(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Disuapi


__ADS_3

"Kau sudah lama kerja sama Pak Raditya?"


"Niat jadi pengasuh atau jadi pelakor, sih? Penampilanmu bahkan membuat seorang istri saja kalah!"


Berbagai macam nyinyiran kuterima ketika duduk di meja istri kedua teman Pak Raditya, aku kira mereka akan menyambut aku dengan hangat.


Ternyata ... aku salah besar, mereka malah nyinyirin aku dengan kalimat yang mungkin menurut mereka biasa saja.


"Saya kayaknya sebulan lebih udah kerja sama Pak Raditya, lagian ngapain saya jadi pelakor? Orang, Pak Raditya emang gak punya istri kok Mbak," jawabku santai pada mereka dengan tersenyum.


"Mami, dedek bayinya lucu, ya," kata Daisha yang menatap salah satu bayi.


"Iya, Sayang," kataku sambil mengusap rambut Daisha.


"Mami, gimana caranya punya adik?" tanya Daisha menatap polos ke arahku.


"Suruh Papimu nikah lagi Daisha!" celetuk salah satu dari mereka membuat aku melihat ke arah meja laki-laki.


"Sayang, nanti kita bicara soal adik di rumah, ya," bujukku dengan lembut.


"Tante, Daisha boleh pegang adiknya, gak?"


"Kamu, 'kan masih kecil, gak bisa gendong adik bayi."


"Mami yang gendong deh, biar habis gendong adik bayi punya Tante. Mami Daisha nanti bisa punya adik bayi sendiri."


Glek!


Kutelan saliva sambil menampilkan cengiran, ingin menghilang saja rasanya dari tempat ini. Entah mengapa pula Daisha bisa berkata seperti itu.


Kugendong anak teman Pak Raditya, bayi laki-laki dengan tubuh gempal dan kulit yang putih.


"Kau masih sekolah?"


"Iya, Mbak. Saya kuliah semester 6 bentar lagi juga lulus."


"Sudah pernah ketemu sama Mami Daisha kandung?"


"Sudah Mbak."


"Menurutmu, siapa yang lebih cantik?" tanya wanita tersebut ke salah satu wanita lain.


'Berarti, mereka bertiga sudah pernah bertemu sebelumnya. Pantasan aja kalau mereka gak suka sama keberadaan aku di sini,' batinku menahan kesal.


"Ana, udah punya pacar atau belum?" tanya salah satu dari teman laki-laki Pak Raditya.


"Ehem! Kita ke sini untuk membicarakan bisnis sekalian kumpul bareng sebab sudah lama gak jumpa, bukan mau caper-caperan apalagi ganjen!" tegas Pak Raditya membuat temannya tadi cemberut.

__ADS_1


Makanan datang, aku masih memegang bayi tersebut, "Ana, tolong pegangin dulu, ya. Saya mau makan," ucap ibu bayi ini ketika aku baru saja berniat untuk mengembalikannya.


Jujur, aku belum sempat makan di rumah. Hanya makan roti saja dan Pak Raditya juga menyuruh pembantu untuk tak memasak banyak hanya untuk mereka saja.


Kusuap Daisha makan, karena memang dia akan sulit makan jika tak kusuapi, "Dede bayi, Mami Daisha mau makan. Kamu tenang dulu, ya," bujuk Daisha yang paham dengan situasi sekarang.


Namun, bayi tersebut malah semakin menangis dan bisa jadi ia risih karena tempat ini terlalu pengap menurutnya.


"Sayang, kamu makan sendiri, ya. Mami mau ajak dia keluar, soalnya di sini pengap."


"Jangan jauh-jauh, ya, Mi."


"Iya, Sayang," kataku mengusap kepalanya lebih dulu sebelum berniat keluar dari cafe.


"Mbak, saya mau bawa bayinya ke luar sebentar gak papa?" tanyaku kepada ibu bayi yang sedang bergosip.


"Iya-iya, gak papa. Ini susunya," katanya menyerahkan dodot yang berisi susu formula tanpa melihat ke arahku.


Ingin sekali rasanya aku maki dirinya, sangat menyebalkan. Tapi, sebisa mungkin kutahan. Lagian, tak ada salahnya, bukan?


Melakukan kebaikan pada orang-orang, bisa jadi dia memang sangat membutuhkan me time dengan temannya itu.


'Hahah, sudah seperti Ibu-ibu aja aku,' batinku sambil menimang bayi yang ada di dekapanku. Ia mengisap dodot tersebut dengan begitu cepat.


"Ya, ampun. Ternyata kamu haus banget, ya?" tanyaku sambil tersenyum yang sudah pasti tak akan mendapatkan jawaban darinya.


"Ha?"


"Makan, kau belum makan, 'kan?" tanya Pak Raditya yang menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk padaku.


Dengan rasa enggan, kubuka mulut dan menerima suapan darinya. Daisha ternyata ikut keluar mencari keberadaan kami.


"Aish, Daisha mau disuapin sama Mami, Pi. Papi gendong dede bayinya dong."


"Mm ... yaudah, deh. Siniin anaknya."


Piring tadi di letakkan ke meja, aku menyerahkan bayi tersebut ke tangan Pak Raditya. Meskipun sudah memiliki anak, tapi ternyata Pak Raditya masih takut.


"Saya udah lama gak gendong bayi, jadi gini," jelas Pak Raditya tanpa kutanya kenapa tangannya gemetaran.


Aku hanya menahan tawa sambil menggelengkan kepala, tak lupa kuberikan dodot padanya agar memberikan pada bayi itu.


Duduk di bangku yang kosong dan mengambil makanan tadi, Daisha meninggalkan makanannya di meja dalam.


Mau tak mau, ia makan bersama dengan makanan milikku, "Enak?" tanyaku mengusap pipinya yang tertempel nasi.


"Enak dong, apalagi suapan Mami," puji Daisha membuat aku tersenyum.

__ADS_1


"Masih kecil juga, pinter banget sih muji orangnya," ujarku mencubit pelan pipi Daisha.


Saat makanan baru kutelan beberapa suap, bayi yang di gendongan Pak Raditya tiba-tiba menangis.


"Azal, dia kenapa ini?" tanya Pak Raditya panik.


"Haha, hayo ... kenapa tuh dia Pak?" tegurku menakut-nakuti Pak Raditya sambil berdiri kembali.


Kuambil anak tersebut dari gendongannya, "Lah, kok malah diam?"


"Dia tau Pak, mana orang baik dan jahat," sindirku.


"Maksudmu saya orang jahat?"


"Bukan saya yang ngomong, lho."


Pak Raditya akhirnya kembali menyuapi aku dan Daisha dibujuk untuk mau disuapi oleh Papinya, beberapa mata melihat ke arah kami.


Mungkin, mereka merasa bahwa aku beruntung karena mendapatkan suami yang pengertian. Tapi nyatanya, tak seperti yang mereka duga dan pikirkan itu.


"Eh, dia udah tidur, ya?" tanya ibu dari bayi ini yang sepertinya sudah selesai makan dan bergosip.


"Lain kali, kalau mau gosip jangan bawa anaknya!" ketus Pak Raditya melirik ke arah ibu bayi ini.


"Pak!" kataku pelan agar dia tak berkata seperti itu.


Kualihkan bayi ke gendongan ibunya, "Makasih, ya."


"Sama-sama Mbak," ujarku tak lupa memberikan botol susu yang sudah habis.


Kami akhirnya masuk kembali ke dalam, Daisha sudah menguap beberapa kali membuat aku menatap ke arahnya.


"Daisha udah ngantuk?"


"Iya, Mi. Papi, masih lama lagi kerjanya?" tanya Daisha yang mungkin sudah tak kuat menahan kantuknya itu.


"Bentar lagi Sayang."


"Gak papa, Daisha kalo ngantuk tidur aja nanti, ya. Biar Mami yang pegang Daisha."


"Makasih, Mami."


Aku tersenyum dan mengangguk, sebenarnya tak paham apa yang mereka bahas hingga malam seperti ini.


Meskipun jam baru menunjukkan pukul 9 kurang, tapi di sini ada bayi juga orang hamil yang pastinya tak betah jika duduk terlalu lama.


Namun, sebagai seorang istri yang baik. Dia mungkin harus tetap menemani suaminya untuk bekerja meskipun dia juga tidak tahu proyek apa yang sedang mereka bicarakan.

__ADS_1


Atau mungkin ... dia tahan dan mau menemani suaminya karena takut jika suaminya malah melirik-lirik wanita yang ada di sini. Entahlah.


__ADS_2