(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Akhir Kisah


__ADS_3

Rencana demi rencana disusun oleh Ade. Namun, selalu saja gagal. Hari ini, di rumah hanya ada dirinya juga Ana.


Semua orang pergi menemani Bibik belanja ke pasar, Daisha juga minta untuk ikut menemani Bibik sebab bosen di rumah karena sedang libur.


"Ini adalah cara terakhir, setelah ini kalau gagal juga. Aku akan langsung habisi dia," ucap Ade sambil menaiki anak tangga.


Sebenarnya rumah Raditya dua tingkat, hanya saja di loteng tidak ada yang menempati karena di lantai bawah pun sudah cukup kamarnya.


Jadi, tak perlu harus ke atas segala. Mereka juga jarang sekali kedatangan tamu, jadi semakin jaranglah ditempati lantai atas.


Ana sedang di kamar sambil bersandar pada kepala ranjang, sebelum ke pasar Bibik sengaja buatkan dirinya puding, buah-buahan serta susu ibu hamil agar bayinya semakin sehat dan kuat.


Dirinya sedang asyik menonton salah satu drama dari negeri sebrang.


"Aaaaa!"


"Tolong!"


Suara teriakan seseorang membuat Ana menghentikan video-nya, "Tadi, ada suara siapa, ya?" gumamnya takut bahwa hanya halusinasi saja.


"Buk Ana! Tolong saya!" pekik Ade kembali membuat Ana dengan segera bangkit dari kasurnya keluar dari kamar.


"Ade, kamu di mana?" jerit Ana yang rumahnya serasa di hutan.


"Tolong saya Buk, saya lagi ada di atas!" sahutnya membuat Ana menautkan alis.


"Ngapain kamu di sana lagian?"


"Buk tolong saya!"


"Kamu kenapa emangnya?" tanya Ana dengan waspada.


Meskipun dari CCTV, ia tak melihat bahwa Ade melakukan hal yang mencurigakan. Tapi, tak membuat dia langsung percaya dengan wanita itu.


"Tolong saya Buk, saya udah gak kuat! Kaki saya sakit Buk."


"Sakit kenapa?"


"Buk tolong!"


"Iya, bentar. Bentar lagi Bibik pulang, saya gak kuat kalo harus naik ke atas, tunggu, ya!"


Ana kembali ke kamar sebab merasa bahwa ini pasti hanya akal-akalannya saja, saat tangan Ana sudah menyentuh gagang pintu kamarnya.


Tiba-tiba perasaannya menjadi tak enak, di tatap ke arah anak tangga dengan menghela napas.


"Tenang Ana, dia pasti gak akan kenapa-kenapa," gumamnya meyakinkan diri.


Saat pintu sudah terbuka, Ana kembali berdiam diri dan menatap anak tangga lagi, "Gimana kalau emang dia kenapa-kenapa? Bisa-bisa, Mas Raditya yang di tuntut keluarganya karena dia bekerja sama kami," kata Ana dan akhirnya memutuskan kembali menutup pintu serta berjalan ke arah anak tangga.


"Ade!" panggil Ana menaiki anak tangga.


"Kamu gak papa, 'kan? Saya naik, nih!" sambungnya dan akhirnya naik ke atas melihat keadaan Ade.


Hingga sampai ke lantai atas, Ana clingak-clinguk mencari keberadaan Ade.


"Ade, kamu di mana?" panggil Ana kembali melihat di setiap kamar.


"Di sini," sahutnya dengan nada dingin membuat Ana melihat ke arahnya.

__ADS_1


Ditatap dari atas ke bawah, "Buat apa kamu teriak tadi kalau ternyata gak kenapa-kenapa, ha?" tanya Ana menautkan alis.


"Ya ... kalo saya gak gitu, kamu mungkin gak akan mau ke sini, 'kan?" tanya Ade dengan menyeringai mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


"Azaleana ... wanita yang merebut kebahagiaan seseorang hingga wanita itu sekarang meninggalkan dunia.


Bahagia, tertawa dan mendapatkan apa yang dirinya inginkan tanpa terkecuali. Awalnya, aku kira bahwa wanita jahat seperti itu sudah tidak ada lagi.


Namun, mendengar dan setelah melihat secara langsung. Ternyata, emang ada wanita yang seperti itu yaitu dirimu!


Biar sedikit aku kasih tau tentang diriku, jika selama ini kau melihat aku seolah tak seperti pekerja pada umumnya yang tunduk pada majikan.


Kau benar! Aku memang tak butuh pekerjaan darimu, aku disuruh untuk masuk ke rumah ini dan membuat dirimu hancur!


Beberapa kali aku membuat jebakan agar bisa mencelakaimu, malah Bibik yang kena naasnya itu!


Huft ... tapi, sekarang? Kau tak bisa lagi lari ke mana-mana, aku akan buat kau menghilang dari bumi ini.


Agar kau tau, bahwa menjadi perebut kebahagian orang itu tak pantas berada di atas tanah melainkan di bawah tanah!" terang Ade membuat Ana sampai menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita di depannya.


"Satu lagi, soal CCTV mini yang kau simpan di kamarku juga Daisha. Kau tak mendapatkan apa pun, 'kan?


Sebab ... aku sudah tau lebih dulu dan melihat CCTV-mu itu, lain kali jika ingin mata-matain aku menggunakan alat seperti itu. Kau harus banyak-banyak belajar dariku terlebih dahulu.


Terutama, belajar meletakkan CCTV yang aman agar tak terlihat oleh siapapun juga," sambung Ade dengan tersenyum penuh kemenangan.


'Pantas aja aku gak menemukan hal yang mencurigakan dari dia, ternyata dia tau CCTV itu?' batin Ana yang hanya bisa menatap dirinya.


Ade maju kembali satu demi satu langkah mendekat ke arah Ana, Ana yang melihat pisau di depannya semakin mundur tanpa melihat ke belakang.


"Kau tau, bahwa apa yang kau lakukan ini perbuatan salah, ha?"


"Aku ... tak pernah mengambil juga menjauhkan Daisha dari ibunya!" tegas Ana tak terima dengan tuduhan Ade.


"Oh, ya? Kalau begitu, seharusnya di saat Ibunya sakit hingga meninggal dunia. Daisha bersama dengan dirinya, dong? Kenapa malah bersamamu, ha? Bahkan, waktu mereka bertemu saat di rumah sakit juga gak banyak kau buat."


"Itu semua kemauan Daisha, apakah aku berhak memaksa jika dia tak ingin di situ lama-lama? Lagian, aku heran kenapa kau malah sibuk mengurusi rumah tangga orang lain!


Setidak ada pekerjaan itukah dirimu? Ha? Tak usah sok paling tau sedangkan dirimu tak ada di situ!" tekan Ana menatap nyalang ke arahnya.


"Pekerjaan? Inilah pekerjaanku, membuat orang yang gak punya hati dan tak pantas ada di bumi lenyap!"


Ade semakin mendekat membuat Ana akhirnya melihat ke belakang, di belakangnya sudah ada anak tangga.


"Kau pernah merasakan jatuh dari anak tangga? Pasti belum, 'kan? Kau mau mencobanya?" tanya Ade menaikkan alisnya sebelah.


"Kau pikir aku takut dengan ancaman dan gertakanmu itu, ha? Tak ada kata takut buat manusia berhati iblis sepertimu!" balas Ana menunjuk ke arahnya.


Ade dibuat semakin marah oleh Ana yang sama sekali tak takut dengan setiap ancaman yang keluar dari mulutnya.


Ade mencoba mendorong Ana, tapi wanita itu lebih dulu menghindar dari belakang anak tangga.


Hingga akhirnya, mereka saling mendorong satu sama lain. Ana terkena pisau yang dipegang oleh Ade tadi hal tersebut membuat Ade tersenyum puas.


"Gimana, enak? Itu baru permula--"


Ana mendorong Ade yang kebetulan membelakangi anak tangga.


"Aaaa ... tolong!" pekiknya dengan badannya yang menggelindingi anak tangga hingga ke lantai bawah.

__ADS_1


Dengan darah yang menetes dari tangan Ana, dirinya berjalan ke bawah dan berjongkok menatap Ade.


"Tenang, kau tak akan mati. Paling, hanya badanmu itu yang patah jika rapuh, sih. Kalau gak rapuh seperti otak dan sikapmu, gak akan sampai patah. Tenang aja," ucap Ana tersenyum dan menepuk bahu Ade.


Wanita itu masih sadar dengan napas yang memburu dan tubuh tak mampu di gerakkan lagi. Ana bangkit dan berjalan ke kamar untuk memanggil ambulans.


"Assalamualaikum, Sayang?" salam Raditya yang ternyata pulang mendadak.


"Astaghfirullah, ada apa ini?" sambungnya saat melihat Ade sudah terkulai lemas di lantai.


Ana keluar dari kamar dengan santai berjalan keluar, "Waalaikumsalam, Mas udah pulang?" tanya Ana membuat Raditya mendongak menatap istrinya.


"Sayang, tangan kamu kenapa?" Dia bangkit melihat istrinya yang sudah pucat serta tangan berdarah.


"Gak papa, kami hanya baru selesai bermain-main saja Mas."


Raditya menatap dengan perasaan yang campur aduk, tak lama ambulans datang membawa Ade ke rumah sakit.


***


"Dengan ini memutuskan bahwa terdakwa Ade ditetapkan 3 tahun dipenjara atas kasus percobaan pembunuhan saudari Ana!" tegas Hakim dengan tiga kali palu di pukul.


Ana dan Raditya serta keluarga keluar dari ruang sidang dengan perasaan lega, mereka bersyukur akhirnya wanita itu bisa diadili.


"Ma, titip Daisha, ya. Raditya sama Ana mau ke pantai dulu buat nenangin Ana juga," kata Raditya dan diangguki oleh Mama.


Mereka akhirnya pergi berdua ke pantai tanpa adanya Daisha, "Ya, ampun Mas. Padahal aku gak masalah, lho. Lagian, udah lama juga kejadian itu.


Kan, baru di proses masalahnya sebab dia baru sembuh juga. Jadi, rasa trauma atau apalah itu udah gak ada," terang Ana menatap wajah fokus Raditya yang menatap jalanan.


"Udah, kamu tenang aja, ok?!"


"Yaudah, deh!"


Mereka sampai di salah satu pantai yang kebetulan tak terlalu banyak pengunjung sebab bukan hari weekend.


Raditya membawa Ana duduk di salah satu bangku yang tersedia, ia menatap wanita di depannya sekarang dengan menggenggam tangannya erat.


"Sayang, maafkan aku udah meninggalkan kamu sama seseorang yang ternyata gak sebaik aku nilai.


Maafkan aku karena gak bisa jaga kalian, aku gak bisa bayangkan bagaimana jika sampai ditinggalkan kamu.


Aku minta maaf atas segala kesalahanku, kecerobohan dan lainnya. Aku janji akan perbaiki segalanya, akan menjadi suami serta ayah yang terbaik buat anak-anak kita," ungkap Mas Raditya menatap lekat ke arahku.


Kulihat pandangan itu, tak ada kebohongan di dalamnya. Kuanggukkan kepala dengan tersenyum, Mas Raditya langsung mengecup tangannya untuk beberapa menit.


'Tak perlu hiraukan ocehan orang lain yang menghinamu sebagai apa pun itu selama kau tak seperti yang mereka katakan.


Di kehidupanmu yang tahu bagaimana dirimu, ya, cuma kamu. Bukan orang lain apalagi pasangan, mereka hanya tau beberapa persen saja.


Dalam hubungan pun akan selalu ada masalah nantinya yang menerpa, jangan pernah pergi apalagi kabur dari masalah itu.


Namun, hadapi dengan ketenangan bukan dengan kekerasan apalagi ego yang tinggi.


Aku tau, bahwa dunia ini tempat yang akan ada saja masalah tanpa henti dan beruntungnya aku punya suami yang membantu agar aku mudah melewati masalah itu.


I love you Mas Raditya, suami dan pengganti Papa sampai kapan pun itu juga.'


TAMAT

__ADS_1


(Terima kasih semua yang udah setia, maaf jika ada typo atau ending tak sesuai dengan yang kalian mau. Bay-bay lopyou semua, sehat-sehat, ya! Sampai jumpa bulan depan dengan cerita yang baru, jangan rinduu ... berat! Biar Dilan aja, xixixi. Lopyouu polll buat kalian semuaaaa)


__ADS_2