(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Pengasuh Baru


__ADS_3

"Yee ... Mas Raditya gak akan lakuin apa pun nanti di Bali. Karena ada Daisha, asyik deh!"


"Nanti di Bali jadi bisa jalan-jalan, gak harus di hotel mulu deh!"


Aku bahagia, tentu saja karena baru pertama kali ke Bali dan di sana akan full liburan jalan-jalan bukan untuk melakukan kewajiban.


Ya, wajar kalau aku masih ingin pacaran versi halal sama Mas Raditya. Orang aku belum pernah pacaran sama dia.


Datang-datang, langsung diajak nikah saja sama tuh mantan duda. Bahagia, sih, siapa wanita yang gak bahagia dikasih kepastian?


Cuma ... ya, setidaknya menikmati masa-masa pacaran itu aku juga ingin minimal sih satu tahun maunya, ya.


Kebuka pintu kamar mandi karena telah selesai melakukan virtualnya, kedua orang terlihat asyik makan salad yang kuberikan tadi.


"Emmm ... Mami wangi banget," puji Daisha menatap aku yang duduk di bangku rias.


"Iya, dong, Sayang. Kan, Mami emang harus wangi."


"Udah cantik, wangi pula. Yuk, kita jalan-jalan ke taman Mi!" ajak Daisha padaku.


"Ha?"


"Iya, Mi. Ayo, kita jalan-jalan! Bosen Daisha di rumah, ya!" Daisha menangkup tangannya di depan dada dengan wajah memelas.


'Udahlah, iya-in aja. Gimana pun, dia adalah penyelamat kamu nanti pas di Bali,' batinku negoisasi.


"Oke, yuk, kita jalan! Mami pakai kerudung dulu, ya!"


Aku masih menggunakan kerudung segiempat, masih belum bisa se-syar'i orang-orang. Masalah butikku dan Kak Kamelia.


Kami berdua jadi menyerahkan butik itu agar di kelola oleh asisten pribadi, tapi tetap akan melihat butik seminggu sekali.


Aku pernah nanya sama Kak Kamelia, kenapa tidak pakai baby sister saja. Dia jawab, bahwa di zaman sekarang susah mencari baby sister yang benar-benar sayang pada anak-anak.


Lagian, dia ingin jadi orang yang menemani setiap perkembangan anaknya dari bisa berbicara dan lainnya.


"Lah, Papi. Kita mau ke mana? Tamannya di situ tadi," kata Daisha melihat ke arah taman yang sudah kami lewati.


"Kita liat rumah sebentar, ya, Sayang. Daisha emang gak mau liat rumah kita dengan model yang baru?" tanya Mas Raditya menatap Daisha dari kaca spion.


"Sayang, duduk di depan aja biar Mami pangku," kataku kembali membujuknya merasa kasian dia duduk sendiri di situ.


"Gak papa, Mi. Daisha, 'kan udah Kakak-kakak. Bukan anak kecil lagi, jadi harus duduk sendiri. Kasian Mami kalau pangku Daisha," ungkapnya lagi setelah kubujuk untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Kutautkan alis memaknai kata, 'kakak' kulirik ke arah Mas Raditya yang mengulum senyumnya. Entah apa yang sudah diajari oleh laki-laki di sebelahku ini.


Kami berhenti di bangunan yang selalu saja mampu membuatku ingin tertawa jika mengingat akan kenangan lampau.


"Jangan lari Daisha," peringatku kala melihat Daisha berlari masuk ke dalam dengan rambut terurainya itu.


Mengayunkan langkah melihat-lihat sekeliling, sudah tinggal polesan sedikit lagi maka rumah ini sudah bisa di tempati kembali.


"Kita pulang dari Bali, kayaknya udah bisa langsung tinggal di sini, deh," ujar Mas Raditya yang berada di samping. Aku langsung mengangguk membenarkan.


"Iya, Mas. Udah bisa, deh."


Daisha berlari ke arah kami yang berdiri di ruang tamu, "Mami! Nanti ada Bibik lagi di sini, 'kan?" tanya Daisha menatap ke arahku.


"Oh, iya, Bibik sekarang di mana?"


"Di luar negri sama Mama dan Papa," jawab Mas Raditya.


Dirinya berjongkok dan menatap Daisha, "Enggak, Sayang. Kita cari Bibik baru, ya. Nanti juga akan ada baby sister baru buat jaga kamu," jelas Mas Raditya melirik ke arahku.


"Lah, kenapa pakai baby sister? Aku, 'kan ada."


Mas Raditya berdiri dengan tegap kembali, tangan yang dimasukkan ke saku celana ia keluarkan dan memelukku dari samping.


Gak mungkin kamu tetap ngurus Daisha, 'kan? Belum lagi ada butik dan ...," Mas Raditya menggantungkan ucapannya.


"Dan apa?" tanyaku dengan menautkan alis sudah penasaran.


"Dan bisa jadi kamu akan kesusahan nanti merawat kami berdua karena harus fokus sama dede bayi di dalam perut," terangnya dengan tersenyum.


"Dih, apaan, sih!" sentakku melepaskan tangan Mas Raditya yang ada di tanganku.


"Iya, Mami. Gak papa, kok. Daisha seneng kalau ada pengasuh Daisha lagi."


"Jadi, Daisha gak seneng gitu kalo Mami yang ngasuh Daisha?"


"Seneng dong Mami, nanti, 'kan Daisha tetap Mami yang urus. Bukan pengasuh yang urus semuanya Daisha."


Keputusan yang diambil sendiri tanpa meminta persetujuanku ini sedikit membuat aku kesal, aku hanya diam dan mendatarkan wajah saja.


Mas Raditya memegang kedua bahuku dan menghadapkan ke arahnya, "Denger, ya, Sayang. Kamu itu tugasnya sebagai seorang istri bukan pengasuh Daisha atau lainnya.


Kamu ... istri aku, bukan pengasuh, pembantu atau apa pun itu. Aku mau kamu melakukan kewajiban kamu sebagai seorang istri yang benar-benar tugas kamu.

__ADS_1


Aku gak mau kerjaan aku seharusnya, malah kamu yang kerjain. Setidaknya jika aku memang gak bisa melakukan tugas aku. Ya, seperti inilah caranya dengan pakai jasa orang lain.


Intinya, kita tetap butuh kamu, kok. Kamu bisa kapan aja urus Daisha full seharian. Pengasuhnya juga akan senang dapat keringanan begitu, kok. Kamu tenang aja, ya," bujuk Mas Raditya mengangguk.


Kuhela napas melirik ke arah lain lalu mengangguk, "Yaudah, deh," jawabku singkat.


Cup!


Mataku membulat kala merasa menda kenyal miliknya menempel di keningku cukup lama, mata ini langsung melihat ke arah Daisha yang ada di antara kami.


"Ups ... Daisha gak liat, kok, Mami!" jelas Daisha sambil menutup matanya.


"Mas, kamu! Ada Daisha di sini!" geramku menatap tajam ke arahnya.


"Eh, maaf, ya, Sayang. Kamu gak liat apa-apa, 'kan?" tanya Mas Raditya melihat ke arah Daisha.


"Enggak Pi, Daisha gak liat apa-apa, kok. Dikit," pungkas Daisha sambil menggelengkan kepala.


"Nah, dia gak liat apa-apa, lho."


Kugelengkan kepala menatap sikap Mas Raditya yang berubah entah jadi apa, dia melepaskan tangannya dari bahuku dan menurunkan tangan Daisha yang menutupi matanya.


Cup!


"Spesial buat anak Papi juga, dong, tentunya," kata Mas Raditya yang juga mengecup kening Daisha.


"Hehe, Mami? Mami gak mau cium Daisha?" tanya Daisha kegirangan di cium.


Cup!


Cup!


Cup!


"Mau dong! Lebih banyak bahkan!" ujarku langsung mengecup kedua pipinya juga keningnya yang membuat dirinya kegirangan.


Kami akhirnya kembali melihat-lihat seisi rumah, dari mulai dapur, kamar mainan dan kamar utama serta kamar Daisha.


Dua kamar di dapur juga sudah kami periksa segalanya, mulai dari AC juga kasur mereka agar layak.


Aku pernah baca kata-kata, "Jika kita ingin di manusiakan oleh orang lain. Maka, manusiakanlah orang lain terlebih dahulu."


Bukan berarti mereka bekerja pada kita, kita jadi semena-mena pada mereka. Apalagi menganggap mereka itu tidak akan bisa makan kalau tidak dari uang kita. Naudzubillah.

__ADS_1


__ADS_2