(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Cemburu


__ADS_3

Setelah selesai mendandani Daisha lebih dulu, aku menyuruh dia untuk keluar agar aku leluasa memakai make-up.


Tahu sendiri anak kecil, jiwa keponya sangat parah bahkan melebihi orang dewasa. Bisa-bisa, aku yang seharusnya selesai make-up 10 menit jadi satu jam karena menjawab pertanyaannya itu.


"Oke, kau sudah seperti bukan pengasuh biasa Ana. Ya ... mana tau di sana nanti ketemu sama jodoh, ya, 'kan? Biar gak keliatan buluk amat," ucapku pada pantulan diriku sendiri di cermin.


Gamis berwarna salem yang sama dengan Daisha, tak lupa menggunakan hels juga tas jinjing yang baru saja dikasih nenek.


Aku keluar sambil menenteng hels tadi, tak mungkin memakainya di dalam rumah. Kesian yang ada pembantunya.


Ceklek.


Pintu kamar kubuka dengan Pak Raditya juga Daisha yang sudah menungguku sambil berdiri.


"Mami! Cantik banget," puji Daisha menghampiriku.


Pak Raditya yang tadinya tengah melihat jam tangannya melihat ke arahku dengan tatapan tanpa berkedip.


"Biasa aja kali Pak, emang jadi orang cantik tuh susah, ya. Ditatap mulu sama orang-orang," kataku memuji diri sendiri sambil berjalan dengan menenteng hels juga memegang tangan Daisha.


"Ehem! Kau menghabiskan waktu 20 menit lebih lama hanya untuk dandanan yang biasa seperti ini? Kau membuang-buang waktuku saja Azal," cetusnya dan berjalan lebih dulu meninggalkan kami.


"Nyenyenye," ejekku kesal dengan ucapannya barusan.


'Kenapa? Kenapa dia malah dandan cantik banget? Mana aku mau ketemu sama temen yang masih lajang semua lagi.


Kalau mereka suka sama si Azal itu, bagaimana? Dia sama sekali gak keliatan kayak pengasuhnya. Arkkkk!' batin Raditya yang bingung harus melakukan apa.


Ia mondar-mandir di depan mobil sambil menunggu Ana dan Daisha keluar dari rumah. Saat melihat mereka sudah keluar, Raditya masuk ke dalam mobil lebih dulu.


"Mami cantik, gak?" tanyaku sambil berjalan ke arah mobil.


"Cantik Mi, Mami adalah wanita paling cantik sedunia," puji Daisha membuat aku senyum-senyum tak jelas.


Kata orang, pujian anak kecil tak pernah bohong. Aku langsung merasakan ada bunga yang bermekaran di dalam diriku.


Kukulum senyum agar tak sampai hadir tomat busuk yang tak perlu tertampil di pipiku, sudah cukup blus-on yang kupakai.


Tin!

__ADS_1


Tin! tin!


"Iya, sabar-sabar!" pekikku saat Pak Raditya berkali-kali menghidupkan klakson mobilnya. Dasar pengganggu kesenangan orang saja.


Daisha masuk ke bangku belakang, itu mau dirinya sendiri. Aku duduk di samping Pak Raditya sambil memakai hels tadi.


Ya ... dari dalam rumah hingga halaman aku tak memakai alas kaki. Untungnya halaman rumah sudah memakai keramik juga jadi tak kotor kakiku.


"Ada nikahan di mana emangnya?" tanya Pak Raditya membuka suara.


"Ha?" tanyaku tak paham dengan pertanyaan Pak Raditya barusan.


"Ya, bajumu sangat ramai sekali. Sudah seperti biduan nikahan."


Aku yang baru selesai memakai hels langsung duduk dengan tegap melihat ke arahnya, ia yang merasa kulihat melirik ke arahku dengan kening berkerut.


"Kenapa?"


"Bwahahaha." Tawaku pecah ketika mendengar ucapannya tadi, kupegang perut karena merasa sakit terlalu berlebihan tertawa.


"Kau kenapa Azal?" tanyanya kembali dengan wajah bingung yang menurutku lucu.


Padahal, aku hanya merasa lucu dengan sikap Pak Raditya barusan. Seperti anak-anak yang takut miliknya diambil oleh orang lain.


"Dokter yang mana Mami?" celetuk Daisha yang ternyata mendengarkan pembicaraan kami.


Aku langsung sedikit memutar tubuhku agar bisa melihat ke arah Daisha, "Sayang, Mami ada ketemu sama dokter ganteng banget Sayang. Nanti, kalau Daisha sakit sama dokter itu aja diperiksa, ya.


Biar, rasa sakit yang Daisha rasa hilang gitu aja Sayang," kataku yang sebenarnya tak tahu apakah dia mengerti atau tidak.


"Heh! Jangan ajari Daisha yang enggak-enggak, ya," ucap Pak Raditya dengan wajah garang.


Lagi-lagi, aku hanya tertawa menanggapi ucapannya. Ternyata, dia payah dalam hal menutupi perasaan.


Terlihat jelas bahwa ia sangat takut jika temannya akan suka apalagi menggoda diriku nanti, padahal pasti tak akan ada yang suka padaku.


Secara ... dirinya sendiri yang bilang bahwa penampilanku seperti biduan di nikahan orang. Ramai.


Mobil berhenti di depan cafe yang cukup padat pengunjung, bahkan parkiran sepeda motornya saja begitu penuh.

__ADS_1


Aku merapikan penampilanku terlebih dahulu sebelum keluar dari mobil, "Ingat, jangan tertawa apalagi menanggapi omongan teman-temanku!" peringat Pak Raditya padaku sebelum kami turun.


"Udah, Bapak tenang aja! Lagian, siapa sih yang mau sama pengasuh kayak saya?"


Dia pergi keluar dari mobil lebih dulu sedangkan aku kembali mengulum senyum melihat tingkah lakunya itu.


Turun dan membuka pintu Daisha, kugenggam tangan Daisha dan kami bertiga jalan bersama-sama masuk ke dalam cafe.


"Kayaknya, emang lagi musim di mana-mana pasti ada live musik," gumamku melihat ada panggung kecil di luar cafe.


Kami masuk ke dalam cafe, meskipun sebenarnya aku lebih suka di luar karena lebih terbuka.


Tapi, mau tak mau hanya bisa menuruti ke mana perginya Pak Raditya yang kebetulan teman-temannya mengajak untuk kumpul di meja bagian dalam cafe.


"Woy, Raditya!" pekik salah satu teman Pak Raditya dengan melambaikan tangan ke arah kami.


Aku pun tersenyum mencoba ramah ke arah teman Pak Raditya itu, tak hanya ada laki-laki ternyata.


Namun, ada juga dua orang wanita dengan satunya memegang anak dan yang satunya sedang mengandung.


"Ingat, jangan ganjen dan menjawab pertanyaan mereka apalagi sampai tertawa dengan jokes gak jelas dari mereka," peringat Pak Raditya kembali padaku dengan nada pelan.


"Iya Pak iya," jawabku singkat agar cepat kelar. Padahal, ya, sebagai manusia yang memiliki humor receh, mana bisa aku menahan tawa jika menurutku itu lucu.


"Wedeh ... sama siapa lu Raditya? Istri baru?" tanya temannya tanpa basa-basi.


Kuperhatikan satu per satu wajah mereka, 5 orang di dalam satu meja dan hanya dua orang saja wanita.


Artinya, ada tiga orang lagi yang jomlo. Kesempatan buat dapat jodoh di sini lumayan besar dong artinya.


"Bukan, saya Azaleana pengasuh Daisha," potongku lebih dulu saat Pak Raditya baru akan menjawab.


"Serius? Pengasuh secakep ini?" tanya salah satu dari mereka lagi yang menatap ke arahku dengan wajah yang tak dapat kuartikan.


"Heh! Mata lu itu, belum pernah di tusuk pake sendok, ha?" tanya Pak Raditya dengan ngegas memasang wajah datarnya.


"Kenalin, nama saya Akbar," ujarnya mengulurkan tangan kepadaku.


"Buat apa di ulurkan lagi? Dia udah ngenalin namanya juga," ucap Pak Raditya menepis tangan Akbar padahal baru saja akan kujabat.

__ADS_1


__ADS_2