, bukan berarti perasaan saya masih sama dengan yang dulu.
Ketahuila Azaleana ... bahwa sekarang, nanti dan kapan pun itu penghuni hati saya hanya dirimu juga anak-anak kita nantinya.
Kau tak perlu takut bahwa aku masih mencintainya, jika aku masih cinta padanya kenapa kau yang kupilih sedangkan dia mengejar saya hingga nekat mencelakai dirimu?
Tak perlu takut, Sayang. Apalagi cemburu meskipun saya tau cemburumu itu pertanda cinta pada saya.
Sedangkan aku, menatap lekat wajah damai yang selalu saja bisa menghipnotis diriku ini. Rahang yang sempurna serta wajah yang begitu mempesona.
Apalagi tadi ... aku semakin meleleh akibat kata-katanya barusan. Seperti tak ada kebohongan dari apa yang ia ucapkan.
"Saya, akan makan apa saja yang kau sajikan untuk saya Ana," sambungnya kembali saat melihat aku tak berkutik akibat ucapannya.
"Baiklah," jawabku singkat membalikkan badan untuk memanaskan ayamnya.
Tangan melingkar di perut rataku membuat aku melihat ke arah kiri, sudah ada wajah Pak Raditya yang bersandar pada bahuku.
"Jangan panggil saya Bapak lagi, karena saya bukan majikanmu lagi Azal. Panggil saya; mas, sayang, cinta, kasih, baby atau apa saja," usulnya yang ada benarnya.
"Dih, lebay amat dah! Saya panggil Mas aja deh," ucapku merasa bahwa hanya 'mas' saja yang waras panggilannya.
"Ayang juga lagi trend di zaman sekarang, kok. Kamu gak mau pakai panggilan itu, Sayang?" tanyanya dengan berbisik di telingaku membuat bulu kudukku berdiri.
"Ish! Apaan, sih, Mas! Mundur, ih. Nanti diliat orang, udah sana duduk di bangku aja!" keluhku merasa risih dengan apa yang dilakukannya.
Masalahnya, bukannya tambah cepat yang ada tambah lama pekerjaan ini selesai. Belum lagi kalau ada orang yang tiba-tiba melihat, bisa malu aku.
__ADS_1
Akhirnya, ayamnya sudah siap. Kuambilkan nasi untuk Mas Raditya saja karena aku sudah kenyang.
"Kamu gak mau Sayang?" tanyanya mengangkat nasi menggunakan tangannya.
"Ndak, Mas. Kamu makan aja, aku dah kenyang," jelasku dengan meletakkan kepala di atas meja makan sambil menatap dirinya yang sedang mengunyah makanan.
"Besok kamu ke butik?" tanya Mas sambil mengunyah makanannya. Ayamnya ia cocol dengan saos yang memang tersedia di rumah ini.
"Mmm ... engga, deh. Mau cuti dulu beberapa hari, sekalian mau nganter Mama juga ke bandara, 'kan?"
Mertuaku tak lama di sini, ia ke sini hanya karena membawa Daisha juga kado dan tentunya ingin mengucapkan selamat pada kami.
"Iya, sih, tapi kalo mau kerja juga gak masalah, sih."
"Emangnya, Mas mau kerja?"
"Enggak, mau cek rumah yang di sana dulu. Biar bisa langsung kita tempati."
"Lah, 'kan emang gak ada masalah di rumah sana. Ngapain harus di cek dulu."
"Kan udah lama gak ditempati, panggil tukang bersih-bersih dulu biar debunya hilang. Lagian, kita juga harus belanja dulu agar gampang nanti kamu masaknya."
"Siapa yang masak?" tanyaku mengulang ucapannya.
"Kamu."
"Saya gak bisa masak, Mas. Gimana, dong?" tanyaku mengangkat kepala menatap ke arahnya.
"Yaudah, gak papa. Kalo gak bisa, nanti saya ajari. Yang penting kita beli bahannya dulu, mana tau saya laper tengah malam kayak gini. Biar ada yang dimakan."
"Mas gak marah?" tanyaku menaikkan sebelah alis heran.
"Untuk?"
"Saya gak tau masak, lho."
Ia memegang tanganku dan di genggam, "Saya mencari seorang istri, bukan chef apalagi pembantu. Kalau masalah masak, saya yakin kamu pasti punya keinginan untuk belajar masak. Hanya saja, kekurangan waktu serta yang ngajarin.
Saya akan ajari kamu, menikah itu artinya belajar. Belajar untuk hal-hal yang baru kita hadapi dan bangun bersama.
Bukan berarti menikah artinya sudah pintar dalam semua hal, toh gak semua laki-laki juga ketika menikah bisa perbaiki barang rusak, 'kan? Jadi, saya sama sekali tidak mempermasalahkan kamu tau masak atau tidak," jelasnya tersenyum dan mengusap pipiku.
__ADS_1