(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
11 Anak


__ADS_3

"Ma, tau gak sih? Tadi malam, ya, Dikta liat orang di dapur," kata Bang Dikta membuat aku membulatkan mata.


"Ha? Terus, dia ngambil apa? Kenapa kamu gak teriak, sih? Gak ada yang ilang, 'kan?" tanya Mama panik.


Kami sedang berada di meja makan untuk sarapan pagi ini, mertuaku juga sudah siap-siap. Rencananya kami akan mengantar Daisha serta Dara terlebih dahulu ke sekolah.


Baru setelahnya mengantar mertuaku ke bandara, Mama tidak ikut karena harus menemani Kak Kamelia ke rumah sakit.


"Emangnya, gak dipasang CCTV Jeng? Seharusnya dipasang biar aman," saran mertuaku menatap ke arah Mama.


"Beruntungnya, ya, Ma. Gak ada yang ilang, mana mereka berdua lagi. Kayaknya, malingnya cuma numpang makan doang, deh. Kelaparan gitu di jalanan sebab gak dapat mangsa," sindir Bang Dikta dengan aku yang diam seribu bahasa.


"Uhuk!" Kulirik ke arah Mas Raditya yang pasti paham dengan ucapan Bang Dikta barusan.


"Eh, kenapa adik ipar? Kok batuk, sih? Adik ipar liat juga, gak?" celetuk Bang Dikta membuat aku menatap ke arahnya.


"Apaan, sih, Bang? Abang ngingo kayaknya liat maling, Kakak harusnya jangan biarin Abang keluar kamar sendirian, deh. Jadinya gitu, suka ngelantur," terkaku dengan sedikit kesal padanya.


Sedangkan ia hanya cengar-cengir tak jelas membuat kedua wanita tadi yang mendengar dengan serius menjadi bingung.


"Mami, adiknya Dara lucu, ya," ujar Daisha yang memang sedang sarapan sambil melihat Baby.


"Ha? I-iya, Sayang. Lucu," jawabku dengan cengengesan.


"Uhuk-uhuk, kode-kode," sindir Bang Dikta kembali.


"Ish! Abang bisa diam gak, sih? Masih pagi udah nyebelin banget!" gerutuku semakin kesal padanya.


"Ya, ampun kalian dua ini. Udah pada nikah juga, kenapa masih bertengkar mulu, sih? Ndak malu tuh sama anak kalian?" tegur Mama kepada kami berdua.


Kak Kamelia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala karena hal semacam ini sudah biasa dia liat.


"Tau, tuh, Ma si Ana. Orang cuma bilang kode doang juga, sensi amat kek ibu-ibu lagi hamil."


"Oh ... emangnya aku dulu pas hamil kayak gitu, Mas? Perasaan enggak, deh. Istri siapa kamu liat kayak gitu pas hamil?" potong Kak Kamelia dengan sengit.

__ADS_1


Aku tertawa puas meliat wajah pucatnya yang sepertinya salah dalam berkata-kata, "Jeng, maaf, ya. Anak-anak saya emang gini, Jeng," ucap Mama yang mungkin sudah merasa malu melihat anak-anaknya.


Bahkan, Mama pernah bilang kalau bisa tukar-tambah anak. Beliau adalah orang tua pertama yang tukar-tambah kedua anaknya ini.


Pukul 7 tepat, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat. Mertuaku dan Mama saling peluk dengan begitu erat.


Tak lupa kusalami Kakak ipar juga abang untuk pamit pergi meskipun bukan ke butik, sih. Mas Raditya juga salaman dengan Abang tentunya.


"Bro, lain kali jangan di kamar. Takutnya, Mama yang ngeliat malah jadi pengen. Susah ... ntar, kita harus adain pesta lagi dong," gumam Abang yang masih bisa kudengar.


Beruntung anak-anak sudah masuk ke dalam mobil duluan, kalau tidak? Mereka akan bertanya maksud dalam ucapan Bang Dikta barusan.


Kulihat ke arah Mama dan mertuaku, mereka mengulum senyum. Ais ... ternyata mereka juga mendengar ucapan Bang Dikta barusan.


"Abang! Jangan gitu, ih! Jadi orang gak tau banget kalo adeknya malu," omelku padanya.


"Oh ... utututu, adeknya Abang yang baru nikah ini ternyata malu, toh?" rayunya merentangkan tangan dan berjalan ke arahku.


"Ih! Apaan, sih. Malu tuh ada istri dan anak Abang, mau peluk-peluk! Gak usah sok romantis deh, bawa Kak Kamelia dinner aja gak pernah," ejekku padanya mengalihkan pandangan.


"Iya-iya, Sayang. Nanti malam kita dinner, deh," pasrah Bang Dikta membuat aku tertawa puas.


"Yaudah, Jeng. Kalau gitu kami berangkat dulu, ya," ucap mertuaku yang mungkin sudah muak dengan perdebatan kami.


Kami lambaikan tangan ke arah; mama, kakak juga Abang serta si Baby dengan mobil pergi dari kawasan rumah Mama.


Di tengah perjalanan menuju sekolah, Daisha dan Dara yang duduk di belakang tak ada hentinya mengoceh dan bercerita berbagai hal.


Dara juga memberi tahu bahwa sekolah tersebut seru serta temannya baik-baik semua, ya, aku berharap itu semua benar.


Agar ... tidak ada rasa khawatir apalagi di zaman sekarang. Aku takut saja jika bully masih ada hingga kini.


"Jadi, kapan Kak Daisha punya adik? Emangnya gak mau punya adik kayak Dara? Enak, lho. Nanti ada temen main di rumah kalo Mama dan Papa sibuk kerja," ujar Dara yang malah membahas hal sensitif itu lagi.


Kutelan saliva dengan susah payah, rasanya tenggorokan tiba-tiba musim kering, "Pastinya secepatnya dong, pasti Kak Daisha punya adik," jawab mertuaku kulirik dari kaca spion.

__ADS_1


Ia tersenyum membuat aku membalas senyumannya dengan getir, "Kalo Dara cuma satu, nanti Kak Daisha 11 lho! Hayo ... banyakan Kaka Daisha," celetuk Mas Raditya yang malah ikut-ikutan.


Kubulatkan mata saat mendengar angka yang diucapkan oleh bibirnya, "Ye ... nah, dengar, 'kan Dara. Sebentar lagi juga aku akan punya adik kayak kamu, nanti kita main-main deh sama adik kita.


Kita main boneka-bonekaan, main barbie, main bola, masak-masak. Banyak deh! Pasti seru banget, 'kan?" tanya Daisha dan langsung diangguki oleh Dara tanpa berpikir.


"Sebelas-sebelas, dikira aku induk kucing apa? Sekali lahiran bisa langsung banyak?" gerutuku dengan gigi terkatup menatap horor ke arah Mas Raditya.


"Banyak anak banyak rezeki, Sayang."


"Buat aja sendirian kalo gitu! Aku ogah!" tegasku dengan kesal dan menjauh darinya.


"Lah, gimana caranya buat anak sendirian?" beo Mas Raditya yang tak kupedulikan.


Beruntung jalanan tidak macet, kami bisa sampai tepat waktu di sekolah Daisha. Sebelum membiarkan dia ke kelas.


Kami menemani Daisha terlebih dahulu ke ruang kepala sekolah, sebab Daisha masuk di saat sudah beberapa bulan kelas 3 berjalan.


"Sayang ... kamu baik-baik di sini, ya. Kalau ada yang jahat langsung kasih tau ke guru dan jangan pernah bales perlakuan jahat mereka pada kamu," ucapku mengusap surai milik Daisha.


"Iya, Mami. Daisha akan selalu ingat kata-kata Mami, kok. Mami tenang aja," jawab Daisha dan memeluk tubuhku erat, "makasih sudah mau jadi Mami Daisha untuk selamanya."


Kata-kata yang ia ucapkan membuatku merasa tersentuh, pelukan dilepas saat suara bell tanda masuk sudah berbunyi.


Melambaikan tangan saat melihat ia masuk ke dalam kelas, kulihat hingga punggungnya tak lagi terlihat.


"Yuk!" ajak mertuaku dan kuangguki. Kami berjalan bersama menuju kembali ke mobil.


"Cepet banget Daisha besar, ya?"


Kuanggukkan kepala sebagai jawaban, "Mas pasti enak, ya, ngerasain rawat dan liat dia tumbuh. Sedangkan aku? Enggak, cuma sebentar doang."


"Gak masalah, kamu bisa liat anak aku tumbuh nantinya. Ayo, kita buat!"


Plak!

__ADS_1


Kutinggal Mas Raditya sendirian di belakang dan menyusul mertuaku yang sudah berjalan lebih dulu di depan setelah memukul bahunya.


__ADS_2