(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Suami Orang


__ADS_3

"Widih, sama siapa lu tadi ke sini?" tanya Ayudia yang muncul entah dari mana sambil melihat ke belakang.


"Sama orang!" cetusku berjalan dengan cepat.


"Wey! Tunggu dulu, mau ngapain sih cepat-cepat banget jalannya?" keluh Ayudia mencoba mengikuti langkah kakiku.


"Lu liat Rian, gak?" tanyaku menatap ke arahnya dengan kaki terus melangkah mencari keberadaan laki-laki itu.


"Enggak, gue juga baru sampe soalnya. Emang ada apaan, sih?" Ayudia menatapku dengan menautkan alisnya bingung, aku tak menjawab dan langsung mengalihkan pandangan menatap jalan.


Kami masuk ke dalam kantin untuk mencari laki-laki itu, pantaskah aku buat marah padanya? Padahal, status di antara kami cuma sebagai teman atau bahkan hanya aku saja yang beranggapan bahwa dia temanku?


Pokoknya aku tidak mau tahu, mau dia tidak menganggap sekalipun aku harus tetap marah-marah ke dia untuk mengeluarkan kekesalanku padanya.


Brak ...!


Tepat dugaanku, dia sedang berada di kantin dan berduaan dengan cewek lain. Aku memukul mejanya membuat mereka berdua terkaget, bahkan mungkin bukan cuma mereka berdua tapi seisi kantin.


"Apaan sih lu Azaleana?" tanya Rian dengan suara yang meninggi sambil berdiri.


Aku terdiam, sangat malu rasanya jika sampai kubilang bahwa aku marah sebab melihat dia bermesraan dengan wanita lain.


Yang ada malah dia akan senang dan bahagia atau aku malah akan memalukan diri sendiri di hadapan orang ramai.


"Apaan, sih, lu? Lu siapa datang-datang kayak gitu?" marah wanitanya sambil mendorong bahuku.


"Heh! Jangan sentuh-sentuh Bestie gue, dong!" amuk Ayudia dengan mendorong kembali wanita itu.


"Udah-udah! Lu apaan, sih? Datang-datang gak jelas kayak gini. Kenapa? Ada masalah, lu? Oh ... atau jangan-jangan lu cemburu liat gue sama pacar gue ini?


Eh, jangan bilang ... lu baper sama kedekatan kita selama ini? Ngaca Azaleana, siapa juga yang mau sama cewek kayak lu?


Dandan kagak bisa, baju kek orang miskin padahal lu gak miskin-miskin amat. Malah bodohnya lu berharap gue suka sama lu?


Hahaha ... seharusnya kalo lu mau berharap gue suka sama lu itu, sahabat lu juga harus diubah. Karena, kalo sahabat lu tetap dia. Yang ada kagak akan pernah ada cowok yang mau sama lu.


Sahabat lu aja seleranya serendah ini, gimana lu juga jadinya gak kebawa rendah, coba?"

__ADS_1


Rian tertawa dan yang lainnya juga tertawa mendengar penjelasannya barusan, tanganku terkepal kuat saat beraninya ia menghina Ayudia di depanku.


Kucoba mengatur kemarahan yang sudah akan meledak ini, kuambil air jus jeruk yang ada di meja mereka dan menyiram ke wajah songong itu.


"Ups ... maaf, tapi keknya lu harus bangun deh. Biar lu bisa liat, siapa seleranya lebih rendah!" Kuambil satu lagi gelas yang entah punya wanita tadi atau dia.


Tak mau tinggal, satu gelas jus tadi kusiram ke arah wanita yang berani-beraninya menyentuhku padahal aku tak sama sekali menyentuh dia.


"Itu ... agar kamu sadar juga, sadar bahwa cowok yang sekarang ada di samping kamu itu sudah jadi suami orang!" ucapku bersedekap dada sambil menyunggingkan senyuman.


Wajah kaget tertampil di pada mereka berdua, "Lu tau ... bukan selera gue yang rendah, tapi selera lu yang jelek dan sampah. Lu gak ingat di rumah udah punya bini?


Bisa-bisanya malah pacaran di kampus, lu parah banget. Gak ada bersyukurnya jadi cowok udah dikasih bini yang baik dan cantik.


Tadi apa? Lu pikir gue baper sama lu? Hahaha ... cewek tolol mana yang mau baper sama suami orang? Mana pengangguran lagi, hadeuh ... cuma bini lu doanglah yang bisa sabar punya suami manja dan pengangguran kek lu.


Kalo gue? Udah gue buang lu ke sungai atau laut sana, syukur-syukur di makan sama buaya langsung lu."


Wanita yang ada di samping Rian tampak terkejut bukan main, "Enggak-enggak Sayang, kamu percaya sama cewek gila kayak dia? Mana mungkin aku udah punya istri," bela Rian saat wajahnya ditatap dengan sangar oleh wanita di sampingnya itu.


Tas wanita yang ada di meja diambil kasar olehnya, ia memukul dada Rian menggunakan tas tersebut dan pergi begitu saja dari kantin.


Suara riuh sorakan terdengar dari pengunjung yang sepertinya percaya bahwa Rian sudah memiliki istri.


"Lu ...," tunjuk Rian dengan rahang mengeras bahkan urat-urat di tangannya sampai terlihat.


"Apa?" tanyaku santai dengan tersenyum kepadanya.


"Argg ... lu liat aja, gue akan bales apa yang lu lakuin sama gue!" ancam Rian yang terdengar sedikit menakutkan.


"Oh, ya? Wah ... takutnya," kataku mencoba tetap tenang meskipun degub jantung sudah kencang.


Rian pergi mengejar wanita itu dengan sengaja menyenggol bahuku cukup keras, aku menatap ke arah belakang dan menyadari dirinya sudah keluar dari kantin.


Ayudia menatapku dengan membulatkan bola matanya, "Apa?" tanyaku dengan wajah bingung.


Dia langsung membawaku keluar dari kantin, aku hanya mengikutinya. Lagian, hanya itu saja yang lewat di otakku.

__ADS_1


Jadi, ya, mau tak mau aku pakai saja. Daripada aku malu karena tiba-tiba melabrak mereka dengan alasan aku cemburu.


Di mana wajahku akan kuletakkan, meskipun gak bisa di copot juga. Cuma, sebagai wanita aku pasti sangat malu.


Tanganku di hempaskan oleh Ayudia saat kami sudah sampai di toilet wanita, "Pelan dong!" tegurku sedikit kesal dengan perlakuannya.


"Lu ngapain ngomong kayak gitu tadi?"


"Lah, gue mana bisa diam orang dia ngata-ngatain lu gitu dan ngatain diri gue."


"Enggak, gak itu yang gue liat," ucap Ayudia dengan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa, sih?"


"Lu bisa gak sih, jangan kebawa emosi gitu? Gue tau, kenapa lu jadi kayak tadi. Lu suka, 'kan sama Rian?


Mangkanya lu marah dan emosi pas liat dia sama cewek lain, lagian yang salah emang diri lu aja. Dari awal juga gue udah bilang dan peringati.


Untuk gak naruh harapan sama dia, salah diri lu sendiri aja!"


"Oh, terus maksud lu. Gue yang terlalu baper jadi cewek? Salah gue, gitu? Gak ada cewek yang akan baper kalo perlakuan tuh cowok biasa aja!"


"Terus, kalo kayak gini gimana? Kalo dia ngapain lu, gimana?"


"Yaudah, bodo amat. Gue juga udah gak ada rasa sama dia, kalo dia ngapain gue ya gue lawan baliklah!"


"Astaga Azaleana."


"Iya, kenapa Ayudia?" tanyaku dengan tersenyum manis dan memasang wajah memelas agar dirinya tak lagi marah padaku.


"Gosah pasang wajah lu kek gitu!" ketus Ayudia menatap tajam ke arahku.


"Haha, udah, yuk! Ke kelas aja, next-nya gue mau cari duda aja deh. Anak satu juga gak masalah, lu mau ikut, gak?" tawarku sambil merangkul bahu Ayudia dan keluar dari toilet.


"Gak, lu aja. Gue gak doyan!"


"Beuh ... padahal duren semakin di depan sekarang mah!"

__ADS_1


__ADS_2