
Aku terdiam saat kami berjalan menuju ke mobil, Daisha membawa boneka yang hampir sebesar dirinya sedangkan aku membawa despenser.
Pak Raditya pula membawa banyak barang elektronik salah satunya adalah kipas angin kerakter.
Disusun satu per satu barang ke dalam bagasi mobil, ''Papi hebat, ya. Nanti kita main itu lagi ya!'' seru Daisha bahagia dan memberikan boneka ke Pak Raditya untuk di simpan.
''Iya, dong! Papi gitu, lho. Meskipun tadi ada yang ngatain Papi gak akan bisa menang, sih,'' sindir Pak Raditya padaku.
Aku hanya menatap sinis ke arahnya dan meletakkan dengan kasar barang yang kubawa tadi ke dalam mobil.
Saat akan masuk ke dalam mobil, suara handphone milik Pak Raditya berbunyi membuat dia berhenti sebentar, ''Kalian masuk duluan aja,'' titah Pak Raditya.
''Yuk, Sayang. Kita masuk ke dalam mobil duluan!'' ajakku membawa Daisha masuk ke dalam mobil.
Raditya menjauh dari mobil sambil mengangkat panggilan dari anak buahnya itu, setelah kejadian yang hampir mengancam nyawa Ana.
Raditya menyewa kembali anak buahnya untuk menjadi mata-mata yang mengikuti Clara ke mana pun wanita itu pergi tanpa sepengetahuannya.
Bahkan, hal ini juga tidak diketahui oleh Ana sendiri, ''Ada apa?'' tanya Raditya tanpa basa-basi.
''Pak, Non Clara juga datang ke kota di mana bapak sekarang tinggal. Dia mendapatkan informasi bahwa Mbak Ana tinggal bersama dengan Bapak.
Itu sebabnya malam ini juga dia melakukan perjalanan menuju ke sana.''
''Dia sudah keluar dari rumah sakit?''
''Sudah, Pak. Walauapun belum sembuh total, tapi dokter sudah memberi izin dia untuk keluar dari rumah sakit.''
''Dia, di rumah sakit sendirian?''
''Iya, Pak. Menurut informasi yang saya dengar, Mamanya akan datang ke sana juga dan mereka akan bertemu di sana."
"Ha? Jadi, Mamanya akan datang ke kota ini juga?"
"Iya, Pak."
"Baiklah kalau gitu, kau terus cari tau tentang dia. Jangan sampai lolos dan beri tau apa pun itu tentang dia."
"Baik Pak."
Raditya menutup panggilan secara sepihak, tangannya terkepal dan rahangnya mengeras menatap ke depan.
'Aku tak habis pikir, kenapa dia masih saja ingin mengganggu hidupku. Bukannya dia yang meninggalkan Daisha begitu saja?
Lalu, sekarang apa? Ketika Daisha sudah bahagia karena kehadiran Azal, kenapa dia kembali seolah menjadi seorang ibu yang paling tersakiti?'
"Papi, masih lama, ya? Daisha udah ngantuk!" ungkap Daisha yang keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Eh, iya, Sayang. Maafin Papi, ya. Ayo, kita pulang!" seru Pak Raditya sambil menggandeng tangan Daisha membawa anaknya itu masuk ke dalam mobil.
'Istri saya sudah meninggal.' Pikiranku berisi kalimat waktu pertama kali Pak Raditya berujar. Ia berkata bahwa istrinya sudah meninggal hingga membuat aku tertarik untuk menjadi pengasuh.
Namun, tiba-tiba kenapa semuanya sekarang berbeda? Tadi, dia juga berkata apa? Bahwa ... Clara berada di kota ini?
Dia ingin membalas perbuatanku padanya waktu itu kah? Kenapa semakin rumit saja semuanya. Padahal, aku hanya ingin tenang.
"Sudah, siap? Ayo kita jalan!" seru Pak Raditya yang tak kuhiraukan. Pikiranku masih terfokus pada masa lalu mereka.
Jika memang karena karir, kenapa sekarang Clara baru datang setelah aku menjadi pengasuh Daisha?
Seharusnya, ia sudah datang lebih dulu setelah aku masuk ke dalam kehidupan mereka.
"Mami, Mami kenapa?" tanya Daisha membuyarkan lamunanku.
"Eh, gak papa, kok," jawabku tersenyum ke arah kaca spion.
Mobil dijalankan menjauh dari kawasan pasar malam, aku melihat ke arah jalanan memikirkan apa yang mereka bahas tadi.
"Mi, ayo turun!" ajak Daisha kembali mengangetkan aku.
"Ha? Kita udah sampe?"
"Udah Mi."
"Iya, ada apa Pak?"
"Kau kenapa? Lagi mikirin apa?"
"Gak ada apa-apa, kok, Pak. Saya cuma ... masih mual aja, iya, masih mual," terangku sambil cengengesan.
"Yakin?" tanyanya mengahadap ke arahku sambil menaikkan satu alisnya.
"Y-yakin dong, hehehe. Yakin banget Pak!" seruku mengacungkan jempol ke arahnya.
"Baiklah, kalau perlu apa-apa dan butuh sesuatu. Langsung kasih tau saya aja, karena kau tanggung jawab saya."
Deg!
Kembali kalimat itu yang ia katakan, aku terdiam mendengar penuturannya, "Mmm ... Pak!" panggilku dengan ragu.
"Iya?" Dirinya sibuk membuka sabuk pengaman yang masih terpasang.
"Saya boleh tanya sesuatu?" Aku mencoba untuk memberanikan diri mengusir keingin tahuanku.
"Ya."
__ADS_1
"Kenapa, dulu Bapak pernah bilang kalau saya gak salah. Bahwa orang tua Daisha sudah meninggal?"
"Ya ... meninggal ... kan."
"Ha?" tanyaku menautkan alis tak habis pikir di luar nurul dengan apa yang dia katakan.
"Ya, kau tak sampai habis mendengarkan ucapanku."
"Dih, apaan, sih? Gak jelas banget, Bapak!" ketusku dan keluar dari mobil dengan membanting pintunya cukup keras.
"Lah, gil* tuh cewek. Malah banting pintunya keras banget lagi."
Berjalan ke dalam rumah dengan kaki yang kuhentakkan, seenak jidat dia berkata bahwa ada sambungnya di kalimat tersebut.
Aku merasa dibodohi oleh duda tersebut, sangat menyebalkan!
"Mami, Mami kenapa belum tidur?" tanya Daisha yang sudah terbaring di ranjang dengan tubuh di tutupi selimut.
"Ha? Iya, bentar lagi Mami juga akan tidur, kok. Daisha tidur duluan aja," suruhku sambil mengusap rambutnya.
Bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kujatuhkan bobot tubuh ke meja rias.
"Udah lama banget aku gak pake masker-masker, ih."
Senandung mulai kualunkan, sambil melihat-lihat grup Whatsapp kuliahku yang memberi tahu bahwa besok libur kelas.
"Mmm ... enaknya, aku ngapain besok, ya? Nemenin Daisha sekolah kali, ya? Tapi, nanti aku bosen di sana," gumamku yang bingung ingin melakukan aktifitas apa besok.
Kuambil gelas yang memang tersedia di kamar, "Yah ... kagak ada air minumnya, dong." Aku bangkit karena merasa haus dengan wajah yabg sudah tertempel masker wajah.
Kulirik sekilas ke arah Daisha yang sudah terlelap, wajar jam bahkan sudah menunjukkan jam 11 malam. Padahal, biasanya jam 9 malam saja ia sudah mengantuk.
Mungkin, efek bermain tadi ia sampai menahan kantuk atau rasa kantuknya hilang karena terlalu semangat bermain.
Keluar dari kamar dengan ruang tamu yang sudah gelap, meskipun di rumah aku masih tetap menggunakan kerudung.
Meskipun, masih belum bisa se-syar'i orang-orang. Aku masih kerap menggunakan celana jens dan model kekinian lainnya. Kutuang air minum ke dalam gelasku.
"Eh, suara apa itu?" tanyaku saat mendengar ada suara dari dapur.
"Aku salah denger kali, ya?" Mencoba untuk tidak kuhiraukan karena sejujurnya aku pun takut.
"Kalau aku pergi, dan ternyata itu orang jahat, gimana? Kalo aku samperin dan ternyata beneran orang jahat juga, gimana? Bisa mati aku."
Kuletakkan kembali air yang sempat kutuang di dalam gelas, memegang kuat gelas kaca di tanganku ini.
"Kalau beneran orang jahat, langsung aku lempar ini gelas ke mukanya!" terangku berjalan mengedap ke arah dapur agar tidak diketahui oleh penjahatnya.
__ADS_1