
Kami akhirnya sarapan dengan beramai-ramai, sayur lodeh tadi habis dibuat oleh Ayudian dan Rendi.
Kami hanya diam tanpa memberi tahu bahwa itu tadinya asin, Pak Raditya pamit ingin pergi ke tempat kerjanya sedangkan Abang dan Mama memilih untuk ke pasar.
Rendi izin pamit karena ada kelas hari ini, hanya tinggal kami bertiga. Aku memilih ke belakang untuk mencuci baju sedangkan Daisha duduk bersama dengan Ayudia melihatiku.
"Jadi, gimana? Lu udah ngajuin skripsi?"
"Udah, semoga aja segera di acc."
"Aamiin."
"Lu kenapa gak balik kuliah di sini aja, sih? Lagian, sok-sokan malah pindah kuliah padahal udah mau lulus."
"Ya, gak papa deh. Nambah pengalaman juga."
"Kapan mau pulang?"
"Ye, besok mungkin selesai tahlilan. Soalnya, Daisha ada kegiatan juga dua hari lagi dan aku belum ngasih skripsi ke dosen."
"Oh ... jadi, ini anak Pak Raditya itu?"
"Iya," kataku dan duduk menatap ke arah mereka berdua setelah memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci.
"Cantik, ya," puji Ayudia menatap Daisha dengan tersenyum.
"Terima kasih, Tante. Tante juga cantik," balas Daisha.
"Ih ... gemesin banget, jadi pengen karungin bapaknya," celetuk Ayudia yang membuatku membulatkan mata.
"Heh! Lu ngadi-ngadi deh ngomongnya!" tegurku yang takut jika Daisha malah mengadu pada Papinya nanti.
"Haha, gak bisa Tante. Soalnya, Papi udah punya Mami," jawab Daisha yang membuat kami berdua semakin terkejut.
Aku langsung bangkit dan membawa Daisha, "Sayang, kamu nonton aja, ya. Mami soalnya mau beres-beres dapur, nanti kamu kena debu," paparku membawa dia ke ruang tamu dan menghidupkan televisi siaran anak-anak.
"Oke, Mi." Daisha duduk di sofa dan kutinggalkan dengan siaran kartun, tidak lupa mengunci pintu takut jika Daisha pergi ke luar rumah tanpa sepengetahuanku.
Berjalan kembali ke dapur karena pekerjaan masih belum selesai, tawa Ayudia langsung menyambut kedatanganku.
__ADS_1
"Cie ... udah punya Mami," ejeknya.
"Apaan, sih, lu? Dia masih kecil, ya, mana paham sama apa yang dia ucapkan," kataku menaikkan baju pergelangan tangan karena berniat mencuci piring.
"Buset, dah! Lu ke sini niatnya emang bener mau numpang sarapan tok? Apa, kek, bantuin gue nyuci piring!" sambungku yang mulai emosi melihat tawa Ayudia tidak kunjung berhenti.
"Dih, iya-iya, gue bantuin deh!" jelasnya bangkit dari duduk dan berjalan ke sampingku.
"Nah, gini, dong!"
"Eh, tapi serius? Lu sama dia gak ada perasaan apa-apa? Masa, sih, gak ada? Secara, kalian tinggal di atap yang sama."
"Ya, emangnya cuma kita bertiga doang? Enggak, kali. Ada juga pembantu yang lainnya di rumah itu."
"Intinya, ada atau enggak? Itu yang gue tanya!"
"Dih, kepo amat dah lu."
"Ya ... secara, perlakuan dan tatapan dia ke elu itu beda, tau!"
"Oh ... sekarang lu jadi pakar begituan? Pakar tentang tatapan dan perlakuan, ha?" tanyaku dengan tangan di pinggang.
"Terus, gue? Gue ada juga, gak, perasaan yang beda sama dia, ha? Wahai Nyai Pakar," ucapku menatap ke arahnya agar bisa ia terawang sekalian ke masa depan sana.
"Hm. Ada, dong. Malah, lu lebih besar dari pada dia," ujarnya sambil mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan jari telunjuk.
Aku terdiam mendengar penuturan Ayudia, ya, mungkin saja apa yang dia katakan itu benar.
"Nah, lu diam. Artinya, ucapan gue bener, 'kan?" pikirnya membuat aku kembali menatap ke arahnya.
"Dih, sotoy bener lu. Gue diem karena memikirkan, lu cocoknya dibawa ke psikiater yang mana," protesku dan kembali mencuci piring bekas sarapan tadi.
Ayudia hanya komat-kamit seolah tidak terima dengan apa yang aku katakan tadi, sedangkan aku hanya diam memikirkan apa yang dikatakan oleh Ayudia.
"Ingat, carilah seseorang yang cintanya lebih besar ke kamu daripada cinta kamu ke dia. Karena apa? Karena jika kamu dapat seseorang yang besar rasa cintanya ke kamu.
Dia akan menerima kamu apa adanya dan gak mudah berpaling apalagi pergi, karena dia tau kalau mendapatkan kamu itu gak mudah."
Entah angin apa, Ayudia bisa berucap seperti itu. Aku sampai terdiam mendengar kata-katanya barusan.
__ADS_1
Piring telah tersusun rapi di tempatnya, Ayudia juga membantu aku mencuci bahkan menjemur pakaian.
"Kata orang, ya, masa lalu gak akan pernah kalah. Apakah, itu benar menurutmu?" tanyaku sambil memeras baju karena kebetulan pengeringnya rusak.
"Laki-laki tidak akan pernah lupa dengan cinta pertamanya, tapi dia bisa lupa dengan rasa cintanya itu.
Tergantung, kalau rasanya itu ia lupa pasti dirinya akan bisa membuat orang yang di masa lalu kalah dengan yang sekarang.
Namun, jika rasanya masih dirinya ingat apalagi dia masih sering komunikasi juga bertemu, ya, orang baru lebih baik mundur karena dirinya tidak akan pernah masuk ke dalam hati orang itu."
Aku diam dan tersenyum sembari mengangguk, kenapa harus aku pikirkan hal ini? Seharusnya, aku cukup tahu diri saja.
"Jangan sampai terjadi untuk ke dua kali, lu salah menaruh perasaan pada seseorang dan jangan pula terjadi untuk yang ke dua kali. Kau salahkan orang lain atas perasaanmu itu.
Padahal, itu semua salah dirimu yang terlalu mudah berharap dan suka dengan orang lain tanpa melihat terlebih dahulu apakah dia beneran suka denganmu atau hanya sebatas iba saja."
"Tapi, seharusnya dia tidak memberi perhatian lebih agar seseorang tidak menaruh perasaan, dong!"
"Dia tidak memberi lebih, tapi kau yang terlalu lama sendiri dan kesepian. Hingga perhatian biasa kau anggap lebih."
"Jadi, semuanya salahku?"
"Ya, terlalu mudah jatuh cinta dan suka juga tidak baik."
"Jangan jatuh cinta sendirian, karena kau akan mendapatkan jatuhnya doang sedangkan cintanya enggak," sambung Ayudia kembali membuat aku semakin terdiam dengan nasihat yang dirinya beri.
"Beberapa hari yang lalu, si Buaya itu mencarimu. Kabar yang aku dengar, sih, dia udah putus sama tuh cewek entah karena apa.
Setelah aku kasih tau kalau kau sudah pindah, dia langsung minta dkasih tau alamat baru tapi gak aku kasih.
Dia, ada datang ke sini?" tanya Ayudia menatap ke arahku.
Kejadian beberapa bulan silam yang hampir merenggut nyawaku kini teringat kembali, saat yang bersamaan Pak Raditya datang entah dari mana menolong aku.
Mungkin, dari situ awal mula aku mulai menyukainya. Gagah, tegas, ganteng, kaya, baik dan sekarang malah ditambah bisa masak.
Siapa yang tidak mencintai dia, coba? Plus ... dia lebih berpengalaman daripada lajang-lajang yang terkadang masih mengandalkan uang orang tua.
"Nah-nah, senyum-senyum sendiri dia!" tegur Ayudia membuat aku tersadar dari mendeskripsikan seorang Raditya.
__ADS_1