(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Tidak Akan Tidur


__ADS_3

Aku dan Mas Raditya akhirnya memilih untuk bermain ke pantai, salah satu pantai yang di rekomendasikan untuk honeymoon aku lihat dari situs internet.


Sekitar 2 jam perjalanan yang akan kami tempuh nantinya menuju pantai tersebut, tentu saja aku akan sangat merasa bosen di dalam mobil.


"Kalau kamu ngantuk, tidur aja Sayang," kata Mas Raditya membuat aku menoleh melihat ke arahnya.


"Enggak Mas," jawabku yang belum mengantuk sama sekali. Lagian, aku ingin menikmati pemandangan serta ini masih terlalu pagi untukku tertidur.


***


Tak lama dari ditolak Ana disuruh tidur oleh Raditya, ia sudah tertidur di bahu laki-laki tersebut.


Raditya tersenyum melihat tingkah wanita itu, "Tadi katanya gak mau tidur, eh, gak lama disuruh malah langsung tepar," cibir Raditya menggelengkan kepala.


Sembari menunggu sampai di tempat tujuan, Raditya menge-cek pekerjaannya yang lumayan lama sudah ia tinggalkan.


Alisnya tertaut saat melihat ada yang salah di laporan keuangan yang baru saja diberikan oleh asistennya.


'Kenapa malah salah seperti ini laporan keuangannya?' batin Raditya gelisah.


Dirinya melirik ke arah Ana yang masih tertidur, dengan perlahan ditutup Raditya kuping Ana agar tak terganggu tidurnya akibat suaranya yang akan bertelponan nanti.


"Iya, Pak," jawab dari sebrang saat dirinya menelpon.


"Kenapa laporan keuangannya salah?" tanya Raditya dengan nada dingin.


"S-salah Pak?" gelagapnya.


"Iya, kau tak coba cek keuangannya, ha? Saya gak mau tau, nanti sore harus sudah ada laporan keuangan yang baru!


Kau harus cari di mana uang itu terselip atau emang salah hitung? Tapi, setau saya Pak Anton bukanlah orang yang lalai seperti ini!" tegas Raditya.


"Baik Pak, nanti sore akan saya kirim laporan keuangan yang baru dan akan saya cari tau di mana salahnya."


Klik!


Raditya mematikan panggilan sepihak dengan sedikit emosi, bagaimana pun mengambil uang dari kantor merupakan tindakan kejahatan dan akan ber-efek pada perusahaan.


"Kenapa Mas?" tanya suara serak yang terbangun dengan kepala masih berada di pundak Raditya.


Dirinya langsung menoleh melihat wanita di sampingnya itu, tangan Raditya yang menutup telinga tadi di lepaskan dan mengusap kepala Ana.


"Ada sedikit masalah di perusahaan texstil, Sayang."

__ADS_1


Ana langsung bangkit dan duduk dengan tegap menatap ke arah Raditya, "Terus?"


"Ya, lagi di cek sama asisten aku di mana letak salahnya. Huh ... semoga aja gak ada yang ngelakuin tindakan kejahatan di situ."


"Aamiin, atau ... kita mau pulang aja Mas? Malam ini kita pulang aja, yuk!" ajak Ana yang merasa tak enak sebab melihat wajah Raditya kusut.


Raditya tersenyum dan menggeleng, "Gak perlu Sayang, kita akan tetap pulang sesuai dengan yang sudah kita jadwalkan," ujar Raditya meyakinkan.


"Tapi, Mas. Aku gak masalah, lho, kalau kita emang harus pulang mendadak. Demi perusahaan kamu ini mah."


"Iya, nanti kalau emang gak bisa mereka urus. Kita akan langsung pulang, kok. Lagian, gak akan lama kita di sini."


Ana akhirnya mengangguk meskipun dirinya sudah mulai tak enak hati sebab wajah Raditya yang sudah kusut akibat memikirkan perusahaannya itu.


"Lima tahun pernikahan akan banyak cobaan dari berbagai arah. Tugas kalian hanya saling sabar dan menguatkan satu dengan yang lainnya.


Jangan malah menyalahkan apalagi tak saling pengertian serta mudah emosi, nah, itu sebabnya menikah bukan hanya harus menyiapkan materi saja," celetuk sopir yang membuat pandangan Ana dan Raditya mengarah ke arahnya.


Mereka melihat ke arah sopir dari kaca spion, laki-laki itu tersenyum melirik ke arah spion yang langsung terlihat wajah mereka berdua.


Ana tersenyum dan mengangguk, "Benar yang Bapak bilang, akan banyak ujian nantinya yang akan membuat kita kaget.


Tapi, jangan sampai jantungan yang ada nanti malah mati di tempat. Bahaya, jadi janda atau duda dong ntar," timpal Ana yang membuat Raditya tersenyum sembari menggelengkan kepala.


"Gak papa, yang penting cintaku padamu tersambung, 'kan Mas?" goda Ana mengedipkan sebelah matanya.


"Hahaha." Tawa Raditya dengan bergedik ngeri melihat Ana yang menjadi lebih bar-bar seperti ini.


***


2 jam sudah berlalu, akhirnya aku dan Mas Raditya sampai di tempatnya. Parkiran di luar pantai begitu padat di isi oleh kendaraan roda dua juga empat.


Kuregangkan badan yang terasa kaku akibat hanya duduk di dalam mobil, "Capek banget Mas, duduk doang di dalam mobil," keluhku melihat ke arah Mas Raditya yang baru saja turun dari mobil sambil membawa kresek berisi jajanan.


Sengaja kubawa dari hotel, jajanan yang kemarin kami beli bersama-sama itu saat di mall.


"Duduk doang? Kamu, 'kan tadi ada tidur Sayang," katanya menatap ke arahku.


"Ya ... tidur pun duduk juga, sih, Mas."


"Oh, iya-iya. Baiklah."


"Yaudah, yuk, kita masuk!" ajakku mengandeng tangannya.

__ADS_1


Tangannya penuh dengan membawa jajanan serta tas yang berisi baju ganti nantinya untuk aku dan dia berganti pakaian saat habis main air.


Mas Raditya pergi membeli tiket terlebih dahulu dengan membawa kedua barang tadi, aku melihat-lihat sekeliling pantai yang begitu banyak orang berdatangan.


Kusipitkan mata, kala melihat seseorang yang tak asing di mataku sedang menunggu juga. Kuayunkan kaki melangkah ke arahnya.


"Woy, Ayu!" pekikku memukul bahunya. Spontan dirinya kaget dan langsung melihat ke arahku.


"Aaa ... lu ada di sini juga Ana? Ngapain lu, woy?" balasnya memeluk diriku seolah sudah lama tak pernah berjumpa.


"Mau minta sumbangan, rame beut nih tempat. Mana tau, pulang-pulang bisa beli rumah atau bangun apartemen," bisikku di telinganya.


"Si anj*r, gue bilangin ke suami lu, ya," katanya mengancam ingin mengadu.


Aku tertawa bersamaan dengan dirinya, "Kita jadi kayak couple date, ya," celetuknya.


"Heleh, gegayaan couple date segala lu mah. Ini namanya ketidak sengajaan."


"Takdir ini mah, gak ada yang namanya ketidak sengajaan bahkan sekalipun itu daun yang jatuh ke bumi," ujarnya melarat ucapanku.


"Bener juga, tumben lu pintar," pujiku menepuk-nepuk bahunya.


"Heh, gue udah lama pinta, ya!" ketusnya berkacak pinggang bagaikan seorang Ibu-ibu yang siap memarahi anaknya.


"Tapi, gak pernah dapat juara, gitu?" ejekku padanya.


"Bukan gitu, gue cuma ngasih kesempatan buat yang gak pinter agar dapat juara. Salah satunya buat orang yang gak pinter kayak lu," terangnya.


Aku hanya tertawa sambil menggelengkan kepala, mendekat ke arahnya menempelkan punggung tangan pada keningnya dan sebelah laki ke punggung-ku.


"Pantasan, sama panasnya rupanya. Jadi gelo deh," hinaku membuat ia memukul tangan yang ada di keningnya.


"Dasar emang, sahabat lucn*t lu!"


"Eh, lu kapan ke sininya?" tanyaku yang akhirnya mode serius dengannya.


"Habis nikah, malamnya langsung terbang deh."


"Buset, cepet amat. Ngapain cepat-cepat gitu?"


"Rendi ada kerjaan di sini, mangkanya gak bisa lama-lama di sana."


Aku hanya mengangguk dan ber'oh' ria mendengarkan alasannya yang ada di sini padahal baru beberapa hari menggelar pesta.

__ADS_1


__ADS_2