
Acara dimulai dari pembukaan menari murid-murid yang mungkin dari kelas lain, setelah itu ada nyany-nyanyi juga baca puisi.
''Pak, orang tua Bapak mana?'' tanyaku yang gabut karena acara pertunjukan Daisha belum juga mulai.
''Ada, di belakang dekat sama Mama kau,'' jelas Pak Raditya membuatku kembali melihat ke belakang.
Perasaaan yang hanya terlihat tadi Ayu doang, mangkanya kembali kuulangi melihat ke belakang mana tahu mataku salah liat.
Terlihat Mama tengah berbicara dengan Mama Pak Raditya, sedangkan Ayudia sibuk dengan handphone-nya.
Dia pasti gabut sama seperti diriku, sebenaranya aku sangat anti melihat hal semacam ini. Sangat-sangat membuang waktu.
''Pak, saya ke belakang aja, ya. Belum mulai juga acaranta, gabut juga Pak di sini,'' keluhku mulai rewel karena waktu mulaiya terlalu lama.
''Udah, di sini aja. Apa kau tidak malu melewati orang-orang yang sudah duduk dari tadi di sini?'' tanya Pak Raditya yang ada benarnya. Tadi saja aku sangat malu saat melewati orang-orang.
''Selesaikan saja skripsimu, kau bawa kertasya, 'kan?'' sambungnya.
Aku mencebik mendengar penuturannya, orang mau bergosip ria juga malah disuruh nyelesaikan skripsi.
Mau tak mau, aku manut karena teringat kemarin baru di transfer 10 juta buatnya. Oh, iya kenapa dia ngasih uang sebanyak itu, ya?
"Pak!" panggilku membuat dia melirik menggunakan ujung matanya saja.
"Kenapa kemarin ngasih saya banyak banget uangnya?" tanyaku sedikit berbisik.
"Kenapa, salah emangnya?"
"Gak salah, sih, saya kira Bapak salah ngasih uangnya," ujarku berailibi.
Ia hanya diam saja dengan wajah tetap fokus ke panggung, "Bapak takut kalo Daisha gugup atau salah, ya? Bukannya tadi malam udah latihan? Pasti dia gak akan salah, kok.
Meskipun saya juga gak tau dialog mana lagi yang Bapak ajarkan ke dia, soalnya kata-katanya sangat aneh dari kata-kata yang kemarin saya ajarkan ke dia," sambungku lagi dan lagi.
"Selesaikan saja tugasmu, kau sangat bawel ketika tidak ada kerjaan," terangnya yang sudah frustasi denganku.
__ADS_1
Aku mendengus kesal karena sikapnya yang sama sekali tidak ingin kuajak bercerita, padahal aku melakukan itu untuk mengurangi ke-khawatiran dia saja.
[Liat siapa yang ada di depanku] pesan yang langsung kubuka saat baru memegang handphone.
Kulihat ke arah belakang, tepat di samping Ayudia sudah ada Clara. Ya ... hanya dia seorang diri, Mamaku dan Mama Pak Raditya bahkan jadi terdiam padahal tadi sangat seru sepertinya bergosip.
"Pak, ada Bu Clara di sini," gumamku setengah berbisik padanya.
Ia melirik ke arah belakang meski tidak seluruh kepalanya melihat ke sana, "Biarkan saja," jawabnya singkat.
Tak lama, diambil handphone dan memanggil nomor seseorang yang tidak kuketahui, "Jaga di dekat ruangan!" titah Pak Raditya dan langsung mematikan setelah berbicara hanya seperti itu.
[Ini, gak papa, 'kan? Gue takut woy, mana tatapan dia serem bener buset] Kembali Ayudia mengirim pesan padaku.
Kutelan saliva yang juga bingung, "Pak, dia gak akan buat masalah, 'kan? Kata Ayudia tatapan dia serem, lho," paparku memberi tahu.
Kulihat ke arah belakang menatap ke dirinya, ia menatap ke arahku dengan tatapan penuh kebencian.
Aku tidak tahu terjadi apa di antara mereka saat Pak Raditya mengambil Daisha kemarin di rumah sakit.
Karena, aku sedang berduka di rumah. Apa mereka terjadi lagi perdebatan sehingga tatapannya bukan hanya tak suka padaku tapi juga benci, dendam dan murka.
[Jangan liat dia dan bersikaplah biasa aja kalo bisa anggap dia gak ada] Kukirim balasan setelah mendapat perintah dari Pak Raditya ke Ayudia.
"Baiklah, ini adalah yang kita tunggu-tunggu di akhir cerita juga akan ada kejutan untuk salah satu penonton di sini.
Tepuk tangan semuanya, mari kita sambut anak-anak kelas Bunga A!" seru MC yang tak lain adalah guru mereka sendiri.
Aku bangkit saat melihat Daisha keluar dari ruangan tak lupa memberi semangat juga tepukan tangan padanya.
Ia tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku, petunjukan dimulai hingga aku lupa bahwa di akhir katanya akan ada kejutan.
Kejutan? Apa? Kenapa gurunya tidak memberi tahu soal itu padaku? Hmmm ... entahlah, lebih baik kurekam Daisha yang sedang ber-acting di depan.
Durasi waktu hanya setengah jam saja, itu yang dikatakan oleh guru Daisha waktu itu. Di sini bukan hanya ada orang tua atau walo tapi ada juga dinas pendidikan setempat.
__ADS_1
"Hahaha ... kamu, 'kan tidak punya Mami. Apa kamu yakin ingin menjaga wilayah ini? Siapa yang akan memelukmu nanti dan menghapus air matamu sedangkan kau tak punya Mami," ucap salah satu pemain yang ada di atas panggung.
Aku menghentikan rekaman dan melihat galeri foto di handphone, buku ceritanya sempat ku-foto agar mempermudah Daisha buat latihan maksudku.
"Lah, itu dialog yang mana?" tanyaku melihat tak ada dialog-nya.
"Aku tidak punya Mami katamu? Aku punya Mami yang bahkan sangat hebat melebihi dirimu, ia akan membuat aku menjadi wanita yang kuat seperti dirinya!" terang Daisha sambil melihat ke arahku.
"Hahaha, tapi bukankah dia belum sah menjadi milikmu seutuhnya? Dia bisa saja pergi meninggalkanmu sendirian dan membuatmu lemah!" kata mereka lagi.
"Ngaco nih cerita!" kritikku dan memilih berdiri buat memberi kode pada Daisha bahwa apa yang dia katakan itu salah dan tidak ada di dalam cerita.
"Sebentar lagi, sebentar lagi dia akan menjadi Mamiku seutuhnya dan tidak ada yang bisa mengambil dia dariku!" tegas Daisha dan melemparkan kotak berwarna merah ke arahku.
Aku menunduk dan menutup mata karena takut kena dengan kotak kecil itu, kubuka mata dan melihat Pak Raditya berdiri memegang kotak tersebut.
Kembali berdiri dengan perlahan dan menatap semua orang yang ada termasuk ke depan, Daisha sudah tersenyum dengan begitu lebar dan bahagia.
Pak Raditya berjongkok di hadapanku membuat aku membulatkan mata dengan mulut yang terbuka tapi dengan cepat kututup, takut saja jika tiba-tiba masuk lalat di moment yang tidak tepat ini.
"Daisha, di hadapan orang yang ada di ruangan ini. Aku ... Raditya Bimantara ingin menjadikan dirimu sebagai penyempurna agamaku, menemani langkahku di kala suka dan duka.
Juga ... sebagai seorang Mami untuk Daisha dan anak-anak kita nantinya. Apakah kau bersedia menjadi istriku?" tanya Pak Raditya dengan wajah penuh harap.
Jantungku berdegup kencang, rasa haru dan bahagia ketika menjadi satu. Aku tidak tahu bahwa ternyata inilah kejutan yang akan terjadi.
Bahkan, ternyata kejutan ini diberikan padaku begitu banyak orang yang ada di sini.
"Terima!"
"Terima!"
"Terima!"
Sorakan orang-orang memenuhi ruangan sebab aku belum memberi jawaban sangking kaget dan bahagianya.
__ADS_1
"Bismillah ... saya Azaleana Nadia Adipta ber--"
Dor!