
Tepukan tangan memenuhi ruangan, semua mahasiswa/i saling bergembira dan berucap syukur karena bisa lulus dari kuliah.
Termasuk, aku. Ya ... di tengah keterpurukanku beberapa bulan yang lalu, akhirnya aku bisa bangkit sehingga berada di titik ini.
Titik, di mana yang aku kira tidak akan pernah kurasakan karena semuanya pergi dari sisiku secara tiba-tiba.
Namaku dipanggil ke depan, aku di temani oleh Mama dan juga Abang sedangkan Ayudia tidak dapat hadir sebab sedang wisuda juga.
Kegiatan selesai hingga jam tiga sore ditutup dengan foto-foto tentunya, ternyata saat berjalan waktu.
Aku mulai memiliki teman bahkan sahabat, mereka sangat baik padaku meskipun statusku hanya pindahan.
Buket dan hadiah kubawa masuk ke dalam mobil, senyum bahagia jelas tertampil di wajahku, "Kita ke kost kamu dulu?" tanya Mama melihat ke arahku.
"Iya, dong, Ma!" seruku gembira.
"Mau apa nih dari Abang?" celetuk Abang dengan wajah masam.
"Widih ... asyik, nih! Apa, ya," kataku sambil mengetuk-ngetuk dagu, "pulau, boleh, gak?" Abang langsung melotot mendengar keinginanku itu.
Aku tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu dengan reaksinya, "Yang masuk akal dikit, dong. Kamu ini Ana, ada-ada aja!" ujar Abang dengan sebal.
"Itu juga masuk akal, sih, Bang. Abang aja yang kagak mampu belinya," ejekku kembali tertawa.
Ia hanya mendengus kesal jika sifat jahilku ini kambuh, daripada dijawab ia lebih memilih diam saja.
"Ana mau ke salon deh, pengen shoping-shoping juga," sambungku setelah melihat wajah di kamera handphone.
Sudah cukup lama aku tidak perawatan, sekarang aku mau kembali mulai bangkit dan merawat diri.
"Okey!" jawab Abang setuju.
"Widih, banyak nih duitnya," tebakku menaik-turunkan alis.
"Cukup kalau buat kebutuhan itu, kok."
"Sip!"
Sesampainya di halaman kost-ku, aku langsung keluar di susul dengan Mama dan Abang. Aku sudah pamit dengan ibu kost jauh hari.
Saat ia melihatku keluar dari mobil, Ibu kost juga ikut menghampiri karena memang rumahnya di depan kost.
__ADS_1
"Sudah mau pulang?" tanyanya ramah.
"Iya, Buk. Mau pulang ini, ngambil barang dulu."
"Makasih, ya, Buk. Selama di sini anak saya dijagain dengan baik," celetuk Mama yang berada di sampingku.
"Sama-sama, Buk. Semua yang kost di sini saya anggap sebagai anak sendiri, kok, apalagi Ana. Dia baik tentu aja saya senang dan jaga dia," tuturnya.
Kuanggukkan kepala dan tersenyum, memang benar bahwa beliau sangat-sangat menyayangi anak kost-nya semua.
Karena, ia dan suami tidak memiliki seorang anak. Terkadang, kami semua di suruh makan bersama mereka karena kost hanya menerima wanita saja.
Bahkan, saat Mama lupa mengirim uang dan simpananku sudah tidak ada. Ia memberikan aku uang saku, ya, meskipun setelah Mama kirim kukembalikan lagi karena merasa sungkan.
"Terima kasih, ya, Buk. Kapan-kapan, boleh, 'kan saya main ke sini?" tanyaku setelah mengecup tangannya takzim.
"Sama-sama, sangat boleh. Kapan aja kamu mau main ke sini, sok atuh main. Gak ada yang larang!" jawab Ibuk dengan tersenyum.
Barang-barangku sudah dimasukkan ke bagasi, Abang juga sudah pamit ke ibu kost lebih dulu dan masuk ke dalam mobil.
Mama tak lupa pamit juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu kost, kulambaikan tangan sembari masuk ke dalam mobil.
Mobil meninggalkan kawasan kost hingga tak terlihat lagi, "Baik, ya, Ibunya?" tanya Abang melihat ke arahku.
Ogah banget aku balik ke sana, dikira kampus punya aku sendiri kali, ya? Sampe gak boleh telat pulang sedikit pun?" omelku mengeluarkan uneg-uneg.
Suara gelak tawa menggelegar, Abang dan Mama spontan langsung tertawa mendengar ucapanku sedangkan aku mencebik kesal.
"Jadi, kau tak pulang ke kost, dong? Emangnya kuliah sampe malam?"
"Sore, Bang. Setiap anak kost yang mau keluar harus buat jam berapa dia pulang, nah, aku malah buat jam pulangnya pas-pasan gak dilebihi.
Aku di suruh nyapu halaman kost sama dia, baru dikasih masuk habis itu gak dikasih izin buat lama datang lagi. Kalo enggak, aku di usir dari situ," sambungku menceritakan pengalaman buruk plus bahagia juga.
"Tapi, bagus, lho. Dia ngajarin kau tuh biar disiplin."
"Lah, orang aku disiplin juga. Namanya juga tugas dadakan, mana kita tau. Salahkan aja dosen-ku itu yang seenak jidat ngasih kelas tambahan," gerutuku sebal.
Mama hanya menggelengkan kepala sedangkan aku bersedekap dada sambil melihat ke arah samping.
"Jadi, kamu mau ngapain setelah lulus?" tanya Mama membuka topik yang cukup serius.
__ADS_1
Aku membuka tangan dan menatap ke arah depan, "Daisha mungkin akan buka toko juga, Ma. Tapi, Daisha mau kerja dulu buat nyari modalnya," ungkapku memberi tahu soal masa depan yang sudah kupikirkan dari jauh-jauh hari.
"Toko apa?"
"Ya ... mungkin butik, Ma."
"Kenapa gak teruskan usaha Papa?" potong Abang.
"Itu, 'kan buat Abang. Biar aku punya usaha sendiri di bidang aku."
"Mama jadi kepikiran sesuatu, deh," tutur Mama membuat alisku tertaut.
"Apa, Ma?" tanya kami serempak.
"Mama mau berhenti ngajar dan jadi ibu kost aja, kalian tolong carikan kawasan yang cocok untuk dibangun kost-kost-an, ya."
"Ha?" Kembali aku dan Abang kaget dengan serempak.
"Ya, kenapa? Ngapain juga Mama lagi jadi guru, 'kan anak-anak Mama udah kelar semua sekolahnya.
Mending Mama jadi ibu kost aja, bisa tenang-tenang di rumah gak perlu kerja dan ngurus-ngurus nilai anak-anak lagi."
Kami terdiam dengan keinginan Mama, ya, memang benar sih. Buat apa lagi Mama kerja, apa yang diinginkan sudah di dapatkan.
Lebih baik, menikmati hari tua dengan canda tawa dari seorang cucu, mungkin? Ya ... cucu!
"Bener, sih, Ma. Lebih baik di rumah sambil main sama cucu, ya, 'kan Ma?" usulku melirik ke arah Abang dengan tersenyum.
"Kenapa kau liat ke arah Abang?" tanyanya dengan sensi.
"Dih, biasa aja kali. Kayak cewek yang sedang PMS aja Abang!" tuturku sambil tertawa.
"Nah! Itu juga usul yang bagus," timpal Mama melihat ke arahku sebentar lalu menatap ke arah Abang.
"Hadeuh ... terserah Mama dan Ana deh," jawab Abang dengan pasrah.
Kami kembali tertawa melihat Abang yang tertekan, tanpa sadar akhirnya sudah sampai di rumah.
Aku sudah sangat lama tidak pulang ke rumah, terakhir hanya sampai malam ke tiga Papa saja. Senyuman tertampil di wajahku saat melihat semakin banyak tanaman bunga yang menghiasi halaman.
"Cantik, 'kan?" papar Mama memegang bahuku.
__ADS_1
"Iya, Ma. Kayak Ana!" jawabku melirik ke arah Mama sebentar.
"Dih, kamu itu! Pede banget!" protes Mama mendorong bahuku pelan dan pergi meninggalkan aku masuk ke dalam rumah.