
'Istriku tercinta❤'
Caption di story dengan fotoku di situ, siapa yang tak bahagia jika diperlakukan seperti itu. Aku hanya menahan senyumku sambil mencuri pandangan ke arah Mas Raditya yang tengah makan.
"Kamu mau coba?" tawar Mas Raditya karena kebetulan pesanan kami berbeda.
Kuanggukkan kepala dan menatap ke arahnya, ia menyuapkan aku pesanan miliknya.
"Gimana, enak gak?" Kuanggukkan kepala sambil mengunyah makanannya.
"Mau tukar?"
"Eh, gak perlu Mas. Makanan aku juga enak, kok. Mau coba?"
"Boleh."
Kusuapkan ia makananku, "Enak, 'kan?" Diacungi jempol olehnya sebagai pertnada bahwa makanan pesananku juga tak kalah jauh enak dari miliknya.
Selesai makan dan membayar makanan, kami kembali melanjutkan misi pertama kali. Aku sering melihat video-video seorang istri berbelanja bulanan dengan suaminya.
Ya ... setidaknya aku bisa ngerasain belanja bersama suami, meskipun bukan untuk bulanan sebab kami hanya beberapa hari di sini. Latihan dululah, sebelum nanti beneran.
"Mas, nanti kalau kita udah tinggal di rumah kamu. Kita belanja bulanan kayak gini, ya. Atau ... aku jadi content creator aja, ya?"
"Gak usah, kamu fokus aja sama butik kamu. Lagian, 'kan ada Bibik dan akan ada satu orang lagi nantinya yang bantu. Jadi, mungkin akan ada dua pembantu di rumah kita nanti."
"Kenapa banyak banget? Satu aja cukup kali Mas."
"Satu khusus masak dan satu lagi khusus beresin rumah."
Kuanggukkan kepala sambil melihat rak-rak kembali yang berisi berbagai snack. Troli tak penuh kubuat karena mengingat di hotel tak ada dapurnya.
Jadi, hanya membeli snack dan roti saja untuk sarapan pagi besok dan lusa sebelum makan berat.
Selesai membayar dan mengantre karena cukup banyak yang ingin membayar belanja, Mas Raditya menenteng plastik belanja dua kantong berjalan menuju ke arahku yang menunggu dirinya tak jauh dari kasir.
"Udah? Cuma segini aja?" tanya Mas Raditya dengan aku yang tersenyum dan mengangguk.
"Udah, Mas. Cukup, segitu aja."
__ADS_1
"Yaudah, kita pulang yuk!"
Mengayunkan langkah keluar dari mall menuju hotel kembali, "Mas, tadi aku chat Kak Kamelia nanyain Diasha. Dia gak nangis kata Kak Kamelia, lagi mandi sama Dara."
"Baguslah, dia gak akan nangis."
"Tau dari mana?" tanyaku menautkan alis menatapnya.
"Iya, dia gak akan nangis selama kita di sini. Dia akan nangis saat janji aku buat bawa dedek bayi untuk dia gak terwujud," ungkap Mas Raditya menatap ke arahku dengan wajah polosnya.
Aku berhenti dan melepaskan tangan, ia sontak saja ikutan berhenti, "Kenapa?" tanyanya yang mulai bertanya-tanya.
"Jadi, dia gak mau ikut karena kamu janjiin gitu? Gimana kalau pas pulang dari sini aku belum juga hamil? Kamu gak boleh janjiin dia sesuatu yang belum pasti Mas.
Anak itu rejeki dari Allah yang kita gak bisa tau bahwa rejeki itu akan datang pada kita kapan. Kamu udah buat dia berharap jadinya!" tegasku yang merasa bahwa ucapan Mas Raditya pada Daisha itu salah.
"Sayang, kamu tenang, ya. Kita berusaha aja belum, pasti Allah akan kasih. Kamu tenang dulu, ya. Jangan seperti ini, banyak orang tuh liatin kita," ujar Mas Raditya membuatku melihat ke sekeliling.
Aku yang merasa malu juga jika dilihatin memilih berjalan lebih dulu, kaki menghentak-hentak dan tangan bersedekap dada.
"Sayang, udah jangan marah gitu. Kalau emang kita pulang gak bisa sama calon adiknya Daisha, ya, gak papa. Mungkin, adiknya mau datang ke perut kamu pas kita di rumah sana nanti."
"Gimana, bisa jadi, 'kan?" katanya kembali menggodaku sambil menaik-turunkan alis.
Lift terbuka dan ada orang di depan pintu lift, ia langsung bertingkah cool dan dingin sambil menggandeng tanganku untuk keluar.
Sangat aneh sekali, jika denganku sifat manjanya keluar tapi ketika ada orang lain di antara kami maka sifat cool dan irit bicaranya pun muncul. Seperti ada kepribadian ganda di jiwa suamiku.
"Nanti, kita makan malam di restoran yang bagus di sini, ya!" ajak Mas Raditya yang terduduk dengan bersandar di ranjang.
"Iya, Mas!" jawabku yang akhirnya ikut duduk juga di sampingnya setelah meletakkan tas juga sepatu dengan rapi di tempatnya.
Ia memelukku dan membawa aku ke dalam dekapannya, mata kami menatap lurus ke depan. Di mana ada bangunan pencakar langit lainnya.
"Lepas dulu, Mas. Aku mau ambil snack sekalian nonton televisi aja, yuk!" ajakku mendongak melihat rahang pipinya.
"Yaudah, ayo! Tutup dulu deh gordennya, nanti orang sebrang malah iri karena melihat kita."
"Oke!"
__ADS_1
Aku dan Mas Raditya bangkit bersamaan, kuambil kresek untuk menyiapkan buah-buahan yang sempat kubeli juga tadi.
Mencuci dan memotongnya lalu meletakkan di piring yang ada, membawa ciki juga minum ke ranjang yang sudah ada Mas Raditya di situ.
"Remodnya mana?" tanyaku naik ke atas meletakkan makanan di tengah kami.
"Aku aja yang nyari filmnya, dijamin bagus pastinya!" terang Mas Raditya tersenyum aneh.
Aku sedikit tak percaya padanya, kutatap terus wajah dengan senyum yang tak luntur, "Kenapa?" tanyanya saat melihat kutatap.
"Aku gak percaya kalo film bagus yang akan Mas kasih liat, horor, ya? Aku gak terlalu suka," ungkapku yang memang tak terlalu suka horor.
Bukan karena takut dengan setan-setan yang nanti akan muncul. Tapi, aku kurang suka dengan musiknya yang bisa dibilang ngagetin.
Bisa jadi, malah orang yang takut dengan horor sebenernya bukan takut pada hantunya tapi pada musiknya yang menyebalkan itu.
"Enggak, kamu tenang aja. Sini, bersandar di pundak aku!" titah Mas Raditya menepuk pundaknya.
Aku bersandar dan tangannya memegang bahuku serta kepalanya juga menyandar dengan kepalaku yang sudah terlepas kerudung.
Awal pernikahan, aku sempat canggung melepaskan kerudung. Namun, Mas Raditya memaksa aku agar membukanya. Lagian, ya, apa salahnya? Toh, sudah halal juga.
Jadi, segala yang ada pada diriku sudah bisa dia lihat termasuk ... ah, sudahlah!
Film pun dimulai dengan suara yang tak terlalu besar dan juga kecil, aku menatap dengan fokus sambil mengunyah makanan.
Alisku tertaut kala melihat adegan apa yang terlihat, bukan! Jangan treveling dulu, "Dih, film-nya kenapa malah pelukan!" protesku.
"Ya, kenapa emangnya? Bukannya di adegan sudah biasa pelukan-pelukan, ya? Bahkan, ada juga yang ciuman, iya, 'kan?" tanyanya menatapku.
"Mmm ... i-iya, sih."
"Yaudah, itu adegan biasa dalam per-film-an Sayang."
Kubuang napas kasar dan kembali melihat film meskipun dengan malas, "Judulnya apaan, sih?"
"Sutt ... diam, Sayang!" titah Mas Raditya menempelkan jari telunjuknya di bibirku membuat kedua mataku menatap jarinya ini.
Wah ... sudah ada yang tidak beres, nih! Dengan cepat kuturunkan tangannya dari depan bibirku sedangkan ia kembali fokus menatap film dan aku juga, sih.
__ADS_1