
Aku mengangguk-ngangguk sambil mengalihkan pandangan.
''Kau gimana? Masih khawatir pada saya?'' Pertanyaan yang diucapkan Pak Raditya membuatmu menoleh ke arahnya.
''Siapa yang khawatir juga sama Bapak? Geer bangat, sih!'' ketusku mengalihkan panndangan secepat mungkin.
''Oh ... jadi, saya yang geer, nih?''
''Ya ... iya!'' Kulihat ke arahnya.
''Udah, deh. Saya dengar, kok, apa yang tadi Tante dan Abang kau ucakan. Jadi, kenapa? Kenapa, kau bisa khawatir denganku Azal?''
Kulirik ke arahnya sekilas, ia menopang dagu dan menatap ke arahku. Aku langsung menaikkan alis sebelah bingung dengan apa yang ia lihat.
"Bapak liat apaan, sih?"
"Kau masih tidak mau ngaku kalau khawatir padaku?"
"Ya ... saya kira Bapak marah karena saya tinggal dan omongan saya tadi, karena Bapak gak ada pamit sama siapapun.
Bahkan, Mama malah ngira kalo Bapak kesasar lagi. Padahal, rumah Bapak juga ada di kota ini. Untung aja saya hak percaya."
"Terus, kenapa gak hubungi saya?"
"Mmm ... gak kepikiran sampai situ."
Pak Raditya kembali duduk dengan tegap dan menghela napasnya, ia tersenyum ke arahku dengan tangan yang saling tertaut.
"Saya emang belum tau gimana rasanya ditinggal selamanya oleh orang tua, ya, kau benar bahwa masa lalu saya bisa kembali.
Tapi, tetap saya rasanya beda dan perasaan saya waktu ditinggal pertama kali juga hancur banget. Sama, kayak yang kamu rasakan ini.
Seolah kehidupan saya berhenti ditinggal oleh orang yang saya cintai apalagi dia meninggalkan saya dengan seorang anak.
Saya yang belum tau apa-apa soal bayi, mengurus rumah dan lainnya harus dipaksa untuk bisa bangkit demi anak saya.
Bukan mudah, apalagi saya juga harus bekerja. Akan tetapi, saya ingat satu hal bahwa takdir tidak selamanya akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan."
"Iya, Pak. Saya akan coba untuk kembali bangkit demi orang-orang yang ada di sekitar saya."
"Nah, gitu. Yaudah, yuk, tidur!" ajak Pak Raditya yang sudah bersiap-siap akan bangkit.
"Ha?" tanyaku kaget dengan ajakannya.
"Apa?" Pak Raditya berhenti ingin bangkit dan langsung menatap ke arahku.
"Bapak ngajak saya tidur bareng?" Pertanyaan polos itu keluar dari bibirku dengan mata mengerjap tidak percaya.
"Ih ... apaan, sih, Pak!" ketusku saat Pak Raditya malah menyapu wajahku menggunakan tangannya.
__ADS_1
"Biar kau sadar, kenapa? Udah kebelet, ya, mau sama duren kayak, saya?" godanya menaik-turunkan alisnya.
"Dih, duren-duren. Bapak mah buah sirsak yang kemasakan," ejekku bangkit lebih dulu dan meninggalkannya.
Baru beberapa langkah menjauh, aku kembali melihat ke arah belakang dan mengejek ke arahnya.
Kupukul kepalaku pelan dan melangkah masuk ke dalam kamar tidak lupa menguncinya, Mama dan Daisha sudah tertidur pulas di atas ranjang.
"Bego-bego, lu ngomong apaan, sih, Ana? Kok bisa-bisanya lu ngomong kayak gitu di depan dia? Kontrol sedikit dong diri lu itu," gumamku mencaci diri sendiri.
"Mami, Mami kenapa? Kepala Mami sakit, ya?" tanya Daisha yang terbangun dengan suara serak.
"Eh, gak papa, kok, Sayang. Kamu kenapa bangun?" tanyaku pelan dan naik ke atas ranjang.
"Kebangun Mi."
"Emangnya mimpi apaan sampe bisa kebangun?"
"Bukan mimpi, tapi denger suara pintunya tadi kebuka."
"Oh ... maafin, Mami, ya."
"Iya, gak papa, kok, Mi."
"Yaudah, yuk, kita tidur lagi," ajakku dan mendekap Daisha di dalam pelukan.
Suara riuh di depan membuat aku terjaga, tanganku terasa keram karena ternyata Daisha masih menjadikan tanganku sebagai bantal sampai pagi ini.
Ini adalah hari kedua Papa, masih ada satu hari lagi sedangkan dua hari lagi acara Daisha akan dimulai.
Padahal, dia belum kembali latihan. Kepalaku langsung pusing mengatur jadwal-nya, tidak mungkin juga Daisha mau pulang jika tidak denganku.
Juga, tidak mungkin aku pergi padahal belum sampai tiga hari kepergian Papa. Suara languhan mengalihkan pikiranku.
Daisha mengerjapkan matanya dan kusambut dengan senyuman, "Good morning Girl," sapaku hangat.
"Hehe, good morning Mami." Ia mengangkat kepalanya dan mencium pipiku membuat aku terkekeh.
Sebelum keluar, kumandikan lebih dulu Daisha dan tidak lupa aku pun sama. Berjalan ke luar dan melihat sudah ada makanan di lantai ruang tamu.
"Lah, kok malah makan di sini Ma?" tanyaku saat Mama menyusun kembali makanan.
"Biar rame, jangan di ruang makan mulu. Bosen Mama," kata Mama tersenyum.
Aku dan Daisha hanya berdiri menunggu yang lainnya, membantu juga rasanya sudah telat karena pasti masaknya sudah kelar.
"Yuk, makan!" ajak Abang dan duduk lebih dulu.
Kami akhirnya duduk dengan Daisha yang berada di dekatku, seolah seperti ibu dan anak yang tidak mau lepas.
__ADS_1
"Ini masakan Raditya, lho," jelas Abang dengan tersenyum menggoda ke arahku bersamaan dengan Pak Raditya yang datang membawa mangkuk berisi lodeh.
Aku hanya menanggapi dengan ber'oh' ria, mengambil nasi dan juga sayuran tidak lupa kembali mencuci tangan.
"Dih, kok sayurnya asin, sih?" keluhku merasakan kuah dari sayur yang dibawa Pak Raditya tadi.
"Hahahah, berarti si Raditya dah kebelet nikah lagi tuh. Apa, lagi, Ana? Gas dong!" seru Abang yang semangat dengan tertawa kuat.
Mama dan Pak Raditya yang mendengar hal itu langsung mengambil lodeh untuk menyicipinya, sedangkan Abang terus saja tertawa membuat aku menautkan alis.
"Atau ... Abang sengaja nambahkan garam ke masakan Pak Raditya, ya?" tanyaku menyelidikinya yang langsung terdiam.
"Dih, m-mana ada!" elaknya dengan wajah salah tingkah.
"Perasaan tadi gak asin, iya, 'kan Tante?" tanya Pak Raditya pada Mama yang mungkin ia tunjuk sebagai perasa.
"Dikta! Kamu pasti, ya?" tebak Mama menatap ke arah Abang.
"Hehe, biar kodein si Ana itu Ma," jawab Abang cengar-cengir sembari menggaruk tengkuknya.
"Hihi, biir kidiin si ini iti Mi," ejekku meniru ucapannya, "sayang sayurannya, Ogeb!"
Terpaksa, nasi yang tadi tidak jadi kumakan karena kuah lodeh kusiram ke semua nasiku tadi. Lodeh terpaksa di singkirkan akibat ulah Abang.
"Assalamualaikum!" salam seseorang yang masuk begitu saja ke dalam rumah yang kebetulan memang tidak di kunci.
"Waalaikumsalam," sahut kami bersama.
"Widih, pas banget, nih! Emang, ya, rezeki anak sholehah itu beneran ada aja," tutur Ayudia yang datang entah dari mana.
"Dih, si paling sholehah," imbuhku menjereng ke arahnya.
"Sirik ae lu!" ketusnya yang malah lebih galak dibanding aku.
"Tante, Ayu ikutan makan, ya!" sambungnya meminta izin padahal nasi dan lauk-pauk sudah penuh di atas piringnya.
"Lu sama siapa ke sini?" tanyaku tak melihat sepeda motor.
"Ntuh, sama dedemit," jawab Ayudia menunjuk ke luar.
"Assalamualaikum," salam seseorang dan langsung menjadi pusat perhatian kami semua.
"Waalaikumsalam."
"Ana?!" pekiknya dengan mulut terbuka menatap ke arahku.
"Dih, buset! Kenapa nih orang berubah jadi kek banci, ya?" gumamku yang malah ilfel.
"Nah, 'kan. Lu aja yang baru ketemu lagi sama dia langsung jijik, apalagi gue," timpal Ayudia dengan mulut yang mengunyah ... lodeh?
__ADS_1
Eh, kenapa dia malah gak keasinan sama sayur lodeh yang sudah kami asingkan itu?