
Kami duduk di tempat masing-masing, Clara memaksa Daisha untuk duduk di samping wanita itu.
Awalnya, Daisha menolak tapi Pak Raditya menyuruh agar Daisha patuh pada perintah Mami kandungnya itu.
Mama Pak Raditya juga Mama Buk Clara berbicara sedari tadi, aku hanya menyimak karena tak ada hak untuk mencampuri urusan tersebut.
Daisha disuapi makanan oleh Clara, aku hanya diam meskipun melihat Daisha merasa tak nyaman dengan Maminya itu.
Saat Clara akan memberikan kacang pada Daisha, refleks aku bangkit dan menepis tangannya membuat sendok terjatuh di bajunya.
Semua menatap ke arahku dan Buk Clara menampilkan wajah murkanya, bahkan jika tak ada orang pasti aku sudah habis saat ini juga dibuat olehnya.
"Maaf, Buk. Tapi, Daisha alergi sama kacang," jelasku sedikit menyesal.
Pak Raditya mengambilkan tisue dan menyerahkannya pada Clara, "Kau sungguh keterlaluan, ya!
Aku Mami kandungnya, aku lebih tau apa yang boleh dan tidak dia makan. Kau tak punya berhak melarang aku memberikan apa pun pada anakku.
Kau hanya pengasuh yang berharap duit dari majikan, gak usah sok mengatur orang deh!"
"Kau keterlaluan, gak seharusnya sampe menepis tangan dia sampe seperti itu!" tekan Pak Raditya membuatku kaget.
"Kalian dapat pengasuh gak berpendidikan ini di mana, sih? Liat baju anak saya! Bahkan gaji kamu setahun gak akan bisa untuk membayar.
Apa orang tuamu tak pernah mengajarimu sopan santun? Atau, mereka tak mampu mengajarimu dan menyekolahkanmu sehingga kau berperilaku buruk seperti itu, ha?"
Aku dihina tiga orang sekaligus hanya karena menepis tangan wanita itu, padahal aku hanya tak sengaja dan refleks melakukan hal itu.
Mengingat bahwa Daisha alergi bahkan bisa sesak karena memakan kacang, aku hanya menghindari akan terjadi lagi hal tersebut.
Namun, apa yang kudapat? Aku dihina sedemikian rupa bahkan dengan Pak Raditya juga ikut menghinaku.
"Baju anak Tante juga ada di Indonesia dengan harga 2 jt, di Malaysia 3 jt dan Singapura 5jt. Saya punya dua yang dari Singapura!
Saya bisa ganti kalo emang Tante gak mampu beli yang ada di Indo lagi. Jangan pernah bawa-bawa orang tua saya! Mereka menyekolahkan saya bahkan di kampus yang menggaji anak Tante.
Kalo saya gak ada, mungkin anak Tante gajinya juga akan sedikit karena berkurang mahasiswi yang ada.
Untuk Pak Raditya, saya cuma refleks karena takut jika Daisha kenapa-kenapa. Jika memang Pak Raditya masih suka dan sayang sama mantan istri Pak Raditya ini, balikan aja.
Jangan berperilaku seperti ini apalagi sampe menghina saya seperti tadi. Saya berhenti bekerja dengan Bapak!
Terima kasih untuk makan sore kelas bawah ini, saya permisi!"
Aku bangkit dan pergi dari meja makan, terdengar tangisan Daisha tapi egoku menyuruh pergi begitu saja.
Kuusap air mata sambil terus berjalan keluar dari gedung ini, melewati mobil yang kebetulan sopir tengah di luar mobil.
"Mbak, mau ke mana? Mbak!" panggilnya.
__ADS_1
Terus berjalan menyusuri jalan, aku lupa membawa handphone untuk memesan ojek online.
"Mau ikut?" tanya seseorang yang berada di sampingku.
Aku yang tengah berjalan di trotoar berhenti dan menatap ke arah pengendara sepeda motor ini.
"Kamu siapa?" tanyaku merasa aneh tiba-tiba ditawari untuk ikut.
"Aku Rendi," katanya mengulurkan tangan.
"Azaleana, panggil aja Ana," jawabku membalas salamnya dengan menangkupkan tangan.
"Oh, eh. Hehe, aku satu kampus denganmu. Jadi, gimana? Mau ikut?"
"Mmm ... boleh deh, tapi gak ngerepotin?"
"Enggak, tenang aja."
Aku langsung naik ke jok belakangnya, aku ingin ke rumah Pak Raditya lebih dulu baru pulang ke rumah.
Tak perduli apa yang akan dia katakan nantinya, aku ingin berhenti bekerja dan kembali lagi ke rumah.
"Rumah kamu?"
"Bukan, tunggu bentar, ya!" titahku memberikan helm dan langsung berlari ke dalam.
Tok! tok! tok!
"Lah, kok udah pulang Neng?"
"Iya, Bik. Saya izin masuk, ya," kataku buru-buru ingin segera pergi tanpa diketahui oleh siapapun.
"Sok atuh."
Berlari ke kamar, memasukkan barang-barang yang kupunya ke dalam tas. Tak lupa handphone dan barang-barang lainnya.
Kuganti baju dan juga kerudung, tak ingin membawa barang apa pun dari sini termasuk baju yang tengah kupakai.
"Lah, Neng mau ke mana?" tanya Bibik melihat aku membawa koper dan tas ransel.
"Bik, saya mau pulang. Kalau saya ada salah tolong maafkan saya, ya," pamitku sambil menyalim tangannya.
"Atuh Neng, gak nunggu Bapak dulu? Emangnya ada masalah apa?"
"Gak perlu Bik, saya duluan, ya. Assalamualaikum."
Keluar dari rumah dan dengan cepat berlari ke arah motor Rendi.
"Lah, banyak banget barangnya."
__ADS_1
"Udah, jalan aja dulu. Nanti aku jelasin," titahku dan dia hanya menuruti.
"Tadi itu bukan rumah aku, itu tempat kerja cuma aku kabur karena ada sesuatu hal yang gak bisa aku ceritain." Merasa sudah lumayan jauh dari rumah Raditya, aku memulai bercerita tentang diriku pada Rendi.
"Tapi, tenang aja. Kamu gak akan dikira penculik apalagi terlibat dalam masalah aku, kok. Kamu akan aman aku lindungi namamu nanti," sambungku yang takut jika dia berpikir akan dikira menculik diriku.
"Hahaha, kamu mau melindungi aku? Di mana-mana cowok yang melindungi cewek, lagian aku juga gak akan takut jika mereka nuduh yang enggak-enggak ke aku."
Deg!
Entah pangeran dari mana, tapi Tuhan mengirimkan seseorang di waktu yang tepat meskipun terkesan tiba-tiba.
'Jangan baper Ana, jangan baper!' batinku menguatkan diri.
"Oh, iya, katamu kita satu kampus? Kamu jurusan apa?"
"Management."
"Padahal, gedungnya berbeda. Kenal aku dari mana?"
"Ya, siapa yang gak kenal dengan mahasiswi yang hampir mati karena di dorong dari atap kampus?"
"Eh! Aku kira, aku terkenal karena prestasi. Ternyata karena hal itu, toh!" ucapku dengan tertawa.
Lagian, aku berharap terkenal karena prestasi? Masuk kelas saja lebih sering terlambat daripada tepat waktunya.
Sekitar empat puluh lima menit, akhirnya kami sampai di rumahku. Belum ada mobil padahal hari sudah hampir malam.
Rendi membantuku membawa barang-barang, kutarik pelan napas agar bisa lebih tenang menjawab pertanyaan Mama nanti.
Tok! tok! tok!
"Assalamualaikum Mama!" pekikku dengan cukup keras.
"Emang harus teriak kayak gitu, ya?" tanya Rendi menutup telinganya membuat aku tertawa.
"Kalo gak gini, gak akan kedengeran sama orang di dalam," jawabku dengan cengengesan.
Tak lama, pintu terbuka memperlihatkan Mama yang berdiri.
"Waalaikumsalam, kamu kenapa?" tanya Mama dengan wajah separuh panik separuh heran sepertinya.
"Udah, nanti aja Ana kasih tau. Kita masuk dulu ke dalam, yuk!" ajakku menatap ke arah Mama.
Mataku beralih melihat Rendi yang ada di samping, "Makasih, ya, Rendi udah nganterin gue dari tadi. Oh, iya, gue kasih ongkos minyak, ya." Aku langsung mencari dompet yang ada di saku gamis.
"Udah, gak perlu. Buat lu aja, lagian gue juga ikhlas bantuinnya. Btw, panggilannya jadi lu-gue, ya?" tanya Rendi dengan sedikit berbisik padaku.
Kembali tawa keluar dari bibirku karena kalimatnya, aku baru ingat bahwa panggilan untuknya sudah berubah saja.
__ADS_1