
3 tahun kemudian ....
"Anggi, tolong ibu itu layani, ya."
"Amel-amel, itu ambilkan baju yang dimau sama Ibuk itu."
"Widih ... wanita pengusaha kayaknya sibuk banget, nih!" celetuk seseorang di belakangku.
Aku langsung membalikan badan karena merasa tidak asing dengan suara itu, "Aaaa ...!" pekikku yang tidak terlalu keras saat melihat Ayudia yang ada di belakangku sekarang.
Ya ... dua tahun lalu, Ayudia pamit ingin pergi bekerja di luar negri, meskipun dengan berat aku harus merelakan dirinya.
Ibu dan Ayahnya sudah tidak bekerja lagi, mereka sudah diberi usaha oleh Ayudia. Usaha semacam kelontong gitu.
Kami langsung berpelukan dengan erat menyalurkan kerinduan yang sudah lama tertahan.
"Kita ke ruangan gue, yuk!" ajakku karena takut pelanggan terganggu.
"Yuk!" Ayudia merangkul bahuku dan tersenyum dengan begitu bahagia.
"Jadi, gimana? Gimana lu selama di sini?" tanya Ayudia setelah duduk di sofa yang ada.
"B aja, sih. Gak gimana-gimana," jawabku seadanya.
"Bang Dikta? Udah punya anak apa belum?"
"Udah, dong. Dia udah punya anak cowok, jadi pas sepasang. Cewek dan cowok."
"Lu?" Pertanyaan Ayudia yang membuatku mendengus kesal.
"Kenapa aku?" tanyaku balik pura-pura tidak paham dengan maksudnya.
"Ya ... gimana? Udah ketemu sama jodoh di sini?"
"Hmm ... gimana mau ketemu sama jodoh? Orang gue selama beberapa tahun fokus belajar soal baju sama Kakak ipar gue.
Gak ada tuh sempat waktu buat kenalan sama cowok, males juga gue. Belum ada niatan buat nikah soalnya."
"Ya ... gak harus pas udah ada niatan juga baru kenalan sama cowok kali, ya, apa salahnya kenal dulu?
Kalau udah cocok baru deh gas nikah pas lunya dah siap juga buat ke jenjang ntuh."
__ADS_1
"Hadeuh ... lu aja deh duluan."
"Oke kalo gitu, besok malam lu datang, ya. Gue mau lamaran," kata Ayudia spontan membuatku melongo.
"Lu, lagi becanda, 'kan?" tanyaku menaikkan alis sebelah.
Gelengan darinya yang malah kudapatkan, dengan sedikit susah payah kutelan saliva mencoba menerima apa yang ada.
"Lu mau nikah? Sama siapa?" tanyaku balik yang kaget dengan kabar ini.
Aku kira, dia sama denganku fokus pada masa depan juga karir. Ternyata, aku salah besar. Di tengah kesibukannya, Ayudia masih sempat membucin dengan seorang cowok.
"Lu liat aja nanti, lu kenal kok siapa orangnya dan masalah lu itu. Gue gak yakin gak ada yang mau sama lu selama di sini.
Secara, siapa yang gak suka sama wanita bukan hanya cantik tapi juga; pintar, baik, kaya, mandiri, jago masak. Lu itu paket lengkap!" puji Ayudia.
"Hadeuh ... gue gak ada yang receh, nih," kataku bercanda dengan diiringi tawa.
"Uang bulat juga gak papa, kok," jawabnya sambil mengadahkan tangan.
Aku terkekeh sembari menggelengkan kepala melihat tingkah Ayudia yang sama sekali tidak ada berubah.
"Pak Raditya gimana? Masih gak ada kabar sampai sekarang?" Pertanyaan yang dilontarkan Ayudia sontak membuat aku terdiam.
Sampai kapan lu mau nungguin dia sedangkan bisa aja di sana dia udah bahagia-bahagianya dengan orang lain," papar Ayudia membuatku terdiam hingga menunduk.
"Gue salah, ya?" tanyaku menatap ke arah Ayudia dengan wajah sendu.
"Gue gak bisa bohongi diri gue, gue udah berusaha untuk dekat dan kenal dengan laki-laki lain.
Tapi? Hasilnya nihil, gue selalu ceritain Pak Raditya setiap kali gue deket sama laki-laki lain dan itu membuat mereka ilfel."
"Jadi, lu akan sendirian sampai selamanya sedangkan dia mungkin sudah bahagia dari tahun-tahun kemarin."
"Gue gak tau Ayu, gue gak mau mikirin hal itu. Gue gak nunggu dia seutuhnya, gue cuma lebih pasrah aja sekarang.
Gue malas jika harus dekat-dekat sama orang apalagi jika harus punya hubungan tanpa kejelasan kapan hubungan itu akan sah di mata hukum dan agama."
Ayudia menghela napas, ya, kami memang lumayan sering berdebat soal ini. Soal ... aku yang mengaku kesulitan untuk membuka dan menerima laki-laki lain masuk kembali ke hidupku.
"Yaudahlah, ya, intinya besok malam lu datang ke lamaran gue. Gue mau pulang dulu, capek gue nasehatin lu.
__ADS_1
Lu tetap kekeh juga, mungkin lu perlu diberi kenyataan berupa ketemu sama dia saat dia bahagia dengan keluarganya.
Baru dah tu, lu akan sibuk nyari pasangan hidup dengan kegalauan lu yang brutal sebab ngeliat dia."
"Dih, lu gitu amat sih doanya!" gerutuku ikut bangkit karena Ayudia sudah ingin pergi kembali.
"Habisnya, lu keras kepala banget jadi orang," cibirnya padaku padahal dirinya lebih keras kepala.
Aku mencebik kesal mendengar apa yang ia katakan, mengantarkan dirinya sampai ke teras, "Widih, sekarang udah punya supir, ya?" godaku pada Ayudia dan ditanggapi dengan tawa darinya.
"Haha, bukan gue yang beli. Tapi calon suami gue," jelasnya dan kubalas dengan anggukan.
"Daa ... hati-hati," ucapku sambil melambaikan tangan. Mobil Ayudia menjauh dari butikku.
Aku masuk ke dalam untuk mengambil handphone, "Halo, Pak. Tolong datang ke butik, ya," titahku pada sopir rumah kami.
Ya ... karena Mama juga sudah tidak muda lagi, kami akhirnya menyewa sopir untuk bekerja di rumah yang kebetulan rumahnya dekat dengan komple rumah kami.
Jadi, dia bisa kapan saja datang untuk bekerja. Meskipun, kami tidak setiap hari banget pergi-pergi, sih.
Kututup panggilan dan memakai tas selempang, mumpung masih ingat ada baiknya aku langsung membeli kado untuk lamaran Ayudia.
Takutnya, aku lupa kalau harus beli besok. Aku juga belum tahu siapa yang akan jadi calon suaminya, sih.
Sedikit penasaran karena memang Ayudia sering bercerita tentang sosok ini tapi tidak pernah memberi tahu namanya.
"Pak, kita ke mall, ya!" titahku setelah masuk ke dalam mobil.
"Baik Neng."
Mobil menjauh dari butik, aku sudah memberi tahu karyawatiku jika ingin pergi. Lebih tepatnya karyawati yang sudah cukup lama denganku.
Butik kami belum ada di online shop akibat offline saja masih sering keteteran dan aku masih minta tolong sama Kak Kamelia untuk membantu.
Mobil berhenti di lampu merah, aku terdiam dan mengamati mobil yang ada. Ternyata benar, jika sahabat dekat sudah menikah atau sudah memiliki hubungan yang serius dengan seseorang.
Rasanya seketika dunia berbeda, menjadi lebih hambar dan datar. Ayudia memang belum menikah, tapi aku yakin paling sebentar lagi juga dia menikah.
Mengingat bahwa ia memang ingin nikah muda tapi ternyata takdir berkata lain, pasti kali ini jarak antara lamaran ke nikahan sangat sebentar.
Huft ... sudah tidak ada lagi teman main dan pergi-pergi ke mana pun, aku kembali harus terbiasa sendiri ke mana pun itu.
__ADS_1
Oh, iya, kami pindah rumah setahun yang lalu. Rumah yang lama di jual dan pindah ke komplek yang lumayan dekat dari butik.
Bukan karena alasan, tapi sebab pergi rumah hampir kemalingan akibat keamanan yang tidak ketat di area situ.