(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Haruskah Percaya?


__ADS_3

Tiga hari lagi, penampilan Daisha akan segera dimulai. Dia begitu sangat semangat belajar agar ketika tiba waktunya tidak salah dialog apalagi adegan.


Bahkan, hingga terlalu semangatnya. Hari ini, ia sampai di rawat di rumah sakit karena kelelahan dan telat makan.


Sebenarnya, aku juga salah karena hal ini. Lupa dan lalai juga dalam mengurus makan Daisha, tapi semua itu bukan tanpa sebab melainkan aku harus mulai mengurus skripsi-ku.


"Sayang, kamu makan yang banyak, ya. Biar cepat sembuh," bujukku sambil menyendok bubur ke arah mulutnya.


"Daisha gak jadi pentasnya dong, ya, Mi?" tanya Daisha dengan mimik wajah sedih.


"Jadi, kok. Siapa yang bilang gak jadi? Jadi, kalau Daisha sehat pasti jadi, kok."


"Daisha harusnya jangan sakit, ya, Mi?"


"Gak papa, artinya Allah sayang sama Daisha mangkanya Allah beri ujian berupa sakit pada Daisha. Sekarang, makan, ya!"


Dia mengangguk dengan kubantu bersandar pada tumpukan bantal, beruntung. Daisha tidak terlalu merengek ketika sakit.


Mungkin, sebab ini bukan kali pertama ia masuk ke rumah sakit juga mendapatkan banyak suntikan atau infus.


Pak Raditya pergi ke kantor baru saja, ia yang menjaga Daisha di sini sedangkan aku sebelumnya di suruh untuk tidur di rumah saja.


"Yee ... habis!" seruku gembira dan meletakkan mangkuk tadi ke nakas.


"Nih, minum dulu," sambungku mengambilkan minum dan berniat memberikannya pada Daisha.


"Sini lu!" Tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tanganku membuat air yang memang lumayan penuh sedikit tercurah ke bajuku.


"Ada apa, sih!" Kuhentak tangannya hingga terlepas dari pergelangan tanganku. Aku yang sampai berdiri dibuatnya menatap dengan marah.


Plak!


Satu tamparan mendarat ke pipiku membuat aku menghadap ke kanan dibuat olehnya, kupegang pipiku yang mulai terasa perih.


"Lu berani banget buat anak gue sampe masuk rumah sakit, jika lu gak bisa jaga dia! Biar gue aja yang jaga!"


Suara tangisan Daisha membuat aku melirik ke arah anak itu yang masih sakit, ia pasti takut karena hal ini.

__ADS_1


Kualihkan wajahku menatap ke arahnya dengan tersenyum tipis, kutarik kerah leher bajunya yang aku yakin harganya jutaan atau bahkan puluhan juta.


Dia memberontak tentu saja tidak terima dengan apa yang kulakukan, keluar dari ruangan Daisha segera kututup agar ia tidak melihat kejadian yang akan terjadi sebentar lagi.


Byur!


Kusiram air yang masih ada sisa ke wajahnya yang sudah sangat cantik dengan polesan make-up mahal tentunya.


"Buk Clara, atau ... Nona Clara. Tolong, ya, tangannya jangan ringan banget buat nampar anak orang, bisa?" kataku mencoba tetap santai menghadapinya.


"Lu ...!" tunjuknya ke arahku dengan geram.


"Tadi, apa kata Buk Clara? Biar Anda aja yang jaga? Jaga kewarasan jiwa Anda saja Anda tidak mampu!" tekanku menjawab ucapannya yang di dalam ruangan tadi.


"Lu ngehina gue, ha?!"


"Ingat, ya, Buk! Saya gak pernah ada niatan untuk nyakiti dia apalagi gak mau rawat dia, jangan samakan saya dengan Ibuk yang lebih memilih karir dibanding dengan merawat anak.


Seharusnya, ketika sudah memutuskan ingin menikah. Ibuk sudah tau konsekuensinya apa ke depannya.


Eh, sekarang malah datang tiba-tiba mau ngambil dia dan nyalah-nyalahin saya soal itu. Lawak emang! Kayaknya kejiwaan Ibu bermasalah, deh.


Coba cek, mumpung lagi di rumah sakit ini!" paparku yang tidak habis pikir dengannya.


"Jangan sekali-kali sok tau tentang gue apalagi soal rumah tangga dan keputusan gue untuk cerai! Karena itu ... bukan urusan lu!"


"Terus? Sekarang kenapa marah-marah sama saya? Itu juga bukan urusan saya, saya cuma ditugaskan untuk jaga Daisha. Cuma itu.


Kenapa malah saya yang Ibu caci-maki? Bahkan, Ibu sampai berani mau membunuh saya karena hal ini!" tegasku dengan suara yang sedikit besar.


Beberapa orang berhenti melihat pertengkaran kami yang memang bertepatan di depan ruangan Daisha dan koridor.


Matanya melihat-lihat ke arah orang yang di belakangku pasti ada menyimak pertengkaran kami.


"Jaga ucapan lu itu!" gertaknya dengan mengatupkan giginya.


"Kenapa, emang bener, 'kan Buk? Ibu adalah orang tua yang egois plus gila, saya gak tau apa salah saya.

__ADS_1


Saya cuma bekerja untuk mencari uang jajan dan kuliah, kenapa saya malah jadi dibawa-bawa ke dalam masalah Ibu?"


"Kau tau ... saya pergi begitu saja bukan karena sebab, tapi karena saya ingin berkarir kembali. Saya muak dengan dunia yang monoton.


Tapi, Raditya menolak hal itu. Saya sudah meminta izin untuk hanya menjadi seorang dosen sebab saat saya meminta izin menjadi model dia sangat melarang.


Saya kira, dia akan menerima itu. Tapi, ternyata tidak juga sampai akhirnya saya mendapat tawaran menjadi seorang model tapi dengan syarat belum memiliki anak.


Ya ... saya akui kalau saya salah, tidak mengakui Daisha sebagai anak saya. Saya juga salah karena tidak memikirkan bahwa menikah pasti akan ada sesuatu yang di korbankan nantinya.


Tanpa pikir panjang, saya memilih untuk pergi tanpa sepengetahuan Raditya meninggalkan Daisha begitu saja yang baru saja lahir ke dunia.


Tidak lama setelah itu, saya menggugat cerai Raditya karena menemukan laki-laki lain di luar negri.


Tapi, ternyata. Takdir berkata lain, laki-laki itu pergi meninggalkan saya yang sedang hamil besar hingga akhirnya saya mengalami kecelakaan membuat rahim saya harus di angkat karena sesuatu.


Saya ... cuma mau mengambil anak saya, saya juga Ibunya. Tapi, Raditya selalu melarang hingga dirimu hadir di hidup mereka.


Daisha memanggilmu dengan sebutan yang seharusnya itu ada pada saya, seharusnya saya yang mendapatkan itu bukan kau!


Saya selalu mencoba bahkan dengan cara baik-baik, mendatangkan Mama saya agar Daisha dibawa tapi anak buah Raditya selalu saja melarangnya.


Sehingga, Mama saya kadang melakukan video call kepada saya juga Daisha agar mengurangi rasa rindu saya padanya.


Saya hanya ingin anak saya, apa susahnya, sih? Kau ... juga seorang perempuan, coba posisikan jika kau berada di posisiku. Bagaimana rasanya dijauhkan dari anakmu sendiri oleh seseorang?"


Aku terdiam mendengar cerita dari Buk Clara, dia menangis menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi.


Terdiam dan menunduk, aku hanya bisa melakukan hal itu. Sebenarnya, aku bingung apakah harus percaya atau tidak dengannya.


Jika hanya seperti itu alasannya, kenapa Pak Raditya sampai sekeras itu padanya. Bagaimana pun, dia benar bahwa ia tetaplah ibu dari Daisha.


Ia harus merasakan cinta dan kasih sayang dari anaknya sendiri, tapi kenapa begitu keras hati Pak Raditya untuk memberi kesempatan itu?


"Tapi sayangnya, dia tidak akan menjadi wanita yang egois juga kejam serta manipulatif seperti dirimu.


Tentu, dia tidak tau bagaimana membayangkan posisi dirimu. Dia tulus, berbeda dengan dirimu!" timpal suara bariton yang sudah tidak asing lagi di telingaku dengan langkah kakinya yang mendekat ke arah kami.

__ADS_1


__ADS_2