
"Lah, kok kau ada di sini?" tanya Raditya saat kami bersamaan datang ke TK Daisha.
"Lah, Bapak ngapain di sini?" tanyaku balik karena bingung.
Dengan terpaksa, aku bolos pelajaran demi membujuk Daisha. Bagaimana pun, aku profesional dengan kerjaan meskipun kuliahku sekarang sedikit berantakan akibatnya.
"Saya ditelpon guru Daisha kalo dia ngambek karena kau gak datang ke sini."
"Iya, tadinya emang niat gak mau datang Pak karena masih banyak mata pelajaran. Tapi, ya, ini 'kan kerjaan saya. Mau gak mau saya harus profesional."
"Hmm ... yaudah, ayo masuk!" ajak Raditya dan kuangguki.
Kami berjalan dengan aku berada di belakangnya mengikuti di mana kelas Daisha, aku tentu tak tahu yang mana kelas juga ruang gurunya.
"Eh, Pak Raditya," sapa seorang wanita yang membuat langkah kami berhenti. Aku berpindah ke samping agar bisa melihat wanita itu.
"Selamat siang Bu guru, maaf kalau saya telat. Daishanya mana?" tanya Raditya dengan sedikit tersenyum ramah pada wanita yang ternyata adalah guru Daisha.
"Giliran sama cewek lain aja, ramah banget. Giliran sama gue, udah kek ketamu sama musuh bebuyutan," gumamku mengalihkan pandangan.
"Ini ... Maminya Daisha?" tanya guru dengan menunjuk ke arahku membuat aku menatapnya.
"Bukan, dia cuma pengasuh Daisha," jelas Raditya dengan cepat.
"Oh ... saya kira memang Pak Raditya sudah menikah."
"Belum, saya belum menikah lagi."
"Haha, syukur deh kalau gitu," katanya dengan sedikit tertawa sambil menutup mulutnya.
Aku berdecak sebal karena hanya jadi nyamuk di antara mereka, sepuluh menit sudah berlalu. Rasa bosen menyerang diri.
Memilih untuk pergi dan melihat-lihat kelas yang ada sembari mencari keberadaan Daisha, meskipun akan sulit sebab banyaknya ruangan.
"Mami!" teriak seseorang saat aku tengah mengintip ruang dari kaca yang ada.
Kulambaikan tangan dan tersenyum dengan lebar ke arahnya, ia langsung bangkit dari kursi berlari keluar ruangan itu.
"Mami katanya gak mau datang," rajuk Daisha yang berada di dalam dekapanku.
"Sayang, Mamikan harus sekolah juga kayak Daisha. Biar kita itu sama-sama pinter, masa yang pinter hanya Daisha doang, sih?"
"Gak papa Mi, biar Daisha yang ajarin Mami nanti. Kalo Daisha gak tau, nanti Daisha minta ajarin sama Papi atau Mami nanya ke Papi langsung," jelasnya membuatku tak habis pikir.
__ADS_1
Kugelengkan kepala dan melepaskan pelukan, menangkup pipinya untuk melihat ke arah wajahku.
"Sayang ... gak bisa gitu, Mami harus tetap sekolah. Lagian, kita bisa ketemu, bermain dan belajar sama-sama pas pulang, kok. Di sini juga gak ada yang belajarnya di tunggu sama orang tuanya.
Daisha, 'kan anak pinter dan pemberian juga pengertian, nanti Mami akan jemput Daisha, kok. Pas pulang kita cerita-cerita.
Kan, seru! Kalo Daisha cerita soal sekolah, Mami cerita soal kuliah dan Papi cerita soal kantornya. Jadi, kita banyak cerita di rumah."
"Jadi ... Daisha harus sekolah sendirian gak ditemani sama Mami, ya?"
"Kalo Mami gak kuliah, pasti Mami temenin, kok. Tapi, pas Mami kuliah. Daisha harus jadi anak yang berani, ya," ucapku tersenyum dan mencolek hidungnya.
"Baik deh, Mami. Daisha ikut kata Mami aja."
"Nah, itu baru anak yang pinter. Sekarang, Daisha balik ke kelas dan belajar yang sungguh-sungguh. Karena, Mami juga mau balik ke kampus buat belajar.
Nanti, kalau Mami sempat. Mami akan jemput, kalo enggak nanti di jemput sama Papi atau supir, ya."
"Iya, Mi."
"Yaudah kalau gitu, balik ke kelas sana."
Daisha mengangguk dan melembaikan tangannya ke arahku, "Bye, Mi." Aku yang tadi jongkok berdiri kembali sembari membalas lambaian tangan Daisha.
Kulihat kembali ia dari jendela kaca, gurunya tersenyum ke arahku dengan mengangguk. Kubalas hal serupa dan menatap ke arah Daisha yang fokus belajar lagi.
"Astagfirullah!" kagetku saat memutar badan mendapati ada Raditya yang sudah berdiri dengan wajah datarnya itu.
"Biasa aja, saya bukan setan."
"Lagian, kenapa tiba-tiba di belakang saya? Untung aja gak saya pukul tadi Bapak!"
"Hmm ... Daishanya mana?"
"Udah balik belajar." Aku berjalan meninggalkan dia yang mungkin masih ingin melihat atau malah menunggu Daisha.
"Mau ke mana?" tanyanya membuat aku berhenti melangkah dan kembali menatap ke arahnya.
"Ke kampuslah," jawabku dengan santai.
"Naik apa?" tanyanya mendekat dan menghadap ke arahku.
"Angkot kayaknya Pak."
__ADS_1
"Sama saya aja, biar saya antar," jelasnya dan pergi meninggalkan aku. Berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jas yang dipakainya.
Kukerjapkan mata beberapa kali mencoba meyakinkan diri dengan apa yang baru saja ia katakan.
"Beuh ... aku harus hati-hati, nih. Jangan sampai mudah baper lagi kayak waktu sama Rian," gumamku dan langsung menyusulnya yang sudah cukup jauh.
Di perjalanan menuju kampus, hanya ada keheningan. Entah mobil siapa yang dipakai olehnya, aku tak berani bertanya sebelum dia lebih dulu bertanya padaku.
Kulirik ke arah wajahnya yang menatap fokus ke arah jalanan dengan kedua tangan memegang stir bulat itu.
"Apa kau tidak akan dimarahi?" tanyanya membuka suara membuatku dengan cepat mengalihkan pandangan.
"Dimarahi soal apa Pak?"
"Kuliah."
"Oh, gak papa. Nanti, bisa nanya sama temen pelajarannya soal apa tadi."
Kulihat ke arahnya, hanya ada satu anggukan menandakan ia paham dengan apa yang baru saja kujelaskan.
"Ini mobil siapa Pak?"
Dia menatap ke arahku sebab pertanyaan itu, "Menurutmu?"
"Mobil minjam sama karyawan?"
"Ck! Apakah saya terlihat setidak mampu itu hingga meminjam barang anak buah?"
"Ha? Bapak baru beli ini?" tanyaku kaget. Pasalnya, sudah ada dua mobil di rumah. Hanya saja, memang satu mobil yang biasanya di pakai oleh keluarga tersebut.
"Ini buat kau, agar bisa mengantar dan menjemput Daisha nantinya." Dialihkannya kembali wajahnya menatap ke arah jalanan.
Aku masih terkaget dan tak percaya dengan apa yang dia katakan, mulutku terbuka dan mataku menatap dalam ke wajahnya itu.
"Kenapa? Kau tak bisa membawa mobil?" tanya Raditya kembali bersuara.
"En-enggak. Eh, bukan begitu Pak. Saya bisa, kok. Cuma, apa gak berlebihan Bapak beli mobil baru ini untuk saya? Kan, saya bisa atau Daisha bisa diantar-jemput sama sopir."
"Gak perlu geer, nanti saat kau berhenti kerja sama saya. Mobilnya juga akan saya ambil balik, kok.
Saya beli ini juga karena merasa sepertinya butuh mobil yang model seperti ini. Jadi, kau tau bawa mobil, 'kan?"
"Iya, Pak. Saya tau, kok."
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu."
Baru saja akan bahagia, aku sudah dijatuhkan oleh kenyataan. Aku kira, dia akan memberikan tuh mobil. Eh ... ternyata enggak.