
"Woy, Ayu!" teriakku pada Ayudia.
"Eh, mana mobil lu?"
"Gak ada."
"Dih, kok bisa gak ada? Ini ... kenapa lu bahagia banget?"
"Gue berhenti, oh, ya, gue mau bilang. Gue juga mau pindah kuliah," ucapku memberi tahu dengan bahagia.
"Apa? Lu gak lagi becanda, 'kan?"
"Ya, enggaklah! Ngapain juga gue becanda?"
Tak lama dari pulang Rendi kemarin, Abang dan Papa pun sampai di rumah. Abang tetap masih marah padaku soal kejadian tempo hari.
Aku tak masalah sama sekali, tapi aku tak akan mau pergi dari rumah lagi bagaimana pun keadaannya.
Aku tetap anak Papa dan Mama dan dia tidak ada hak untuk mengusir diriku, akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah kembali.
Bukan untuk kembali bekerja pada orang lain, melainkan pada nenek sendiri. Kebetulan nenek dari Mama memerlukan karyawati untuk toko kelontongnya.
Lumayanlah, aku bisa sekalian menjaga beliau karena ia tinggal hanya sendirian. Tak jauh dari rumahnya juga ada kampus.
Meskipun, sedikit beresiko keluar dari kampus di semester 6 saat ini. Namun, keputusanku sudah bulat dan Mama juga mengizinkan.
Tak ingin jika nanti harus bertemu dengan Pak Raditya kembali, aku ingin bebas dari permasalahan orang-orang yang tak kukenal.
"Jadi, ini definisinya sebenarnya adalah menjauh dari Pak Raditya, dong?"
"Ya, terserah. Dari siapa aja gak masalah, yang penting aku jauh dari sini. Bayangin aja, lu mau ngarep nilai yang bagus gimana sedangkan mantan bininya adalah dosen lu sendiri?
Yang ada, nilai gue anjlok semua ntar dia buat sebab dia dendam sama gue yang baik hati ini."
"Lu kok belum apa-apa udah suudzon, sih? Bisa jadi enggak, 'kan? Bisa aja dia itu profesional, gak mencampur aduk antara pribadi dan kampus."
"Heleh, gak yakin gue kalo dia bisa kayak gitu. Udahlah, keputusan gue udah bulat pengen tinggal sama nenek aja.
Lagian, beliau juga bahagia pas tau gue akan pindah ke tempat dia."
"Lu mau pindah ke mana?" celetuk seseorang yang membuat kami berdua menatap ke arah suara.
__ADS_1
"Eh, Rendi?" tanyaku tersenyum melihat siapa yang ada di depanku.
"Lah, ini siapa?" tanya Ayudia menunjuk ke arah Rendi dengan wajah bingung.
"Oh, ini Rendi. Rendi, ini Ayudia. Dia temen dekat gue," ucapku memperkenalkan mereka sambil berdiri diikuti oleh Ayudia.
Rendi mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Ayudia, Ayudia tersenyum ramah kepada Rendi.
"Cie ... kalian cocok tau!" ejekku dengan menyenggol bahu Ayudia.
Mereka langsung melepaskan tautan tangan yang dari tadi sama sekali belum di lepas.
"Hahaha, gak perlu salting begitu Rendi!" godaku kembali pada mereka.
"Eh, balik ke topik. Lu mau pindah ke mana?"
"Mau ke tempat nenek gue, gue juga mau pindah kuliah di sana aja deh."
"Ada masalah apa? Atau ... gara-gara yang kemaren, ya?"
"Enggak, kok. Emang gue mau aja, bosen soalnya kuliah di sini."
"Jadi, nyerah dong buat ngerebut tuh duda?"
"Lah, 'kan kemarin terobsesi sama Bapak duda itu. Kalo pergi artinya udah gak mau lagi sama dia, dong?"
"Udah, deh. Makin ngelantur lu! Mending gue pergi aja." Kupakai tote bag dan pergi meninggalkan mereka berdua di bangku taman kampus.
Kartu handphone sengaja kuganti karena mengingat aku juga akan pergi dari kota ini, orang-orang yang penting sudah kuberi tahu nomor handphone baruku. Kecuali Pak Raditya.
Dari pagi, Clara tak terlihat oleh mataku. Aneh saja, bukankah dia dosen baru? Seharusnya bisa lebih tepat waktu dalam datang ke kampus.
Dengan cepat kugelengkan kepala, aku tak punya hak mengurusi mereka. Ngapain juga harus kupikirkan ke mana dirinya.
Masuk ke dalam kantin dan memilih untuk memakan bakso, "Enak beut baksonya, ya, ampun!" seruku bahagia seakan tak pernah makan bakso.
"Woy, Ana!" pekik Ayudia yang baru masuk ke dalam kantin dengan wajah kesalnya.
"Ada apa?" tanyaku sambil mengunyah baksonya.
"Bisa-bisanya gue ditinggal sendirian sama tuh cowok aneh!"
__ADS_1
"Lah, dia aneh darimana?"
"Apaan, masa tadi dia nembak gue gitu aja. Kenal juga kagak."
"Ha?" tanyaku kaget. Tak lama, gelak tawaku memenuhi ruangan ini dan bersamaan dengan merahnya wajah Ayudia.
"Dia itu terpanah oleh kecantikan dirimu, hingga dia memberanikan diri mengungkapkannya. Kalo kata orang-orang, apa, ya. Oh ... jatuh cinta pandangan pertama!" seruku yang malah lebih bahagia dibanding Ayudia.
"Diam deh lu, ngapain juga punya temen modelan ke gitu!"
"Lah, dia baik lo. Dia bantuin gue kemarin, padahal bisa aja dia gue kibuli atau jahatin. Secara, zaman sekarang bukan cuma cowok doang yang bisa melakukan tindakan kriminal tapi cewek juga."
"Udah, ah! Gak usah bahas dia lagi, trauma dah gue kenal sama orang baru. Takut, tiba-tiba ntar di tembak tanpa aba-aba kek dia tadi."
Aku tertawa mendengar kalimat dari Ayudia, entah memang itu kenyataannya atau bukan. Hanya saja, lucu rasanya mendengar Rendi menembak Ayudia padahal mereka tak saling kenal.
"Oh, iya, lu yakin mau ninggalin kota ini? Gimana dengan Daisha?" Pertanyaan dari Ayudia yang membuat aku terdiam sejenak.
Kulirik ke arahnya dengan senyuman yang tertampil pada raut wajahnya itu, "Dia pasti bahagia, kok. Kan, sekarang udah ada Mami kandungnya.
Gue gak bisa ada di tengah-tengah mereka, takutnya malah membuat jarak antara anak kandung dan ibunya semakin renggang."
"Iya, juga, sih. Tapi, apa lu gak kangen nanti sama dia? Ya, temui dialah seengganya buat salam perpisahan. Belum tentu juga di waktu dekat lu akan balik lagi."
Kuletakkan sendok di mangkuk dan menatap ke arah Ayudia dengan serius, "Apa setelah lu dipermalukan oleh orang-orang lu akan mau bertemu dengan orang itu lagi?
Seharusnya kalau mereka emang merasa dan punya rasa salah, mereka ketemui gue dan minta maaf.
Tapi, ini sama sekali gak ada. Buat apa juga gue harus ketemu sama mereka, gak ada untungnya sama gue.
Masalah Daisha, gue pasti rindu sama dia. Tapi, gak harus buat ketemu sama dia. Dia juga akan bahagia, kok, karena udah ada Mami aslinya."
"Hmm ... yaudah kalau emang itu keputusan lu, semoga itu adalah jalan yang tepat."
"Aamiin. Dah, lu gak makan?"
"Weh ... makan, dong! Lu yang traktir, 'kan?"
"Aman!"
"Widih ... Buk bakso satu!" pesan Ayudia dengan teriak. Aku hanya tertawa melihat tingkah wanita tersebut.
__ADS_1
Ia pergi menjemput baksonya sedangkan aku terdiam merenung kalimat Ayudia barusan, bagaimana pun aku tak bisa mengelak.
Diri ini benar rindu pada Daisha, tapi tak mungkin aku bertemu dengan dirinya di kondisi yang seperti sekarang.