(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Bunga Kertas


__ADS_3

"Maaf, Buk. Apa Ibu orang tua Daisha?" tanya salah satu guru menghampiri aku yang tengah duduk di kursi koridor sekolah.


Setelah selesai sarapan tadi, Pak Raditya memilih untuk pergi karena memang masih lama waktu pulang Daisha.


Sedangkan aku, memutuskan untuk ikut tapi hanya sampai koridor saja. Aku memang ingin melihat Daisha belajar meskipun hanya dari luar.


"Iya, Buk. Ada apa, ya?" tanyaku berdiri dan mematikan handphone milikku tadi.


"Mmm ... begini, Buk. Minggu depan akan ada pentas di sini dan Daisha kami tunjuk sebagai peran utama di cerita tersebut."


"Iya, Buk. Saya juga udah dikasih tau Daisha soal itu. Btw, ceritanya dibuat sendiri atau ambil dari buku cerita, ya, Buk?" tanyaku menatap ke arah guru yang sepertinya lebih tua dariku.


Ia terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka menatapku, kutautkan alis dan menggaruk kening karena bingung.


"Maaf, kenapa, ya, Buk?" tanyaku kembali bertanya sambil membuka obrolan.


"Btw, Buk? Ibu ... kayak anak muda banget," celetuknya yang menahan tawa.


"Lah, 'kan saya emang masih muda, Buk. Saya semester 6," jawabku dengan polos membuat ia langsung terdiam.


Lah? Ada apa sih sebenarnya ini? Apakah dia mengira bahwa aku sudah setua itu? Ataukah ... lagi-lagi sebab tidak pakai full make-up?


"Ibu ... nikah muda?" tanyanya penuh dengan penasaran yang tertampil di wajahnya itu.


"Belum nikah."


"APA?!" teriaknya dengan kuat membuat mataku membulat. Seketika guru dan anak murid yang dengar teriakannya keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Menyadari orang-orang keluar akibat ulahnya, guru yang aku belum tahu namanya ini hanya menampilkan cengengesan dan meminta maaf kepada guru-guru tadi sebab menganggu waktu belajar mereka.


Ia duduk dan menarik tanganku agar ikut duduk di sampingnya, dengan rok yang selutut ia tutupi bagian roknya dengan salah satu tangannya itu.


"Ibu serius masih gadis?" tanyanya membuat aku mengangguk.


"Terus, Daisha anak siapa? Anak Papinya? Atau ... Papinya Daisha, duda, gitu? Dan Ibu, siapanya?"


"Mmm ... gini, ya, Ibu--" jedaku karena belum tahu namanya.


"Enjel," celetuknya seolah tahu aku ingin menyebut namanya itu.


"Gini, ya, Buk Enjel. Saya itu cuma pengasuh Daisha, nah, entah bagaimana bisa pas saat itu dia manggil saya dengan sebutan Mami.

__ADS_1


Saya dan Papinya udah nyuruh dia buat manggil saya dengan sebutan Mbak atau lainnya. Akan tetapi, dia gak mau dan tetep kekeh mau manggil saya dengan sebutan itu.


Jadi, mau gak mau. Ya, kita cuma bisa pasrah meskipun saya sedikit gak enak karena ditakutkan orang-orang pada salah nangkep," tuturku menjelaskan panjang kali lebar mengenai nama panggilan itu.


Meskipun sebenarnya, hal semacam ini bukanlah urusan sekolah. Namun, melihat guru Daisha yang satu ini seperti orang yang begitu kepo parah.


Tak ada salahnya aku untuk memberi tahunya agar rasa penasarannya itu bisa hilang atas diriku dan Daisha.


"Oh ... saya paham sekarang, tapi Ibuk sama Pak Raditya gak ada hubungan, 'kan?" tanyanya dengan menaik-turunkan alisnya.


"Emangnya, kalo saya ada hubungan kenapa Buk?" tanyaku balik dengan menaikkan alis sebelah.


Ia terdiam seolah bingung harus jawab apa, lagi-lagi hanya cengengesan yang bisa dirinya lakukan, "Oh, iya, soal pentas minggu depan itu Buk. Jadi--"


Dia menjelaskan tentang pentas tersebut dan kuhargai niatnya mengalihkan topik yang ada, mendengarkan penuturan yang diberikannya.


Suara bell tanda istirahat menggema, sepuluh menit yang lalu guru tadi sudah pergi meninggalkan diriku.


"Mami!" teriak Daisha berlari ke arahku yang duduk tepat di depan kelasnya.


"Sayang ... sini, duduk! Makan dulu," titahku membuka box yang tadi dibeli oleh Pak Raditya.


"Mami beli di mana?" tanya Daisha menatap ke arahku yang berada di sampingnya.


"Mami udah lama nunggu Daisha, ya? Sebagai hadiahnya, Diasha ada sesuatu buat Mami."


"Wah ... apa?"


"Tunggu sebentar, ya, Mi."


Kuanggukkan kepala sedangkan Daisha turun dari bangku dan kembali masuk ke dalam kelas, tak lama ia kembali datang dengan tangan dibuat di balik punggungnya.


"Wah ... apaan itu, ya," kataku penasaran yang ingin tahu hadiah apa diberikannya padaku.


"Tadaa ....!" Ia menunjukkan bunga kertas yang sepertinya baru saja mereka buat tadi di dalam kelas.


"Bunga warna pink buat Mami, cantik 'kan Mi?"


Kuambil bunga yang diberikan Daisha padaku tadi, kucium padahal ia jelas-jelas bunga kertas doang.


"Lah, kok wangi, sih?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Iya, tadi Daisha kasih minyak wangi biar wangi dia. Kan, di mana-mana bunga itu wangi. Jadi, bunganya ini juga harus wangi dong."


Kuletakkan nasi tadi ke bangku yang kosong dan merentangkan tangan, "Sini, Sayang!"


Daisha masuk ke dalam dekapanku, kupeluk ia dan mengusap surai hitam miliknya, "Makasih, ya, buat bunganya," ucapku sembari melepaskan pelukan.


"Mami nangis, ya?" tanya Daisha menautkan alis menatapku.


"Ha? Enggak, kok. Mami cuma bahagia aja," ujarku dengan jujur.


"Mami jangan nangis, kalo Mami nangis. Nanti, Daisha juga ikut sedih," jelasnya sembari mengusap pipiku dengan berjinjit.


Hati siapa yang tidak akan tersentuh melihat perlakuan anak sebaik Daisha? Padahal, aku bukan ibu kandungnya.


Juga bukan pengasuh yang sangat baik mengurusnya, tapi ia begitu sangat menyayangiku selayaknya orang tua kandungnya.


Kadang, aku bersyukur hidup di dalam keluarga yang meskipun tidak begitu harmonis. Setidaknya, orang tuaku masih mau menjaga dan merawatku.


Mereka tidak gila karir dan dunia yang fana ini, walaupun aku sebetulnya belum tahu kejelasan tentang kenapa Clara memilih karirnya padahal Pak Raditya juga sudah berkecukupan sejak lama.


Ia berasal dari keluarga yang cukup terpandang, tidak mungkin Pak Raditya tidak mampu memenuhi kebutuhan Clara.


"Tadi, Mami udah cerita sama guru Daisha soal pentas minggu depan. Nanti, Daisha akan dikasih bukunya dan pas pulang sekolah kita latihan, ya!"


"Beneran, Mi? Daisha jadi pemainnya?"


"Iya, dong. Kebetulan tahun ini kelas Daisha yang ditunjuk untuk pentasnya."


"Ye ... asyik!" seru Daisha dengan gembira. Kuelus kepalanya dengan senyum bahagia melihat ia begitu gembira.


"Nanti, kita suruh nenek dan kakek datang ke sini, ya, Mami."


"Iya, nanti bilang sama Papi, ya, biar telpon mereka."


"Okey, Mi!"


Daisha melahap makanan yang kusuapkan dengan semangat, hingga sebelum bel masuk makanan tersebut sudah habis.


"Bye ... Mi, Daisha belajar dulu, ya!" pamitnya sambil melambaikan tangan masuk ke dalam kelas.


Aku membalas lambaian tersebut dan melihat i sampai masuk ke dalam kelas, kumasukkan kembali box ke kresek dan berjalan membuang ke tong sampah.

__ADS_1


Duduk dan tersenyum melihat bunga yang diberikan Daisha tadi, kuambil benda pipih dan mengeabadikan pemberian tersebut di media sosialku yang jarang kumainkan.


"Enak banget, ya, kau. Seharusnya, saya yang mendapatkan hadiah tersebut bukan dirimu wanita perebut!" Suara seseorang membuat aku yang sedang ingin menulis kata-kata jadi berhenti dan melihat ke arah sumber suara itu.


__ADS_2