(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Ketiduran


__ADS_3

Bibirku terus saja manyong sudah melebihi bebek atau angsa, Daisha sedari tadi menampilkan wajah bersalah sedangkan Pak Raditya terkikik mendengar cerita pagi ini sembari menyetir.


"Jadi, Daisha ketiduran di dalam kamar mandi sedangkan kau panik Azal?" tanyanya kembali mengulang padahal sudah dari tadi aku cerita.


"Bapak ngapain nanya-nanya lagi, sih? Udah tau nanya lagi! Jangan buat mood orang anjlok dong!" ketusku kesal dengannya.


"Maafin Daisha, ya, Mami. Daisha ngantuk masih jadi ketiduran dan gak denger suara Mami," ucap Daisha kulihat dari kaca dengan air mata yang mengalir.


Kubuang napas kasar dengan bahu yang merosot ke bawah, siapa yang tidak kesal, coba? Aku sampai teriak-teriak dan panik karena tidak mendengar suara dia di kamar mandi.


Eh, dia malah asyik tidur di kamar mandi begitu saja. Marah? Bukan, aku sama sekali tidak bisa marah sama Daisha.


Hanya sebal saja karena pagi-pagi harus panik dibuat tingkahnya meskipun tidak 100% itu salah dia.


"Huft ... gak apa-apa, Sayang. Bukan salah kamu, kok. Salah ngantuknya," kataku tersenyum tipis.


Kami akhirnya sampai di sekolah Daisha, kelas-ku hari ini ada hanya saja siang sedangkan Daisha jam 8 sudah harus sampai di sekolah karena acaranya di mulai jam 9 pagi.


Itu acaranya mulai, kalau ia yang tampil aku tidak tahu jam berapa. Kami disambut dengan baik oleh guru Daisha.


"Ayo, Bu. Ikut saya biar temani Daisha ganti kostum," ujarnya dan kuangguki.


"Pak, saya ke sana, ya," pamitku sebelum membawa Daisha ke tempat yang ditunjukkan oleh guru Daisha.


Sesampainya di ruangan, sungguh ricuh bahkan ada yang menangis entah apa sebabnya. Mungkin, karena baru pertama kali naik pentas.


Mereka jadi takut atau bahkan tidak pede dengan orang-orang yang akan menatap mereka, "Daisha gak takut?" tanyaku yang duduk di kursi yang telah disediakan.


"Enggak, buat apa takut Mi? Kalo nanti ada apa-apa, 'kan ada Papi dan Mami yang lindungi Daisha.


Daisha juga udah latihan, kok. Kata, Mami 'kan usaha gak akan mengkhianati hasil. Jadi, pasti hasilnya nanti bagus!" kata Daisha dengan bijak.


Kuanggukkan kepala, tak lama perias yang di sewa oleh pihak sekolah datang sekalian membawa baju untuk Daisha.


Masalah bayaran perpisahan, aku sama sekali tidak tahu. Mungkin, pihak sekolah yang langsung berurusan dengan Pak Raditya.


Sembari menunggu Daisha berdandan, kubuka benda pipih yang memang sudah mulai jarang sekali kubuka.


[Cie ... anaknya udah mau lulus, nih, udah besar dong. Kapan Mami dikasih adek, Daisha-nya?] pesan dari siapa lagi kalau bukan Ayudia.


[Adek apaan? Adek boneka?]

__ADS_1


[Adek bayi dong Mami.]


[Kalo adeknya dibuat dari lu sama Rendi gak papa kali, ya?]


[Dih, amit-amit ya Allah. Lu kenapa ke dia mulu, sih? Seolah dunia ini gak ada cowok selain dia.]


[Ya, emang gak ada yang seperti dia, 'kan? Selama gue deket sama lu, belum ada tuh yang ngejer lu kek Rendi ngejer lu sekarang] kataku mengingatkan Ayudia.


[Ya, emang gak ada sih. Tapi, gak usah dia juga kali. Eh, btw gue mau liat Daisha dong, mana dia? Kita vc, ya, soalnya gue gak bisa datang ke sana.]


[Okey]


Tak lama, panggilan video call pun terhubung. Aku langsung mengarahkan kamera ke Daisha yang sedang di make-up oleh periasnya.


"Widih, pasti cakep banget dah tu bocil. Dia kayaknya yang cakep dibanding temen-temennya."


"Lu lagi di mana?" tanyaku mengerutkan kening merasa asing dengan tempat Ayudia.


"Kamar," jawabnya singkat.


"Lah, kok lain belakang kamar lu. Kayak gak asing gitu gue liatnya."


"Bukan, bukan di kamar lu. Tapi, di sini kayak gak asing gitu."


"Hadeuh ... ngigo keknya lu. Yaudah deh, ya, gue mau siap-siap ke kampus. Kirim salam aja sama Daisha maaf gak bisa datang ke acara lulusan dia.


Lu cepetan lulus juga, masa anak duluan yang lulus daripada Maminya."


"Heleh, lu aja belum lulus juga," gerutuku dan hanya ditanggapi dengan gelak tawa Ayudia.


Panggilan di akhiri karena dirinya ingin ke kampus, aku masih mencoba mengingat tempat yang ada di belakang Ayudia tadi.


"Kayaknya bukan di kamar dia, deh," gumamku mencoba kembali mengingat.


"Mami!" panggil Daisha yang sudah berdiri tepat di depanku dengan gaun yang ia kenakan.


"Wah ... Subhanallah cantik sekali anak Mami," kataku gemas hingga mencubit pipinya yang tembam itu.


"Hehe, makasih Mami."


"Sama-sama, Sayang. Oh, iya, Tante Ayudia tadi titip salam soalnya gak bisa datang ke sini lagi ada jadwal kampus," ungkapku memberi tahu salam Ayudia tadi.

__ADS_1


"Yah ... gak papa deh, Mi. Tante juga harus sekolah, 'kan kayak Mami? Biar pinter!"


"Iya, dong, Sayang. Tante juga harus sekolah biar pinter."


Suara MC yang membuka acara terdengar hingga ke dalam ruangan ini, tak lama datang seorang guru memberi tahu bahwa pendamping harus ke depan.


"Sayang, Mami tinggal, ya. Semangat, kamu pasti bisa!" kataku memberi semangat pada Daisha.


"Okey, Mami!" Daisha menunjukkan bulatan dengan menggunakan jarinya.


Aku tersenyum dan bangkit dari tempat duduk pamit keluar dari ruangan, ada kebahagiaan tersendiri melihat Daisha sudah selesai masa sekolahnya.


Meskipun tidak terlalu mudah sebab harus pindah sekolah dan beruntung ia tidak terlalu lama di sini karena yang aku liat dan dengar dari cerita Daisha.


Dirinya sama sekali tidak punya teman di sini selain guru yang baik padanya, meskipun aku tahu mereka baik pada Daisha karena sesuatu sebab.


Kuedarkan pandangan mencari keberadaan Pak Raditya, beruntung ia peka dengan langsung menaikkan tangannya.


Berjalan dengan sedikit kesusahan karena ramainya orang tua atau wali yang hadir di acara ini.


Kursi kosong yang memang sepertinya disediakan Pak Raditya untukku tepat di sampingnya.


"Pak, Daisha cantik banget. Nih, liat!" terangku menunjukkan foto yang tadi sempat kuminta tolong pada salah satu guru.


"Cantik. Dua-duanya," ungkap Pak Raditya membuat senyumku yang memang bahagia melihat Daisha langsung memudar.


"Lah, kenapa? Kan kalian cewek, ya, cantik. Masa, saya bilang ganteng," sambungnya saat melihat tatapanku yang sudah lain melihatnya.


Kuanggukkan kepala seolah meng-iyakan apa yang ia katakan tadi, memasukkan handphone kembali ke dalam tas.


"Bapak tau? Tadi saya vc sama Ayudia, tapi dia kayaknya gak di kamar apalagi di sana deh. Kayak ... di mana, ya?" jelasku melihat-lihat ruangan ini ke arah lain mencari sisi mana yang dipakai Ayudia tadi.


Mataku menyipit kala melihat seseorang yang memang pasti itu Ayudia, kulebarkan kembali saat merasa itu bahwa benar dirinya.


"Woy, Ayu!" pekikku sambil berdiri menunjuk ke arahnya.


Sontak saja aku yang refleks langsung jadi pusat perhatian orang-orang yang sudah hampir penuh di ruangan ini.


Kututup mulut dan cengengesan kayak orang aneh memilih kembali duduk, sedangkan Ayudia yang di sebrang tertawa puas melihatku menahan malu.


"Mangkanya jangan kebawa kebiasaan di habitat kalian,'' sindir Pak Raditya yang langsung kutatap dengan sinis.

__ADS_1


__ADS_2