
Kelas pertama sudah berlangsung satu jam lalu, tapi Rian belum juga masuk ke dalam kelas. Kami satu jurusan, itu sebabnya aku bisa baper dibuatnya karena terkadang ia memberikan perhatian yang begitu lebih ketika di dalam kelas.
Tok! tok! tok!
Suara ketukan dan pintu yang terbuka membuat aku melihat ke arah pintu hanya berputar kepala sampai bahu.
"Masuk!" titah dosen menyuruh Rian masuk ke ruangan. Kepalaku kembali pada posisi menatap ke depan.
Baju yang dia pakai tadi sudah berubah, artinya ia membeli baju atau ganti baju terlebih dahulu tadi sehingga membuat ia terlambat.
'Apa aku minta maaf sama dia, ya?'
'Tapi, dia yang salah, kok.'
'Aku juga keterlaluan, sih.'
'Yaudah, deh! Aku minta maaf aja nanti sama dia.'
Bagaimana pun, Rian memperlakukan aku dengan baik. Mungkin, memang ini semua salahku.
Terlalu mudah baper dengan situasi dan kebaikan Rian, aku harus minta maaf apa pun konsekuensinya nanti.
Mata kuliah di jam pertama sudah berakhir, semua berhamburan ke kelas selanjutnya. Rian tampak masih sibuk mencatat apa yang ada di papan tulis.
Semua orang sudah pergi kecuali aku, Ayudia dan Rian yang mungkin tak menyadari hal itu karena dia duduk di depan sedangkan aku belakang.
Kupakai tas ransel dan mengeluarkan cokelat yang sudah berapa hari berada di tas ranselku, sebenarnya ini adalah cokelat dari Rian.
Dia memberi aku cokelat saat aku sedang nangis karena habis bertengkar dengan Abang, bahkan soal keluargaku Rian saja tahu tapi entah dia ingat atau tidak karena aku bukanlah orang yang penting bagi hidupnya jelas tak perlu diingatnya.
"Ehem!" dehemku dengan sedikit berjarak dari Rian. Tak sahutan, Rian tetap fokus menatap papan tulis sesekali dan mencatat apa yang dilihatnya itu.
"Nih, buat lu," kataku dengan meletakkan cokelat ke atas bukunya membuat dia berhenti menulis.
Kepalanya mendongak menatap diriku yang sejujurnya sangat merasa bersalah, "Gue gak butuh apa pun dari lu!" tekan Rian menatap sengit padaku.
"Gue minta maaf atas kejadian tadi di kantin."
Rian terdiam, beberapa saat dia berdecih membuang pandangan dan berdiri dari bangkunya.
"Setelah apa yang lu buat, lu mau minta maaf? Dan lu berpikir apaan? Gue akan maafin lu, gitu?"
Aku bergeming, menunduk bukan karena takut melainkan merasa bersalah. Rasa cemburu dan tak tahu diri waktu itu sedang mengendalikan diri ini.
__ADS_1
"Orang dia udah minta maaf, seharusnya lu maafinlah!" timpal Ayudia yang berdiri di sampingku.
"Gue, gak butuh maaf dari lu! Semua udah terlambat, bukannya lu gak bodoh amat? Seharusnya waktu lu lakuin hal itu.
Lu ... udah berpikir tentang apa yang akan terjadi nantinya pada diri lu!" Aku mendongak melihat kata-kata itu keluar dari mulut Rian.
Kembali lagi, bukan rasa takut yang menyerang diri melainkan rasa salah karena meminta maaf padanya.
Cokelat yang kuberikan tadi diambil Rian dari atas bukunya, "Gue, gak butuh apa pun dari lu! Pergi atau kalau perlu menghilang dari dunia ini!"
Cokelat tadi dilempar Rian ke lantai dengan kasar, tak ketinggalan ia bahkan menginjak-injak cokelat tersebut.
"Untung aja beli cokltanya gak pake duit gue, yaudah, sih, kalo lu gak mau maafin gue. Bodo amat!" ketusku dan merangkul tangan Ayudia.
Kami pergi dari ruangan dan meninggalkan si Gila itu di dalam ruangan, biarkan saja dia sendirian berteman sepi.
"Woy, lu sebenarnya niat minta maaf sama dia apa enggak, sih?" tanya Ayudia menatap ke arahku dan berdiri di depan.
Aku langsung menghentikan langkah dengan bahu yang turun, "Hadeh ... ya, niatlah. Cuma, kalo emang dia gak mau. Gue harus gimana? Masa, gue harus bersimpuh di kakinya mohon-mohon?" Kunaikkan satu alis dan tersenyum tipis.
Kembali berjalan dan meninggalkan Ayudia yang sepertinya masih tak percaya dengan dilihatnya barusan.
"Mau ke mana?" teriak Ayudia dengan aku yang sudah lumayan jauh darinya.
"Nyari bakso!" pekikku tanpa menoleh ke belakang.
Kunaikkan tanganku sebagai pertanda agar dia segera mengejarku, di luar gedung kampus kami menyantap bakso langganan.
Harga bakso di kantin kampus lebih mahal daripada yang di luaran, aku harus hemat dengan uang sisa setengah juta ini.
"Bisa tahan, gak, sih, ya? Uang setengah juta buat sebulan?" tanyaku sambil menyuap bakso beserta kuahnya ke dalam mulut.
"Eh, lu belum cerita tentang lu yang di usir. Sekarang lu tinggal di mana?"
"Gue jadi baby sister di salah satu rumah, gue tinggal di situ dan makan juga di tanggung, sih."
"Lah, lu, 'kan masih kuliah. Emang dikasih sama bos lu?"
Kuceritakan awal mula bertemu dengan boss itu dan juga anaknya, Ayudia beberapa kali tak percaya dengan apa yang kukatakan.
Namun, itulah kenyataan yang terjadi. Memang kadang kita tak akan pernah percaya dengan apa yang terjadi, tapi itulah kenyataannya.
"Jadi, lu gak balik ke rumah?"
__ADS_1
Kugelengkan kepala dengan mulut mengunyah, "Mama dan Papa lu gak nyariin?" Kembali, jawaban berupa gelengan kuberikan pada pertanyaan Ayudia.
"Parah banget, sih, Abang lu itu. Segitunya sama tuh cewek, kayaknya kita perlu lakuin sesuatu agar tuh cewek jera!"
"Udah, gak perlu. Biarin aja, paling bentar lagi juga mereka bertengkar di keluarga gue. Uang toko habis gara-gara kebodohan Abang gue itu."
"Dih, lu doain, ya?"
"Tanpa gue doain, emang itu yang akan terjadi, kok."
Keheningan akhirnya terjadi di meja kami, tak berselang lama. Suara handphone terdengar dari ranselku.
"Nomor siapa ini?" gumamku melihat kontak yang tak tersimpan di handphone.
"Assalamualaikum, halo. Siapa, ya?" tanyaku saat panggilan sudah terhubung.
"Halo, selamat pagi Mami Daisha. Saya mau nanya, apa Mami bisa jemput Daisha? Dia nangis-nangis katanya rindu sama Maminya dan mau belajar di temani Mami," jawab orang yang ada di sebrang sepertinya guru TK Daisha.
Aku bergeming, tak bisa langsung menjawab ucapan guru Daisha. Ada tiga mata pelajaran lagi yang harus aku ikuti.
"Bu guru, boleh saya yang bicara sama Mami?" tanya Daisha dari sebrang yang sepertinya dirinya berada di dekat guru itu.
"Boleh Sayang."
"Mami!" teriak Daisha seketika memekakkan telingaku.
"Iya Sayang?"
"Mami ke sini, ya, Daisha mau ditemani sama Mami."
"Sayang, kamu di temani sama guru dulu, ya. Soalnya Mami masih ada kelas kuliah," kataku membujuknya berharap dia mengerti.
"Mami lebih sayang kuliah daripada Daisha, ya? Mami gak sayang Daisha, ya? Iya, Mi? Ma-mami gak sayang sama Daisha. Huwaa ...." Suara tangisan menggelegar terdengar dengan jelas.
Hal inilah yang paling aku takutkan jika harus kuliah plus bekerja, tak akan pernah bisa sejalan keadaannya.
"Sayang ... Mami sayang, kok, sama kamu. Cuma, sekarang kamu ditemani guru dulu, ya. Soalnya Mami ada kelas lagi."
"Daisha ngambek sama Mami!"
"Nih, Bu guru. Daisha marah sama Mami, Daisha mau ke kelas aja!" rajuknya yang sepertinya mengembalikan handphone kepada gurunya.
Aku menghela napas saat panggilan di matikan karena guru tadi ingin membujuk Daisha, di TK elit tersebut wajar saja bila apa yang diinginkan muridnya langsung dipenuhi seperti barusan.
__ADS_1
"Gimana? Masih mau sama duren?" celetuk Ayudia tersenyum mengejek sambil menaik-turunkan alisnya.
"Diem lu!" ketusku dengan wajah masam.