
Aku duduk di sofa ruangan Kak Kamelia, ia sedang tidur bersama dengan Dara. Sedangkan aku menimang anak mereka yang bangun tapi gak nangis, syukur deh.
"Sayang, imut, ya?" tanyaku pada Daisha yang duduk di depanku. Ia menatap bayi mungil yang sedang kugendong.
"Iya, Mami. Dede bayinya lucu!" seru Daisha gemas.
Kulirik ke arah Abang yang sedang bercerita dengan Pak Raditya, "Jadi, kapan lagi nih Bro?" tanya Abang.
"Apanya?"
"Ya ... itu, kayaknya Daisha udah pengen punya adek," sindir Abang membuat Pak Raditya menengok ke sini.
Aku segera menunduk kembali pura-pura tidak melihat mereka apalagi mendengar ucapan mereka itu.
"Insya Allah, secepatnya!" terang Pak Raditya membuat aku menatap ke arah mereka dengan kaget.
"Widih, Dede bayi. Sebentar lagi kamu akan langsung kondangan, nih!" kata Abang.
"Iya, nih, doian aja dede bayi semoga lamarannya keterima."
"Keterima kalau sama yang onoh, mah! Hahahah."
"Om sama Papi jangan ribut! Dede bayinya nanti nangis gimana?" protes Daisha dengan wajah garang membuat mereka akhirnya terdiam.
Kukulum senyuman, beruntung ada Daisha yang sekarang sudah mengerti rasanya di ganggu dengan suara.
Tangan Daisha beralih ke perutku membuat aku terkaget, "Dede bayi cepat ada di perut Mami Daisha juga, ya, biar Daisha bisa main sama dede bayi," tuturnya membuat aku membulatkan mata dan melihat ke arah pintu kamar yang baru saja dimasuki oleh Mama.
"Uhuk!" Pak Raditya langsung tersedak akibat kalimat Daisha barusan ia membalikkan badan seolah tak melihat hal ini.
Sedangkan Abang tentu saja ia tertawa, bukankah dari tadi juga pembahasannya pasti mengarah ke aku meskipun Pak Raditya beberapa topik tidak mengubrisnya.
"Wah ... cucu nenek mau punya dede bayi juga, ya?" timpal Mama berjalan mendekat ke arah kami dan duduk di samping Daisha.
"Iya, Nek. Gak papa, 'kan?" tanyanya mendongak menatap ke arah Mama.
"Gak papa, boleh kok. Nenek ngasih izin," jawab Mama yang lama-lama aku makin muak dengan topik yang mereka buat.
"Ma, jangan ngomong kayak gitu, ah!" protesku memindahkan bayi ke pangkuan Mama dan masuk ke dalam toilet.
__ADS_1
Percayalah, aku di dalam sini bukan bahagia apalagi tertawa. Aku ... menangis sejadi-jadinya karena takut berharap lagi.
Lagian, apa mungkin aku bisa menerima seseorang yang baru saja meninggalkan aku dalam jangka waktu lama.
Ya ... memang dia sudah menceritakan segalanya padaku tentang kejadian di sana. Tapi, apakah itu bisa dikatakan real 100%?
Bisa saja di sana ia sudah punya calon istri atau pacar bahkan wanita yang dijodohkan oleh Mamanya.
Tak ada yang tak mungkin untuk terjadi di sana selama aku tak di dekat dan mengetahui tentang mereka.
Kuhapus air mataku dan tak lupa mencucinya dengan air agar lebih fresh, keluar dengan tisue yang mengelap wajah.
Begitu aku keluar, hanya ada balon yang bertuliskan ajakan menikah dengan Kak Kamelia yang ada di situ juga terbaring.
Kututup mulut menatap dekorasi yang begitu cepat dibuat, tak lama pintu kembali dibuka dan masuklah mereka.
Pak Raditya mendekat ke arahku dan berjongkok mengeluarkan kotak cincin yang ... sama di waktu ia ingin melamarku itu.
"Ana ... aku sudah pernah melakukan ini dan ternyata gagal, aku ingin melakukannya sekali lagi dan siap menerima apa pun yang akan diterima.
Aku tak perduli meskipun harus gagal lagi dan aku harus mencoba kembali, tapi satu yang kau harus tau bahwa perasaanku tak pernah gagal dengan seiring waktu.
Ana ... kau seseorang yang datang ke kehidupanku bukan karena kesalahan tapi karena memang ditakdirkan.
Jadi ... maukah kau menerima lamaran dan menikah denganku?" rayu Pak Raditya sedangkan aku masih syok.
Bukan hanya ada keluargaku saja rupanya, ada juga orang tua Pak Raditya di sini. Mereka semua mengangguk menyuruh aku untuk menerima lamaran dadakan ini.
Kuanggukkan kepala dengan mengusap air mata bahagia, akhirnya penantianku selama ini tidak sia-sia.
Pak Raditya berseru dengan melompat bahagia memasangkan cincin yang memang seharusnya sudah terpasang di tanganku beberapa tahun yang lalu.
Nyatanya, mau sejauh apa pun kita dengan seseorang yang kita sukai juga dia sukai kita itu tidak akan menjadi penghalang untuk bersatu kembali.
Jodoh, tidak akan pernah salah alamat. Mungkin, tiga tahun lamanya aku disuruh menunggu itu sebagai pelajaran untukku.
Pelajaran, agar menjadi versi terbaik dan sabar yang luar biasa banyaknya. Sudah banyak kesakitan yang kurasakan.
Tapi, kesakitan yang ditinggalkan mereka jauh lebih dahsyat dan mengajarkanku untuk bisa santai dalam menghadapi ditinggalkan berikutnya oleh orang-orang.
__ADS_1
Daisha berlari memelukku dengan senyuman yang terus mengembang, mereka yang tadi berada di balik pintu berjalan mendekat.
Abang memberi selamat pada Pak Raditya sedangkan aku menyalim tangan Mamanya serta memeluk tubuh Mamaku.
Beliau menangis melihat anak bungsunya akhirnya menemukan cintanya, meskipun aku belum berani men-cap bahwa dia adalah jodohku karena masih ada satu tahap lagi yang jadi penentunya.
"Jadi, kapan nih nikahnya?" tanya Abang yang memang sangat ingin aku segera pergi dari rumah kayaknya.
"Abang kenapa, sih? Udah risih liat Ana di rumah kelamaan, ya?" gerutuku mencebik bibir. Kesal!
"Hahaha, ya, enggaklah! Biar rumah itu rame dan gak sepi-sepi amat biar Dara ada temannya juga, nanti Daisha sekolah di tempat Dara aja. Jadi, mereka bisa temenan," paparnya menjelaskan sebab ingin aku nikah cepat.
"Insya Allah bulan depan, mumpung Mama dan Papa masih ada di sini," celetuk Pak Raditya membuat aku kaget sendiri.
"Ha?" tanyaku kaget menatap Pak Raditya.
"Kenapa? Bukannya lebih cepat itu lebih baik?" jawabnya dengan wajah yang santai.
Memang, sih, tapi apa mungkin aku bisa membuat gaun pengantin untukku sendiri dalam waktu sebulan?
"Kakak bantuin nanti, Dek!" timpal Kak Kamelia dengan wajah serak menatap ke arah kami.
"Aaa ... makasih, Kak! Kakak emang paling tau apa yang aku pikirkan," pekikku gembira dan langsung memeluk tubuh yang masih lemah.
"Mau model seperti apa Putri?" tanyanya menggodaku.
"Aish! Kakak ...," ucapku dengan sedikit merengek.
Ia tertawa meskipun tidak bisa dengan keras, hanya sebatas senyuman yang terlihat saja di wajahnya.
"Selamat, ya," kata Kakak dan kuberi anggukan.
Sekitar dua jam orang tua Pak Raditya di sini dan membahas soal pernikahan, kami akan menikah di gedung saja dan urusan dekor serta makanan.
Semua itu Mama Pak Raditya yang mengurus, sedangkan aku hanya; undangan, souvernir dan gaun pengantin saja.
Hanya satu baju, kok, yang akan aku buat sendiri. Baju akat saja, lainnya, ya, sewa. Orang tua Pak Raditya beserta dirinya juga Daisha pamit pulang.
Karena ... besok juga akan menyiapkan berkas-berkas untuk kepindahan sekolah wanita itu.
__ADS_1