(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Rencana Gagal


__ADS_3

"Iya, Ma. Mas Raditya baru aja terbang persawatnya ini," kataku dari telepon sambil berjalan menuju parkiran kembali.


"Baik Ma, nanti kami akan tinggal di rumah Mama, kok. Pas Daisha libur aja, ya."


"Inn Syaa Allah, akan baik-baik aja kok Ma. Ana akan bisa jaga bayi dan Daisha."


"Enggak, Ma. Ini Ana ngantar sendirian, soalnya Daisha harus ke sekolah. Eh, udah dulu, ya, Ma. Ana udah mau jalan ke butik, Nih. Assalamualaikum."


Kututup panggilan dan duduk di bangku belakang, sekarang sopir bukan hanya bertugas mengantar Daisha tapi juga aku.


Padahal, aku sudah bilang sama Mas Raditya sebelum pergi ke Hongkong bahwa aku bisa bawa mobil sendiri.


Namun, dia bersekeras tidak mengizinkan aku melakukan hal itu. Dia takut kalau terjadi apa-apa di jalan sedangkan aku bawa mobilnya sendiri.


Kuusap perut rataku sambil menatap jalanan, menyandarkan kepala pada pintu mobil layaknya orang yang seperti putus cinta hingga menjadi galau.


'Apakah aku akan sering ditinggal-tinggal sekarang? Hmm ... padahal masih hamil muda juga,' batinku.


***


"Pokoknya, aku harus buat rencana yang menyebabkan bukan hanya wanita itu yang kenapa-kenapa tapi juga bayinya.


Kalau bayinya kenapa-kenapa, otomatis Pak Raditya akan kecewa serta marah besar padanya.


Mumpung sebulan ini Pak Raditya gak ada, aku bisa mulai aksiku yang sudah lama ingin kumulai ini.


Dia kira dia siapa bisa dengan enaknya memarahiku, ha? Walaupun dia bos dia gak berhak melakukan itu.


Apalagi sampai memberi tau Pak Raditya, mau dibuat di mana muka aku gara-gara wanita itu? Liat aja! Hidupnya tak akan tenang beberapa hari ke depan hahahahaha."


Ade bangkit dari kaca hiasnya dan menyambar handphone yang ada di nakas, dirinya langsung ke luar kamar dan masuk ke dapur.


Dilihat situasi yang ada di dapur dan mengambil minyak makan, "Ade, ngapain kamu?" tanya seseorang yang tiba-tiba ada di belakangnya.

__ADS_1


'Mampus, aku lupa lagi bahwa di sini ada nenek-nenek paling patuh sama tuh cewek,' batin Ade menutup mata sebentar lalu membalikkan badan perlahan.


"Eh, Bik. Ini saya mau ambil minyak makan soalnya cincin saya susah di lepas, katanya pake minyak makan bisa Bik," paparnya menunjukkan jari yang memang terisi oleh cincin.


"Bukan pakai minyak makan atuh, tapi pakai sabun mandi," jawab Bibi berjalan mendekat ke arahnya.


"Tadi udah di coba Bik, tetap gak bisa mangkanya mau pakai minyak makan dulu. Eh, Bibi mau masak, ya? Saya ... ke kamar dulu, ya!" pamitnya langsung pergi begitu saja sambil membawa minyak makan.


"Lah-lah, saya mau bantuin juga. Nak Ade! Sini saya bantuin!" pekik Bibi menatap punggung Ade yang sudah menjauh dari dapur.


"Gak usah Bik, saya bisa sendiri!" sahut Ade yang ternyata masih mendengar ucapan Bibi.


Ade segara masuk kembali ke kamar dan menguncinya, dicarinya salah satu nomor seseorang dan memanggil.


Duduk di tepi ranjang dengan wajah sedikit cemas, "Halo Buk!" kata Ade penuh semangat ketika telepon tersambung.


"Iya, ada apa? Kau kerjaan ganggu aja! Aku lagi makan sama anak aku ini, cepetan mau ngomong apa?


Ade menautkan alisnya dan menatap layar handphone, "Aku beneran nelpon nenek peyot, 'kan? Kenapa dia malah ngomong kalau mau jalan sama anaknya juga makan sama anaknya?


Dia gali kuburan anaknya kali, ya? Atau ... wah ... udah gila dia ternyata, mending aku gak usah tanya cara buat celakai wanita itu sama dia deh.


Yang ada, sarannya gak masuk ke otak semua. Ya, kali aku harus nanya hal begini sama orang gila. Hadeuh," gumam Ade dan kembali mendekatkan handphone ke kupingnya.


"Emm ... gak jadi deh Buk, saya gak jadi mau ngomong sesuatu," ucap Ade padanya.


"Apa Sayang? Kamu mau makan pizza? Ayo! Ayo kita makan pizza yang banyak atau kalau perlu kita beli bangunan pizza-nya langsung."


"Hahaha, kamu cantik banget Sayang. Kamu adalah putriku paling cantik sedunia, wanita itu bahkan gak sebanding dengan kamu."


"Dih, makin parah gilanya ternyata!" hardik Ade bergedik ngeri. Ia langsung mematikan panggilan setelah mendengar Mama Clara yang menjadi bos-nya itu sudah tidak waras lagi.


Ditinggal seorang diri di atas bumi ini memang bukanlah hal yang mudah, kita tetap butuh seseorang untuk melindungi dan menyayangi kita.

__ADS_1


Jadi, tak heran jika ada beberapa orang yang terganggu kejiwaannya ketika keluarganya pergi meninggalkan dirinya.


Ade mencari beberapa cara dari situs internet untuk mencelakai Ana, dibayangkannya cara-cara yang tertampil di situs tersebut.


Diambil buku dan di catatnya satu per satu, "Aku yakin, di antara cara-cara ini pasti akan ada yang benar-benar berhasil!" kata Ade penuh dengan keyakinan.


Dengan perlahan, Ade masuk ke dalam kamar Ana sambil membawa minyak makan tadi. Ia mencurahkan minyak makan ke lantai tepat di dekat pintu.


"Jadi, nanti pas masuk ke dalam kamar. Aku ngajak dia ngobrol di depan pintunya ini, otomatis pas masuk dia pasti gak akan fokus atau gak liat ke bawah.


Jadi, pas dia pandangannya lurus ke depan atau tak melihat ke bawah. Kakinya langsung di sambut oleh minyak makan ini deh, hingga membuat dia jatuh dan akhirnya pendarahan. Selesai ...."


Ade penuh dengan percaya diri juga senyuman yang langsung mengembang di wajahnya, "Kalau cara ini gak berhasil, aku akan langsung pakai cara yang kedua deh besoknya!"


Selesai dengan misinya itu, Ade keluar dari kamar Ana dan masuk ke kamarnya untuk rebahan sambil scroll media sosialnya.


Sebab, Daisha belum pulang dan kamar Daisha juga sudah dirapikan olehnya.


"Eh, ini bros jilbab Buk Ana kok ada di dapur, ya? Jatuh pas dia lagi masak kayaknya, aku balikin aja ke kamarnya deh," ucap Bibik sambil membawa bros jilbab Ana yang terjatuh di dapur.


Wanita yang berumur sekitar setengah abad itu berjalan ke dalam kamar Ana, di tatap ke lantai dengan heran.


"Lah, ini minyak, 'kan?" gumam Bibik jongkok untuk memastikan, "benar, minyak. Kenapa bisa ada di kamar Buk Ana? Bahaya ini kalau sampai Buk Ana yang masuk ke kamarnya, kalau kepeleset bisa kenapa-kenapa bayinya. Tapi, buat apa Buk Ana naruh minyak di lantai ini? Tadi, 'kan yang ambil minyak si Ade bukan Buk Ana. Atau ... jangan-jangan."


Bibik mengangguk kala tak salah lagi tebakannya itu, digelengkan kepala dan meletakkan bros jilbab tadi di nakas.


Dia kembali ke dapur untuk mengambil pengepel dan alat lainnya agar lantai tak licin atau terlihat bahwa ada bekas minyak di keramiknya.


Saat tengah membawa ember dan pel ke belakang setelah selesai membersihkan bekas minyak makan di kamar Ana.


Ade membuka pintu dan melihat Bibik, ia langsung bergegas masuk ke kamar Ana melihat apakah masih ada minyak tadi.


"Sial*n si Bibik! Ngapain segala masuk ke dalam kamar nih cewek, sih? Jadi gagal deh rencana gue!" makinya dengan penuh kekesalan.

__ADS_1


__ADS_2