(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Kado Pernikahan


__ADS_3

(MAAF, GUYS! DI BAB 113 TADI ADA KESALAHAN DI PART TERAKHIR. TETIBA KEYBOARD AUTHOR NGE-LAG DAN MALAH DIALOG DI BAB YANG LALU KETIMPA DI SITU. HIKS ... MAAF, BUAT BINGUNG, YA.:V)


***


Aku membawa Daisha yang sudah memegang mukena miliknya ke dalam kamar kami, masuk ke dalam kamar dan bertepatan dengan Mas Raditya keluar dari kamar mandi.


"Sayang, kamu duluan wudu atau Mami?"


"Daisha aja deh Mi, tunggu ya!"


Daisha masuk ke dalam kamar mandi begitu saja dengan meletakkan mukena di ranjang. Mas Raditya melihat Daisha hingga anak tersebut masuk ke dalam kamar mandi.


"Kenapa dia? Kok kayak gitu mukanya?"


"Gak tau Mas, tadi pas aku datang ke kamar dia. Ade langsung buru-buru turun dari ranjang dia dan kek langsung nyelesaikan pembicaraan.


Aku juga gak tau mereka ngobrol apa, nanti mau aku tanya deh sama Daisha langsung. Keknya dia rada gak suka juga sama Ade."


"Atau ... langsung kita pecat aja, ya?"


"Jangan Mas, kita gak tau motif dia masuk ke rumah ini buat apa. Aku yakin di disuruh oleh seseorang dan kita liat dulu siapa orangnya."


Mas Raditya mengangguk, "Yaudah kalau gitu, semoga ini cuma dugaan kita doang, ya."


"Semoga," kataku menatap lurus ke depan.


Kami menunaikan ibadah bersama dengan khusyuk hingga ke rakaat terakhir, tak lupa mengecup tangan Mas Raditya juga Daisha.


Kuusap kepala Daisha dan menatap dirinya, "Daisha belajar ngaji, ya?"


"Di mana Mi?"


"Nanti, Mami suruh orang datang ke sini buat ngajar Daisha."


"Yee ... Daisha juga mau ikut les MTK dan Bahasa Inggris dong Mi."


"Boleh, eh, kok banyak banget, sih?"


"Ya, satu aja deh yang pas pulangnya sama-sama kayak Mami pulang dan Papi."


"Lah, emangnya kenapa mau pulang ke rumah pas ada Mami dan Papi? Di sini, 'kan ada Mbak Ade yang akan jaga Daisha."


"Daisha gak mau dijaga sama dia Mi," ujar Daisha dengan mata yang berembun membuat aku seketika panik dan menatap ke arah Mas Raditya cepat.

__ADS_1


"Ehem! Permisi Buk, Pak," celetuk seseorang yang ada di depan pintu kamar membuat kami akhirnya mengalihkan pandangan ke arah ... Ade.


"Iya, De. Ada apa?" tanya Mas Raditya menatap Ade.


"Di depan ada orang yang nyariin," ujarnya dengan tersenyum. Memang, kamar sengaja tak kami kunci agar mereka tahu bahwa kami sedang salat sehingga tak perlu harus memanggil jika ada seseorang yang datang ingin bertemu.


"Oh, baik. Terima kasih." Mas Raditya langsung bergegas ke luar dengan membuka sarungnya.


Sedangkan aku ikut juga menemani Mas Raditya menemui tamu, hingga lupa membawa Daisha yang masih membuka mukena.


Ade masuk ke dalam kamar dan berjongkok mendekat ke arah Daisha, "Jangan sampai berani ngasih tau apa pun ke Mami juga Papimu itu, atau ... kau mau kubuat tidak pernah bertemu dengan mereka lagi, hm?" ancam Ade pada Daisha.


Sedangkan Daisha menunduk dengan ketakutan, ia mendongak menatap wajah Ade yang sudah berubah bak seorang penjahat.


"Kenapa Mbak Ade jahatin kami? Emangnya kami salah apa?"


"Kalian emang gak salah apa-apa, tapi yang salah itu Mami kamu! Dia udah buat seseorang menderita hingga meninggal!"


"Enggak! Mami aku orang baik yang jahat itu Mbak Ade! Mami gak pernah buat jahat sama siapapun!" pekik Daisha mendorong Ade yang ada di hadapannya membuat wanita itu terjatuh.


Ditatapnya dengan nyalang dan tangan yang mengepal kuat menatap Daisha di depannya sekarang.


"Sayang, ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanyaku dengan berlari kembali ke kamar sebab melihat Daisha tak kunjung keluar.


Kutautkan alis melihat ada yang berbeda dari wajahnya, kutatap Daisha memegang bahu bocah di depanku.


"Sayang, kamu kenapa?" tanyaku lembut padanya, "gak biasanya kamu teriak-teriak kayak gini, lho."


Daisha menatap ke atas sedangkan aku tetap melihat ke arahnya, persekian detik dirinya kembali menatap ke arahku.


"Ayo keluar Mi!" ajak Daisha membuatku menatap ke arah Ade.


"Yaudah, yuk!" Kami akhirnya pergi bersama-sama keluar dari kamar.


"Jangan tinggalin Daisha lagi, ya, Mami."


"Iya, Sayang. Maaf, ya."


"Iya, Mi. Gak papa, kok."


Kami akhirnya duduk di sofa ruang utama dengan seseorang yang sudah berbicara dari tadi sama Mas Raditya.


"Jadi, Sayang. Kenalin, ini Pak Broto yang akan mengurus hak waris rumah kita," jelas Mas Raditya membuatku sedikit kaget.

__ADS_1


"Hak waris? Cepat banget diurusnya, emangnya Mas mau ke mana?"


"Ya, gak papa dong biar semuanya beres."


"Baik, ini suratnya coba Ibu dan Bapak baca terlebih dahulu," katanya menyerahkan berkas yang telah dibuatnya.


Kuambil dan baca terlebih dahulu, "Lah, kenapa rumah ini atas nama aku Mas?"


"Iya, aku kasih rumah ini buat kamu Sayang. Sebagai kado pernikahan kita."


"Gak perlu Mas, gak usah," tolakku merasa tidak enak.


"Gak papa, jadi jika terjadi suatu saat yang membuat rumah tangga kita kenapa-kenapa kamu gak perlu angkat kaki dari rumah ini.


Tapi, aku yang angkat kaki. Biar kamu tetap di sini bersama anak-anak kita nanti, anggap aja itu sebagai hadiah atas apa yang telah kamu lakukan selama menjadi istriku."


"Apaan, sih! Gak akan terjadi sesuatu apa pun pada pernikahan kita, mending aku gak usah dapat rumah ini kalau emang harus terjadi sesuatu sama rumah tangga kita!" terangku dengan ketus.


"Hahah, udah-udah. Kamu tanda tangan dulu, biar urusan Pak Broto segera selesai."


Kutatap Pak Broto yang menampilkan senyuman ramah, "Jarang banget ada suami yang mau ngasih rumahnya sama istrinya, lho, Buk. Apalagi untuk rumah yang terbilang lumayan besar harganya.


Biasanya rumah itu akan atas nama dua orang, dia dan istrinya atau malah dia sendiri. Sangat jarang ada yang ngasih rumahnya untuk istrinya gitu," kata Pak Broto membuat aku tersanjung merasa spesial.


"Halo, Buk. Di rumah ada orang yang mengurus warisan Pak Raditya, dia baru saja ngasih tau kalau rumah ini akan diberikan pada Buk Ana."


"Apa?"


"Iya, Buk. Katanya itu adalah kado pernikahan dari Pak Raditya buat dia."


"Apa laki-laki itu tidak tau, ya? Bahwa anak saya yang menemani dia waktu susah hingga punya rumah seperti sekarang, seharusnya anak saya yang mendapatkan semuanya. Bukan malah wanita yang gak tau diri itu!"


Seseorang tanpa sepengetahuan Ana serta lainnya sedang menguping pembicaraan mereka dan melaporkan hal itu ke orang yang ada di sebrangnya.


"Yaudah, kamu awasi gerak-gerik Ana! Jangan sampai lengah dan ingat bahwa target kita hanya Ana.


Kamu jangan sampai melukai cucu saya atau malah suka dengan Raditya, menantu saya. Bagaimana pun dia adalah suami anak saya! Ingat itu!" terang seseorang di sebrang dengan tegas.


"Baik Buk."


Klik!


Panggilan di akhiri oleh seseorang dari sebrang lebih dulu, Ade menatap ke depan di mana mereka sedang tertawa penuh kebahagiaan juga kehangatan.

__ADS_1


"Ck! Anaknya? Anaknya yang di dalam tanah itu? Aku akan merebut Pak Raditya dari siapapun juga, termasuk dari anaknya yang sudah di dalam tanah itu," papar Ade dengan menyeringai.


__ADS_2