
"Sayang, pokoknya pas di sekolah nanti harus fokus dan jangan lupa banyak makan, ya. Papi akan jemput Daisha, karena Mami harus jumpa dekan dulu.
Nanti, kalau emang urusan Mami cepat kelar. Mami sempetin buat datang ke sekolah, Daisha." Aku tengah memberi penjelasan pada Daisha sambil memakaikan tas padanya.
Kami berjalan bersama-sama ke arah mobil karena waktu sudah semakin mepet, akibat sampai ke rumah tengah malam.
Aku jadi sedikit susah tidur dan berakibat telatnya bangun, untung saja ada Pak Raditya yang mengetuk pintu kamar meskipun diwaktu jam 6 pagi.
"Iya, Mami. Daisha akan ingat, kok. Mami udah kasih tau Daisha tiga kali, lho," ucapnya sambil tersenyum.
"Ya ... mana tau nanti Daisha lupa, mangkanya Mami ingatkan balik," kataku dan membukakan pintu belakang untuk Daisha.
Setelah ia masuk ke dalam, kututup kembali pintunya dan berpindah ke depan. Pak Raditya sudah menunggu kami dari tadi.
"Udah?" tanyanya menatap ke arah Daisha dari kaca spion.
"Udah Pi!"
Aku langsung membuka tas dan men-cek skripsi berharap tidak ada yang perlu diperbaiki lagi tinggal di acc.
Tapi, ya, pasti itu tidak akan mungkin. Secara, aku saja jarang masuk dulu ke kampus. Setiap kali dosen telat sepuluh menit saja.
Aku sudah menghilang dari kelas dan berpindah ke mall, entah itu shopping, nonton bioskop atau ke salon.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Pak Raditya membuat aku menatap ke arah samping tepat di mana ia berada.
"Belum taulah Pak, 'kan belum saya kasih ke dekan," jawabku kembali menunduk.
"Semoga gak banyak revisi."
"Aamiin. Bukan gak banyak, Pak. Bahkan kalau bisa gak perlu ada revisi deh," harapku.
"Susah, sih."
"Lah, kenapa susah?"
"Ya ... terlihat dari cara kau belajar, kayaknya akan susah. Kau doang kayaknya mahasiswi yang seenak jidat pindah kampus padahal sudah semester terakhir."
"Ya, gimana, Pak. Namanya juga gak nyaman, buat apa bertahan di tempat yang buat kita gak nyaman, 'kan?" tanyaku melihat ke arahnya lalu membaca kembali.
"Gak nyaman, tapi pas dia datang kembali malah makin lengket aja tuh," sindirnya yang membuatku terdiam.
Aku tersenyum simpul dan menatap ke arah Pak Raditya, tidak ada niatan untuk menjawab ucapannya tadi.
"Kenapa?" tanya Pak Raditya dan menatap ke arahku.
__ADS_1
Kugelengkan kepala dan kembali menunduk agar tidak terjadi keributan di dalam mobil. Sekolah Daisha telah sampai, beberapa guru sudah menunggu kehadiran muridnya di luar gedung.
"Buk, saya titip Daisha, ya. Kalau mereka sudah pulang tolong hubungi aja saya," kataku.
"Mmm ... bukannya Ibu kuliah? Gimana kalau nomor Papinya aja?" tawar guru tersebut dengan senyuman yang entah apa maksudnya.
Kulirik ke arah Pak Raditya yang tengah berpamitan dengan Daisha, "Hehe, maaf Buk. Kalau buat Daisha saya gak akan pernah sibuk, kok.
Saya masih ada waktu nanti buat menghubungi Papinya, titip Daisha, ya, Buk. Dia baru sembuh soalnya," jelasku padanya.
"Hmm ... okey, Buk. Kami akan jaga dia," jawabnya dengan wajah masam.
Saat kulihat Pak Raditya sudah berjalan ingin masuk ke dalam mobil dan Daisha sudah masuk ke gedung sekolah.
Dengan cepat kuputuskan untuk pamit daripada semakin banyak pertanyaan nantinya yang diberikan guru Daisha padaku.
"Kenapa lagi gurunya?" tanya Pak Raditya begitu aku sampai di dalam mobil.
"Mau minta nomor Bapak," kataku menyandarkan kepala di kursi.
"Terus, kau kasih?" tanya Pak Raditya membuat aku melihat ke arahnya dengan kepala yang masih bersandar.
"Enggak," jawabku singkat.
Apa dia kira aku tidak memberi nomornya pada guru itu karena cemburu? Atau ... dia kira aku tidak suka ada wanita lain yang mau dekat dengan dia.
"Emangnya boleh Pak?" tanyaku memancing dirinya.
"Ya, boleh. Kenapa enggak? Atau jangan-jangan kau yang cembu--"
Belum sempat kalimatnya selesai, ia yang baru saja berniat ingin menghidupkan mesin mobil langsung berhenti karena kubuka pintu mobil dengan kasar.
"Bu, tunggu!" pekikku saat guru tadi akan masuk ke dalam kelas sebab sudah akan masuk.
"Iya, kenapa Bu?" tanyanya membuka gerbang kembali meskipun tidak terlalu lebar.
"Mana, sini nomor Ibu. Biar saya tuliskan nomor Pak Raditya," kataku menadahkan tangan meminta handphone-nya.
Guru Daisha terlihat riang dengan senyum yang seketika merekah, kulirik ke arah mobil Pak Raditya keluar dengan wajah sedatar mungkin.
Sedangkan aku, hanya menyunggingkan senyuman dan menaikkan sebelah alis. Bukankah ini maunya? Kenapa terlihat tidak bahagia?
Setelah selesai kuberikan nomor Pak Raditya, aku kembali berjalan masuk ke dalam mobil dengan Pak Raditya yang lebih dulu masuk ke dalamnya.
"Oke, Pak. Sudah saya beri ke orang yang tepat," ujarku memberi tahu meskipun wajahnya sudah berubah menjadi bete.
__ADS_1
"Terserah!" ketusnya dan langsung menjalankan mobil menjauh dari sekolah Daisha.
Aku menahan senyum bahkan menutup mulut kala tidak mampu menutupinya, lagian ini coba-coba membuat aku cemburu?
Dia salah orang, ngapain juga aku harus cemburu padanya. Sangat tidak ada kerjaan saja, sekarang malah dia yang ngambek soal itu.
"Terima kasih Pak," kataku saat sudah sampai di depan kampus.
Namun, jawaban tidak ada darinya. Aku hanya diam dan memilih untuk keluar dari mobil, mobilnya seketika langsung pergi begitu saja dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Melangkah ke dalam kampus sambil bersenandung, aku hanya terkekeh membayangkan guru Daisha menelpon tukang warteg.
Ya ... aku tidak memberikan nomor Pak Raditya, dong. Aku memberikan nomor tukang warteg langganan-ku dulu yang kebetulan bisa delivery.
Sengaja nomornya disimpan sebab masakan mereka sangat enak dan Mama saat itu sangat jarang sekali masak, ya, sebab sibuk tentunya.
"Pak, Bapak!" pekikku saat melihat dekan yang tengah ingin masuk ke dalam gedung.
"Eh, cara ketemu sama dekan masa teriak-teriak, sih? Astagfirullah lu Ana!" sambungku yang merasa salah dalam bersikap.
Karena jadwal pagi ini belum ada, aku sengaja ketemu sama dekan lebih dulu baru akan masuk ke kelas.
Ya ... syukur-syukur bisa ke kantin dulu setelahnya, aku perlu asupan makanan dan air nantinya ketika mendapatkan koreksi darinya.
"Bismillah," gumamku saat sudah diberi izin masuk ke dalam ruangannya.
Setengah jam, waktu yang sudah dipakai untuk melihat skripsiku. Meskipun aku masih merasa ia belum membaca dengan seksama.
Ada lima kertas yang ia suruh revisi kembali meskipun tidak terlalu banyak-banyak, ya, syukurlah.
Ting!
Suara notifikasi handphone membuat aku berhenti dan duduk terlebih dahulu di kursi koridor kampus.
"What?!" pekikku melihat notifikasi m-bangking. Uang sebesar sepuluh juta masuk ke dalam rekening.
"Dari siapa ini buset? Kok gak ada catatan-nya?" gumamku.
Seketika panggilan dari Pak Raditya terlihat, aku langsung menerima panggilan tersebut.
"Udah masuk, 'kan? Itu gaji kau buat bulan ini, Azal. Kalau begitu saya matikan dulu karena ada urusan!" katanya dan langsung mematikan panggilan.
"Aaaaa ... love you Durenku!" pekikku tanpa sadar membuat orang yang sedang berjalan di koridor ini melihat ke arahku dengan tatapan aneh.
Kubungkam langsung mulut saat menyadarinya dan menampilkan cengiran, aku langsung berlari ke kantin yang kuketahui untuk menghilangkan rasa malu.
__ADS_1