(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Mengurus 3 Anak


__ADS_3

Suara denting sendok memenuhi ruangan, sebelum salat Magrib kami memang biasa makan malam sangat awal terlebih dahulu.


Aku pernah protes sama Mama bahwa ini namanya bukan makan malam, tapi makan senja karena masih ada matahari meskipun sudah hendak terbenam.


Namun, kata Mama. Kalau sudah salat Magrib pasti kami akan sibuk dengan dunia masing-masing.


Jadilah, makan senja dilakukan di keluarga kami dari Papa masih ada hingga saat ini dan syukurnya para menantu Mama pada manut semuanya.


"Oh, iya, Dek. Nanti malam Abang sama Kak Kamelia mau dinner romantis, lho," terang Abang membuatku kaget.


"Oh, ya? Seru, dong! Gitulah, sesekali dinner berdua," ucapku sambil menatap nasi yang ada di piringku dengan tersenyum senang mendengar mereka akan dinner.


"Tapi, kamu jagain baby dan Dara, ya."


"APA?!"


Mataku membulat dan menatap ke arahnya, senyum yang tadinya terpasang kini hilang berganti dengan kekagetan.


"Iya, dong. Plis ... cuma beberapa jam, kok. Kalau Dara pasti gak perlu di jagain, sih, tapi si kecil tolong banget jagain, ya, plis."


Kualihkan mata menatap ke arah Mama yang pura-pura tak mendengar, "Mama ada urusan lain Sayang, ada pengajian di musala."


"Sejak kapan pengajian malam-malam, Ma?"


"Ya, itu. Sejak ustadz-nya beda, haduh. Mama juga gak tau, padahal Mama udah bilang sama mereka buat gak ngaji.


Eh, malah tetap dipaksa buat ngaji juga. Jadilah Mama harus ngaji, biar jadi orang tua yang sholehah dan mana tau ustadz-nya belum nikah, 'kan?"


Aku mendengus kesal mendengar ucapan Mama, apa-apaan malah larinya ke ustadz yang belum nikah.


"Tapi, aku juga mau keluar Bang. Mau membeli beberapa barang di mall bahan buat renov rumah," ujarku jujur sambil menatap ke arah Mas Raditya.


"Ya, bawa aja. Gak papa, kok. Si baby juga seneng diajak jalan, lagian bukan naik motor. Dia gak akan kena angin malam langsung, kok."


"Kenapa gak lusa aja, sih?"


"Udah di booking memang dari tadi sore Dek. Begitu pulang dari pemakaman, Abang langsung booking tuh tempat makan.

__ADS_1


Abang gak mau sampe meninggal padahal Abang belum membahagiakan istri Abang, setidaknya dengan membawa dia dinner romantis."


"Lah, ini Abang udah makan mana banyak lagi makannya. Di sana nanti mau ngapain kalo sampe kenyang gini?"


"Ini namanya cara agar di sana nanti milih makanan yang murah Dek, udahlah. Iya-ya? Mau, dong sekali aja!" pinta Abang dengan memohon.


Kulihat ke arah Kak Kamelia yang sedang menggendong baby, ia hanya diam dan tersenyum tipis ke arahku.


"Iya, Bang. Pergi aja, gak papa kok," celetuk seseorang yang ada di sampingku. Aku langsung memutar kepala ke samping melihat orang yang bersuara itu.


"Yee! Makasih, kalian memang adik-adik Abang ter-cinta! Makasih banyak, ya!" seru Abang bahagia.


Mama juga menampilkan wajah senangnya begitu juga Kak Kamelia, aku merasa seolah tengah dikerjain oleh mereka.


Namun, tak boleh suudzon. Aku hanya bisa mendengus kesal dan menghela napas beberapa kali, mencoba agar bisa sabar menerima hidup ini.


Setelah selesai salat Magrib, Abang juga Kak Kamelia langsung bersiap-siap begitu juga dengan Mama dan aku pastinya.


Aku memang sudah berbicara dengan Mas Raditya untuk membeli beberapa perlengkapan barang yang baru.


"Kita kayaknya perlu Pak Parto deh, takutnya ada di antara mereka berdua nanti yang tidur. Biar gak susah pangkunya," ujar Mas Raditya yang sangat suka membuat susah diri sendiri.


Mana aku gak pernah gendong bayi sampai bawa dia jalan-jalan kayak gini lagi, kalau nanti dia nangis. Kamu yang tenangin dia, ya, Mas!" gerutuku yang kesal padanya.


"Ini cosplay dulu Sayang, cosplay punya anak tiga biar nanti kalo anaknya kembar kamu gak kaget," ucap Mas Raditya menenangkan dengan senyumannya itu.


"Cosplay-cosplay! Mas aja sendirian sono yang cosplay!" geramku meninggalkan dirinya di dalam kamar sendirian.


Keluar dengan mencoba mengembalikan mood, pura-pura happy agar bayinya gak nangis nantinya saat bersamaku.


Tas selempang sudah terpasang di badan dan juga aku merasa sangat rapi, Daisha dan Dara duduk di sofa menunggu kami bersiap.


Bang Dikta keluar dari kamar bersama dengan Kak Kamelia, "Dek, dia udah Kakak kasih pempers, ya. Ini, Kaka bawa juga pempers-nya kalau emang nanti dia pup.


Kamu gak perlu takut, dia jarang rewel, kok. Paling bentar lagi juga akan tidur, ini susunya, ya."


Aku memegang Baby dan langsung di pakaikan kain untuk membawa dirinya, ya ... meskipun aku tahu pada akhirnya bahuku nanti yang akan merasa sakit jika sudah terlalu lama membawanya.

__ADS_1


"Eh, Bro! Jangan ganteng-ganteng banget, anak udah 3 noh," ejek Abang begitu Mas Raditya keluar dari kamar.


Ia berjalan ke arah suamiku dan memberikan tas yang berisi perlengkapan baby, "Makasih, ya, udah mau bantu jagain. Kalau gitu, kami pergi dulu. Assalamualaikum!" salam mereka berdua pergi dengan mesranya keluar dari rumah ini.


"Udah-udah, sabar Sayang," kata Mas Raditya memegang pundakku.


Kuhela napas kesekian kalinya dan tersenyum, "Yaudah, yuk, kita pergi!" ajakku menatap ke arah Mas Raditya.


"Okey! Anak-anak, ayo kita pergi Sayang!" panggil Mas Raditya membuat kedua bocah itu langsung berlarian untuk masuk ke dalam mobil duluan.


Mama sudah pergi lebih dulu, katanya takut jika tak kebagian tempat duduk di depan hingga tak bisa melihat ustadz-nya.


Sudah lain niat ibu dari dua anak itu, malah ingin melihat ustadz-nya pulak. Sepertinya, Mamaku sedang puber ke-10, eh.


"Malam Pak Parto," ucapku melihat Pak Parto yang berdiri di luar pintu.


"Malam Neng, anak siapa?" tanya Pak Parto menatap heran.


"Hehe, anak abang saya Pak. Dia lagi dinner sama istrinya."


"Oalah, saya kirain Neng udah nikah sebelum sama Bapak."


"Enak aja Pak Parto, enggaklah! Saya satu-satunya laki-laki yang di sayang oleh Ana selain keluarganya," celetuk Mas Raditya yang sepertinya mode cemburunya sedang aktif.


"Hahaha, enggaklah Pak. Yaudah, saya masuk dulu, ya, Pak. Biar kita cepat selesai belanjanya."


"Sok, masuk atuh Neng."


Aku duduk di bangku belakang bersama dengan dua bocah yang sedang berbicara entah membahas apa.


Sedangkan Mas Raditya duduk di samping Pak Parto menatap ke arahku dari kaca spion, "Enak, ya, Pak. Kalo punya istri sekarang? Jadi ada yang urus."


"Ya ... lebih tepatnya ngurus anak sih, Pak. Bukan ngurus suami," jawabnya melirik ke arahku.


Aku langsung melihat ke arah Baby yang ada di gendongan dengan menahan senyum mendengar ucapannya barusan.


"Mangkanya Pak, kalo mau Bapak yang di urus. Sewa baby sister dong buat anaknya, biar Bapak yang urus tuh full istri," saran Pak Parto.

__ADS_1


"Eh, iya juga, ya, Pak. Saran Bapak bener juga tuh."


'Gak mungkin kalo dia beneran ngikutin saran Pak Parto,' batinku menggelengkan kepala sambil menyimak pembicaraan mereka berdua.


__ADS_2