(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Toko Elektronik


__ADS_3

"Tenang Buk, saya udah berhasil masuk ke dalam rumah mereka." Aku tak sengaja lewat dari kamar Ade saat mendengar dia sedang menelpon seseorang.


Alisku tertaut dengan perasaan mulai tak enak karena merasa bahwa tujuan Ade ke rumah ini bukan hanya ingin bekerja semata untukku.


'Aku labrak dia sekarang, nih? Tapi, aku gak ada bukti apa-apa. Lebih baik aku liat dulu apa yang akan dia lakukan dan sebenarnya tujuan dia apa jadi pengasuh Daisha,' batinku berjalan ke dapur untuk mengambil minum.


Tak lama ketika aku sudah sampai di dapur, kudengar suara pintu yang tertutup. Sepertinya Ade melihat kalau aku lewat dari depan kamarnya.


Keluar dari dapur menuju kamar Daisha, kulihat setiap sudut kamar mencari CCTV.


'Kok gak ada CCTV, sih?' batinku.


"Eh, ada Ibu ternyata?" tanya Ade yang tiba-tiba masuk.


"Iya, mau liat Daisha soalnya. Masih mandi dia ternyata."


"Iya, Buk. Eh, ibu gak langsung ke tempat kerja hari ini?"


"Enggak, kok. Besok kayaknya saya akan mulai masuk kerja, hari ini mau pergi bentar sama Daisha."


"Saya perlu ikut, Buk?"


"Gak usah, saya sendiri aja."


"Baiklah Bu."


"Kamu siapkan dia, ya. Saya juga mau siap-siap."


"Baik Bu."


Aku mengangguk dan keluar dari kamar Daisha menuju kamarku, tak terlihat wajah atau ada pikiran jahat dari ucapannya tadi.


Namun, siapa yang tahu hati seseorang, 'kan? Bisa jadi di depan kita dia seolah baik, tapi di belakang melakukan hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.


Pukul tiga sore, aku dan Daisha memilih pergi ke salah satu toko elektronik menggunakan taksi.


"Pak, mau beli CCTV 5 buah sama ada CCTV yang kecil, gak? Dua, ya, Pak."


"Yang limanya mau kami pasangkan langsung atau Ibu nyari tukang pasang sendiri?"


"Dari sini aja."


"Baik, kami siapkan nota-nya, ya."


Aku mengangguk dan menatap ke arah Daisha yang mendongak melihatku, "Mami, mau pasang CCTV yang kecil di mana?"


"Mmm ... di butik Mami, Sayang. Soalnya di butik gak ada CCTV-nya."


Daisha hanya mengangguk dan ber'oh' ria. Suara dering handphone-ku membuat aku membuka tas dan melihat panggilan dari siapa.


"Iya, Mas. Ada apa?"


"Kamu di mana?"


"Lagi di toko elektronik, nih."

__ADS_1


"Ngapain?"


"Beli CCTV, aku baru sadar kalau di rumah Mas gak ada CCTV."


"Buat apa? Kan, di rumah kita gak ada siapa-siapa yang mencurigakan. Mereka itu dari yayasan terbaik."


"Ya, tetap aja kali Mas. Kita, 'kan gak tau hati dan pikiran seseorang. Bisa jadi di mulut dia bilang cinta, eh, di hati benci di pikiran gak suka," sindirku dengan suara tawa di akhir.


"Siapa tuh yang benci dan gak suka sama kamu? Siapa juga yang pernah ngomong cinta? Biar aku kasih pelajaran tuh orang ngomong kayak gitu sama istri orang."


"Oh ... jadi, kamu gak pernah ngomong kayak gitu sama aku, ya?"


"Ya, emang pernah, ya? Aku lupa, nih."


"Dih, nyebelin! Udah dulu, ya. Aku mau bayar nih barangnya."


"Kamu toko elektronik mana? Tunggu dulu jangan bayar, biar aku lihat barangnya."


"Ana sharelock aja, ya, Mas."


"Oke."


"Datang sekarang juga, lho."


"Iya Ana."


"Jangan dilamain!"


"Iya, Sayang, Cintaku, Baby-ku."


Kumatikan panggilan dan langsung mengirimkan lokasi ke nomor Mas Raditya, 'Eh, kalau dia liat nota dan ada dua kamera kecil. Dia akan nanya-nanya dong nanti? Tapi, kayaknya aku emang harus kasih tau Mas Raditya, sih, soal ini,' batinku.


"Pak, bentar, ya. Suami saya mau menuju ke sini, dia katanya mau liat barangnya dulu."


"Oh, iya, Buk. Duduk aja kalau gitu terlebih dahulu sambil nunggu suaminya," titah penjaga toko mempersilahkan duduk di bangku yang telah di sediakan.


"Makasih Pak."


Kugandeng tangan Daisha dan berjalan ke arah bangku, ia tampak sedikit bosen serta bete menunggu seperti ini.


"Daisha pikir kita akan ke toko mainan Mi."


"Daisha mau mainan? Masa, udah gede mau mainan, sih?"


"Gak papa Mi, biar bisa dimainkan sama adik nanti," kata Diasha menatap ke arah perutku.


Aku sedikit terkejut melihat respons Daisha yang seperti itu, "Hehe, doain aja, ya, Sayang. Semoga segera ada adiknya," ucapku mengusap rambut Daisha.


"Iya, Mami."


Suara mobil Mas Raditya terdengar berhenti di depan toko yang kebetulan tak jauh dari tempat parkirnya.


Percaya atau tidak, seorang istri akan sangat hafal dengan kendaraan suaminya. Akan menjadi kebahagiaan tersendiri baginya ketika mendengar kendaraan tersebut.


"Ayo, Sayang!" ajakku pada Daisha dan menggandeng tangannya untuk bangkit.

__ADS_1


"Udah nunggu lama?" tanya Mas Raditya melepas kaca matanya.


Aku mengulum senyum saat pikiranku terlintas sebuah kalimat, 'Pantasan aja banyak yang demen nih orang, penampilannya kece begini.'


"Enggak, kok, Mas. Itu langsung bayar dan cek dululah, kesian Bapaknya udah nunggu lama," titahku padanya.


"Oh, iya-iya."


Mas Raditya melangkah ke kasir dan melihat nota, ia menatapku saat setelah selesai membaca nota-nya.


Mungkin, tatapan bertanya kenapa ada CCTV kecil yang ikut kubeli, "Ini, kapan di pasang Pak?" tanya Mas Raditya menatap penjaga kasir.


"Besok Pak."


"Baik kalau gitu, bisa pakai kartu kredit, 'kan?"


"Bisa, kok, Pak."


Mas Raditya mengambil dompet dan menyerahkan kartu kreditnya, aku menatap dengan menautkan alis.


Kami akhirnya pulang setelah membawa CCTV kecil dua buah dan CCTV yang besar biasa di tempel besok sekalian dibawa oleh tukangnya langsung.


"Lah, katanya mau liat atau ganti barangnya. Emangnya barang yang aku beli itu bagus, Mas?" tanyaku sambil berjalan ke luar toko.


"Ya, Mas juga gak tau sih bagus atau enggaknya."


"Terus?"


"Ke sini cuma mau bayarin apa yang kamu beli, jangan sampai kamu beli sesuatu pakai uang kamu sendiri.


Mulai hari ini, aku akan kasih uang bulanan, jajan juga skincare kamu. Masalah gaji karyawan itu biar aku aja.


Kamu cuma urus masalah kebutuhan aja nanti, ya, sama sekolahnya Daisha aja, oke?"


Aku mengangguk dan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, masih bingung merangkai kalimat apa nantinya jika Mas Raditya bertanya soal CCTV.


"Mas, ini masih sore, lho. Belum waktunya pulang, kenapa kamu malah pulang?" tanyaku melirik ke arah wajahnya yang sedang fokus menyetir.


"Ada seseorang yang mau datang ke rumah, mangkanya aku cepat pulang."


"Siapa?" tanyaku menaikkan alis sebelah.


"Nanti jug kamu tau. Kok, kamu malah cemberut gitu, sih? Gak seneng aku temenin beli CCTV-nya, ya?"


"B-bukanlah, Mas. Masa aku gak seneng, sih? Aku seneng banget bahkan, apalagi malah dibayari sama Mas.


Cuma, aku gak enak aja. Mas, 'kan lagi ada kendala di perusahaan masalah uang juga. Malah bayarin ini segala."


"Sayang ... sebelum seorang laki-laki menikah dia harus menyiapkan finansial yang setidaknya stabil. Boleh naik tapi jangan turun.


Aku udah menyiapkan uang sendiri kok buat kehidupan pribadi dan pekerjaan, jadi semua akan aman. Kamu gak perlu khawatir, ya," jelas Mas Raditya mengusap kepalaku.


Aku mengangguk dan tersenyum menatap ke arahnya.


"Ehem! Daisha gak digituin Pi? Cuma Mami aja, nih?" celetuk Daisha yang sudah duduk di tengah-tengah bangku belakang dengan bersedekap dada.

__ADS_1


Kulihat ke arahnya dengan wajah yang cemberut membuat aku dan Mas Raditya tertawa.


__ADS_2