
"Aaa!" teriakku saat ia akan membalikkan badan dan menutup kulkas yang entah apa dicarinya di dalam sana.
"Hey-hey!" larang suara yang tidak asing di telingaku.
Tangan yang sudah terangkat ke arahnya dengan mata terpejam, ditahan oleh tangan dirinya. Aku langsung membuka mata untuk melihat siapa sebenarnya dia.
"P-pak Raditya? Ngapain malam-malam ke dapur?" tanyaku dengan terbata karena merasa sedikit bersalah.
"Kau yang apa-apaan, ngapain ke sini malam-malam mana pake masker pula. Kalau Bibik yang di dapur dan dia kaget dengan wajahmu itu, gimana?"
"Lah, lagian Bapak yang salah. Jangan mengendap gitu dong. Hidupkan juga lampu ruang tengah biar kode bahwa masih ada orang yang bangun!" omelku tidak mau kalah.
"Kok malah kau yang lebih galak dibanding saya Azal? Sebenarnya, siapa yang bos di sini?"
"Bukan masalah siapa bos dan pesuruh Pak, tapi kalo emang salah, ya, akui salah jangan bersembunyi di balik kata bos dong!" protesku yang sudah tersulut emosi.
Ia menurunkan tanganku dan melepaskan tangannya di pergelanganku, kumajukan bibir seperti bebek.
"Hmm ... maafkan saya, tadi saya mau buat makanan karena laper. Tau, sendiri tadi saya banyak gerak pas di pasar malam.
Kau sendiri, ngapain ke dapur dengan topengmu itu."
"Ini bukan topeng, ini masker Pak!" ketusku sembari merapikan masker di wajah.
"Sekali lagi kalo pake gituan jangan keluar kamar!"
"Lah, saya haus masa gak boleh minum, sih?"
"Mana airnya?"
"Ya, belum saya ambil. Tadi udah saya ambil, karena dengar suara dari dapur jadi masukkan balik. Niatnya nih gelas buat lempar penjahatnya."
"Penjahat-penjahat, kebanyakan nonton drama kamu!" ketus Pak Raditya sambil membelakangiku melihat kembali ke arah kulkas.
"Nyenyenye," ejekku padanya. Kulihat dari jarak yang agak jauh aktifitas laki-laki itu, ingin tahu apa yang akan dimasaknya.
"Bapak mau masak apa? Mau saya masakin?"
Ia langsung menoleh dan berjalan mendekat ke arahku, "Kenapa gak dari tadi?" tanyanya menyerahkan tomat dan timun.
Kugerjapkan mata beberapa kali, padahal hanya basa-basi seharusnya ia menolak. Ternyata, dirinya memang tipe bos yang tidak tahu malu.
Kulirik ke arah belakang, ia sudah santai duduk di atas meja sambil menopang dagu menatap ke arahku, "Apalagi yang kau tunggu Azal? Cepat buat, aku bisa mati kelaparan ini!" titahnya membuat bibirku terangkat geram.
__ADS_1
Kutarik napas panjang dan mengusap dada, mencoba bersabar menghadapi duda meresahkan ini.
Gelas kuletakkan di meja dan mulai mengambil bahan-bahan untuk membuat nasi goreng, untungnya sudah ada bumbu instan.
Jadi, aku tidak perlu membuat bumbu malam-malam begini. Kubuat porsi untuk dua orang karena aku juga laper, 'kan makan malam tadi sudah kukeluarkan semua.
Sekitar dua puluh menit, nasi goreng kuletakkan di depan Pak Raditya tidak lupa dengan mengambilkan sendok juga gelas untuknya.
"Lah, kenapa dua nasinya?"
"Buat sayalah, Pak. Emangnya, cuma Bapak doang yang lapar?" cetusku duduk di sebrang Pak Raditya.
"Bersihkan dulu itu maskermu."
"Ini gak bubuk, tinggal lepas Pak gak perlu dibersihkan," jelasku sambil membuka masker dan membiarkannya lebih dulu di samping piringku.
Menadahkan tangan untuk berdoa, kusantap nasi yang pastinya sudah cocok di lidahku. Tidak asin atau hambar karena telah kucicipi terlebih dahulu.
Hanya ada suara denting sendok memenuhi ruangan yang sunyi ini, Pak Raditya pun tidak protes dengan rasa masakannya.
"Azal," panggil Pak Raditya membuat aku menatap lurus ke arahnya.
"Hmm ... apa Pak?" tanyaku sembari mengunyah makanan.
"Uhuk!" Aku tersedak dengan pertanyaan tiba-tiba yang diberikan Pak Raditya, ia langsung menyodorkan air minum padaku.
"Makasih Pak." Kuminum dengan cepat hingga tersisa setengah gelas lagi, setelah merasa lega kuletakkan gelas dan menatap ke arah Pak Raditya.
"Bapak ngapain nanya begitu?"
"Ya, apa salahnya? Sebagai seorang bos saya harus tau, dong, soal kehidupan pribadi anggota saya."
"Mana ada seorang bos harus tau kehidupan pribadi anak buahnya, kenapa sekalian gak selidiki ke polisi aja. Biar tau segala kehidupan pribadinya yang sekarang dan masa lampau."
"Kau, ini! Tinggal jawab aja susah banget!" gerutu Pak Raditya untuk pertama kalinya kulihat membuat aku hampir tertawa.
"Gak ada Pak, kenapa? Mas Akbar mau sama saya, ya?" tanyaku yang masih ingat dengan teman Pak Raditya beberapa hari yang lalu itu.
"Ck! Jangan mimpi kau akan kuberi izin pacaran dengan Akbar."
"Sejak kapan izin Bapak saya butuhkan?" debatku tak mau kalah.
"Kau ini!" geramnya menautkan alis menatapku.
__ADS_1
Aku malah pura-pura tidak melihat hal itu, fokus memakan nasi goreng yang masih tersisa.
"Kau punya kriteria laki-laki idaman?" tanya Pak Raditya kembali yang membuat aku semakin bingung.
"Bapak ngapain nanya-nanya ke arah situ mulu, sih?" gerutuku yang mulai risih dengan topik pembicaraannya.
"Ya, ampun, tinggal jawab saja," geramnya mengusap wajah seolah frustasi menghadapiku.
Aku terdiam dengan mulut yang memaki dirinya tanpa ia ketahui tentunya, tiba-tiba ide yang aneh melintas di dalam benakku.
"Tipe idaman saya; tingginya lebih dari saya, gak perlu harus putih, jago olahraga atau sering olahraga, kaya, punya rumah sendiri, usaha sendiri.
Mandiri, tidak bergantung pada orang tua, kebapak-an jiwanya, bertanggung jawab pada dirinya juga pekerjaannya. Yang terpenting ... tidak duda," terangku dengan tersenyum ke arahnya begitu manis.
Bahunya sedikit merosot dan lengkungan yang entah dia sadari atau tidak langsung memudar kala mendengar kalimat terakhir dari bibirku.
"Emangnya, kenapa kalau dia seorang duda?"
"Nanti, ribet. Saya dikejar-kejar sama mantan istrinya," sindirku dengan tetap tersenyum.
Pak Raditya langsung diam dan kembali fokus pada makanannya, aku merasa sedikit bersalah berucap demikian.
"Kenapa emangnya Pak? Bapak suka sama saya, ya?" tebakku dengan pede sambil menunjuk ke arahnya.
"Bukan, tapi ada anak buah saya yang suka sama kau. Sayangnya, dia duda dan udah umur 60 tahun. Dia pengen di dekatkan sama kau, eh, ternyata dia langsung di eliminasi dengan kriteria yang kau sebutkan," jelasnya dengan suara tanpa beban dan bersalah.
Kugelengkan kepala mendengar penuturan yang keluar dari mulutnya, segampang itu ia berujar dan ingin menjodohkan aku pada laki-laki yang umur 60 tahun.
Tanganku terkepal dengan emosi yang sudah memasuki diri ini, kuambil sisa nasi gorengku; tomat dan timun.
Berjalan mendekat ke arahnya dan memasukkan tomat juga timun tadi ke dalam mulutnya, "Makan tuh! Enak bener jodohkan saya sama Kakek-kekek!" geramku dan pergi meninggalkan dirinya sendirian.
Masuk ke dalam kamar dengan menutup pintu lumayan keras, mulutku tidak ada hentinya berkomat-kamit menghina laki-laki di ruang makan tadi.
"Kan, jadi lupa minum aku gara-gara tuh orang. Cigukan deh ntar!" gerutuku yang lupa untuk minum.
Dengan kepedean yang sudah mendarah daging, kembali keluar untuk mengambil air minum dan berniat meletakkan piring kotor ke wastafel tidak lupa membuang masker tadi.
Terlihat Pak Raditya tertawa, ia pasti menertawakan aku yang kepedean di depannya tadi.
Kuhentakkan kaki dengan begitu keras membuat dia tersadar bahwa ada aku di ruangan ini, berjalan mengambil piring dan bekas masker kembali ke dapur.
Mulutku tetap panjang ke depan dan mungkin bisa diikat sangking panjangnya, kulirik ke arahnya yang menatap aktifitasku.
__ADS_1
Pergi kembali setelah mengambil air minum dan masuk ke dalam kamar.